Chapter 12

1018 Kata
Theresa tidak dapat menahan senyumnya ketika ia menerima pesan dari Adit. Ini sudah tiga minggu semenjak mereka memutuskan untuk menjalin hubungan kembali. Rasanya sungguh-sungguh indah. Ia memiliki cukup banyak untuk bertahan hidup bulan ini karena bonus dari proyeknya yang laku keras. Ditambah tidak ada beban apapun karena ia tengah mengerjakan proyek pribadi dari Juan dengan begitu santai. Ditambah dukungan penuh cinta dari Adit. Ah, rasanya sempurna sekali. Regina sedang sibuk pulang pergi ke Singapura untuk menghandle proyeknya disana. Ada sedikit masalah tapi Regina belum sempat menceritakan hal itu. Itu sebabnya Theresa tidak ingin mengganggu temannya itu beberapa waktu karena paham permasalahannya sedang pelik. Regina butuh berkonsentrasi dan Theresa tidak ingin mengacaukannya dengan curhatan kebahagiaan. Itu tentu tidak selaras dengan mood Regina yang begitu berantakan saat ini.   Aditya M. Aku mau ke Jakarta. Jumat ini gimana?   Theresa membulatkan matanya karena terkejut. Apa Adit benar-benar serius dengan rencanya kali ini? Ah, Theresa benar-benar rindu bertemu langsung dengan lelaki itu. Mungkin sudah hampir sembilan bulan ia tidak bertemu Adit. Atau mungkin hingga sepuluh bulan. Theresa tidak ingat dengan baik. Yang jelas sudah lama sekali. Ia memekik kegirangan kemudian melompat dari kursinya. Menjatuhkan diri di atas ranjang dengan tetap menatap pesan yang baru saja dikirimkan oleh Adit. Ia menanyakan kembali kesungguhan Adit terkait rencananya yang satu itu.     Aditya M. Iya. Libur dari jumat. Senin masuk.     Sepertinya Adit bisa berkunjung hingga minggu malam, atau minggu sore. Minggu siang juga tidak masalah. Ataupun kalau Adit ingin kembali minggu pagi juga Theresa akan mengizinkannya. Asalkan ia bisa bertemu dengan Adit. Selagi mengerjakan sketsa desain rumah untuk mama Juan, Theresa masih bisa mengatur waktunya dua hari atau tiga hari full untuk dihabiskan bersama Adit. Ya, dia bisa melakukan hal itu. Beberapa menit berikutnya sebuah telepon masuk. Adit yang menelpon. Dengan senyuman sungringah, Theresa segera mengangkatnya.   “Beneran bisa kesini?” Tanya Theresa begitu ia menjawab telepon dari Adit. “Halo.. Iya.” Theresa menggigit bibir bawahnya agar dapat menahan pekikan histerisnya. “Jumat pagi dari sini. Baliknya minggu pagi. Gimana?” Ah, itu sudah lumayan untuk mereka berdua menghabiskan waktu. Theresa bisa meminta Adit memasak selama berada disini. Ia rindu masakan Adit, jadi ia akan memuaskan diri dengan membuat Adit terus memasak selama berada disini. “Nggak papa. Nginep di apartemenku aja.” Mereka biasanya bertemu ketika liburan setelah merencanakan di daerah yang sama. Sebenarnya lebih sering di Bali karena disana ada banyak tempat indah yang Adit rekomendasikan. Mereka menjalin hubungan karena sudah mengenal sejak kuliah. Theresa di jurusan arsitektur sementara Adit di jurusan ilmu gizi. Mereka mulai LDR semenjak Adit pindah kerja ke Lombok. Adit pernah berkunjung ke Jakarta namun kala itu karena ada urusan pekerjaan. Jadi ia menginap di hotel yang telah disiapkan. Untuk kali ini, tidak papa jika Adit menginap di apartemennya. Toh, mereka masih sama-sama memiliki kewarasan untuk tidak berbuat macam-macam. Theresa percaya Adit laki-laki yang baik, jadi tidak masalah untuk menginap. Kalau pun Regina nantinya tidak keberatan, maka Theresa akan menginap di apartemen Regina sementara Adit tidur di apartemennya. Yah, begitu saja skenario untuk tempat Adit tinggal selama berkunjung ke Jakarta. “Nanti itu aku nyewa hotel aja.” “Yakin?” ledek Theresa. Terdengar kekehan di seberang sana. Jik Adit menyewa hotel maka kemungkinan kebersamaan mereka di jam tengah malam atau pun dini hari untuk saling mengobrol akan hilang. Theresa tidak masalah begadang bila itu untuk memanfaatkan waktu seoptimal mungkin dengan Adit. Lagipula ia sudah biasa begadang semenak kuliah. Dia akan anak arsitektur, begadang adalah makanan baginya. Sementara Adit sendiri, laki-laki itu juga sudah biasa begadang. Jadi begadang tidak akan mengalahkan mereka berdua.     ----------   Theresa hanya bisa mendesah maklum ketika menatap tampang cemberut Regina. Perempuan itu menatap layar televisi Theresa sambil menikmati makanan dengan tatapan kosong. Entah sudah berapa hari ia tidak tidur. Kondisinya terlihat buruk sekali. “Gue heran deh sama tuh cewek. Iri banget kayaknya sama gue.” Regina akhirnya menceritakan masalah yang membuatnya tercekik akhir-akhir ini. Desain interiornya sudah begitu ciamik ketika diserahkan kepada kepala divisi. Sudah hampir disetujui jika saja perempuan asing yang diceritakan Regina tidak merebut jatahnya dengan memprotes desain buatan Regina. Katanya mengeluarkan terlalu banyak biaya produksi. Itu sebabnya para atasan meminta Regina merombak desainnya dengan cepat agar proyek dapat segera berjalan. Sayangnya tidak mudah untuk meriset ulang agar sesuai tema dan tetap murah di harga produksi. Rasanya hanya menyulitkan Regina saja. Lalu jika designnya yang kali ini tidak disetujui maka Regina tidak akan mendapatkan sepeser uang pun dari proyek. Kecuali gaji bulanannya dari kantor. “Gue bantu doa biar design terbaru lo di acc.” Regina tidak menanggapi dan kemudian menyesap air mineral dalam gelas. Setidaknya Theresa merasa lega karena pekerjaan yang mencekik itu berhasil Regina selesaikan. Sekarang Regina hanya perlu menunggu kabar baik atau buruk dari desgin itu. “Ther. Btw, gimana proyek pribadi sama si ganteng Juan? Seneng kan lo bisa sampe chatan sama dia.” Theresa memang sudah menceritakan terkait proyek pribadi dari Juan. Cerita yang membuat Regina terkejut mengingat ia sungguh mengidolakan Juan yang tampan. “Lancar. Masih tahap sketsa rumah pertama. Kalo dua-duanya udah jadi baru kirimin hasilnya. Kalo udah setuju, kelar, dapet duit.” Regina kemudian terpikir akan hal lain lantas ia menatap Theresa dengan serius. “Apa Juan suka kali yah sama lo?” tanya Regina. “Apaan sih, Gin. Yakali. Nggak mungkin banget lah.” Regina mendekatkan tubuhnya kepada Theresa kemudian menatap penuh selidik. Matanya memicing, seolah berusaha mengintrogasi Theresa. “Waktu pesta sore, dia nanyain lo ke gue. Pas acara formal di ballrom, dia ngeliatin lo segitunya. Terus pas pesta malemnya, lo bilang kalo sempet ngobrol sama dia sebelum mabuk. Terus tiba-tiba dia ngasih proyek pribadi gini. Padahal nih ya. Gue bukan meragukan kemampuan lo. Tapi kan banyak arsitek yang lebih tua dan punya jam terbang tinggi gitu, Ther.” Theresa diam sejenak kemudian menggelengkan kepala dengan cepat. Berusaha membantah asumsi dari Regina. “Nggak mungkin banget. Kebetulan aja kali. Ah elu, terus maksud lo gue nggak layak ngerjain proyek rumah surprise ini?” “Layak, Ther. Cuma fokus gue adalah ke kejadian pas anniversary di Bali. Itu kentara banget tau. Masak lo ngga sadar sihh?” “Ther!” tiba-tiba Regina seolah menyadari sesuatu. “Jangan-jangan cowok yang tidur sama lo itu si Juan lagi?” “Dia pergi sebelum gue mabuk, Gin.” “Bisa aja dia balik lagi kan sebelum lo mabuk?” Theresa terdiam sejenak. Ia sungguh tidak ingat apapun yang terjadi ketika dirinya mabuk. Jika memang benar lelaki itu Juan, ah Theresa tidak tahu harus bersikap bagaimana. Akan tetapi jika memang itu Juan, toh Juan tidak pernah membahasanya kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN