Episode 10

2033 Kata
Kini Agra dan Zanna terlihat saling bertatapan tersenyum setelah Sutty pergi. "Kenapa kamu gak ikut?" tanya Agra mencandainya mengangkat sebelah alisnya. Zanna melotot mengerutkan alisnya mendengar hal itu. "Kamu mau aku pergi?" balas Zanna tersenyum tipis mengangkat kedua alisnya. Agra hanya mencibir mengangkat sebelah alisnya. "Hmm haha bercanda, ayo balik kerja," jawab Agra tak bisa menahan tawanya. Zanna terlihat sedikit sebal karenanya dan menahan senyumnya menatap Agra malas. "Ntar kalau aku balik. Kamu kesepian lagi," ucap Zanna membalas mencandainya. Siluman itu ternyata pandai bercanda. Agra mengerutkan alisnya sungguh tak mendengar hal itu. Dia merasa semakin lucu. Zanna lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan seraya terus menahan tawanya. "Hey! Yah beneran di tinggal pergi. Emang kamu ya! Haha," teriak Agra memanggilnya tertawa dan mencoba mengejarnya. Zanna terlihat semakin mempercepat langkahnya karena sudah tak tahan ingin tertawa. Ia berlari lumayan cepat meninggalkan Agra di belakang. Kini ia berhenti dan tersenyum berbunga-bunga sendiri. Sepertinya ia semakin menaruh hati pada laki-laki manusia rupawan itu. Ia tersenyum lebar tertawa kecil sendiri membayangkan Agra. Ia juga terlihat salah tingkah dan malu-malu seraya sesekali melirik ke belakang. Namun, saat ia merasa berbunga-bunga bahagia. Tiba-tiba berita di layar lebar yang tertempel kuat di dinding memberitakan sesuatu yang terlihat sangat mengejutkan. Zanna terlihat mengerutkan alisnya sekarang juga melihat TV itu. Semua karyawan juga terhenti mendengar berita yang di siarkan itu. Agra yang dari mengejar Zanna itu awalnya tertawa senang melihat dan berhasil menyusul Zanna. Dia juga terhenti dan melongo heran melihat siaran berita. "Emm, berita apa itu Zan?" tanya Agra. Zanna terkekeh. "Ohh gak tau Gra, aku juga baru liat," jawab Zanna menoleh padanya lalu kembali ikut melihat siaran itu. Agra yang juga bingung akhirnya ikut menontonnya bersama gerombolan orang-orang di belakang mereka yang terlihat tegang juga menontonnya. "Sebuah kawah yang sangat besar tiba-tiba di temukan warga desa setempat. Warga juga kebingungan dengan adanya kawah sebesar ini. Padahal, menurut mereka awalnya tidak ada sama sekali kawah seperti itu berada di lembah pegunungan ini. Namun, para warga sekitar sana mengaku, kalau sebelum di temukannya kawah itu mereka mendengar seperti suara dentuman begitu keras saat malam hari dari sana entah apa. Para peneliti juga mulai meneliti dan mencari tahu dentuman apakah itu saat ini. Namun, sebagian peneliti berpendapat bahwa dentuman keras dan kawah besar itu terjadi dan terbentuk karena adanya meteor besar yang jatuh ke bumi dan tepat jatuh di tempat itu tetapi masih bisa belum di pastikan apakah itu benar atau tidaknya," Kata pembawa berita itu menjelaskan. Zanna, Agra serta yang lainnya terlihat ternganga mendengar hal yang disampaikan. Terlihat mereka memperlihatkan gambar kawah yang memang benar-benar besar juga terlihat dalam. Agra benar-benar ikut kaget juga mendengar itu. Ia memonyongkan bibirnya seraya mengerutkan alis tanda heran. "Wah iya apa ya itu?" "Iya apa itu ya?" Iya benar-benar besar, apa yang terjadi?" "Sepertinya meteor jatuh," Orang-orang di kerumunan itu juga terlihat bertanya-tanya mendengar berita itu. Zanna terlihat menengok ke kiri kanan juga belakangnya terheran. "Waduh, besar banget. Bekas apa ya? Apa bener bekas meteor," ucap Agra juga terheran. Zanna menengoknya. "Hm sepertinya iya Gra. Tapi, apa benar?" tanya Zanna juga bingung. "Huh entahlah Zan, mungkin benar. Karena konon katanya kalau meteor jatuh ke bumi akan terbentuk seperti itu sih, kata orangtuaku dulu," jawab Agra mengendikkan bahunya tanda juga tak tahu. Zanna hanya mengangguk mendengarkan penjelasan Agra itu. Agra tersadar sekarang bahwa mereka sedang berada di kerumunan yang begitu ramai. Agra akhirnya merasa gerah. "Zan, kita balik yuk," ajak Agra mengerutkan alisnya mencoba keluar dari sana. Zanna mengangguk. Mereka lalu pergi sana meninggalkan tempat itu dan mengacuhkan beritanya. * Setelah bekerja, mereka lalu beristirahat dan makan di sebuah cafe resto di dekat sana. Layar berukuran sedang di sana juga memberitakan hal sama seperti di kantor tadi. Zanna dan Agra yang sedang asyik makan itu terkekeh. "Berita itu ada di mana-mana ya?" ucap Zanna terlihat merasa bosan menoleh ke arah layar yang di tempel di dinding cafe itu. Agra ikut melihat layar itu mengerutkan alisnya seraya terus menguyah makannya. "Iya, tapi emang aneh sih. Makanya para manusia heboh Zan. Soalnya masih belum tau penyebabnya kenapa kawah besar itu terbentuk," jawab Agra seraya meminum minumannya santai. Zanna hanya mendengus lalu mengangguk dan menyuap makannya juga. **** Dari tempat Zanna dan Agra berada. Jauh dari keramaian kota. Di dalam sebuah desa terpencil yang dekat dengan pegunungan yang terbentuk kawah besar itu ada sebuah rumah gubuk terlihat menyendiri berdiri di sana, dengan jarak setelah kilometer baru ada rumah lagi. Di sana memang jarang terlihat rumah penduduknya karena memang masih hanya sebuah desa terpencil. Penduduk di sana hanya memiliki mata pencaharian sebagai pemetik kebun teh juga berkebun sayur-sayuran dan sebagian ada juga bertanam buah. Maka dari itu di belakang juga samping rumah-rumah mereka mereka tanami kebun mereka. Jadi jarak antar rumah warga terlihat sangat berjauhan sekali. Seorang wanita paruh baya yang mengalihkan perhatian terlihat sedang menggendong banyak kayu bakar di belakang. Ia terlihat begitu giat dan pantang menyerah terus mengambil kayu-kayu yang ia dapat untuk di jadikannya kayu bakar. Setelah lumayan banyak. Ia akhirnya tersenyum dan dengan tegarnya ia bawa kayu-kayu itu melangkah pergi. Sepertinya ia ingin pulang. Lumayan jauh jarak ia memasuki hutan itu dari rumahnya. Kini ia terlihat sudah tertatih. Akhirnya dengan perjuangan susah payahnya terlihat ia sudah tersenyum karena sebuah rumah yang begitu sederhana sudah ada terlihat di hadapannya. Rumah itu ternyata memang rumahnya. Ia terlihat kembali bersemangat untuk melangkah menuju rumah itu. Namun, ada yang ia tinggal bersamanya di rumah gubuknya itu. Namun, seseorang itu terlihat hanya terbaring tak sadarkan diri. Sebagian tubuhnya di baluri dengan kain perban juga kepalanya di juga di baluri kapas menutupi dahi serta pipinya. Entah siapa dirinya. Ia memang seorang wanita. Wanita paruh baya itu pun memasuki rumahnya seraya membawa kayu bakar yang ia dapatkan tadi. Ia hanya menengok sebentar wanita terbaring itu lalu masuk ke dapurnya. Ia taruh kayu-kayu itu di dapur sederhananya. Terlihat ia juga membawa beberapa lembar daun serta bunga juga tanaman yang sepertinya adalah obat. Ternyata memang benar, ia lalu mencoba menumbuk semua daun-daun itu juga tanaman yang ia bawa tadi. Setelah ia tumbuk halus ia memerah air dari hasil tumbukannya tadi lalu ia taruh di dalam wadah yang terbuat dari tempurung kelapa itu yang ia sudah bentuk menjadi seperti gelas. Saat ia masih sibuk di dapur membuatkan ramuan. Terlihat seorang wanita yang terbaring tadi sudah mulai menggerakkan jemari-jemarinya yang panjang, matanya juga terlihat sedikit bergerak sekarang. Sepertinya ia mulai tersadar. Saat di perhatikan jelas. Wanita itu terlihat memiliki wajah yang cantik, bulu matanya terlihat begitu lentik dan tebal. Kulitnya juga terlihat mulus dan kuning langsat begitu cerah, badannya begitu ramping entah siapa ia. Sepertinya wanita paruh baya itu sedang merawatnya sekarang. Ia terlihat sedang bermimpi sesuatu dan terlihat gelisah. Ia mengerutkan kedua alisnya entah bermimpi apa dengan matanya masih tertutup. Ia teringat saat ia bertarung dengan seseorang. Ternyata ia bukanlah manusia. Entah makhluk apa ia. Terlihat dalam ingatannya ia memiliki sayap putih yang begitu besar dengan memakai mahkota. Ia seperti seorang Ratu dari alam lain. Ia melemparkan kekuatan yang berbentuk bola biru dahsyat ke arah seseorang yang berbentuk seperti dirinya tetapi seseorang itu bergaun merah dengan sayap hitam besar juga. Mereka terus bertarung tetapi musuhnya berhasil mengarahkan kekuatannya dan melemparnya begitu kuat dengan kekuatan merahnya itu hingga ia terpental begitu jauh dan ia langsung terbangun seketika. Matanya terbelalak seketika begitu lebar. Kini ia terlihat sesak nafas terdiam sampai dadanya terangkat dengan mata yang terbuka. "Huuhhh," Ia terlihat menarik nafasnya sangat sesak terbangun begitu saja. Bola mata coklat terangnya begitu jelas. Matanya yang bulat begitu cantik. Wanita paruh baya yang sudah selesai membuat ramuan tadi menghampirinya. Ia terlihat terkejut saat melihat mata wanita itu terbelalak. Ia terlihat sedikit ketakutan, tetapi ia terus mencoba mendekatinya dengan membawa ramuan tadi. Wanita itu sekarang tak lagi membelalakkan matanya. Kini matanya terlihat sayu dan terdiam. "Maaf Mba, apakah kamu sudah siuman?" tanya wanita paruh baya itu khawatir. Wanita itu langsung merasa panik melirik ke arah wanita paruh baya itu. Ia terlihat ketakutan. "Tenang, Mba jangan takut. Saya menolong kamu," ucap wanita paruh baya itu tersenyum seraya menaruh ramuan tadi di lantai dan mulai ingin mengobatinya. Ternyata benar, ia bukanlah keluarga dari wanita paruh baya itu. Ia hanya orang yang di tolong wanita itu entah di mana. Wanita itu hanya diam menatapinya masih seakan takut. "Uhhuk uhhuk!!" Tiba-tiba wanita itu batuk. Wanita paruh baya itu tersenyum. "Ya sudah minum duluu," bujuknya seraya mengangkat lembut kepala wanita cantik yang lemah tak berdaya itu dan meminumkan air putih untuknya. Wanita itu terlihat malu-malu saja. Tapi, saat ia di suruh meneguk air itu ia terlihat heran menatap wanita paruh baya itu. "Minum," ucap wanita paruh baya itu mengangguk. Wanita itu seakan tak bisa meminum. Ia menggeleng tetapi wanita paruh baya itu mencoba memaksanya dan akhirnya ia mau meminum sedikit air itu. Akhirnya wanita cantik itu tersadar, bahwa wanita paruh baya itu memang membantunya dan tak berniat jahat. Ia akhirnya merebahkan kepalanya kembali dan memejamkan matanya. "Ugh," Ia sedikit menjerit. Wanita paruh baya itu mendengarnya dan tersenyum sembari mengambil ramuan tadi dari dalam wadah tadi. "Luka kamu lumayan parah di sekujur tubuhmu Mba. Saya akan obati dengan ini biar lekas membaik," ucapnya. Ia lalu mulai mengolesi sekujur tubuh mulus wanita cantik itu dengan ramuan yang ia tumbuk tadi. Wanita itu terlihat sedikit kesakitan tetapi hanya ia rasakan. Ia lalu membuka matanya melihat wanita paruh baya itu yang terlihat begitu tulus merawatnya. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum padanya seraya terus mengoleskan semua ramuan itu pada tubuhnya yang terluka. Ia melirik ke tubuhnya yang di olesi ramuan itu lalu kembali menatap wajah wanita paruh baya yang teduh itu. Ia hanya diam merasakannya seakan masih kebingungan. "Sakit yaa? Hmm gak papaa. Entar sembuh kokk hm?" bujuk wanita paruh baya itu memanjakannya agar ia tak merasa tegang juga takut. Wanita itu terlihat hanya bingung lalu membuang pandangannya melihat tangannya yang di olesi ramuan oleh wanita paruh baya itu. Sungguh mulus kulitnya meski memar-memar seakan tak ada flek maupun noda apapun. Entah siapa wanita itu sepertinya ia memang bukan makhluk biasa. Rambutnya juga panjang lurus dan indah. Setelah selesai wanita paruh baya itu lalu menyuruhnya untuk meminum pelan-pelan juga air dari yang ia tumbuk tadi. Ia lalu mengangkat kembali kepala wanita cantik itu memerintahkannya untuk sedikit demi sedikit meminumnya. Wanita itu terlihat terpaksa dan langsung mengerucutkan wajahnya lucu saat merasakan ramuan yang begitu pahit itu. Ia sempat mencoba menjauhkannya dengan kedua tangannya tetapi wanita paruh baya itu tertawa dan menahan kedua tangannya. Wanita paruh baya itu terus meminuminya hingga iya terbatuk dan memuncratkan ramuannya lalu lah wanita paruh baya melepaskan minuman pahit itu. Ia terlihat begitu tersiksa setelahnya. Wanita paruh baya itu tertawa dan merasa senang dan tenang karena ia telah berhasil meminum ramuan itu separo. "Uggh uhhuk!" jeritnya sampai terbatuk. Wanita paruh baya itu memegangi bahu juga kepalanya lembut dan merebahkannya kembali. "Nak, semoga kamu cepat sembuh. Bibi harap, kamu akan meminumnya lagi nanti biar luka kamu terobati meski Bibi masih belum tahu siapa kamu itu sebenarnya," kata wanita paruh baya itu terlihat tulus merawatnya. Ia memandangi terlihat iba. "Kamu paham apa yang Bibi bicarakan kan?" tanya wanita paruh baya itu mengangkat kedua alisnya seraya memegangi dahi wanita cantik itu lembut. Wanita itu hanya berkedip seakan memberikan kode bahwa ia memang paham atau merasa bingung. "Hmm ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Bibi tinggal ke dalem dulu ya," ucap wanita paruh baya itu hanya memakluminya lalu berdiri meninggalkannya sendiri. Ia terlihat masih memutar bola matanya bingung dengan tempat yang ia lihat sekarang terus memperhatikan sekeliling. **** Zanna dan Agra terlihat kembali bekerja sekarang. "Heh, emang karena meteor ternyata kawah itu. Kok malah heboh," ucap Agra menyeringai merasa konyol. Zanna yang terlihat sedang asyik fokus ke laptop terkekeh pada Agra yang berkata seperti itu. "Hee biasa. Kayaknya manusia takut deh kalau itu bukan karena meteor," jawab Zanna mengangkat kedua alisnya tersenyum. Agra hanya tersenyum lebar seraya menggeleng heran. "Iya berita emang selalu beritain hal-hal yang sepele, gak papa lah di daerah gunung juga bukan kota," ledek Agra merasa sedikit kesal dengan berita itu. Zanna hanya tertawa kecil melihatnya sambil terus mengetik di laptopnya mengerjakan pekerjaannya. Para manusia termasuk Agra juga Zanna tidak tahu, bahwa sebenarnya itu terbentuk karena adanya seseorang dari dimensi lain terjatuh ke bumi. Ya, ia adalah Wuri. Seorang Ratu peri yang sedang di rawat oleh wanita paruh baya tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN