Dua Puluh Delapan

1708 Kata

Selama beberapa detik, Attar hanya diam membisu. Sementara Aretha pun sama diamnya setelah mengakhiri panggilan dari Galuh. Gadis itu memasang tampang polos tanpa rasa bersalah. Mengapa Aretha harus merasa bersalah? Punya pacar adalah hak semua orang, bukan? "Oh!" seru Attaruna linglung. "Congrats kalau begitu. Pacar pertama, ya? Nggak usah terlalu senang, paling-paling bulan depan juga udah putus," ucapnya sinis sebelum membalikkan badan dan bergegas pergi. Saat menuju tangga, ia berpapasan dengan ayahnya yang baru pulang. "Malam, Pa," sapanya datar. Setibanya di kamar, ia membuka sepatunya, lalu mengempaskan pintu sekuat tenaga. Debuman mengerikan tersebut terdengar sampai ke bawah. Bi Ati mengucap istigfar, kemudian saling berpandang-pandangan dengan Aretha. "Mas Attar kenapa ya, B

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN