Beauty Gown

736 Kata
Ada Hanin, Resty, Vera dan Andri juga Maya berkumpul sebagai tim Beauty Gown hari ini. Mereka sudah berkumpul sejak jam empat pagi, terutama Resty dan Vera yang memegang bagian rias pengantin serta tatanan rambut, sedangkan Maya bersiap dengan gaun-gaun yang sudah  dipilih pengantin jauh-jauh hari, Hanin—sebagai pemilik tenda dan kursi pelaminan mengatur stafnya agar meletakkan dekorasi tanpa menimbulkan kesalahan sama sekali. Dan Andri sudah bersiap dengan dua anak buahnya memotret apa pun yang berhubungan dengan prosesi pernikahan. Mulai dari memotret undangan, bunga, sepatu, headpieces bahkan sang calon pengantin yang masih memakai handuk kimono. Klien mereka bernama Mbak Uke—pegawai Bank Swasta yang datang ke Beauty Gown atas rekomendasi dari Priska. Pagi yang sibuk dan menyenangkan sekaligus melelahkan untuk tim Beauty Gown hari ini. Sementara timnya bekerja, Violeva sibuk mengawasi, menjadi tim dokumentasi seorang diri. Mengunggah kesibukan timnya di sosial media khusus untuk butik, menawarkan promosi, menunjukkan hasil kerja mereka atau testimoni. Sebenarnya dia bisa diam saja di rumah, Maya sudah ahli menghandle semua. Vio hanya tinggal menerima transferan, tapi toh dia suka hari yang sibuk seperti ini. Pukul sepuluh pagi mereka akan pindah lokasi, kecuali Andri sang fotografer, yang lain akan ikut dengan Vio untuk merias dan mengurus seorang pengantin yang lain. “Maya jangan lupa gaunnya, jangan sampai ketuker.” “Iya, Bu.” “Hanin itu dekorasi bunganya belum kena matahari kenapa udah layu, sih? Klien minta bunga hidup lho. Lo beli krisan kek aduh, parah banget sih ini.” “Aduh, Kak, kayaknya tadi di mobil pada kehimpit apa gimana deh gue nggak ngerti juga, sayang banget.” “Suruh pegawai lo bawa mobilnya yang bener.” Violeva mengomel sambil memegangi bunga-bunga hidup yang harusnya dipajang dekat pelaminan dan di bagian depan kolam—seperti permintaan klien, dan beberapa rusak sebagian. “Beli lagi bunganya,” kata Vio sambil melirik smartwatch yang melingkar di tangan. “Mumpung masih jam enam. Di Pasar Kembang Cikini aja, agak murah harganya. Buruan.” Violeva dan sikap perfeksionisnya mengambil alih. Kemudian, Hanin meneriaki nama pekerjanya dan memberi mandat pada anak muda itu untuk membeli beberapa jenis bunga hidup yang sama persis dengan bunga-bunga rusak di hadapan mereka. Tidak lupa, Vio juga mendengar Hanin mengomeli anak buahnya agar kali ini membawa bunga dengan hati-hati agar tidak rusak lagi. Bisa rugi bandar mereka kalau harus membeli bunga berkali-kali.             “Maya awas headpieces dari Zia Major diperhatiin paling utama ya setelah gaun kita.”             “Siap, Bu.”             Violeva kembali ke tempatnya dan mengawasi, Resty sebagai makeup artist profesional tidak perlu diragukan lagi, tidak ada yang perlu dikomplen, berbanding lurus dengan Vera yang sudah berkecimpung di dunia tatanan rambut sejak lama bersama Resty. Mereka selalu ambil job bersama, selalu berdua seperti Upin dan Ipin. Andri, kemampuan memotretnya tidak perlu diragukan lagi. Dan Hanin, si pemilik wedding organizer yang saat ini masih jadi junior Resty dalam merias pengantin, bersedia menyewakan perintilan pesta pernikahan dan bernaung di bawah nama Beauty Gown sebagai partner dan freelancer, berdiri tegak pinggang mengatur para pekerjanya. Mereka semua—serta Maya, adalah pondasi kuat bisnis bridal milik Violeva berjalan lancar selama dua tahun ini. Jangan lupakan Zia, sahabat Vio sejak SMA yang memiliki keahlian dalam membuat perhiasan untuk pengantin, juga turut andil dalam berkembangnya Beauty Gown. Zia bersedia menyewakan koleksi perhiasan, tiara dan accecories terbaik miliknya, yang Vio tahu semua itu bukan barang murahan. Dan jaminannya tidak main-main kalau barang-barang itu sampai lecet apalagi rusak. Bukan lagi sertifikat rumah atau hanya BPKB mobilnya yang terancam, mungkin Vio harus bersiap kehilangan salah satu ginjal untuk dijual dengan harga mahal demi menutupi kerugian Zia. Oke, yang terakhir bercanda.  Partner dan freelancer itu, dibayar per-job sesuai tarif yang sudah disepakati, sedangkan Vio menerapkan paket pernikahan yang sudah mencakup semuanya dan mengkalkulasikan harga kepada calon pengantin. Hasilnya, dia bisa mendapat laba kotor berkisar empat hingga enam juta rupiah dari satu orang klien, dan dalam satu bulan butiknya bisa mendapat kepercayaan hingga sepuluh pasang pengantin yang harus diurusi. Tidak jarang di hari yang sama mereka mengurus dua pasang pengantin sekaligus dengan tambahan tim back up yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Violeva suka pekerjaan ini, dia bertemu banyak orang, ikut andil dalam merencanakan hari bahagia mereka dan ikut tersenyum bangga saat semuanya berjalan sesuai rencana. Melelahkan memang, tapi ada orang-orang yang harus ia sokong kebutuhannya, Varrel adik Vio yang masih kuliah, Mama dan Mami yang harus dikirim uang belanja bulanan. Untuk itu, Vio dan Alan sebaiknya memang tidak usah punya anak dalam waktu dekat. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN