Di meja kecil yang berisikan dua kursi menjadi pilihan Sag untuk menikmati secangkir kopi dan teman setianya yaitu sebungkus rokok. Ada beberapa putung rokok yang nyaris memenuhi asbak kecil yang ada di meja itu. Kelihatannya laki-laki itu sangat stres dan rokok dan kopi menjadi pelarian untuk mengatasi pikirannya yang semerawut. Duduk bersandar di kursi sambil menatap bangku-bangku yang dipenuhi tamu di Cafetaria. Sag ternyata tidak merasakan kenikmatan saat bersama Tan Mey. Wanita itu sering menolak keinginan Sag untuk melakukan senam keringat. Tan Mey agak dingin jika bersama laki-laki. Dia terbiasa menjalani kehidupan secara mandiri. Dekat dengan laki-laki sebenarnya paling Tan Mey hindari. Lalu lalang dan berisik para customer tak membuatnya merasa risih ataupun terganggu. Justru ia

