Hal yang membuat Vio berhenti membalas pesan Ares sore ini dan berhubungan langsung dengan kepulangannya ke rumah diliputi perasaan marah, tidak jauh-jauh dari lelaki itu. Iya, dia—Maulana VayAresh alias Alan, lelaki berisi dengan lipatan perut seperti tumpukan kue ulang tahun, karena hobinya malas-malasan. Tidak mau olahraga, senang sekali rebahan setelah makan dan menghabiskan banyak waktu dengan bermain game online.
Ya ampun, Violeva ... apa yang merasukinya tiga tahun lalu sampai bersedia dinikahi lelaki ini? Dia bahkan tidak mengganti kemeja kerjanya setelah pulang ke rumah kecuali diomeli sampai mulut Vio berbuih-buih. Dan mereka sedang perang dingin, bayangkan saja kebebasan macam apa yang dimilikinya sekarang.
“Kamu belum bayar cicilan mobil?” Vio buka suara tanpa basa-basi begitu masuk ke teras dan menginjakan kaki, menunjukkan layar ponselnya, tagihan dari Debt Collector mampir padanya sore ini.
Terhitung sudah tiga hari mereka tidak saling bicara. Kali ini terpaksa Vio harus mulai duluan, karena masalah uang sangat krusial dan dia jeli sekali soal itu. Jangan sampai ada denda di antara mereka, apalagi kalau harus meminjamkan dana talangan untuk tunggakan mobil suaminya. “Uangnya kamu transfer ke Mami? Atau ternyata uang buat ganti velg itu dapet nyomot dari uang cicilan?”
Benda kotak di tangannya itu bergetar, dan Vio menariknya segera, ada notifikasi masuk dengan tanda hati berwarna merah, dari Ares di aplikasi dating. Nyawanya di ujung tanduk kalau sampai Alan sedikit saja mendongak dan melihat ke layar ponsel, bodohnya tidak ada cara untuk membuat aplikasi ini mengatur mode notifikasi senyap. Dengan tangan gemetaran, Vio menutup jendela aplikasi itu, ia melirik ke arah suaminya, khawatir Alan memergoki tingkah anehnya barusan lalu menumbuhkan rasa curiga.
Untung saja Alan tidak melihat, mata dan kepalanya masih fokus pada ponselnya sendiri, bahkan menganggap suara Vio seolah tidak terdengar, membuat Vio merasa dirinya tembus pandang. “Alan, kalo orang nanya tuh jawab!”
“Ini aku lagi transfer cicilannya, Vi.” Alan mengacungkan layar ponsel persis ke wajah Violeva.
“Telat bayar itu kena denda tahu, Al. Ngapain lagian uang ditimbun di rekening sementara hutang belum kebayar? Heran deh, suka nggak mikir!”
Vio meninggalkan suaminya dan berencana kembali ke butik, atau ke mana saja asal mereka tidak berada dalam satu tempat yang sama. Melihat Alan hanya membuatnya naik darah.
“Dasar mobil sialan!” Dia menendang ban mobil putih Alan sambil berjalan keluar melewatinya.
“Apa kata kamu barusan?” Di luar dugaan, Alan bereaksi tidak nyaman.
“Mobil sialan,” jawab Vio ngegas. “Paham nggak? Mobil SI-ALAN. Ini mobil kamu, kan? Salah aku bilang ini mobil sialan?” Siapa suruh dia punya nama yang sangat kompatibel dengan umpatan? Jadi sangat nyaman menyebutnya saat sedang marah.
Alan merengut, kemudian melirik mobil putihnya sebentar sebelum beralih. “Namanya Ganteng.”
“Hah?” Apa katanya?
“Mobil ini namanya si Ganteng,” kata Alan dengan kalemnya.
“Bodo amat, Alan. Aku nggak nanya!”
Violeva masuk ke mobilnya sendiri sambil membanting pintu. Ya Tuhan, apa kesalahannya di masa lalu sampai harus melakukan penebusan dosa yang amat berat seperti ini? Dia harus cepat pergi, dekat-dekat Alan berapa menit saja sudah membuatnya stres parah. Dasar Sialan.
***
“Posisinya agak miring, sudah haid belum bulan ini sekarang, Bu?”
Vio mencoba mengingat-ngingat, kapan terakhir dia datang bulan? Rasanya baru-baru ini, tapi ia juga tidak yakin, tanggalnya tidak beraturan dan Vio selalu percaya diri bahwa ia tidak mungkin hamil mengingat alat kontrasepsi yang bernaung di rahimnya selama lebih dari dua tahun ini. Katanya, akurat sampai sembilan puluh sembilan persen, ada yang bilang sampai sembilan puluh dua persen. Tapi baginya, jelas seratus persen karena sudah dua tahun pemakaian dan tidak ditemukan tanda-tanda kebocoran selain posisinya yang sering bergeser-geser.
“Ini masih aman, tapi kalau ingin diperbaiki baiknya ketika Ibu sedang menstruasi hari kedua atau hari terakhir, ya? Untuk meminimalisir rasa sakit.”
Violeva mengangguk patuh, memilih menyetujui perkataan ahli kandungan yang sudah membantunya merawat kesehatan reproduksi dan kontrasepsi selama hampir tiga tahun. Dokter Dafnil namanya, pertama kali bertemu adalah saat Vio berusia dua puluh dua, baru menikah tiga bulan dengan Alan dan dinyatakan hamil sembilan minggu.
Iya, dulu Violeva pernah hampir punya anak dengan Alan, lalu keguguran dan memutuskan untuk menunda sampai waktu yang tidak bisa dipastikan. Trauma pasca kegugurannya berefek panjang, Vio belum siap jika harus mengandung seorang bayi lagi, tidak sekarang. Entah kalau nanti, namun dengan kondisi rumah tangga seperti ini, apakah masih ada harapan seorang anak akan hadir di antara mereka?
Ares : Udah selesai ke dokternya? Kamu sakit apa, sih? Aku khawatir.
Ares lagi, hampir hanya selalu Ares yang tahu keadaannya, atau lebih tepat jika Vio mengatakan, hanya Ares yang ia beritahu perihal kegiatan-kegiatan kecilnya. Tidak ada Alan, ponselnya tidak pernah mendapat sekadar sapaan atau apa pun dari suaminya.
Ayu : Aku udah selesai kok. Nggak sakit, Ares. Kamu nggak percayaan banget, sih.
Ares : Aku takut kamu bohong. Gimana aku nggak sangsi, kamu punya pasangan bermasalah sampai cari kenyamanan di dunia maya kayak ini, terus kamu diam-diam ke rumah sakit tanpa kasih tahu pasangan kamu. Aku khawatir.
Vio tertawa sesaat setelah membacanya, bahkan Alan—suaminya, tidak terlalu
memperdulikan hal seperti ini.
Ayu : Aku habis cek kandungan.
Ares : Are you pregnant?
Ayu : Memangnya orang kalau ke dokter kandungan itu harus selalu hamil, ya?
Ares : Terus? Apa kandungan kamu sakit?
Ayu : Aku habis cek alat kontrasepsi, Ares.
Ares : Kamu pakai sesuatu kayak gitu? Artinya kamu dan pasangan kamu masih melakukan hubungan suami istri? Like literally ... b******u, right? seolah nggak terjadi apa-apa? Kan kamu udah nggak nyaman sama dia.
Ayu : Yes. Dia masih suami aku, Ares. Dan kewajiban istri melayani suaminya, kan?
Juga kebutuhan sebagai manusia secara biologis yang sudah tahu dan terbiasa dengan keintiman bersama pasangan. Violeva tidak menampik bahwasannya b******u dengan Alan adalah kebutuhannya juga, bukan hanya sekadar pemenuhan kewajiban. Bagaimanapun, Alan adalah orang pertama baginya dalam banyak hal, hampir seluruhnya bahkan. Ciuman pertama, pelukan pertama, dan orang pertama yang berhasil membobol pertahanannya juga. Vio tidak bisa, semudah itu melupakan ataupun menolaknya. Dia juga perempuan normal.
Ayu : Ares? Where are you?
Ares : I’m here. Maaf mood ku down banget sekarang, kamu jangan lupa makan dan istirahat, ya? Kalau mau kirim alamat aku pesenin makan pakai aplikasi pesan antar.
Ayu : Hei, what happen? Are you okay?
Ares : No, i am not. Habis ini kalau kamu bales lagi tapi bukan kirim alamat, aku nggak balas dulu ya, Yu. Aku balik lagi nanti kalau udah oke.
Violeva merengut, kenapa sih cowok ini? Tiba-tiba bilang khawatir dan sekarang pamit karena moodnya sedang tidak bagus. Apa Vio salah bicara? Dia mengatakan hal yang salah di atas?
***
Ini sudah hari keempat dan masih belum ada tanda-tanda Vio dengan Alan akan baikan. Rasanya hampa sekali, aneh. Biasanya Vio paling tidak tahan diam-diaman seperti ini. Dia sering galau sendiri saat mereka perang dingin, marah dan kesal melihat Alan bisa diam dan duduk santai di depan televisi. Sedih karena merasa hanya dia yang ingin baikan lagi. Dan lain-lain, bucin detected.
Vio berani sumpah, ini rekornya terlama membiarkan Alan menjauh. Dia yang dulu ingin selalu baikan sebelum tidur, sekarang tidak peduli, yang dulu meminta agar Alan tidak tidur terpisah saat bertengkar kini justru mendorongnya pergi. Dia mengunci pintu kamar setiap malam sebelum tidur selama beberapa hari ini. Whatever, Alan.
Mungkin karena sekarang ada Ares?
Dulu Violeva akan datang ke hadapannya, mengajak bertengkar ronde kedua sebagai alasannya untuk menangis dan berharap dipeluk agar mereka akhirnya berbaikan lagi. Sekarang tidak. Lelah rasanya berjuang sendiri, seolah hanya Vio yang membutuhkan Alan dan tidak ada timbal balik. Alan selalu menunggu untuk dipanggil agar bisa bersama lagi. Alan yang laki-laki tapi Violeva seperti suami di rumah ini.
Dulu, tawa mereka pecah begitu mudah di rumah ini. Bahkan untuk hal sangat kecil sekalipun, yang kadang tidak wajar ditertawakan. Tapi itu dulu. sekarang Vio hanya bisa mengenang masa-masa itu sambil menangis. Dia menangis karena hasrat untuk berbaikan dengan suaminya tidak ada lagi. Dia sedih karena bingung kenapa perasaannya pada Alan berubah jadi begini? Dia takut, karena masalah kecil saja bisa sampai begini, bagaimana kalau masalahnya lebih besar nanti? Apa mereka akan langsung bercerai?
Atau ini karena ... ada Ares di antara mereka?
Kenapa Vio baik-baik saja melihat ranjang di sebelahnya kosong? Biasanya ia tidak bisa tidur tanpa Alan di sisinya. Biasanya Vio marah jika Alan tidak makan masakan yang dibelinya. Biasanya, Violeva akan keluar dari kamar ini dan bertanya kenapa Alan tidak kunjung datang dan minta maaf? Mungkin, dia sudah lelah, lelah jadi yang paling mencintai di sini, sementara cinta Alan tidak pernah terbukti sebesar harapannya.
Ayu : Ares, kamu lagi apa? Aku sedih banget.
***