Dengan senyum misterius, Mellisa menjawab, "Ya bukanlah, mana mungkin aku ngelakuin kaya gitu. Kalau itu pelakunya aku, cari mati namanya! Projek dokumenter jadinya batal dong! Gila aja!" Nana mengangguk setuju. Mellisa melihat ke arah Nana dengan senyuman tajam. "Udah ya, aku ada urusan. Kamu yang semangat. Kamu itu udah paling pantas bisa mendapatkan Mas Yusuf, aku pokoknya dukung kamu." Nana tersenyum malu mendengar ucapan Mellisa. "Jangan rahasia-rahasiaan sama aku! Aku tahu segalanya!" "Katanya ada perlu! Udah sana!" Nana mengusir Mellisa. Senyuman jahat tergambar di wajah Mellisa saat ia melangkah keluar dari ruangan Nana. *** Queeny merasa kebingungan melihat kehadiran Mellisa di kantor. Arumi, yang melihat ekspresi bingung Queeny, mendekat dan menyapanya. "Kenapa, Queeny?

