“Alan, uang segini mana cukup. Belum bensin kamu, tol, uang makan, uang kopi, uang pegangan. Aduh .... pusing banget aku.” Violeva mengeluh, hanya beberapa digit angka yang tersisa di rekening suaminya. Dan ia tahu betul itu tidak akan cukup bahkan untuk biaya makan saja selama sebulan. Mereka harus bagaimana?
“Itu kan sisanya, Vi. Aku udah bayar cicilan rumah sama mobil, sisanya segitu lagi.”
Alan tidak menampik, memang keteledorannya. Sejak Violeva bekerja, membuka usaha katering dengan Mina sahabatnya, bugdet untuk makan sehari-hari dipotong habis. Mereka makan dengan apa yang tersedia di rumah, apa yang mereka jual. Tidak lagi menyediakan anggaran khusus.
Vio memilih berhenti, katanya capek sekali kerja seperti itu. Penampilannya tidak terurus, kukunya menguning karena dipakai untuk mengupas kunyit, dia kelelahan setengah mati walau hasilnya sangat cukup untuk hidup. Dan Vio baru keguguran beberapa bulan yang lalu, tubuhnya belum begitu prima. Alan tidak banyak berkomentar saat istrinya memilih istirahat, tidak mau meneruskan usahanya lagi. Dia tahu itu bukan kewajiban Vio, itu hanya bentuk baktinya kepada suami. Namun, bagaimana mereka meneruskan ini?
Alan baru menjual mobil lamanya untuk mencicil mobil baru, otomatis gajinya sebagian besar dialokasikan untuk cicilan. Hanya tersisa beberapa, dan Violeva baru saja bilang bahwa itu tidak akan cukup. “Gara-gara kamu jual si Riko,” kata Vio murung.
Matanya nyalang menatap ke luar jendela, garasi mereka kedatangan penghuni baru. Masih bau dealer, warnanya mengkilap, licin, bahkan lalat tidak akan bisa mendarat. Dia menggantikan tempatnya si Riko, Etios Valco black 2016 milik Alan, pasangan serasi untuk Neng Eti. Mobil murah memang, tapi masih bisa jalan. Alan mengganti si Riko dengan gegabah karena merasa harus naik kelas.
“Maaf, Vi. Tapi kalau kita lepas, aku baru nyicil dua kali doang. Uang kita bisa melayang.” Alan mengemukakan alasan yang membuat mereka serba salah, maju kena mundur kena.
“Uang kamu,” kata Violeva. “Aku nggak punya andil di sana.”
“Maaf, Vi.”
“Kalau gitu kamu cari penghasilan tambahan. Buat kita makan, Al. Masing-masing dari kita harus makan dua kali sehari aja, biar hemat. Terus kamu juga mesti naik Kopaja atau MRT ke kantor sesekali. Tekor kalau bawa mobil terus, bensin lah, tol, parkir.”
“Apa dong, Vi? Aku udah sering lembur juga, hasilnya cuma segini.”
Violeva tampak berpikir, melihat penampilan Alan yang gagah dan tegap, juga track record-nya dalam memberikan jatah bergoyang setiap malam jumat, sepertinya ada satu profesi yang cocok. Dan mudah-mudahan dia tidak terlalu kelelahan melakukan ini. “Kamu jadi gigolo aja, gimana? biar cepet.” Cepat dapat uangnya, maksud Vio.
“Ya ampun, istigfar kamu, Vi. Mending aku ngepet sekalian.” Violeva tertawa, reaksi Alan tepat seperti dugaannya.
“Ya, mending nggak dua-duanya lah! Eh, tapi aku serius lho, aku punya kenalan di kantorku dulu ada— ”
“Stop! Stop! Stop! Apaan sih, Vi? Masa aku harus jual diri? Aku sih demi kamu apa aja aku lakuin, tapi kalo jual diri ... emangnya ada yang mau? Emang aku nampang jadi gigolo gitu?”
“Kok ngomongnya gitu? Kamu kan suami aku yang paling ganteng. Pasti banyak yang mau, bisa jadi gigolo paling laris ini se-Jakarta Selatan, mangkal di Kemang sampai ke Tebet.”
Violeva terkekeh, melihat wajah suaminya yang berubah masam detik itu juga. “Aku nggak ngerasa lagi dipuji lho, Vi.”
Sekarang ia hanya bisa tersenyum kecil mengingat potongan kenangan itu. Dulu, baginya tidak masalah menambal kebocoran finansial di rumah ini. Bahkan di tengah pusingnya kepala memikirkan jalan keluarnya, dia dan Alan masih bisa tertawa bersama, menertawakan nasib mereka. Dia mencintai suaminya, tidak peduli harus kerja banting tulang demi tetap hidup bersama dan mengirim beberapa juta untuk mertua.
Namun sekarang?
Malam ini Vio membuat kue, dan sambil menunggu kuenya dipanggang dalam oven, dia membuat rangkaian bunga pengantin di ruang tengah. Klien yang akan menikah dua hari lagi memesan kue dalam paket pernikahan yang dipilihnya. Beberapa tangkai mawar oranye kualitas terbaik teronggok di hadapannya, lalu ada lima tangkai bunga lili dan puluhan lavender berserakan.
Vio akan membuat jenis rangkaian biedermeier, menyusun bunga bertumpuk dengan bagian atas sedikit lebih tinggi dan menyatukan warna-warna cerah dalam satu bucket. Di sana, ada Alan yang diam-diam sedang menunggunya selesai. Alan selalu membereskan rumah setiap hari, karena Ceu Yati sudah pulang ke Sukabumi setahun yang lalu. Katanya pulang kampung, tapi tidak kembali lagi.
“Kata siapa orang sunda nggak bisa nyebut hurup F? Pitnah!” adalah quotes yang sangat menempel di kepala Violeva. Mengingatkan pada Ceu Yati yang sekarang tidak tahu di mana rimbanya.
Sekarang, praktis saja Vio dan Alan harus bekerjasama mengurus rumah berdua. Berbagi tugas katanya, walau Alan lebih banyak berkontribusi untuk itu, karena Violeva sering membawa pekerjaan ke rumah— seperti sekarang, dan tidak sempat melakukan hal lain. Tidak jarang, Alan juga menjadi asistennya merangkai bunga, membantu Vio membuat desain undangan pernikahan juga undangan digital. Dia mahir dalam banyak hal.
Saat ini Vio butuh gunting bunga yang ada di laci dapur, dan dengan berat hati—juga berat b****g, ia terpaksa bolak-balik mengambil peralatan itu tanpa mendapat bantuan. Belum lagi kitchen set mereka yang berminyak karena adonan telur dan mentega, Vio kewalahan dibuatnya. Melihat kekacauan ini saja membuatnya ingin menjerit marah.
Sampai kapan mereka terus begini? Alan semakin didiamkan maka semakin diam dan menjauh. Tapi Vio juga tidak mau datang padanya atau bicara lebih dulu, mengulang siklus yang dulu, meski saat ini rasa marahnya mulai menguar dan ada getar rindu yang mulai menggelenyar di d**a. Rumit sekali rumah tangga ini.
Namun seorang tuna asmara yang sudah melajang seumur hidupnya, dan selalu disodorkan berbagai jenis laki-laki setiap dia berulang tahun—si maha sok tahu Zia Azalea pernah bilang, “Rumah tangga itu emang rumit, Vio. Yang sederhana mah rumah makan.”
Kata-kata seorang jomblowati ternyata ada benarnya juga. Apa gunanya perang dingin setelah amarahnya hilang dan justru rindu datang menyerang? Rumit memang.
***
“Vi, maafin aku.”
Violeva tersentak, baru saja matanya terpejam beberapa detik, dia seolah mimpi terjatuh dari gedung yang tinggi. Dan tiba-tiba mendengar bisikan dengan deru napas hangat di telinganya, ia bangun, terkejut oleh suara Alan. Melirik ke bawah, tangan Alan melingkari perutnya, berat, hangat, dan anehnya, nyaman sekali.
“Udah empat hari baru kesini?” Violeva berbalik, menyentuh wajah suaminya yang tampak lelah.
“Aku nggak maksud gitu, tadinya mau langsung ke kamar begitu sore-sore kamu habis marah soal Mami. Tapi kamu duluan yang kunci pintu. Jadi ya udah, aku di luar aja.”
Benar, kali ini Vio yang menyingkirkannya karena terlalu takut menunggu. Dia takut tidak didatangi. Tapi apakah barusan Alan sudah jujur? Toh itu cuma alasannya sekarang, bagaimana kalau Violeva tidak kunci pintu dan Alan tetap tidak datang? Double sakit hatinya.
“Maafin aku ya, Vi. Maafin Mami juga, aku udah bilang ke Mami,” kata Alan menyambung topik kembali.
Pantas Kanjeng Mami Mertua nan Agung itu tidak pernah mengirim pesan lagi, rupanya Cah Lanangnya ini sudah cerita semua, soal finansial rumah tangga mereka. Mungkin pikirnya Violeva memegang kendali penuh atas keuangan di rumah ini. Alan punya gaji besar dan Violeva punya omset besar pula, jadi sah-sah saja memeras anak menantunya, begitu?
“Aku tahu kita nggak akan miskin dengan ngasih ke orang tua, tapi Mami—” Violeva menggantung kalimatnya menoleh pada Alan sambil membelai wajahnya. “Kadang-kadang keterlaluan.”
“Iya, Vi. Aku tahu, maafin aku sama Mami, ya?”
Violeva mengangguk. Semudah ini sebenarnya mereka berbaikan lagi. Vio memeluk Alan dan tersenyum diam-diam. Dadanya begitu penuh, perasaan itu masih ada, ia lega karena hasrat untuk berbaikan dengan suaminya masih menggebu dalam d**a. Lega karena, perasaan tidak menginginkan Alan kemarin itu tidak berlangsung lama.
Apa-apaan kemarin itu, sampai sempat berpikir kalau sebaiknya mereka berpisah saja? Hanya karena Vio sudah mapan dan menyokong finansial keluarga, dia berpikir picik begitu. Hanya karena Alan minta waktu sampai cicilan mobilnya lunas, Vio berpikir untuk meninggalkannya. Mungkin kemarin, dia hanya terlalu lelah dan terlalu marah, hingga beranggapan perasaannya pada Alan sudah musnah, padahal tanpa Alan tentu hatinya tidak lagi utuh.
“Vi, maaf ya,” ulang Alan sekali lagi. “Kamu bener tentang semuanya. Like you know, kan? Sampai cicilan mobil lunas, aku janji nggak akan bikin kamu kayak gini lagi.”
Violeva melepas pelukan Alan dan berhenti untuk menatap ke dalam matanya, tanpa sadar banyak sekali luka yang ia torehkan di sana. Sambil mengusap jambang dan brewoknya yang mulai panjang, Violeva menahan tangis. Bagaimana bisa dia tega menyakiti lelaki sebaik ini? Alan begitu menjaga perasaannya, dia jarang bicara kasar, Violeva yang sering melakukannya, apalagi saat marah, semua keluar begitu saja. Vio seperti tong sampah yang memuntahkan seluruh isinya, yang harusnya ia simpan dan ia jaga, menimbulkan bau busuk yang kotor dan menjijikkan. Dan Alan saat tersinggung, ia lebih banyak memendam. Baru kali ini dia bicara, pasti kata-kata Violeva kemarin sangat menyakitinya, melukai harga dirinya.
“I am so sorry, i slip my tongue,” kata Vio pelan, penuh penyesalan dengan tenggorokan yang nyeri akibat menahan tangisan.
“Apa? Aku yang salah, Maaf ya ... jadi bikin hidup kamu kayak gini.”
“Alan, No.” Vio mengusap wajah Alan dengan air mata yang mulai menggenang. “Just ... please, don't let it happen again, huh?”
“Of course.”Alan menyentuh permukaan bibirnya dengan kecupan hangat, hanya sekilas, tidak menuntut. Lalu beralih mencium dahinya, menghirup rambut Vio lama sekali sebelum melepaskannya. “Aku jahat banget jadi suami. Maafin aku, ya?”
Violeva kehabisan kata, ia hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Alan selalu mengatakan semua kekurangannya saat mereka bicara, jarang sekali dia menjadikan Vio pihak yang bersalah. “Aku bilangin Mami kalo gajiku habis buat rumah sama mobil, aku cuma punya pegangan sedikit buat ke kantor. Aku bilang kalau tiap bulan yang ngasih Mami uang belanja itu kamu, bukan aku. Aku terpaksa ngomong gini, Vi. Mami dan aku udah terlalu dzolim ke kamu. Aku nggak mau jadi inspirasi cerita sinetron azab kayak di TV itu.”
“Ngaco kamu.” Violeva tertawa kecil, mencubit hidung suaminya gemas, membiarkan jari-jari Alan menyeka air yang membanjir di sebagian wajahnya. Hal-hal seperti ini yang dia suka dari Alan. Kepolosannya dan caranya mencari celah untuk menyelipkan tawa kecil di tengah pembicaraan mereka. Pesona sederhana ini yang membuat Violeva jatuh hati padanya, dulu.
“Tapi bener, Vi. Dulu aku bertekad nggak akan kasih tahu Mami gimana susah dan pusingnya aku di perantauan, tapi sekarang enggak lagi. Mami perlu tahu untuk mengerti. Aku juga nggak semangat kerja, Vi. Kerja kerasku nggak sedikitpun bisa bikin kamu bahagia, aku sibuk buat menuhin kebutuhan sendiri. Aku nggak ngerti lagi gimana ngomongnya, tapi aku nyesel banget bikin kamu jadi kayak gini.”
Violeva masih mendengarkan, dia berani bersumpah jika Alan tidak pernah bicara sebanyak ini dan Vio tidak pernah bisa diam selama ini. Perasaan dan suasana ini sangat baru, sangat berbeda. Mungkin karena mereka kenal sejak masih muda dan sekarang keduanya tumbuh dewasa bersama. Violeva bisa merasakan bahwa Alan mulai berubah. Biasanya, Vio akan lebih banyak bicara dan Alan mendengarkan.
“Vi, jangan tinggalin aku, ya?”
“Hei, what are you talking about? Of course not, i wont.”
“Kamu itu cantik banget, tahu? Pasti banyak yang mau sama kamu.”
“Stop it, aku maunya cuma sama kamu.”
Alan tersenyum lebar dan menyurukkan kepalanya ke d**a Violeva, menyapu lehernya dengan gerakan lambat, menggesek bulu-bulu di wajahnya dengan sengaja agar Vio geli dan dia tertawa. Alan, kenapa masih saja merasa rendah diri? Padahal tidak ada yang salah dengan penampilannya. Walau wajahnya tidak seadem ubin masjid, tapi Alan benar-benar enak dilihat. “Sebentar.” Ucapan Violeva terpaksa memotong kegiatan senang-senang barusan. Kepalanya seperti baru saja dipukul godam, ada hal penting yang dia lupakan. “Cake pengantinku, Al—“
“Udah beres semua.” Alan menahannya dalam dekapan yang erat. “Aku masukin ke chiller, bener nggak?”
Violeva tersenyum. “Iya,” katanya pelan. “Makasih, Alan.”
“You’re my eveything, Vi. Kamu udah lakuin banyak hal, lebih dari yang seharusnya seorang istri lakukan. Nggak usah bilang terima kasih atas apa pun ke aku.”
Oh, God! Kenapa seperti ada pendar-pendar bintang di wajah Alan sekarang? Siapa itu katanya artis India yang disebut-sebut mirip Alan, Shivin Narang? Dia masih kalah jauh, lebih ganteng Alan ke mana-mana. “Tapi kamu capek, mostly kamu yang ngerjain semua.” Vio menyanggahnya. “Sekadar ucapan terima kasih, nggak berlebihan kan?”
“Nggak apa-apa capek, laki-laki justru harus capek. Apalagi aku ngelakuin semuanya karena aku sayang kamu.”
Rasanya pipi Vio pegal sekali mempertahankan senyum lebarnya sejak tadi. Jujur saja, sebenarnya dialog cringe seperti ini sangat Vio hindari, mendengarnya saja membuat bulu kuduknya meremang dan dia ingin menimpuk wajah Alan dengan sesuatu lalu mereka bisa tertawa setelahnya. Dia lebih suka nuansa komedi romantis daripada yang puitis-puitis begini. Tapi berhubung mereka baru saja baikan setelah memecahkan rekor perang dingin terlama, sekali ini saja boleh, kan?
“Tidur yuk, Al.” ajak Violeva pada akhirnya menyadari ini sudah jam sebelas malam, pantas saja dia dan Alan mulai bicara ngawur ke mana-mana.
“Tapi aku kangen, Vi ...”
Tunggu dulu, Violeva tersentak. Kangen? Apa maksudnya? Otaknya bekerja cepat menemukan jawaban dari potongan teka-teki ini. Dia beralih menatap Alan dan jam - kalender di seberang tempat tidur mereka bergantian. Pantas saja, ini malam jumat. Pantas Alan akhirnya meruntuhkan gengsi dan mendeklarasikan perdamaian. Rupanya hanya sampai di situ saja pertahanan diri yang ia lakoni berhari-hari, semuanya ambyar saat jatah malamnya sudah dekat. Untuk itu dia buru-buru mengajak Violeva baikan lagi. Demi tidak menunda kesempatan meraih surga dunianya sampai minggu depan.
Violeva tersenyum kecut. “Bener ya ternyata, cowok itu baik-baik dan deket-deket pas ada maunya aja kayak begini. Coba enggak, aku ditinggal terus main game sampe pagi.”
Alan terkekeh mengetahui misi terselubungnya terbongkar. “Nggak boleh gitu loh, Vi. Diluckut sama malaikat nanti.”
Seriously? Dilucknut? Kamu yang lucknut!
*****