Chapter 10

1046 Kata
“Terima kasih atas kepercayaannya, Pak.” Theresa menjabat tangan Juan setelah keduanya sepakat akan kontrak yang telah mereka bicarakan. Juan sudah memastikan bahwa tawaran ini tidak akan bentrok dengan pekerjaan Theresa yang lainnya. Itu sebabnya Theresa menerima penawaran menarik ini. Selain mendapatkan uang tambahan, proyek ini bisa saja mengantarkannya pada promosi jabatan. Siapa tahu kan, Theresa bisa naik gaji tahun ini. Bagi Theresa mungkin ini hanya jabatan tangan formal biasa antara rekan kerja. Tapi bagi Juan, ini sungguh adalah hal yang menyenangkan karena akhirnya ia bisa bersentuhan fisik dengan Theresa. Tangan perempuan itu masih sama halusnya dengan malam itu. Juga mampu meninbulkan getaran aneh pada diri Juan. “Semoga lancar dan berhasil.” Juan meremas pelan tangan Theresa. Remasan yang diiringi tatapan dalam kepada perempuan itu. Jika saja bisa, Juan sungguh ingin menanyakan kenapa pagi itu Theresa pergi begitu saja. Namun melihat sikap formal yang Theresa tunjukkan kali ini rasanya ia tidak memiliki celah untuk dapat membicarakan. Lagipula rasanya hal seperti itu terlalu sensitif untuk dibahas di kantor. Jadi Juan memilih untuk membicarakan itu kapan-kapan saja. Bisa jadi Theresa marah karena Juan telah merampas keperawasan perempuan itu. Jika itu benar, sungguh Juan akan melakukan apa saja agar Theresa memaafkannya. Bahkan Juan siap jika harus menikahi Theresa saat ini juga.   ---------   Sepulangnya dari kantor, Theresa segera merebahkan tubuhnya dengan nyaman di atas ranjang. Ia mulai senyum-senyum sendiri ketika teringat bonus yang akan didapatkannya jika Juan merasa puas dengan desain rumah yang Theresa kerjakan. Sekarang ia hanya perlu memikirkan desain rumah seperti apa yang cocok. Juan bilang rumah itu kado untuk ulang tahun mamanya tahun depan. Theresa sungguh tidak mengenali mama Juan, jadi tidak terlalu mengetahui selera beliau. Sepertinya Theresa harus bertemu dengannya untuk mengamati selera wanita itu. Ia bisa meminta kesempatan itu kepada Juan jika diizinkan, atau mungkin menanyakannya kepada Juan. Masalah proyek baru itu akan ia pikirkan nanti. Toh jika tidak bisa bertemu atau mendapatkan informasi dari nyonya Christopher itu, Theresa masih bisa mengandalkan ide dari otaknya. Untuk saat ini ia perlu menelpon Regina. Ia harus mengabari sahabatnya itu, sungguh. Ini berita baik dan harus dirayakan bersama-sama. Siapa tahu juga Regina punya ide yang brilian agar peluang Theresa mendapatkan uang bonus semakin besar. Ia merogoh ponselnya dan hendak menelpon Regina. Hanya saja satu pesan yang baru saja masuk membuat gerakan jari Theresa terhenti seketika.   Aditya M. Knp ngga dibales?     Jantung Theresa seketika berdegub begitu cepat. Ia seketika teringat ucapan Tiara beberapa hari lalu. ‘Kak Adit pernah bilang kalo kangen sama kakak. Katanya udah lama nggak kontakan.’ Sungguh jika mengingat hal itu rasanya sangat bahagia. Ternyata Adit juga merindukannya. Theresa kira lelaki itu sudah benar-benar melupakan dirinya. ‘Tapi semenjak putus dari kakak, Kak Adit belum ada pacaran lagi loh. Susah move on kali ya’ Kali ini Theresa segera mengetikkan pesan balasan untuk mantannya itu. Tidak ada salahnya kan menjalin komunikasi lagi. Setidaknya tidak ada akibat buruk apapun yang tercipta, kecuali untuk kedamaian hatinya.     To : Aditya M. maaf dit. Iya kemarin aku ke Bali     Ia menggigit kukunya pertanda sedang gelisah. Pesan yang ia kirimkan sudah centang dua dan Adit sedang dalam keadaan online. “Gilak langsung dibaca.” Pekik Theresa kegirangan. Adit nampak mengetik dan itu membuat Theresa langsung keluar dari roomchatnya bersama Adit. Ia berusah menenangkan diri dan menetralkan detak jantungnya. Rasanya seperti awal-awal jatuh cinta saja. Padahal ini ia lakukan dengan mantannya. Ah, tolonglah. Bukankah itu pertanda Theresa benar-benar masih mengharapkan Adit? Pesan balasan masuk dari Adit dan Theresa memekik kegirangan. Ia memilih untuk meletakkan dulu ponselnya agar tidak terkesan langsung membalas pesan dari Adit. Jika begitu bukankah terlalu kentara jika Theresa menunggu pesan dari Adit? Akan tetapi bagaimana jika momentum berkirim pesan secara lancar dan cepat dengan Adit hilang begitu saja? Bukankah, Adit kadang sibuk sehingga sangat lama dalam hal membalas pesan. Memikirkan kemungkinan itu, Theresa kembali mengambil ponselnya dan membuka chat yang dikirimkan Adit.     Aditya M. sempet ke rumah juga kan?   Theresa menganggukkan kepalanya kemudian segera mengatakan pesan balasan. Hanya mengetikkan tiga huruf saja. Theresa mengetikkan kata ‘iya’ dan dengan cepat pesannya menjadi centang biru. Sepertinya Adit tengah stay di roomchat mereka sehingga pesan itu terbaca begitu cepat.       -------   “Reginaaa!!” Pekik Theresa seraya menyambut kedatangan sahabatnya itu. “Sumringah banget. Tapi nggak ada oleh-oleh loh ya. Bagasi gue penuh.” Theresa sungguh tidak mempermasalahkan mengenai hal tersebut karena dirinya sedang merasa bahagia. Itu sebabnya ia menawarkan diri untuk menjemput Regina di bandara ketika tahu Regina kembali ke Jakarta hari ini. “Nggak papa.” “Lagi seneng kenapa lo?” tanya Regina. Hari ini Theresa terlihat begitu bersemangat dan tidak mempermasalahkan apapun yang Regina lakukan. “Adit nge-chat lagi.” Mereka berbincang sambil melangkah menuju mobil. “Pantesan tumban mau jemput tanpa komentar.” Apartemen mereka berada di wilayah yang sama namun beda lantai. Itu sebabnya kadang Regina meminta Theresa untuk menjemput di bandara jika ia habis melakukan perjalanan entah untuk liburan atau pekerjaan. Kadang Regina yang menjemput Theresa. Mereka selalu begitu, bergantian. Akan tetapi khusus untuk Theresa, biasanya dia akan menego jam jemputan mengingat aktivitasnya selalu sibuk disaat Regina minta jemput. Untuk kali ini tumben Regina tidak perlu menunggu kedatangan Theresa. Biasanya paling lama ia menunggu selama sepuluh menit. “Lagi nganggur soalnya.” sahut Theresa cepat. “Dipecat?” “Amit-amit.” Therea segera memukul lengan Regina. Kadang ucapan adalah doa bukan? Dan Theresa tidak mau ucapan Regina yang asal seperti itu justru dikabulkan oleh Tuhan. “Justru gue malah dapet proyek baru.” Mereka masuk mobil dan kali ini tetap Theresa yang menyetir. Regina mengeluarkan ponselnya untuk diaktifkan. “Cepet banget. Bukannya yang di Palembang belum kelar?” “Itu tinggal pengawasan aja,” sahut Theresa. “Proyek apaan, Ther? Gila cepet banget sih lo.” “Nanti gue ceritain. Sekarang mau cerita soal Adit dulu. Enaknya makan dimana nih? Gue mau nraktir elo” Regina menatap ke arah Theresa penuh selidik. Sepertinya Theresa baru balikan dengan mantannya itu. “Lo balikan ya?” Theresa hanya senyum-senyum misterius saja. Membuat Regina semakin yakin bahwa tebakkanya itu benar dan tepat sasaran. Tentu masuk akal mengingat Theresa tiba-tiba mau menjemputnya dengan cepat tanpa komentar. Apalagi jika melihat wajah Theresa, perempuan itu terus saja tersenyum dan mengeluarkan aura penuh kebahagiaan. Apalagi memangnya yang bisa membuat seseorang seperti itu jika bukan sedang karena jatuh cinta. “Padahal tadinya gue yang mau nraktir.” “Dalam rangka apa?” tanya Theresa. Biasanya salah satu dari mereka akan mentraktir apabila sedang dilanda kebahagiaan. Baik menjalin hubungan baru, mendapatkan bonus gaji, atau berhasil menyukseskan proyek. Yah sejauh ini biasanya itu alasan mereka mentraktir. Bentuk traktirannya pun bermacam-macam. Kadang membelikan makanan di restoran ternama, menonton film di bioskop, membelikan baju baru, atau membelikan make up.  “Lo inget cowok lokal yang jadi target gue di acara anniversary perusahaan? Kita lagi deket sekarang.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN