Theresa sengaja datang ke kantor hari ini. Meski seharusnya ia tidak perlu melakukan itu mengingat tugasnya di proyek Palembang hanya sebatas mengawasi saja. Ia datang untuk menemui Juan. Theresa akan meminta izin lelaki itu untuk dapat bertemu dengan mamanya. Jika pun tidak diizinkan, maka Theresa akan bertanya beberapa hal terkait kesukaannya. Demi mendapatkan bonus tidak ada salahnya sedikit berjuang kan.
Resepsionis yang tiga hari lalu mengantarnya dengan baik kini mempertanyakan tujuan Theresa dengan ramah. Setelah beberapa menit Theresa diberi tahu bahwa CEOnya kini sedang rapat dan memiliki kemungkinan tidak dapat bertemu. Lagi pula Theresa belum membuat janji sebelumnya. Peluangnya bertemu tentu saja tidak ada. Mengingat Juan orang penting dan pasti sudah memiliki jadwal yang padat. Setelah menggumamkan terima kasih, dirinya menghela napas. Ia tidak memiliki kontak Juan jadi tidak bisa membuat janji temu. Dirinya juga tidak tahu kapan jadwal Juan akan pasti berada di kantor mengingat mobilitas orang itu sangat tinggi.
“Permisi, kira-kira besok Pak Juan ada di kantor tidak ya?”
“Maaf. Kalau untuk itu saya kurang tahu.”
Theresa merasa maklum. Perempuan itu hanya respsionis disini. Jika Theresa ingin mendapatkan jawabannya, ia seharusnya bertanya kepada sekretaris Juan.
“Kalau ingin membuat janji, bisa menghubungi kemana ya?”
“Bisa ke Bu Elma, sekretaris Pak Juan.”
Theresa tidak mengenalnya, jadi ia berpikir untuk langsung meminta kontak sang sekretaris kepada resepsionis itu.
“Boleh minta kontak Bu Elma?”
Sang respsionis mengangguk ramah kemudian tersenyum. Senyuman itu membuat Theresa lega.
“Tunggu sebentar.”
Kemarin sialnya Theresa tidak memiliki pemikiran sedikit pun untuk meminta kontak Juan. Padahal bisa saja ia perlu berhubungan rutin mengingat ini bisa terbilang proyek yang bersifat pribadi karena tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan.
“Ini.”
Theresa menerima kartu nama milik sekretaris Juan kemudian menggumamkan terima kasih. Ia lantas pamit undur diri dan segera menuju ke lift. Sepertinya lift sedang digunakan jadi ia menanti untuk sesaat.
Ting.
Pintu terbuka dan menampakkan Juan. Theresa mengeluarkan senyumannya secepat mungkin meskipun sempat merasakan terkejut. Juan juga merasa terkejut karena melihat Theresa berada di lantai ini. Lantai ini hanya terdapat ruangan Juan dan ruangan sekretarisnya. Ia jadi penasaran apa tujuan Theresa kemari. Andi sempat memberitahunya jika Theresa pergi ke kantor hari ini. Hanya saja Juan tidak bisa mengetahui apa tujuan perempuan itu datang ke kantor.
“Kenapa disini?” tanya Juan kepada Theresa. Posisinya masih tetap bertahan di dalam lift sementara Theresa juga masih pada pijakannya di depan pintu lift.
“Tadinya ingin bertemu Bapak. Tapi belum membuat janji dan katanya Bapak sedang rapat.”
Theresa lantas tersenyum kikuk. Ia masih bertahan di tempatnya karena Juan tidak kunjung keluar dari dalam lift padahal Theresa perlu masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai 6. Sepertinya mencari ide dengan duduk di meja kerjanya adalah ide yang bagus.
Juan melirik jam tangannya kemudian menoleh ke arah Elma, sang sekretaris.
“Kosongkan jadwalku hingga makan siang.”
“Tapi setelah ini-”
“Lakukan saja. Kau pasti bisa mengaturnya.”
Melihat raut wajah sekretaris Juan yang berubah menjadi masam, Theresa menjadi tidak enak. Juan pasti sudah ada jadwal penting dan kenapa harus mengosongkan jadwalnya semendadak ini. Alasan Theresa ingin bertemu dengannya adalah hal yang tidak begitu penting.
“Ayo, Theresa. Pasti ada yang mau kamu bicarakan.”
Juan keluar dari lift dan menarik tangan Theresa. Membuat semua yang berada disana merasa terkejut, kecuali Juan.
“Maaf, Pak. Kalau Bapak sedang sibuk, besok saja tidak apa-apa.”
“Sekarang saja. Elma tolong bereskan jadwalnya.”
Juan tetap saja menarik tangan Theresa hingga mereka tiba di depan pintu. Juan lantas membukanya dan ikut menarik Theresa masuk. Hal itu tentu berada di luar dugaan Theresa.
“Pak, maaf. Tangan saya.”
Theresa bermaksud agar Juan melepaskan tangannya karena mereka sudah ada di ruangan Juan.
“Oh?” Juan menatap tangannya yang menggenggam tangan Theresa begitu saja. Ia lantas secara reflek melepasnya seolah melakukan itu secara tidak sadar.
“Maaf..” gumamnya kemudian melangkah menuju kursi empuk tempat biasa.
“Tidak papa, Pak.”
“Silahkan duduk, ada apa?”
Juan melepas jasnya dan menyisakan kemeja putih. Ia melonggarkan dasinya kemudian melipat lengan kemeja hingga siku.
“Ah iya. Tidak perlu merasa tidak enak. Rapat tadi sungguh membuat lelah jadi aku ingin istirahat cukup lama.”
Theresa mengangguk memaklumi. Ia justru merasa semkain tidak enak karena mengganggu waktu istirahat Juan. Padahal lelaki itu sampai mengosongkan jadwalnya hanya untuk beristirahat usai rapat.
“Saya minta maaf kalau mengganggu waktu rapat, Bapak.”
Juan menatapnya kemudian mengangkat satu alis.
“Waktu di Bali kita sudah setuju agar tidak terlalu formal. Panggil Juan saja.”
Ah, untuk yang satu itu tentu Theresa masih dapat mengingatnya dengan baik. Mereka sepakat begitu karena pada saat itu keduanya tengah berada di pesta. Masalahnya adalah sekarang mereka berada di kantor dan bagi Theresa kesepakatan itu tidak berlaku. Ia harus menjaga sopan santunnya kepada atasan bukan? Lagi pula selain itu, Theresa merasa canggung jika hanya memanggil CEOnya dengan jika dalam kondisi di kantor begini.
“Tapi ini di kantor, Pak.”
Juan tentu merasa risih jika harus dipanggila begitu oleh Theresa. Tidak peduli dimana pun mereka berada saat ini. Akan terasa lebih nyaman jika Theresa memanggil namanya langsung. Namanya terdengar indah jika diucapkan oleh Theresa. Ia suka mendengarnya. Mereka terkesan begitu dekat dengan saling memanggil nama langsung. Jadi jika Theresa memanggilnya terlalu formal begini, Juan merasa kesal. Rasanya seola a da jarak nyata yang memisahkan mereka yaitu jabatan di kantor.
“Juan. Sudah ku bilang panggil Juan saja.”
Theresa melihat ada kekesalan dari nada bicara Juan. Ia khawatir Juan menjadi sangat kesal hingga berpotensi membatalkan proyek ini bahkan bisa saja langsung memecatnya dengan dalih Theresa tidak menurut pada atasan. Itu sebabnya dia segera menganggukkan kepalanya.
“Baik, Pa-Juan.”
Mendengar itu Juan lantas tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia suka jika Theresa menjadi penurut.
“Katakan ada perlu apa?”
Theresa jadi bingung mengatur ucapanya jika begini.
“Saya perlu bertemu dengan nyonya Crishtopher agar mengetahui selera beliau.”
Juan meletakkan tangan di dagu. Ini bisa menjadi sebuah cara untuk mengenalkan keluarganya kepada Theresa secara tidak langsung, begitu juga sebaliknya. Keluarganya bisa mengenal Theresa. Minimal dimulai dari mamanya, yang paling pemilih. Akan tetapi bisa saja ini justru akan merusak rencanya. Mamanya tentu tidak akan mengikuti skenario apapun yang Juan buat.
“Maaf untuk itu tidak bisa. Nanti surprisenya ketauan.”
Setidaknya Juan berhasil menemukan alasan yang sungguh logis.
“Kalau ingin tahu seleranya, kau bisa bertanya padaku.”
Theresa menganggukkan kepalanya pertanda setuju. Tidak masalah. Entah dari nyonya Crishtopher langsung atau pun dari Juan asalkan ia bisa menemukan beberapa petunjuk agar lebih mudah mendapatkan ide. Theresa lantas memberanikan diri untuk meminta kontak Juan. Agar lebih mudah saja jika ingin menanyakan hal mendetail.
“Sebelumnya, boleh minta kontakmu? Biar lebih mudah kalau tiba-tiba ingin bertanya.”
Juan tersenyum lebar dan itu membuatnya terlihat manis sekali.