Chapter 9

1004 Kata
Harusnya Juan lebih jeli ketika berada di kantor. Meski sudah masuk selama tiga bulan lalu, sayangnya ia tidak memiliki kesempatan untuk bertemu Theresa sebelum acara annviersary di Bali. Mungkin memang sudah takdirnya untuk bertemu Theresa dalam keadaan itu dan di waktu itu. Itu sebabnya kini ia merasa tertarik ketika mengetahui bahwa Theresa memegang posisi arsitek dalam salah satu divisi di kantornya. Theresa baru saja menyelesaikan proyek pembangunan properti di daerah Palembang. Saat ini divisinya juga tengah menanti tugas proyek terbaru. Biasanya butuh waktu minimal enam bulan hingga mendapatkan proyek terbaru. Lalu selama waktu itu, tugas divisi Theresa ialah memastikan pembangunan proyek mereka berjalan lancar. Ia jadi merasa tertarik untuk memberikan Theresa sebuah proyek yang hanya dikerjakannya sendiri. Proyek sebagai salah satu bentuk usaha Juan agar semakin dekat dengan perempuan itu. Juan adalah CEO jadi ia berhak memberikan proyek kepada siapa pun di kantor ini jika memang ingin . Itu sebabnya Juan memanggil Theresa untuk datang ke ruangannya. Ia tengah menunggu selang beberapa menit setelah menutup telepon kantornya. Kemarin sayangnya Juan tidak berhasil pulang bersama Theresa karena perempuan itu mendadak merubah jadwal penerbangannya tanpa pengetahuan siapa pun. Entah apa alasannya melakukan hal itu. Setidaknya Juan tidak ingin mempermasalahkan hal tersebut sekarang. Ia memiliki banyak kesempatan melihat dan bertemu Theresa di kantor. Ditambah dengan ide brilian yang ia miliki. Itu dapat mengobati rasa kecewanya atas kegagalan rencana pertama mendekati Theresa.   ------ Theresa berjalan mondar mandir dan merasa resah karena baru saja mendapatkan telepon dari CEOnya sendiri. Batinnya bertanya-tanya apakah ia melakukan kesalahan? Biasanya jika memang ada urusan dari atasan, minimal kepala divisinya lah yang akan menghubungi. Jika CEOnya yang secara langsung seperti ini, terlebih meminta Theresa datang ke ruangannya saat ini juga. Sepertinya Theresa telah melakukan kesalahan besar. Seingat Theresa ia sempat mengobrol dengan Juan mengenai proyek sebelum benar-benar mabuk. Lalu setelah mabuk ia tidak ingat sudah membicarakan apapun. Rasanya sungguh aneh. Apa mungkin ketika ia mabuk, sudah mengucapkan kata-kata yang menyakiti perasaan CEOnya. Mengingat sebelum mabuk, topik proyek adala yang terakhir mereka bicarakan. Seingat Theresa, sebenarnya adalah Juan telah pergi sebelum dia mabuk. Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ketika pintu lift terbuka dan dirinya telah tiba di lantai ruangan Juan. Sungguh debaran jantungnya terasa semakin tidak terkendali saja. Ia melangkah menuju resepsionis dan mengatakan tujuannya datang kemari. Dengan segera, Theresa diantar menuju ruangan Juan. Dia menggigit bibir bawahnya karena gugup. Rasanya ingin berlari saja. Jika memang kali ini ia akan dipecat langsung oleh sang CEO, setidaknya ia tidak ingin langsung pingsan di tempat. Itu sungguh akan semakin memalukan saja. Baiklah, hal pertama yang harus Theresa adalah memastikan wajahnya tidak kentara cemas dan kakinya tidak terlalu gemetar. Pintu terbuka dan pandangan Theresa langsung berserobok dengan pandangan Juan yang dingin dan dalam. Napasnya tercekat. Ia berusaha mengendalikan diri ketika Juan melempar senyum ke arahnya. Semoga saja senyuman itu pertanda baik. Setidaknya senyuman menawan itu membuat Theresa merasa lega untuk beberapa waktu. “Terima kasih,” gumam Theresa kepada respsionis yang berbaik hati mengantarkannya hingga memasuki ruangan ini. Sang resepsionis segera pamit meninggalkan ruangan kemudian menutup pintu. Menyebabkan Theresa merasa semakin berdebar karena kekhawatiran akan dipecat hari ini. “Silahkan duduk,” ujar Juan mempersilahkan. Theresa mengangguk kemudinan menyunggingkan senyum dan duduk dengan tegak. Ia mengaitkan kedua tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Rasanya mengapa berdebar sekali. Juan menatapnya dengan pandangan yang tidak dapat Theresa tebak. Sungguh misterius dan Theresa merasa terintimidasi. Sebagian hatinya berusaha tenang. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun jadi bukankah sebaiknya ia tetap baik-baik saja dan bersikpa tenang? “Ada apa, Pak?” Tanya Theresa kemudian setelah Juan hanya diam saja dan memandanginya dengan tatapan tak terbaca. Juan seolah tersadar dari kegiatannya yang asik menatap Theresa. Ia berdehem singkat kemudian mengambil sebuah berkas dari laci. Kemudian meletakkan di atas meja. Theresa melirik berkas itu penuh kecemasan. Apa itu surat pemecatannya. Ah, sialan jika itu benar. Ia sudah nyaman bekerja di perusahaan ini selama empat tahun. Kenapa harus dipecat, sih? “Proyekmu di Palembang sudah beres, kan?” Theresa membulatkan matanya. Apakah pertanyan itu sungguh-sungguh kalimat pembuka sebelum Juan mengabari bahwa dirinya telah dipecat? “Proyeknya baru berjalan, Pak. Tapi tugas saya di divisi itu sudah selesai.” Theresa sudah mengatakan ini ketika mereka berbincang di pesta anniversary hari kamis malam yang lalu. Ketika mereka berada di Bali. Lalu mengapa Juan mempertanyakan hal itu lagi. “Baguslah. Artinya kamu sedang tidak memiliki tugas kan di kantor ini?” Jantung Theresa rasanya seperti ditikam oleh belati. Sepertinya dugaan bahwa ia akan dipecat memang benar. “Iya, Pak.” Theresa mengangguk lemah. Tidaka ada pilihan lain untuk saat ini selain menjawab jujur semua pertanyaan yang diberikan oleh Juan. Jika memang ia akan dipecat, dirinya mulai memikirkan alasan pembelaan untuk mempertahankan posisi. Ia akan memperjuangkan keberlanjutan karirnya. Ia tidak melakukan kesalahan apapun jadi pertama-pertama Theresa akan menuntut klarisifikasi alasan logis kenapa dirinya tiba-tiba dipecat. “Aku punya tawaran untuku. Silahkan dibaca kontraknya.” Mata Theresa membulat seketika. Mulutnya menjadi ternganga karena terkejut. Ia sungguh merasa bingung. Akan tetapi pendengarannya tidak salah bukan? “Apa?” Tanya Theresa kikuk. Ia masih belum dapat memahami semua ini. “Aku ingin menawarkan proyek. Tapi ku rasa kau wajib menyetujuinya.” Pandangan Juan lantas beralih ke map yang berada di atas meja. Seolah meminta Theresa untuk membukanya dan membaca itu. Ia tidak ingin menjelaskan panjang lebar. Rasanya lebih baik untuk duduk diam sambil menatap Theresa yang kini berada di depannya. “Silahkan dibaca disini. Sekarang.” Juan menyandarkan punggung pada kursi kemudian menyilangkan kedua tangannya. Theresa mulai membuka map itu dan membaca isi kontraknya. Keningnya berkerut ketika ia paham bahwa tugasnya kali ini sungguh mudah. “Desain dua rumah selama empat bulan?” tanya Theresa tidak percaya. Rasanya waktu sebanyak itu terlalu berlebihan. Mungkin dua bulan saja cukup mengingat Theresa tidak memiliki tugas apapun di kantor ini. Ia hanya perlu melakukan pengawasan. Theresa kembali melanjutkan membaca. Sementara Juan tengah menatap Theresa dengan penuh takjub. Rasanya sungguh menenangkan menatap Theresa seperti ini. Juan mulai membayangkan bila nantinya ia akan terus menatap Theresa seperti ini di meja makan. Atau Juan bisa menatapnya disudut rumah yang manapun, hingga merasa puas. Pandangan Juan jatuh pada bibir Theresa. Juan masih ingat bagaimana rasa bibir itu. Selain ketertarikan secara fisik, Juan juga begitu tertarik secara seksual kepada Theresa. Perempuan itu cantik dan terasa sesuai dengan kriteria partner ranjang yang Juan inginkan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN