Antisipasi

2414 Kata
Violeva menatap baju baru yang masih terbungkus plastik di dalam lemari. Jumlahnya ada sepasang, sudah dipesan sejak jauh-jauh hari untuk acara penting hari ini. Ada undangan pernikahan dari rekan satu tim Alan di kantor, bisa disebut teman dekat Alan satu-satunya. Untungnya semalam mereka memutuskan untuk berbaikan, Vio sempat galau dan memikirkan nasib baju-baju ini dan cara menyuruh Alan untuk mengenakannya kalau mereka masih perang dingin. “Tapi kok bisa kebetulan banget, ya? Hari ini cuti, semalam ada yang ngajak baikan buat minta jatah.” Vio menyindir halus pada lelaki yang sibuk berbenah di hadapannya. “Kayak udah di-planning gitu,” sambungnya dengan sengaja. Alan mendongak ke arahnya, melempar senyum dan memilih untuk tidak menjawab, dia mendekati tempat tidur sambil berusaha melipat selimut yang berantakan, ada gempa lokal semalam. “Alan.” Lelaki itu berhenti melipat. “Enggak, Sayang. Aku nggak ngajak baikan cuma karena pengen ngambil jatah sama ngajakin kondangan. Aku tulus kok." Tulus, ya? Tapi kenapa pakai kok, sih? Coba saja hal krusial seperti jatah bergoyangnya bukan malam jumat, apa Alan akan tetap memeluknya duluan seperti semalam? Kenapa juga harus malam jumat, ya Tuhan?  Susah untuk tidak salah paham. “Mandi junub kamu, bentar lagi jumatan.” “Ya udah lah,” kekeh Alan geli sambil mengacak gemas rambut istrinya. “But, Vio ... makasih ya udah masakin aku pagi ini, sekarang mending siap-siap deh. Kita langsung berangkat aja, kamu nunggu di mobil selama aku jumatan nggak apa-apa? Habis itu kita langsung kondangan ke tempatnya Dion.” Alan mengoceh panjang lebar sambil menatap mata Violeva dan itu membuat Vio nyaris meleleh seperti es krim yang dijemur di bawah panas matahari. Sejak kapan sih Alan jadi seganteng ini? Violeva segera bersiap-siap saat Alan keluar dari kamar, memeriksa ponselnya sebentar untuk memantau apakah Ares mengirim pesan atau tidak. Tapi meskipun dia mengirimkan, Vio tidak mau merusak hari liburnya dengan Alan, hari ini dia milik Alan seutuhnya, dan mari tinggalkan Ares untuk sesaat. Setelah itu, Vio membuka benda kotak yang sering disebut sebagai beauty case. Ada banyak sekali benda yang disebut makeup di dalamnya. Semuanya adalah barang high end, yang jika dikalkulasikan nominalnya sama dengan harga sepeda motor buatan Jepang. Namun yang selalu ingin Alan tanyakan adalah, apakah Violeva akan benar-benar menempelkan semua benda itu ke wajahnya? Atau dia harus menelannya sebagian? “Kenapa cewek lipstiknya banyak bener ya, Vi? Padahal bibirnya cuma satu,” tanya Alan kebingungan saat menatap tabung kecil warna-warni yang justru warnanya mirip satu sama lain. Dan ini sudah pertanyaan ke dua puluh tujuh kali darinya jika dijumlahkan dengan saat Violeva merengek ingin lipstik baru. “Kamu nggak akan ngerti,” jawab Vio sambil mengoleskan primer Shu Uemura ke wajahnya. “Ya, nggak ngerti orang gak dijelasin.” “Dijelasin juga nggak akan ngerti,” kata Vio, kali ini sambil memutar beauty blender untuk meratakan foundation Tomford di bagian kulit wajah hingga leher. “Ya tapi kan—” “Ya ampun, Alan! Bawel banget sih. Bibir aku emang cuma satu, tapi seminggu itu ada tujuh hari, sebulan tiga puluh hari dan satu tahun ada tiga ratus enam puluh enam hari! Dan nggak ada satu hari pun yang terlewatkan tanpa lipstik di bibir ini!” “O ... ke.” Alan tersenyum geli sambil mengangkat dua jempolnya, tanda menyerah dan siap berhenti mendengar omelan. Ia mengamati Vio saat kembali melanjutkan kegiatan sakralnya yang sempat tertunda. Menepuk-nepuk bedak ke wajah dengan benda bulat sampai rata. Lalu mengoleskan sesuatu ke kelopak mata, entah apa itu namanya di kotak-kotak kecil, seperti tempat cat air yang bagi Alan warnanya hampir sama semua, anehnya bukan cair tapi padat seperti bubuk. Violeva tidak kelilipan apa? Itu lagi, spidol digariskan melintang di atas bulu mata buat apa? Masih ditambah bulu mata yang disisir ke atas, biar cetar anti badai katanya.  “Cantik banget deh, Vi. Jangan cantik-cantik kenapa? Nggak usah repot-repot dandan juga udah cantik banget padahal.” Alan masih di sana melakukan antisipasi andai Vio kebablasan menggambar wajah. Ia tidak tau apa saja fungsi dan nama dari botol-botol kimia yang berjejer di koper Violeva itu. Alan menyebutnya perlengkapan lenong, mengingat Vio gemar sekali menemplok-nemplok di wajah. Membuatnya tampak seperti telur rebus yang baru saja dikupas. Ajaibnya—yang harus ia akui, Violeva bertambah cantik tanpa terlihat menor. “Udah, Sayang ... rambutnya digerai aja, nggak usah disanggul apalagi bikin jam— Alan refleks berhenti saat Vio memelototinya.  “Kamu udah cantik banget, Vi. Sumpah.” Dia buru-buru melakukan langkah pencegahan ledakan amarah season dua. “Alan,” kata Vio dengan suara sehalus mungkin, walau dadanya bergemuruh hebat dan sekuat tenaga menahan godaan untuk tidak menyumpal mulut suaminya. “Aku ini dandan buat berdiri di samping kamu, lho. Aku berusaha mengangkat harga diri dan kehormatan suami. Bisa gak, biarin aku melakukan itu buat kamu tanpa diomelin terus?” “Sure.” Alan menarik diri dan menjauh dari Vio sedikit. “Niat aku juga cuma mau kamu tahu, kalau kamu cantik apa adanya. Just the way you are, i love you dua ribu tujuh ratus, Violeva.” Vio tertawa geli, gombalan macam apa itu? “Kamu ngarep aku tanya, kenapa bukan i love you tiga ribu, Al? Iya, kan? Nanti kamu jawab, kan dapet cashback, Sayang.” Keduanya terbahak, sampai Vio menyelesaikan riasannya, Alan masih ada di sana. Dia benar-benar jadi satpam pribadi yang berjaga-jaga agar istrinya tidak kebablasan menggambar bebas di wajah, khawatir menggandeng ondel-ondel ke pesta sahabatnya. “Eh, ada surel dari Maya nih.” Alan mengangsurkan ponsel Violeva. “Hp kamu digembok, Vi? Kayak ada apaan aja deh, siapa yang suka otak-atik memangnya?” Untungnya, hal itu tidak diperpanjang. Vio menerima ponselnya dengan tangan gemetar, benar-benar takut ketahuan dan tertangkap basah sudah mengunduh aplikasi dating online kemudian berkomunikasi intens dengan seseorang bernama Ares di sana, main api di belakang suaminya. Ia meneliti wajah Alan, tidak ada apa-apa ataupun kecurigaan di matanya. “Al, aku ganti baju dulu, baju kamu yang itu tuh, warna biru. Samaan sama aku.” “Warnanya unyu banget!” Alan mengerang. “Aku pake kemeja yang biasa aja sih, Vi.” “Oh, God! Alan, you really drive me up the wall! Ganti cepetan!” “Iya, iya ...” Setelahnya Alan menghilang ditelan sekat kamar ke walk in closet mereka dan itu baru membuat Vio bisa bernapas lega. Ia segera memeriksa ponsel, lain kali harus ingat agar tidak meletakkan benda ini sembarangan dan bisa disentuh oleh Alan. Ini baru kali pertama Alan memergoki ponselnya dengan password, bagaimana kalau lain kali ia bertanya lagi? Vio memeriksa pesan dari Maya dan membalasnya cepat sebelum membuka aplikasi dating itu mumpung Alan sedang berganti pakaian. Ares : Hai, Ayu! Have a nice day. Tapi hari ini aku bakal sibuk, ada kerjaan tambahan jadi kalau aku telat balas chat dari kamu jangan marah, ya? Mohon bersabar. Vio berdebar, Ares mengiriminya pesan dengan sebuah emoji hati dan cium di belakangnya. Mohon untuk tidak terus-terusan mengingatkan Vio bahwa apa yang dilakukannya ini sangat tidak benar. ***   Pergi ke pesta Dion—teman dekat Alan di kantornya, itu sama dengan mengunjungi acara tidak resmi dari kantor mereka. Sebagai sesama perantau, baik Dion maupun Alan tidak banyak mengundang tamu selain teman-teman kuliah dan teman kantor mereka. Dan acara kantor Alan adalah satu dari sekian banyak hal yang sangat Vio antisipasi. Mungkin Alan memang tidak putih, mulus, bening bersinar seperti Oppa-oppa atau Dedek gemes dari Korea—idolanya Violeva, suaminya sangat lokal dan sangat membumi. Dan bahayanya justru terletak di sana. Dari Dion—sebagai teman sekaligus mata-mata pribadi, Vio tahu ada beberapa orang di kantor yang suka menggodai Alan terang-terangan. Wajar saja, Alan masih berusia 25 dan menjabat sebagai salah satu manajer dengan posisi yang bagus di perusahaan. Sebagai mantan pekerja kantoran, Vio tahu pesona lelaki seperti Alan tidak mudah untuk diabaikan begitu saja. Atasan muda, ganteng, kalem, tidak banyak bicara, selalu banyak penggemarnya, tidak peduli sudah menikah atau belum. “Al, gak ada jamuan makan, ya?” Vio menggandeng lengan suaminya erat, khawatir dia lepas ataupun ditarik orang, karena ngomong-ngomong, perempuan yang sangat Vio antisipasi berdiri tidak jauh dari mereka sekarang. Namanya Farnaz, dan pernah meneriaki Alan dengan gombalan, kutunggu dudamu, Mas Alan! Vio harus sangat waspada pada kuman jenis ini. “Eh? Enggak.” Alan melirik heran pada lengannya yang diremas kencang. “Prasmanan aja, mau makan sekarang apa foto dulu?” “Foto lah, aku capek-capek dandan buat apa memangnya?” Alan tertawa gemas sambil mencubit pelan pipi istrinya yang agak berisi, menggandengnya menuju pelaminan, dimana Dion tengah bersanding dengan Lisdian. “Alhamdulillah ya, sebentar lagi ranjang Anda bergoyang.” Dion tertawa terbahak-bahak, berbanding terbalik dengan Dian yang hanya tersenyum anggun dan elegan sebagai seorang ratu sehari menanggapi ucapan selamat kurang ajar dari teman suaminya barusan. “Selamat ya, Mbak Di. Akhirnya sah juga, kita bisa sering ngedate bareng dan nggak ada lagi yang rempong nyuruh-nyuruh pulang.” Dian tertawa manusiawi—karena dia manusia sungguhan, lalu saling memeluk dengan gerakan usap-tepuk punggung yang tidak Vio ketahui maknanya apa. Setelahnya, Vio hanya mendengar Alan menelpon Kanjeng Mami untuk memberi Dion ucapan selamat, berhubung mami tidak bisa datang. Dan asyik sendiri melihat sekeMiming, dia tidak bisa mengobrol dengan Lisdian sebagai perempuan pada umumnya. Istri Dion itu terlalu anggun dan pendiam, Vio can’t relate. Ia bahkan jarang tertawa untuk lelucon yang mereka lontarkan, entah merasa hal itu terlalu kasar atau justru tidak mengerti. Vio punya teman-teman yang irit bicara, Mina dan Zia—misalnya, tapi mereka cukup kooperatif, mengeluarkan bunyi saat dibutuhkan. Lisdian tidak, dia terlalu suci untuk Vio yang penuh dosa, terlalu syafakillah untuknya yang get well soon. Terlalu pendiam untuk Vio yang sekalinya bicara bisa seperti tabuhan genderang perang. Mereka selalu berakhir dengan duduk dan canggung berdua. “Vi, ini Mami mau ngobrol.” Alan menyodorkan ponsel, layar itu dipenuhi gambar bergerak dari wanita berusia enam puluh tahun yang rambutnya masih sangat bagus dan hitam, wajah bersih dan segar, mata berkilauan yang sehat—ibu kandung suaminya, beliau tersenyum pada Violeva. “Vio, Cah Ayu, cantik sekali toh, Nduk. Kapan mau kasih Mami cucu?” Shit! Vio mengumpat dalam hati, bahkan tidak ada ancang-ancang sama sekali, tidak ada basa-basi, Vio belum sempat memasang kuda-kuda untuk melawan, dan lihat apa yang sudah keluar dari mulut wanita itu. Pertanyaan tentang seorang bayi, di tempat seramai ini, karena semua orang tahu kalau Vio dan Alan sudah menikah selama tiga tahun dan belum ada tanda-tanda kehamilan lagi setelah keguguran yang pertama kali. “Nduk? Lis katanya ndak akan nunda, Vio kapan, Nak? Mami wes kepingin cucu.” Baik, Vio sempat mengatur napasnya setelah serangan kedua. “Kalau Vio hamil, nanti Vio nggak bisa kerja, Mi. Kayak dulu lho, Vio kan lemah dan cengeng. Nanti Vio nggak bisa kirimin Mami uang terus Mami marah lagi.” “Vi ...” Alan menurunkan ponselnya, sekaligus mengakhiri panggilan itu sambil melihat sekeMiming, memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka, kecuali Dion dan istrinya yang tampak syok mendengar ucapan Violeva barusan. “I’m sorry, aku mengacaukan semuanya lagi.” Vio meninggalkan Alan di sana, yang sempat-sempatnya berbasa-basi untuk pamit pergi, bukannya menyusul istri dan menenangkannya. Ia berjalan mengeMimingi taman buatan di tengah ruangan, diisi meja-meja kecil yang menjajakan aneka jajanan pasar. Bahkan Lisdian—istrinya Dion, tidak menghubunginya untuk mempersiapkan pesta ini, padahal sudah jelas Vio adalah salah satu pemilik dan perencana pernikahan—dan tolong garis bawahi, Vio adalah teman dekat mereka. Kadang ia bingung dengan hubungan ini, Vio masuk ke dunia Alan hanya sebagai syarat saja, bahwa Alan sudah memiliki pasangan, tidak benar-benar bisa membaur dan paham dengan mereka semua. Vio tebak, Dion menghabiskan banyak biaya untuk pernikahan ini, ia kenal betul siapa wedding orgaizer pilihan mereka. Kalau diingat-ingat, dulu pernikahannya dengan Alan digelar sangat sederhana. Total, mereka hanya mengundang keluarga besar dan teman kantor, juga sahabat dekat. Mungkin jumlahnya pun di bawah seratus orang. Aneh memang, melihat Alan pegawai perusahaan besar dan Violeva juga sepadan dengannya. Orang lain pikir, mereka akan menikah diiringi dangdut koplo tujuh hari tujuh malam. Ketiga teman-teman setia Vio, dimanfaatkan semaksimal mungkin. Selain bridesmaid mereka merangkap penyambut tamu, hingga penjaga prasmanan. Definisi sahabat sejati, di mana kalian bisa menemukan teman-teman seperti mereka, kan?  “Mas Alan.” Vio tersentak dari lamunan singkatnya saat seseorang menyebut nama Alan, tidak jauh dari tempat berdirinya sekarang. “Aku kemarin meeting sama tim marketing ya, terus ada masalah di mitra kita lho. Katanya kesalahan penulisan konten.” “Gitu, ya?” Alan terlihat menanggapinya dengan sungguh-sungguh. “Senin deh kita bahas di kantor.” Violeva memperhatikan tidak jauh dari sana, hanya terhalang beberapa sekat kecil dan pot bunga. Kenapa Alan yang berdiri di sebelah perempuan itu tampak jauh lebih serasi? Yang Vio dengar dari Dion, dia bernama Farnaz dan keturunan Arab, bisa dibuktikan dengan bentuk mata dan hidungnya yang menantang. Dan Alan, sejak memelihara brewok yang dirawat rapi, treatment sebulan sekali, dianugerahi hidung yang mancung dengan tahi lalat di salah satu sisinya, kulit gelap khas pemuda lokal dan senyum serta perilaku ramah, sering digadang-gadangkan mirip artis India keturunan Dubai bernama Shivin Narang. Kabar buruknya, mereka terlihat cocok bersama, berdiri bersisian seperti sekarang saja sudah membuat luapan cemburu Vio sampai di level seratus ribu. “Vi, aku cari-cari lho.” Untungnya Alan segera menyadari kehadiran Violeva, ia bergerak mendekat, merangkulnya dengan intim dan erat. “Aku cariin ke mana-mana dari tadi,” bisiknya lembut, ia mengecup puncak kepala Violeva sekilas. “Aku cari kue yang manis.” Vio mengalihkan tatap, meraih sebuah kue yang dibungkus daun pandan, kue itu menebar aroma vanila. Mendekatkannya ke bibir Alan, tapi ekor matanya tidak lepas memperhatikan Farnaz. Vio tahu kalau perempuan itu masih ada di sana sekarang, menonton adegan mereka berdua. “Maafin Mami,” bujuk Alan dengan suara berbisik. “It’s okay buat nggak punya bayi sekarang, Vi. Yang penting ada kamu.” Kalau saja ini bukan tempat di mana banyak orang berkeliaran dan memperhatikan, Vio bersumpah ingin melakukan hal lebih, agar perempuan yang berdiri tidak jauh dari mereka, berpura-pura tidak melihat padahal jelas-jelas sangat ingin mendekat, terprovokasi. Dia harus tahu siapa lawannya, Violeva Dayuni tidak akan membuat Alan berpaling hanya karena Farnaz punya d**a yang lebih besar ataupun alis asli tanpa digambar. Farnaz hanya sejenis kuman, bisa dikibaskan dengan mudah bahkan tanpa sabun antiseptik sekalipun. Meskipun d**a Vio tidak besar seperti dadanya, alis mata hanya sepenggal jika makeup-nya sudah dibersihkan, bulu mata yang hidup segan mati tak mau, dan bentuk badan lurus seperti papan penggilasan—tidak peduli dia sudah mencoba berbagai obat hingga minyak untuk membuat telur ceplok-nya sedikit membengkak, Violeva tidak akan gentar. Ia tahu kalau kelebihannya bukan di sana. Vio yakin kalau Alan mencintainya bukan hanya karena fisik semata. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN