Bellina merenung sejenak setelah percakapan intens dengan Bi Ida. Kilas kenangan tentang kakaknya, yang kini telah jauh darinya, terus membayang. Langkahnya lambat menuju kamarnya, di mana sebuah foto kakaknya terpajang di dinding. Dia menatap foto itu dengan mata penuh emosi. "Dendam," gumamnya pelan dalam hati. "Queeny telah menghancurkan keluarga kakakku. Dia harus membayar. Kamulah yang menghancurkan keluarga kakakku, Queeny!" Bellina merasakan api dendam membara di dalamnya. Dengan langkah mantap, ia membuka laci nakasnya dan mengambil sebuah ponsel. Pandangannya menatap layar ponsel. "Dengan ini, aku akan menuntut balas dengan cara yang sesuai," ucapnya. Keesokan harinya, sinar matahari pagi menyambut Queeny dan Bellina saat mereka bersiap-siap untuk perjalanan ke stasiun kereta

