Violeva Dayuni keturunan Jawa – Minahasa, mengadopsi perpaduan dua suku yang unik, Violeva mewakili darah Minahasa yang berasal dari mamanya dan Dayuni, nama perempuan Jawa yang disematkan oleh papanya. Kata papa, pemilik nama Dayuni adalah orang yang memiliki kemauan keras, bakat bisnis, dan wibawa. Mungkin memang benar, karena keluarga besarnya cenderung melakoni profesi sebagai pegawai instansi pemerintahan, berseragam rapi, pergi kerja dari pagi hingga petang dan punya gaji bulanan pasti, uang tunjangan, serta jaminan hari tua. Tapi Violeva tidak melakukan hal yang sama.
Di keluarganya, baru dia yang keluar dari zona nyaman dan menjalankan bisnis dengan belajar secara otodidak. Ia terlahir untuk melakukan bisnis—seperti makna yang ditunjukkan oleh nama belakangnya, dan Violeva tahu bahwa dirinya ditakdirkan untuk itu. Namun semua analogi itu ambyar karena pada tahun 2019, booming sebuah lagu yang memakai namanya sebagai antonim. Lagu itu berjudul Dayuni, dengan bunyi lirik mirip kambing yang akan disembelih sambil diiringi musik dan menyebutkan namanya berulang kali.
Ee ... eee ... eee ... eee ... ee ... jadi Dayuni … iiii ... yee ... rangda ayu jarang dikeloni.
Dayuni berarti singkatan dari janda ayu jarang dikeloni, betapa menyedihkannya. Setelah berusia nyaris 25 tahun, akhirnya nama Vio yang selalu digadang-gadangkan bagus dan unik ternistakan juga. Biasanya dia melakukan ini pada Mina, menyebut temannya itu Anal—karena nama depannya adalah Anala, Mimin hingga Sarimin. Dan kabar buruk yang paling Vio antisipasi dari lagu itu adalah bergesernya makna nama belakang yang dia miliki. Vio percaya bahwa nama adalah sebuah doa. Apa nama Violeva akan berubah makna karena antonim itu muncul baru-baru ini? Sialnya lagi, dia merasa lagu tarling Pantura Cirebonan itu enak di dengar, catchy sekali di telinga.
Omong-omong soal Dayuni, ia jadi teringat akan perdebatannya dengan Alan belakangan ini. Ada pikiran yang tersirat untuk membuat Vio mempertimbangkan agar terus melanjutkan pernikahan mereka atau tidak. Apakah Vio akan jadi Dayuni sungguhan? Maksudnya Dayuni seperti dalam lagu itu, jadi janda muda karena lagunya memberi sugesti.
Selain masalah finansial yang pelik, Alan juga memiliki kebiasaan buruk. Dia tahan diam-diaman saat marah dalam waktu yang lama, tidak mau memulai diskusi, enggan meminta maaf lebih dulu, menghindar, sering di luar daripada di rumah, padahal mereka sudah sering membahas soal ini sejak zaman purba—kalau tidak berlebihan menyebutnya. Dan omong-omong sejak perdebatan mereka kemarin, keduanya belum bertegur sapa sampai detik ini.
Dalam kamusnya, marah, ada masalah, berarti diam menjauh dan akan kembali baik-baik saja kalau sudah butuh, tanpa mengucap maaf, tanpa basa-basi, seolah tidak terjadi apa-apa sebelum ini karena sepertinya mulut Alan gatal-gatal kalau mengatakan permintaan maaf yang sungguh-sungguh, sedangkan Vio tidak bisa seperti itu. Ia mau laki-laki yang saat ada masalah bersedia duduk untuk berdiskusi dan memperbaiki keadaan, bukan yang seperti anak kecil, pergi, diam dan tiba-tiba mengabaikan.
Lagi pula, manusia dari mana yang sampai hari ini tidak punya attitude dasar semacam mengucapkan maaf, tolong dan terima kasih? Three magic words itu bahkan sudah diajarkan pada manusia sejak masih balita. Tapi Alan bilang, dia tidak dibesarkan dalam keluarga seperti itu. Mungkin dulu mereka tinggal di gua.
“Bu, klien Eren ambil paket wedding 15, kan? Ini include wedding cake.” Violeva beralih dari lamunannya dan segera memeriksa berkas pekerjaan itu, mendengar lagu Dayuni benar-benar membuat konsentrasinya terganggu. Seminggu lagi klien yang mereka bicarakan ini akan melaksanakan hari besarnya.
“Wedding cake, ya? Temanya rustic. Biar saya yang bikin.”
“Ya, Bu?” Maya, satu-satunya staf permanen di butik memastikan.
“Saya yang bikin kuenya, Maya.” Vio menjawab dingin. Tidak suka pada tatapan tak percaya-seolah-dia-tidak-mampu dari pegawainya itu.
“Ibu bisa bikin kue bolu pengatin?”
“Bisa dong!” Vio menepuk d**a jumawa. “Gampang lah, tema rustic doang. Tinggal base cake dibalur Korean buttercream polos pake bunga-bunga dikit aja, simpel.”
“Ibu hebat banget!” Maya memberinya tepuk tangan meriah. Dasar pintar cari muka, dia tahu saja kalau bosnya senang dipuja-puji seperti itu.
Violeva menjalankan bisnis bridal-nya hanya dengan sedikit uang, dia banyak memanfaatkan peluang. Yang bisa ia kerjakan sendiri, ia kerjakan. Membuat bucket bunga, mendesain undangan pernikahan, dan kali ini juga membuat kue pengantin. Beberapa di antaranya dia pelajari secara otodidak.
Beauty Gown, butik gaun pengantin miliknya sudah berjalan kurang lebih dua tahun dan menghasilkan puluhan juta setiap bulan. Violeva bisa dibilang sebagai pebisnis muda yang gemilang. Dia hanya pemilik butik gaun, tanpa keahlian merias pengantin dan tidak memiliki dekorasi pesta pernikahan, namun bisa menarik banyak calon pengantin yang bersedia memakai jasanya setiap bulan. Bagaimana caranya?
Sementara Alan suaminya, seorang Manager Content di salah satu E-Commerce besar Indonesia. Berpenghasilan belasan juta, dan hal itu tak ayal membuat keduanya tampak serasi. Mereka terlihat mapan secara finansial, hanya kelihatannya saja. Tidak ada yang tahu bahwa, Alan justru mengalami kesulitan keuangan yang tak terperi. Dia bahkan harus hidup dan menumpang makan dari hasil kerja keras istrinya, dengan sangat terpaksa.
Sejak pengangkatannya waktu itu, Maulana VayAresh—manajer konten perusahaan besar, tidak mungkin hanya jadi penyewa apartemen, atau hanya menaiki mobil sederhana milik sejuta umat. Tidak mungkin. Dia segera mengupgrade gaya hidupnya dan mulai menyicil sebuah cluster elit tipe 45 untuk tempat tinggal baru di kawasan segitiga Jakarta. Menjual mobil lama dan memakai hasilnya untuk uang muka mencicil mobil baru, mobil yang lebih mewah, Toyota Fortuner Grand New G LUX 2017 adalah jajaran mobil mewah untuk masyarakat sekelas mereka.
Cicilan mobil itu kurang lebih setengah dari pendapatannya perbulan. Belasan juta tadi, dipakai untuk untuk menyicil rumah dan mobilnya. Sedangkan sisanya, beberapa juta lagi, adalah anggaran untuk biaya akomodasi selama tiga puluh hari, minum kopi mahal ala manajer, dan tidak lupa melakukan perawatan rambut serta brewok di Barbershop kekinian. Praktis, pendapatannya minus sementara biaya hidup untuk makan dan mengurus rumah ditanggung penuh oleh Violeva.
Membahas itu membuat Vio jadi kembali meradang, Alan tidak pernah memberinya uang bulanan seperti para suami seharusnya. Belum lagi kebutuhan ibu mertua yang merongrong berisik seperti kucing sedang birahi dan harus dipenuhi. Tapi dia punya uang untuk membeli hal receh seperti velg mobil mewah yang harganya sama sekali tidak receh itu. Kadang Violeva mulai berpikir, apa sih gunanya ia menikah?
Dulu, Alan menikahinya karena mereka sudah pacaran enam tahun, dan Vio lelah kalau harus mencari orang baru untuk dikenalnya lagi, mengulang banyak siklus, juga malu pada tetangga kanan kiri yang sudah melihatnya ke mana-mana berdua sejak masih memakai seragam putih abu. Dia menikah tanpa pikir panjang, dan lihatlah yang terjadi.
Pikirnya waktu itu, Vio rugi waktu, tenaga, dan materi jika tidak menikah dengan Alan. Ditambah lagi, jajaran para mantan yang nangis bombay sambil menyanyi di pesta pernikahan naik pesat akhir-akhir ini. Violeva tidak mau jadi salah satu dari mereka, atau justru Alan yang seperti itu dan menorehkan aib seumur hidup di hari bahagia Vio, jadi paling aman memang menikah dengannya saja. Walau ia tidak menyangka kehidupan pernikahannya bisa semengerikan ini.
***
Vio : Selamat sore, sahabat seperjuangan! Gaun gue dong belum nyampe juga, gimana ini?
Priska : Makanya lo gosah gegayaan beli gaun impor mulu, mana katanya modal ngepress gitu. Tanah Abang noh, banyak juga gaun manten bagus-bagus.
Mina : Met, sore!
Vio : Priska bawel!
Vio : Eh, mumpung inget. Gue mau minjem headpieces yang baru ya, Zi.
Vio : Zi ...
Vio : Zia, woy!
Zia : Lecet dikit, sertifikat rumah lo gue sita.
Vio : Mesti dipanggil tiga kali emang baru nyaut kayak jin tomang!
Vio : Rumah gue masih nyicil, Zi.
Zia : Pake nyawa lo aja.
“Astagfirullah, Neng Zia ini emang mulutnya perlu gue karetin pake benen motor.”
Violeva terkekeh sambil mengirimkan emoji melambaikan tangan tanda ingin menyudahi obrolan mereka sore itu. Sekarang ia kembali fokus pada klien yang sedang melakukan photoshoot untuk kepentingan prewedding dan memakai jasa butiknya hari ini.
Sepasang anak muda yang tengah berpose malu-malu mengikuti arahan fotografer dan tertawa manis sesekali. Romantis dan menggemaskan, kurang lebih seperti Vio dan Alan di masa lalu. Calon mempelai wanita memakai gaun berwarna merah menyala dengan bahan velvet yang membungkus tubuhnya dengan apik, seksi tapi tidak meninggalkan kesan sopan yang ditampilkan. Sementara si pria, memakai setelan tuxedo hitam dan kemeja putih berkerah wing dengan dasi kupu-kupu berwarna merah, senada gaun pasangannya bertengger di sana.
“Maya …” Violeva meletakkan ponsel dan mengalihkan perhatian dari sepasang calon mempelai. “Klien kita yang kemarin ambil paketan paling murah itu, yang kayanya nggak niat kawin itu, ada ngehubungin lagi nggak?” Ia berbisik pada pegawai tunggalnya itu.
Maya tampak mengingat-ngingat, dia meletakkan tangan di dagu seolah memiliki jenggot untuk dielus-elus. “Seinget Maya sih, cuma Mbaknya aja, Bu. Kalau Masnya nggak ada. Ibu mau bisnis sama si Masnya, kan?”
Violeva mengangguk dan mengingat-ngingat orang itu, entah ide gila dari mana tapi sepertinya lumayan cocok untuk jadi tumbal tahunannya kali ini. Zia ulang tahun kemarin dan Vio dengan sangat gegabah melupakan hadiah yang harus ia siapkan. Mirip pesugihan memang, tapi setiap tanggal ulang tahunnya, mereka harus menyetor satu laki-laki yang akan dikenalkan pada Inang.
Bagi Inang Zainab—maminya Zia, mencarikan putrinya seorang pasangan adalah hal yang penting, levelnya sudah emergency. Sangat tidak dianjurkan menunggak sesajen, sebab Inang Zainab akan mengejarnya seperti Debt Collector kejam yang akhir-akhir ini viral sejak merebaknya kasus pinjaman online.
Tidak ada syarat mutlak atau kriteria khusus untuk para tumbal. Dia hanya harus berjenis kelamin laki-laki, ganteng adalah bonus. Kalau ditolak Zia, ya sudah aman. Dan semuanya pasti akan ditolak, entah Zia punya orientasi seksual yang kurang normal atau apa, Vio tidak paham. Lagi pula, Vio melakukan ini semua untuk membalas kebaikan Inang Zainab di masa lalu. Tapi kenapa mencari pria lajang yang available untuk Zia sulit sekali?
Ares : Selamat sore, Ayu. Ke mana aja sih? Dari kapan chat aku gak dibales. Sibuk?
Astaga, Vio hampir melupakan lelaki yang dikenalnya lewat aplikasi dating online berbayar, yang rutin mengiriminya pesan dan perhatian, tiga kali sehari, seperti jadwal minum obat. Namanya Ares, berusia dua puluh lima—sepantar dengannya, lajang dan pegawai di perusahaan swasta. Mungkin Vio pantas diledek dengan lagu viral akhir-akhir ini yang berbunyi ‘entah apa yang merasukimu?’ karena dia sendiri tidak mengerti.
Seperti dirasuki, tiba-tiba saja Vio mengunduh platform itu dan berbuat hal yang sangat mungkin menjadi penyebab terbesar perceraiannya dengan Alan kelak—kalau ketahuan. Aplikasi itu memasangkannya dengan Ares lebih dari dua bulan yang lalu, dan berawal dari saling sapa, kini Vio justru nyaman berkomunikasi dengannya. Dia tahu ini bodoh, sudahlah. Dia juga tahu kalau ini salah, Vio sadar betul kalau dia berselingkuh dari suaminya. Tapi kan—
Ares : Ayu, kamu gak kangen sama aku gitu?
Ayu : I miss you, Ares. Aku sibuk banget akhir-akhir ini, pekerjaanku, kamu tahu kan? Aku freelancer, hanya dapat uang kalau ada job.
Ares : Selalu rendah hati, i know you. Jaga kesehatan kamu, itu yang terpenting.
Ayu : Of coure, i will. Kamu juga, jangan telat makan.
Tidak perlu diingatkan, Vio tahu ini salah. Dia tahu kalau Ares bukan hal yang baik untuknya. Tapi tolong salahkan hatinya karena Vio merasa nyaman. Ia sudah punya Alan tapi tetap merasa kekurangan. Jadi, boleh kan menikmati sedikit saja curahan kebaikan dan perhatian dari orang lain dan berlindung di balik nama Ayu sebagai bentuk penyamaran? Vio tahu ini semu, tidak ada kontak fisik di antara mereka. Jadi harusnya sah-sah saja, kan?
***