bc

Si Pemegang Tahta Yang Sebenarnya

book_age16+
90
IKUTI
1K
BACA
time-travel
prince
drama
tragedy
mystery
victorian
magical world
secrets
like
intro-logo
Uraian

Sebuah kerajaan seharusnya menjadi tempat yang mampu membuat rakyatnya mendapatkan arahan yang baik untuk hidup yang lebih baik lagi namun apa jadinya jika sebuah kerajaan diliputi oleh dendam, kejahatan dan rahasia besar? Sebuah kabar terdengar mengisi ruang telinga tentang pem******n hebat keluarga kerajaan Eden, apa jadinya jika sebenarnya yang melakukan pem******n itu berasal dari keluarga kerajaan? Hanya karena alasan dendam dan keserakahan semata.

Ketiga pangeran menjalani perjalanan waktu untuk kembali mengulang masa lalu dan merubahnya menjadi lebih baik. mempertahankan hak kekuasan kembali kepada pemiliknya.

Hanya satu klu yang ada di dalam cerita ini

"tidak selamanya orang yang melakukan kejahatan karena memang dia memiliki niat jahat dan tidak selamanya orang yang terlihat sangat baik itu memiliki niat yang sangat baik" 

"jangan menyimpan semua beban hidup sendirian, terkadang kamu juga perlu memiliki seorang pendamping yang mampu mendengar ceritamu dengan baik dan memberikan nasihat yang baik" 

Sumber Cover:pexels, free to use pic. Diedit menggunakan Canva

kode editor:Lily888

chap-preview
Pratinjau gratis
prolog untuk membuka gerbang masalalu eps 1
Di sebuah negeri kuno dengan nama Myerscough dengan kedua wilayah di dalamnya yakni wilayah Barat dan wilayah Selatan kedua wilayah yang terdiri dari beberapa Kerajaan. Didalam Wilayah Barat terdapat Kerajaan Stefly, sebuah Kerajaan yang memimpin kerajaan yang ada di Wilayah Barat. Sebuah berita menyebar hingga menjadi rahasia umum untuk Negara Myerscough, terjadi perang antar kerajaan di wilayah Barat yang membuat seorang Ratu Hanah seorang Ratu yang memimpin Kerajaan Stefly dinyatakan terbunuh dan kini digantikan oleh sang adik yang memegang tahta sebagai seorang Ratu. Namun, yang membuat janggal adalah tidak ditemukannya makam Ratu Hanah di dalam Kerajaan maupun di Wilayah Barat dan adiknya yang selamat dari perang, sementara orangtua dan kakaknya semuanya telah mati,hal itu sungguh tidak masuk akal "Ting" suara secangkir air jahe saling diadu. Memang sudah menjadi tradisi negara Myerscough untuk menjadikan secangkir air jahe sebagai jamuan untuk suatu acara. Kedua belah pihak Kerajaan dari Wilayah Barat sedang mengadakan acara pesta makan malam, untuk mengumumkan dilaksanakannya pernikahan Pangeran Marquez dari Kerajaan Stefly dengan Putri Solana dari Kerajaan Rishley. "Setelah dilaksanakannya penobatan pangeran Marquez sebagai Raja di Kerajaan Stefly, akan ada pernikahan Pangeran Marquez dengan Putri Solana." Marquez terdiam mematung pikirannya pun tidak dapat berpikir dengan baik, betapa terkejutnya ia setelah mendengar bahwa ia akan menikah bahkan sebelum kakaknya Pangeran Alarico menikah, terlebih parahnya lagi setelah mengetahui kalau Ibu Ratu Katrine tidak bersikap sewenangnya mengikuti aturan sebagai seorang Ratu. "Ibu Ratu, kenapa tidak Kak Rico saja yang menikah?, Dan kenapa Kak Rico tidak boleh menjadi Raja?." Niguel Pangeran terakhir Kerajaan Stefly bertanya dengan lantang tanpa merasakan takut dan gusar. "Niguel, masuk ke kamarmu sekarang!!." Setelah anak bungsunya itu melempari ia dengan pertanyaan, Ratu Alise sama sekali tidak menerima pertanyaan tersebut, dengan wajah kecewa dan penuh amarah ia mengusir Pangeran Niguel dari acara pesta makan malam tersebut. Pangeran Marquez dengan sikap yang berusaha berani untuk menyangkal berita yang tidak dapat ia terima meskipun ia akan menikah dengan seorang wanita yang ia cintai. "Aku tidak akan menikah sebelum kak Rico menikah dan aku tidak akan menjadi Raja karena aku bukanlah pangeran pertama, usia kami beda jauh, Ibu Ratu Alise Ibu tidak bisa membedakan kami seperti itu."Bantah Pangeran Marquez mengerutkan alisnya dengan penuh kecewa, keputusan ibu Ratu Alise tersebut tidak dapat diterima oleh akal dan pikirannya. Pangeran Alarico yang sedari tadi berusaha untuk menahan emosi akhirnya emosi terpendam itu meluap dengan sendirinya,"Kalian sangat berisik!."Pangeran Alarico sontak berdiri dari tempat duduknya, emosinya yang belum terkendali membuat alisnya berkerut mengikuti emosi didalam hatinya, tanpa mengucap kalimat pamit, Pangeran Alarico langsung bergegas pergi meninggalkan tempat acara pesta tersebut. "Alarico!!, Jaga sikapmu!." Sentakan keras seorang Raja yang kini malu dengan perilaku anaknya yang kasar di depan tamu kehormatan Kerajaan Stefly, sementara Ratu Katrine yang menjadi tamu terhormat di acara pesta makan malam yang di adakan Kerajaan Stefly hanya termangu melihat kepergian seorang Pangeran yang baru saja bicara kasar. Setelah mendapati kepergian Pangeran Alarico, sebagai Pangeran kedua Kerajaan Stefly. yakni, Pangeran Marquez sontak membungkukkan tubuhnya dengan penuh hormat tergambar jelas emosi di wajahnya yang penuh sesal akibat perilaku kasar kakaknya. Ia menatap kedua mata seorang Putri yang akan di jadikan sebagai Pemimpin para Ratu kerajaan Stefly tergambar jelas didalam bola matanya air mata yang akan mengalir dari wajah cantiknya. "Ibu Ratu Katrine, aku mohon maaf karena menolak lamaran pernikahan ini aku juga mohon maaf karena aku tidak bisa menjadi Raja Stefly." Seraya menunggu keputusan dari seorang Ratu yang baru saja mendapatkan penolakan darinya, ia menunggu dengan wajah penuh gusar.Tamu kerajaan yang harusnya di hormati itu justru mendapat banyak kejadian tidak menyenangkan di dalam pesta yang harusnya membuatnya merasa tidak nyaman, namun berkebalikan ia dengan sikapnya yang santai dan tawa ringan ia tersenyum menanggapi hal yang tidak menyenangkan tersebut. "Aku menerima penolakan darimu, berhentilah memasang wajah cemas seperti itu, ya." Sontak keputusan dari tamu kehormatan Kerajaan Stefly yang tidak dapat diterima Ratu Alise sebagai seorang Ratu yang memimpin Kerajaan Stefly. Ratu Alise sontak berdiri seraya memasang ekspresi emosi menerima kekecewaan yang dibuat tamu kehormatannya itu,"Bisa kau pikirkan lagi apa yang sudah kau putuskan, Ratu Katrine!."dengan suaranya yang lantang Ratu Alise berusaha membujuk Ratu Katrine agar tetap menjalankan rencana yang sudah mereka bentuk Ratu Katrine tidak menanggapi si tuan rumah, ia hanya menatapnya dengan wajah tanpa emosi, kini terlihat jelas gambaran emosi yang tak tertahan dari wajahnya yang membuat ia berada dibawah tekanan emosi yang mengakibatkan kepalanya terasa sangat pening dan nyeri, rasa nyeri yang tidak tertahankan itu membuatnya kalang kabut mencari obat pereda nyeri yang terdapat di dalam saku gaun, tidak peduli dengan dosis obat ia langsung memakan tiga butir obat mencengkeram erat lingir meja hingga rasa sakitnya mereda, ia memang memiliki gangguan pikiran yang bisa disebut memiliki penyakit impulsivitas yang akan semakin memburuk. apa yang terjadi padanya di hiraukan oleh suaminya dan Ratu Katrine yang sibuk melanjutkan makan malam, terkecuali Putri Solana yang terlihat sangat cemas ia seperti merasakan ikatan antara ibu dengan anak kepada Ibu Ratu Kerajaan Stefly yang sekarang terlihat lebih dapat mengendalikan emosinya. Dengan ekspresi cemas, Solana memegang tangan Ibu Ratu Alise,dengan tatapan matanya penuh dengan pertanyaan "apakah ibu sakit?.” Mendengar Putri Solana memanggil dirinya dengan sebutan ibu, membuat pemimpin Kerajaan Stefly itu jengkel dan ketakutan, Ibu Ratu Alise menyentak tangan Putri Solana yang terasa sangat hangat memegang tangannya,ia langsung mendampratnya dengan kalimat pedas, "Aku bukan ibumu!!.” Melihat wajah Ratu Alise yang hanya tergambar emosi, membuat Putri Solana dengan jelas terpancar wajah penuh perasaan takut, Putri Solana menatapnya dengan tatapan memelas “ada apa denganmu, ibu?.” Dampratan menyakitkan itu disaksikan kedua orang di sana yang saling memainkan mata mereka saling melirik dengan wajah yang bingung, sementara Putri Solana yang baru saja menjadi korban atas dampratan ia menunjukan wajah penuh dengan kecewa atas apa yang ia terima air matanya tak bisa lagi ia tahan ia menangis apa adanya tangannya menarik jaket merah yang terpaut di bangku. Ratu Katrine menatap kedua mata putrinya yang masih tergambar jelas kecewa dan sedih "Putri Solana." panggil ibu Ratu Katrine melihat anaknya yang pergi meninggalkan wajah kecewa, hatinya sangat terluka. Ratu Katrine menghela nafas panjangnya"Huh, maaf ya. Putriku memang anak yang memiliki hati lembut seperti ibunya." Ratu Alise mengerutkan alisnya dengan ekspresi wajahnya yang sangat kesal, "Dia bukan anakmu Ratu Katrine! Dia anakku!!." Bantah Ratu Alise yang wajahnya terlihat bimbang dan menyimpan penyesalan. Perkataan apa yang dikatakan oleh Ratu Alise membuat Raja Stefly ikut angkat bicara "ternyata kamu menyesali perbuatan yang kamu lakukan dengan kedua anak itu." Mendengarnya angkat bicara membuat Ratu Alise tertekan ia menjadi tersudut Ratu Katrine berdecah ia tersenyum lebar "Sudah hentikan. Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan. Terserahlah, aku tidak peduli dengan masa lalu." Ratu Katrine memberikan isyarat kepada Raja Stefly untuk berhenti membuat istrinya tersudut demi menjaga rahasia yang ada diantara mereka. Ratu Katrine memakai jaketnya ia melangkahkan kakinya berjalan menuruni tangga, langkah kakinya membawanya berada di parkiran dengan bola matanya melihat hal janggal dengan seorang kusir kuda Kerajaan yang termangu sedih sambil menepuk dan mengelus-elus badan kuda hitam yang terus meringkik di parkiran. Ratu Katrine menghampirinya, "Kenapa wajahmu sangat sedih?.” "Putri Solana menolak aku antar pulang, dia memintaku untuk menunggu Ratu Katrine sementara ia berjalan sendirian." Kusir kuda kerajaan Rishley terlihat sangat sedih karena ia mendapatkan penolakan dari Putri Solana. Ratu Katrine sedikit mengeluh setelah menerima perbuatan anak perempuannya Ratu Katrine kembali menghela nafasnya "Huh.. baiklah, kita akan mencarinya bersama." Ratu Katrine menunggangi kuda putih kesayangannya, tidak heran jika ia tidak butuh seorang kusir karena ia wanita yang memiliki sisi maskulin, jadi tidak butuh baginya seorang kusir kuda untuk membawanya bepergian cukup baginya menunggangi kuda putih kesayangannya dan bebas pergi kemanapun yang ia inginkan. "Solana, putriku!!." Panggil Ibu Ratu Katrine yang melihat anaknya pergi dengan berjalan kaki tak peduli kini mereka menjadi tontonan masyarakat sekitar. "Bukankah itu Ibu Ratu Katrine dengan putri Solana?. Kenapa mereka tidak memakai kusir."bisik-bisik orang sekitar memandang seorang Ratu dari Kerajaan seberang mendatangi kerajaan Stefly tanpa seorang kusir kuda. "Apa kau tidak tau, rumor yang mengatakan kalau ibu Ratu Katrine seorang wanita dengan paras laki-laki"bisik masyarakat sekitar yang melihat seorang Ratu berkeliaran tanpa seorang pengawal ataupun kusir kuda "Jaga mulutmu, kau bisa terdengar mereka" Bisikan orang sekitar sama sekali tidak mempengaruhi ibu Ratu Katrine yang memiliki sifat tak peduli dengan orang sekitarnya terkecuali sahabat dan keluarganya, ia tipikal seorang Ratu yang tidak pernah terpengaruh dengan gosip menyakitkan orang sekitar tentangnya. "Putri Solana, naiklah. Mereka akan membicarakan tentang kita." Putri Solana yang sehabis menangis itu langsung menyeringai melirik Ratu Katrine dengan bingung. "Sejak kapan ibu memikirkan bisikan mereka." "Ah sudahlah, ayo naiklah Perjalanan kita masih panjang, nak"Meski perkataanya manis tapi raut wajahnya berbeda jauh dengan kalimat manis yang keluar dari mulutnya. Tak mau menerima amarah Ibu Ratu Katrine yang sudah mengeluarkan mode tatapan mematikannya, Putri Solana segera naik ke dalam kereta kuda ia pergi dengan kusir kuda yang ekspresi wajahnya langsung terlihat senang. "Kau bisa langsung membawa Putri Solana pergi.” Ratu Katrine pergi dengan kuda putihnya berlawanan arah dengan kusir kuda yang membawa putrinya kembali kedalam kerajaan yang membutuhkan waktu sekitar delapan jam perjalanan untuk kembali kedalam kerajaan. Putri Solana mengerucutkan bibirnya "Kenapa ibu selalu menyembunyikan kemana dia akan pergi, kenapa ia pergi. Dia seperti tidak betah dengan Kerajaanya sendiri. Dasar ibu Ratu yang aneh." Putri Solana kembali tidur di dalam kereta sambil menunggu kusir kuda yang membawanya kembali kedalam kerajaan tempat dimana yang membuatnya bisa tenang. “Niguel?.”panggil Ratu Alise yang berdiri di depan pintu kamar Pangeran Niguel seraya melipat kedua tangan didepan dadanya “ibu?.” Ibu Ratu Alise menyeringai ia masih menyimpan emosi kepada Pangeran Niguel atas apa yang ia katakan didepan tamu kehormatannya. Pangeran Niguel menerima tamparan keras dari Ratu Alise, ia mengernyitkan alisnya “anak bodoh!. Kau selamanya tidak akan pernah bisa menjadi seorang Raja jika perilaku memalukan seperti itu. Kau pikir hanya menjadi seorang pangeran dapat mengatur seorang Ratu?. Kau memang sama sekali tidak layak menjadi seorang Raja.” Pangeran Niguel sama sekali tidak mengerti dengan kesalahannya dan tiap kalimat yang dikeluarkan Ratu Alise hingga membuat Ratu Alise sangat marah padanya ia memegang pipinya yang sangat merah “kemari kau!." Ratu Alise menarik keras lengan Pangeran Niguel dengan kasar penuh kebencian “Kau anak sial yang tidak membawa keberuntungan untukku, kau harus dihukum.” Pangeran Niguel dilempar kedalam ruangan gelap dan kotor ia melipat kakinya seraya menangis ia tak berani mengangkat kepala untuk melihat kemarahan Ratu Alise “Kau hanya anak sial yang dibawa Erando padaku!.” Ratu Alise menutup pintu ruangan tersebut dan langsung pergi meninggalkan Pangeran Niguel dengan penuh perasaan tega Pangeran Niguel melihat cahaya bintang dari luar jendela “jadi, siapa orangtuaku?.” sudah sejak kecil Pangeran Niguel selalu diperlakukan kasar seperti itu oleh ibunya sendiri, ia hanya diam di dalam ruangan kotor tersebut setelah mendapatkan pukulan keras dari Ibu Ratu Alise seperti yang biasanya ia dapatkan, Pangeran Marquez akan datang menyelamatkan dirinya. Pangeran Alarico yang terbaring lemah di ranjang kamarnya ia terbangun dengan tubuh gemetaran setelah mendapati dirinya bermimpi sangat buruk, ia bermimpi sebuah tragedi kelam yang rasanya tidak ingin ia ingat kembali namun dirinya sangat tersiksa tiap kali ia memejamkan matanya ia selalu melihat dirinya yang usianya masih lima tahun berada di pelukan seorang ibu kandungnya, ia merintih kesakitan menerima cabikan demi cabikan dengan darah mengalir dari tubuhnya yang hanya ia diamkan hingga akhirnya meninggal “ibu Edelweis!.” Pangeran Alarico terbangun dengan bola matanya yang menjadi sangat merah akibat gangguan tidur “aku tidak bisa jika terus seperti ini.” Alarico menarik laci nakas mencari letak obat yang selalu ia minum untuk membuat pikirannya tenang dan agar dapat kembali tidur, namun obat itu mengandung bahan kimia berbahaya untuk kesehatan jantungnya jika ia terus konsumsi obat itu, namun Pangeran Alarico sama sekali tidak mempedulikan efek bahaya obat telah menjadi candu didalam tubuhnya. Pangeran Alarico meringkuk menangis dengan sangat sedih, bibirnya terus meracau meskipun matanya terpejam “aku hanya ingin mendapat keadilan atas kematian ibuku Edelweis.” Pangeran Alarico, memang bukanlah anak kandung dari Erando dan Alise ia juga bukanlah kakak kandung dari kedua pangeran Stefly tapi keberadaan ibu kandungnya itu seperti dirahasiakan oleh Ratu Alise. Pangeran Marquez membuka pintu ruang pribadi Ratu Alise dengan kasar “brakk!!.” Setelah mendapati dirinya didalam ruangan tersebut, Pangeran Marquez melihat Ratu Katrine sedang memilih pakaian yang tepat untuk ia kenakan untuk menghadiri event Ratu tercantik di negara Myerscough. Melihat keberadaan seorang anak yang telah gagal untuk ia jadikan sebagai robot ia tersenyum menyeringai menerima kekalahannya, “Pangeran Marquez, mengapa kamu menolak menjadi seorang pangeran?!. Apa kamu tahu, Kakakmu Pangeran Alarico sedang berupaya merebut tahta yang aku berikan padamu, nak.” ia terus melakukan upaya untuk menjadikan anak itu sebagai robotnya. Pangeran Marquez menangkap seringai picik ibu Ratu ia membalasnya dengan sikap santai “aku sama sekali tidak peduli, lagipula Pangeran Alarico adalah Pangeran pertama di dalam kerajaan Stefly. itu sama sekali tidak mempengaruhi diriku sebagai Pangeran kedua.” Pangeran Marquez menatap Ratu Alise dengan sangat marah, membuat Ratu Alise terbungkam dan takut padanya, ia meninggalkan Ratu Alise dalam keadaan sangat cemas. Ratu Katrine tak kembali kedalam Kerajaan selama dua hari, hanya ada Putri Solana dan para pembantu yang menjaga Kerajaan untuk sementara, Putri Solana terbaring dengan tubuh malas karena memang sekolah sedang memberikan waktu untuk libur, sambil menunggu waktu yang berjalan Putri Solana memutuskan untuk membaca buku. "Putri Solana, ada pesan dari Pangeran Stefly."seorang pembantu kerajaan Rishley membawa sebuah surat tidak resmi yang tidak terdapat perangko Kerajaan. "Kenapa tidak bicara langsung saja sih kemarin, dasar pangeran menyebalkan.”eluhnya Putri Solana mengerucutkan bibirnya setelah ia membaca isi surat, seketika kekesalannya itu diusir dengan rasa bahagia mendapati isi surat tersebut ia melompat girang, bergegas pergi keluar Kerajaan mengenakan jaketnya "Putri Solana, apakah terjadi sesuatu?." Tanya seorang kusir kuda yang sudah siap memberikan tumpangan padanya "Tidak, aku tidak butuh kusir dia disini aku hanya berjalan sebentar dan kami akan segera tiba." Seorang Putri yang baru saja mendapatkan surat cinta, segera berlari menuju Pangeran tampan yang telah menjemputnya melihatnya melebarkan lengannya menyambut Putri Solana untuk belari memeluk tubuh wanita yang sangat ia cintai, terdiam sesaat untuk merasakan getaran cinta yang "Maaf aku bukan bermaksud untuk tidak ingin menikah denganmu, tapi aku hanya tidak ingin selalu diam atas kesalahan yang selalu dilakukan ibu Ratu Alise." "Aku akan membantumu untuk mencari setiap jawaban atas pertanyaanmu itu Pangeran Marquez" Mereka tersenyum saling menatap dengan penuh cinta, Pangeran Marquez mengenggam erat tangan Putri Solana untuk mengajaknya berjalan jalan dibawah bulan yang cantik dengan bunga-bunga warna-warni di sekitaran mereka. "Hmm Putri Solana, setelah liburan sekolah maukah kamu pergi ke sekolah bersamaku?." Putri Solana melirik pangeran Marquez wajahnya merona merah menunjukan ia sangat malu Pangeran Marquez terus menatap ke arah genggaman tangannya yang gemetar karena tangan Putri Solana"Putri Solana, tanganmu gemetar." Putri Solana sontak melepaskan genggaman erat tangan Pangeran Marquez ia berjalan menghindari Pangeran Marquez menoleh ke lawan arah Memperhatikan seorang Putri Kerajaan yang terus menoleh ke arah lain membuatnya sedikit gusar "Ada apa, Putri?." Bisikan Pangeran Marquez mengisi gendang telinga putri Solana, membuatnya semakin gemetar ia terus berjalan menjauhi Pangeran Marquez "Kenapa kamu menjauhiku?" Putri Solana tidak ingin melihat ataupun melirik ke arahnya, ia terus tertunduk dengan rona pipi merah jambu "A-aku malu." Kini tatapan mata seorang Putri yang terus tertunduk malu itu berulang kali melirik mata Pangeran Marquez berusaha mencuri pandang seorang pangeran yang terus memasang ekspresi dingin demi menutupi kecanggungan diantara mereka berdua. "Bagaimana kalau kita kembali ke kerajaan"ajak Pangeran Marquez yang merasakan kecanggungan itu semakin tidak nyaman untuk seorang Putri yang ada disampingnya. Sontak Putri Solana mengerucutkan bibirnya ia menjadi sedih dengan ajakan seorang Pangeran yang sangat ingin ia habiskan waktu bersamanya "Kenapa?, Apakah kamu lelah?." "Bukankah kamu yang lelah berjalan denganku?. Kamu memasang ekspresi dingin padaku" Pangeran Marquez memegang wajah seorang Putri yang menunjukan kesedihan didalam wajahnya, ia menatap mata Putri Solana yang pipinya kembali menjadi sangat merah "Berhenti seperti itu pangeran, kau menyebalkan" Putri Solana melirik ke lain arah menutupi wajahnya yang sangat merah karena terpesona dan menjadi sangat pemalu, sementara Pangeran Marquez tertawa ia terpesona dengan tingkah lucu kekasihnya itu "Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?."pinta Pangeran Marquez dengan sangat gugup ia masih merasakan debaran jantungnya yang tidak menentu akibat ia memegang wajah halus kekasihnya "Iya, boleh saja." Jawaban singkat dengan suara sangat pelan ia berhasil menutupi kecanggungannya itu. Mereka berjalan berdampingan, sesekali pangeran Marquez menyentuh tangan Putri Solana membuat Putri Solana merasakan getaran yang ia rasakan di seluruh bagian tubuhnya Pangeran Marquez terus menatap tangan kekasihnya yang terlihat sangat halus ketika disentuuh "Bolehkah aku mengenggam tanganmu?." Pertanyaan itu terasa seperti sesuatu yang sangat memalukan namun sangat ingin dilakukan "Aku tersetrum dan merasakan aliran listrik saat kamu mengenggam tanganku."ia menolak ajakan kekasihnya untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya juga ingin ia lakukan, namun ia berhasil menutupi keinginannya tersebut demi keamanan debaran jantungnya Menerima penolakan darinya, membuat Pangeran Marquez sedikit merasakan malu dan sakit yang bercampur"Maafkan aku, itu pasti menyakitkan." Melihat seorang Pangeran yang tergambar jelas kesedihan di wajahnya memberikan seorang Putri merasakan penyesalan atas apa yang ia lakukan "Berikan jari-jarimu" "Jariku?" seorang Pangeran yang mengerucutkan bibirnya dengan sedih ia tidak dapat menangkap permintaan dari kekasihnya Putri Solana mengenggam jari-jemari Pangeran Marquez dan mereka berjalan berdampingan, mereka saling mengalihkan wajah ke lawan arah "Kalau begini, aku hanya merasakan aliran listrik mu sedikit saja"suara pelan Putri masih dapat didengar oleh Pangeran yang sedikit menyesal telah memaksanya untuk menuruti keinginannya Wajah Putri Solana kembali merona merah selama ia mengenggam jari-jemari Pangeran Marquez meskipun membuatnya terkena setruman cinta "Kenapa dia membuat jantungku tidak sehat, apakah baik memiliki jantung yang detaknya secepat ini”Pangeran Marquez yang wajahnya juga merona merah "Apakah seluruh kerajaan Stefly berada di kerajaan Rishley saat ini?" Tanya Putri Solana berusaha mengusir perasaan canggung di antara mereka "Mereka sedang berada di dalam kereta kuda, kemungkinan besok pagi tiba."jawabnya Pangeran Alarico yang berada di dalam kereta kuda ia menatap bingkai foto yang terdapat wajah seorang wanita yang penampilannya sangat sederhana "Aku rindu denganmu, cantik." Pangeran Alarico terlihat sangat kesal karena perasaan rindu yang terpendam untuk seorang gadis dengan rambut pendek hitam dan baju lengan pendek serta celana pendek bersama dengan Pangeran Alarico yang merangkul pundaknya, penampilannya yang sederhana membuatnya terlihat seperti seorang gadis dari rakyat biasa. "Nieva, kesayanganku." Setibanya di dalam Kerajaan, Putri Solana melepaskan jari-jemari Pangeran Marquez ia berlari masuk kedalam kerajaannya "Putri Solana, syukurlah aku menemukanmu" Seorang perempuan dengan penampilan sederhana yang wajahnya terdapat di dalam bingkai pangeran Alarico, ia berlari segera memeluk erat Putri Solana dengan pancaran wajah penuh bahagia. "Pangeran Marquez, terimakasih sudah mengantarkan Putri Solana kedalam kerajaan.” ucapnya seraya membungkuk dengan hormat, attitude yang ia miliki sangatlah baik Nieva mengenggam tangan seorang Putri yang baru saja menghabiskan waktu bersama kekasihnya, ia membawa Putri Solana kedalam kamarnya yang sangat luas dengan nuansa biru terdapat ruang belajar di sudut kamar. Nieva berlari menghampiri sebuah pena cantik dengan butiran mutiara di badan pena tresebut, ia menatap dengan kagum "Waah, ini sangat unik Putri Solana?." "Itu adalah pena, apa kamu mau?. Kamu bisa mengambilnya.”pena tersebut adalah benda kesayangan Putri Solana, namun ia rela memberikan apa yang menjadi barang kesayangannya kepada seseorang yang sangat ia berharga untuknya Nieva tersenyum ia segera meletakkan pena kesayangan Putri Solana kembali diatas meja apa yang ia lakukan membuat Putri Solana mengerucutkan bibirnya dengan sedikit tatapan kesal "Tidak, itu adalah milikmu Putri.” "Aku kesal kalau kamu menganggap ku hanyalah seorang Putri dan anak pembantu. Nieva, kita adalah saudara kamu adalah saudaraku." "Putri sangat baik." Putri Solana mengambil pena kesayangannya untuk ia berikan kepada seorang anak pembantu yang sudah ia anggap sebagai saudara, dengan mudah Putri Solana membuat wajah ceria Nieva kembali "Jaga ini dengan baik ya, kamu akan sangat membutuhkan ini selama dalam pelatihan menjadi seorang Putri." "Tapi, aku bukanlah Putri." "Meski begitu, aku sangat yakin nanti kamu akan menjadi seorang Putri Kerajaan." Nieva tertawa ringan "aku tidak ingin berharap tapi aku ingin selalu bersama denganmu Putri Solana." "Kamu memang saudara yang baik, Nieva.” Mereka tertawa bersama, Orangtua Nieva sudah meninggal ia hidup bersama Putri Solana dan Ratu Katrine setelah ia diusir oleh Amora yang merupakan mantan majikannya itu, Kini hidup bersama Katrine seorang Ratu yang berjiwa adil ia menjadikan Nieva sebagai saudara untuk Putri Solana, ia juga mengajarkan arti persaudaraan kepada mereka tak peduli tahta dan juga kasta yang berbeda. "Sebenarnya, aku sangat kesepian jika ibu tidak ada." Putri Solana terlihat sangat murung ia juga menangis, ia hanya bisa melakukan itu di depan orang yang paling ia percayai, Nieva. "Putri, jangan menangis. Aku akan mencari cara agar Ratu Katrine selalu bersamamu." Nieva menutup pintu kamar Putri Solana setelah ia tertidur dengan pulasnya, kemudian Nieva berjalan mendekati Ratu Katrine yang berada di dalam ruangan pribadinya ia sedang menatap keluar berdiri di belakang jendela besar "Ibu Ratu?."panggilnya Nieva melihat matanya membengkak dan airmatanya terus mengalir "Ah, nieva?. Ada apa, kenapa kamu tidak tidur, nak?." "Aku baru saja menemani Putri Solana tidur, aku melihatmu berdiri sambil menangis jadi aku cemas." "Aku tidak apa-apa, kamu bisa pergi tidur di kamarmu,nak." "Ibu Ratu Katrine, terimakasih banyak karena Ratu tidak pernah sekalipun membedakan kasih sayangmu kepada anakmu dan juga aku." "Kamu adalah putriku juga, aku akan berada disini sebentar untuk menenangkan diri sebelum menghadapi hari esok." "Ada yang ingin aku katakan dan mungkin meminta satu hal saja, bolehkah?." "Apa itu?." "Tolong berikan banyak waktu untuk Putri Solana, ia menangis karena kesepian bahkan di dalam tidurnya pun dia menangis." "Degh" mendengar pengaduan yang diberikan Nieva membuat hatinya sedikit nyeri mengingat keadaan anaknya yang lebih sering hidup didalam kesepian, ia tersenyum simpul demi menutupi perasaan penyesalannya "Baiklah, aku akan memikirkannya."jawabnya yang seakan terdengar ia keberatan untuk menuruti permintaan anak asuhnya itu. "Baik, terimakasih ibu Ratu Katrine" Nieva berjalan menuju kedalam kamarnya, ia melihat seragam sekolah bangsawan yang tergantung di lemari pakaiannya, ia melompat girang melihat betapa bagusnya seragam yang akan ia gunakan disekolah, ia segera berlari mencari keberadaan ibu Ratu Katrine yang sedang menuliskan beberapa surat. "Ibu Ratu Katrine."panggilnya menunjukan wajah penuh bahagia seraya memegang baju sekolah miliknya "Kenapa kamu menangis, nak?." "Aku sangat bahagia, apakah ini benar-benar untukku?. Apakah ibu Ratu tidak salah memberikannya?." "Aku melihat kamu sangat tertarik untuk belajar, jadi kamu akan pergi besok." "Terimakasih banyak ibu Ratu, aku sangat bersyukur tuhan telah menghadirkan dirimu untukku." "Ooh anakku, kemarilah" Nieva berlari memeluk ibu Ratu Katrine tanpa perasaan canggung karena memang ia tinggal bersamanya setelah ia berusia dua belas tahun "Sekarang, tidurlah kamu besok harus bersiap untuk sekolah." "Baiklah, aku pamit ke kamar ya." Nieva berlari menuju kedalam kamarnya, sementara Ratu Katrine kembali menggunakan kacamatanya dan menulis beberapa surat. “Ibu Ratu sangatlah baik, tidak seperti paman dan bibi yang jahat mengusir aku dari kehidupan mereka.” Keesokan paginya,keluarga kerajaan Rishley menyambut kedatangan tamu terhormat yang merupakan Keluarga kerajaan Stefly. "Mereka akan mengantarkanmu kedalam kamar." Ratu Alise menarik lengan Ratu Katrine dan membawanya pergi untuk menjauhi kerumunan dan bicara secara privasi dengannya. "Maaf, jika setelah pemakaman ini aku harus segera pergi untuk sebuah acara." "Sebenarnya aku sudah tau itu, Ratu Alise. Kau santai saja." Mereka kembali untuk memulai sarapan di dalam kerajaan Rishley.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook