Episode 24

2058 Kata
Wuri hanya diam menatapnya dan malah mengacuhkannya saja. Ia kembali membaca kertas yang ia pegang seraya membereskan yang ada di meja. Betapa melototnya Agra. "Hey, apakah anda itu bisa menghargai orang yang sedang bicara kepada anda?" tanya Agra menatapnya malas. Reyhan terlihat merasa lucu mendengar semua itu. Agra meliriknya. Reyhan langsung menghentikan tawanya dan gugup memeriksa kembali berkasnya seraya melirik Agra diam-diam takut. Wuri lalu menatap ke depan menahan kesalnya. Ia masih merasa kesal pada Agra karena kejadian malam itu. Maka dari itu ia mengacuhkan Agra saja. Namun, Agra malah semakin mengganggunya sekarang secara sengaja menghampirinya. Wuri mendengus malas dan menatapnya berdiri tegak membetulkan posisinya. Agra terlihat sedikit terpana mengangkat kedua alisnya melongo memandangi Wuri yang berdiri tegap menghadap ke arahnya. "Terimakasih," jawab Wuri singkat. Agra ternganga semakin melongo mendengar hal itu. Ia lalu mengambil 2 dokumen yang tergeletak di mejanya tadi membawanya. Wuri menatapnya seraya melangkah pergi. Namun, Agra masih saja menghalangi langsung melangkah cepat menarik bahunya. Wuri mengerutkan alisnya merasa kaget. Wuri menatap Agra mengerutkan alisnya tak paham. "Huh," dengus Wuri lirih meliriknya malas. "Saya tau, anda akan sibuk. Tapi, tidak salahnya kan atasan seperti saya ingin berbicara sebentar kepada anda. Karena, yaa saya sudah mengetahui skill kerja Ibu. Walau Ibu malam tadi sangat aneh tiba-tiba memasuki apartemen saya marah-marah tapi tidak apa-apa, saya sekarang merasa anda begitu bagus dan bijaksana," ucapnya basa-basi agar tujuannya berhasil merayu Wuri untuk mengerjakan pekerjaannya itu. Dia menatap Wuri mencondongkan wajah sampai Wuri mengundurkan wajahnya sedikit melotot merasa risih. Agra lalu mengelilingi dirinya santai mengingat kejadian mereka yang konyol malam tadi. Wuri terlihat mengikuti arah Agra memutari dirinya. Ia menatap Agra kesal menyipitkan matanya tipis. "Ohh iya, perkenalkan. Tapi, sepertinya anda sudh tahu juga kan siapa saya? Hehe iya saya Agra Pramana. Pemimpin dari PT. Pramana Group yang bekerja sama dengan perusahaan di mana anda bekerja," ucap Agra tersenyum palsu mengulurkan tangannya ke Wuri. Wuri menatapi tangannya berpikir. Ia lalu menatap Agra datar. Agra mengangkat sebelah alisnya mencoba membujuknya untuk membalas jabatannya. Wuri yang terlihat terus menatapnya akhirnya merasa kalau Agra memang hanya ingin berkenalan dengannya karena sudah berkali-kali bertemu. Wuri akhirnya mau membalas menjabat tangan Agra. Kini mereka sudah berkenalan beneran. Wuri terlihat masih datar saja menyalaminya. Agra terlihat sedikit merasa gugup entah kenapa. Dia melirik ke arah tangannya yang di jabat jemari panjang lentik Wuri yang lembut. "Wuri," jawab Wuri menatapnya terlihat sedikit tersenyum meski masih datar. Ia langsung melepaskan tangannya dari Agra dan mulai melangkah pergi meninggalkannya. Agra sempat melongo dan langsung mencegatnya lagi agar rencananya tidak gagal. "Eh eh tunggu duluu jangan langsung pergi dong," bujuk Agra menghalanginya cengengesan. Wuri hanya menarik nafasnya menahan kesalnya kembali pada makhluk bumi yang lumayan keras kepala itu. "Andai saja kemarin dia tak ku selamatkan saja dari kecelakaan itu," gumam Wuri kesal dalam hatinya. Agra terlihat hanya tersenyum konyol menatapnya agar tidak membuat Wuri kabur lagi. "Ehmm, oke Wuri. Salam kenal, terimakasih telah mau meluangkan waktu buat saya. Saya, saya cuman mau," ucap Agra tersenyum dan berpikir merasa sedikit gugup saat ingin mengatakan hal itu. Wuri hanya diam terlihat mendengarkannya saja menatapinya. Agra semakin merasa bahwa Wuri akan melakukan apa yang dia inginkan karena tak akan mungkin menolak seorang CEO seperti dirinya. Dia terlihat menyeringai lalu menatap Wuri tersenyum lebar. "Ehmm huh, tolong kerjakan surat kontrak kerjasama perusahaan kita," pinta Agra berterus terang. Wuri kini hanya diam menatapinya tak mengeluarkan sepatah katapun. "Ayolah, kau adalah manajer yang paling pintar hingga..." Dia langsung membisik mendekati Wuri hingga Wuri mengundurkan wajahnya melotot menatapinya heran mengerutkan kedua alis. "Hingga manajerku di belakang itupun sebenarnya kalah sama kamu," pujinya agar Wuri mau terbujuk. Wuri semakin kesal pada dirinya. Ia menggeleng kecil menatap Agra terus mengerutkan alis tanda tak setuju. Agra ternganga seakan tak menyangka dengan kenyataan ternyata harapannya tak sesuai kenyataan. "Kenapa? Kau tau kan aku ini siapa?" ucap Agra mencoba memojokkannya agar tak berani menolak. Namun, Wuri terlihat biasa saja dan hanya menatapnya datar. "Tidak bisa," jawabnya singkat. Betapa terbelalaknya Agra mendengar perkataannya. "Kamu, kamu menolak permintaan saya?" tanya Agra seakan tak terima. Agra terlihat terus menatapnya berharap agar dia mau saja. "Ayolah mengapa kau tidak mau, kau akan ku beri tip besar. Kau mau kan," bujuk Agra terus membujuknya sampai menggoyang bahunya. Wuri terlihat sedikit kewalahan dan langsung menepis tangannya sebal agar tak mengganggu dirinya lagi. "Aku tidak ingin. Aku tidak bisa karena, akan membuatnya menjadi terulang terus terulang sehingga tak menjadi usaha untuk melakukannya. Aku, aku tidak bisa melakukan itu," jawab Wuri kesal dengan nada datar saja menatapinya sedikit mengerutkan alisnya. Agra hanya ternganga sungguh tak menyangka dengan ini semua. Wuri memang tak ingin kalau kekuatannya akan membuat para manusia menjadi ketergantungan padanya dan memanfaatkan kekuatannya. Maka dari itu Wuri tak mau membantu Agra karena hal itu bukanlah hal yang termasuk baik. Wuri terlihat mengangkat kedua alisnya merasa bingung sendiri sekarang. Ia lalu langsung melangkah pergi meninggalkan Agra. Reyhan yang berada di ujung belakang Wuri sejak tadi hanya merasa heran saja dengan mereka berdua. "Wuri! Wuri!" teriak Agra mencoba memanggilnya kembali. Namun, Wuri terlihat mencoba mengacuhkannya saja dan pergi keluar lebih cepat. "HAH! SOK BANGET SIH TU CEWEK," kesal Agra menghempaskan berkas itu ke meja. "Ehh Pak Pak! Jangan di hempas begitu Pak nanti rusak!" panik Reyhan langsung cepat menghampirinya mencoba meraih berkasnya. Agra langsung tersadar kaget dan membetulkan kembali berkas itu agar tak rusak. "M-maaf Rey aku gak sadar," jawab Agra cengengesan seraya membetulkan kembali berkasnya. Reyhan terlihat tenang sekarang karena dia melihat berkas itu tak kumal sama sekali meski di hempas kuat oleh Agra di meja tadi. Reyhan terlihat melirik Agra malu-malu karena merasa Agra dan Wuri adalah pasangan yang cocok. Agra terkekeh pada tingkah anehnya. "Kamu kenapa ketawa? Ngetawain saya?" tanya Agra mengerutkan alisnya mendongak heran menatap Reyhan. Reyhan seketika malu tersadar langsung berpura-pura membereskan meja lagi. "Eng-enggak Pak ini, cuman lucu aja Bapak gak nyadar hempas berkas tadi hehe," jawab Reyhan terbata tersenyum lebar agar dia tak marah. Agra hanya mendengus melihat kelakuannya. "Eee sudah Pak, mari mau keluar juga?" tanya Reyhan mencoba mengalihkan pembicaraan seraya membawa berkas lumayan banyak di kedua tangannya. "Ya udah yuk," jawab Agra sedikit kesal. Mereka lalu keluar dari ruang meeting bersama. **** Zanna, Guru Brah juga Sutty sudah 4 hari berturut-turut bertapa di kuil tempat mereka tinggal itu untuk meresapi kekuatan dar Permata ular itu. Zanna terlihat lebih kuat sekarang. Mereka bertiga terlihat sedang berada di kuil seraya terus bertapa memejamkan mata duduk bersila rapi menyerap semua energi dari permata begitu bersinar yang mereka taruh di depan itu. Zanna terlihat begitu bersinar dan setelah cahaya putih sangat terang itu memudar. Barulah ia membuka matanya perlahan seraya menarik nafas tersenyum merasakan aura positif. Zanna tersenyum bahagia ketika sudah membuka matanya kembali. Ia melihat permata itu juga sudah tak mengeluarkan sinarnya. Guru Brah bersama Sutty yang awalnya masih memejamkan mata kini mengikuti Zanna membuka mata mereka pelan-pelan kembali. Zanna melirik mereka berdua tersenyum. "Kekuatan kita sekarang jauh lebih berenergi. Aku benar-benar merasa lebih kuat sekarang. Permata Mahanagrana benar-benar memberikan kekuatan yang sungguh besar," ucap Sutty seraya melirik ke tubuhnya merasakan sensasi perbedaan dari kekuatan yang ada di dalam tubuhnya. Ia tersenyum merasa puas dan bahagia. Zanna mengangguk tanda setuju padanya. "Zanna, kita semua sudah meminta kekuatan pada Permata Mahanagrana. Jadi, Guru meminta pada dirimu. Untuk cepat mengembalikan Permata ini ke langit kepada dewa ular, bawa dia ke kuil Nargani dan kembalikan dia di sana dengan baik," perintah Guru Brah padanya. Zanna terlihat menjadi serius sekarang. Sutty tersenyum miring padanya tanda percaya. "Baik Guru," jawab Zanna sedikit gugup. Guru Brah tersenyum padanya. Mereka lalu melirik ke arah Permata berlian bening yang begitu mengkilap indah itu. Zanna terlihat menarik nafasnya memantapkan dirinya untuk mengambil Permata hebat itu. Dengan perasaan gugup dan terlihat gemetar. Ia mengambil Permata itu lembut. Terlihat semakin gemerlap mengkilap Permata Berlian itu ketika berada di tangan Zanna. Sutty dan Guru Brah melangkah mendekatinya dengan mendongak tanda bangga juga percaya pada Zanna. Zanna terlihat tersenyum terharu lalu melirik ke arah Sutty dan Guru Brah yang berdiri di belakangnya. Mereka mengangguk memejamkan mata lembut pada Zanna tanda setuju. Zanna tersenyum lebar pada mereka lalu melirik ke arah Permata itu lagi memandanginya tanda percaya juga pada dirinya sendiri. Ia lalu berdiri dengan wajah serius tanda akan menyimpan Permata itu benar-benar. Ia berpaling menghadap Guru Brah dan Sutty. Zanna lalu mulai menyiapkan dirinya untuk pergi ke kuil besar yang lebih jauh ke dalam dari kuil yang mereka tempati ini. Kuil itu memang di khususkan untuk melakukan sesuatu yang lebih penting dan sangat rahasia. Kuil itu lebih absurd dan terlihat lebih gelap di bandingkan kuil yang mereka tempati ini. Maka dari itu, Zanna memang benar-benar harus menjaganya untuk mengembalikannya kembali ke langit. Zanna mulai melangkah untuk pergi ke kuil itu. Dengan sedikit perasaan gugup ia terus memandangi Permata yang ada di tangannya. Ia seakan tak menyangka bisa menggenggam kembali Permata yang begitu lama tak ia lihat. Ia lalu menyihirnya menghilang menyembunyikannya lebih aman agar tak ketahuan siapapun saat ia bawa pergi. Guru Brah dan Sutty terlihat senang saat melihatnya melakukan itu. Kini Zanna pergi sendiri dan Guru Brah bersama Sutty menjaga kuil mereka agar tidak di serang oleh ular juga makhluk lain. Setelah sampai di depan kuil. Zanna lalu berjongkok melipat kedua tangannya ke atas lututnya dan langsung mengubah wujudnya menjadi ular kuning emas cobra ukuran layaknya ular biasa saja yang begitu indah. Ia langsung merayap cepat menuju kuil yang di maksud Guru Brah. * Akhirnya Zanna sampai di depan kuil yang lebih rindang itu. Karena ia ular, ia terlihat biasa saja pergi ke sana sendirian. Ia terlihat masih merayap dan mulai memasuki kuil itu dengan wujud ular kecil itu. Namun, saat ia muali memasuki kuil tiba-tiba ada dinding penghalang transparan yang membuat Zanna terpental kembali keluar lumayan keras. Dinding itu sepertinya memang di buat dengan sihir agar tidak ada yang bisa memasukinya. Zanna langsung berubah dengan wujud seperti manusianya dan terlihat kesakitan. "Ugh!" jeritnya seraya mencoba bangun melihat ke arah dinding itu. Untunglah Permatanya ia simpan juga di dalam dirinya seperti Wuri menyimpan bola kehidupan sehingga aman tidak terpental jatuh ke mana-mana. Zanna terlihat terdiam sejenak membelalakkan matanya saat melihat sekarang depan kuil itu memang di buat dinding penghalang agar tidak ada yang bisa memasukinya. "Kurang ajar, siapa yang membuat dinding penghalang seperti ini?!" geram Zanna seraya bangkit. "Ya sudah, aku begini saja mungkin saat aku menjadi ular aku tidak bisa masuk," katanya berpendapat sendiri. Ia pun mulai melangkah kembali melewati dinding dari kekuatan sihir itu. "SHRIT!" "OGH!" Ia malah kembali terpental dan tersungkur karena dinding itu benar-benar membuatnya tak bisa melewatinya dalam wujud apapun. Ia sekarang semakin kesakitan memegangi bahunya menahan sakitnya. "SSST!" Tiba-tiba ada desisan ular yang terdengar kuat. Zanna langsung membelalakkan matanya menoleh ke sana kemari melihat ada siapa. "Siapa itu? Bukannya aku sendiri saja ke sini? Sutty? Tidak mungkin itu Sutty," tanyanya panik sendiri. "SST!" Terdengar lagi desisan ular yang semakin keras itu. Zanna kini terdiam ternganga melotot mengerutkan alisnya mencoba mendengarkan kembali apakah desisan itu benar adanya. Ia terdiam sedikit merasa takut. Meski ia juga ular, ia terlihat takut karena kalau bukan siluman yang ia kenal. Ia juga akan takut dengannya. "Dia? Dia benar-benar mendesis. Apa dia memang ular seperti diriku juga?" tanya Zanna merasa risih sekarang. Namun, betapa tak di sangkanya. Dari belakang tanpa Zanna sadari terlihat bayangan begitu panjang menyerupai ular yang sangat besar sedang berdiri tegak seakan ingin siap menyantap Zanna. Zanna yang sekarang baru merasa ada sesuatu di belakangnya terdiam kaku seribu bahasa. Ia ternganga terus melotot seakan tidak bisa menggerakkan badannya lagi. "HSSTH!" ternyata dia adalah seekor ular Piton raksasa yang begitu besar terlihat membuka mulutnya begitu lebar siap menerkam Zanna. Zanna langsung menengok cepat ke belakang dan betapa terbelalak lebar mata serta mulutnya melihat itu. "BRUSH!!" Seketika tanah yang di sana hancur bergetar karena serangan ular Piton begitu besar tak lazim itu. Dia juga bukan ular biasa karena begitu besar. Sepertinya dia memang siluman penjaga kuil di sana. Kini yang terlihat hanyalah debu yang sangat tebal akibat serangan Piton raksasa itu. Namun, saat debu itu mulai menghilang, terlihat di sana sudah tidak ada Zanna lagi. Piton itu lalu kembali menaikkan kepalanya juga melihat keberadaan Zanna. "SSTSHAA!!" Ternyata Zanna berhasil menghindar dengan mengubah wujudnya cepat menjadi sangat kecil sehingga bisa menghindari serangan kuat Piton itu dan langsung mengubah wujudnya menjadi sama besar dengan Piton itu sekarang. Sekarang ia terlihat ternganga lebar ingin membalas serangan Piton itu dari belakang dan siap untuk menerkamnya juga dari belakang Piton.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN