Setelah seharian bekerja di rumah Agni, Kirana segera mengistirahatkan badannya. Tanpa mandi atau mengganti baju, Kirana sudah terlelap, karena kelelahan.
Malam pun tiba, sedangkan Kirana hanya bermalas-malasan di tempat tidur. Memainkan ponsel dalam keadaan kacau sehabis tidur dan tak mandi sedari pagi. Tiba-tiba Kirana di kejut kan oleh kedatangan seseorang.
“Santai sekali kau?” Bima mengagetkan Kirana.
“Kebiasaan kau ini ,kak!” Kirana membenarkan posisi tidurnya.
“Makanya jangan terlalu tegang. Sudah makan?” Tanya Bima.
“Malas aku,” Kirana kembali fokus pada layar ponselnya.
“Aku beli martabak telur, kamu mau?” tawar Bima.
“Malas makan aku kak, seharian tak di kasi istirahat malahan,” ucap Kirana yang mengadukan apa yang di perbuat Agni.
Tanpa di minta, Bima mendekati Kirana dan memijit kaki wanita yang lebih muda lima tahun.
“Jangan buat aku nyaman sama kakak, kalau kita harus terpisah nantinya,” oceh asal Kirana.
“Ngomong apa kau ini?” Bima malah memukul kaki Kirana.
“Aduh, sakit kak. Kalau gak iklas seharusnya kau gak lakukan. Tau tidak kau menyakiti kaki mulus ku?” oceh Kirana dengan nada manjanya.
“Sudah, ayo bangun. Makan dulu,” Bima memaksa Kirana.
Dengan terpaksa wanita yang memiliki mata biru ini mengikutinya. Selain martabak telur, rupanya Bima juga membelikan nasi goreng kesukaan Kirana.
“Tidakkah kau tadi melupakan bilang ada nasi goreng, padaku?” tanya Kirana yang sudah tak sabar menyantap olahan nasi ini.
“Sengaja,” Bima tersenyum pada wanita yang sudah menemani selama belasan tahun ini.
“Jahatnya, kalau begitu, kau harus di hukum kak.” Kirana tak mau di ganggu saat memakan nasi gorengnya.
Setelah makan malam bersama Bima dengan menu yang hampir tak pernah lagi di sentuh oleh Kirana selama menjadi sekretaris Agni. Kirana tak berhenti berucap terima kasih pada lelaki yang selama ini menjaganya. Bima selalu memberi apa yang menjadi keinginan Kirana.
Sangat berbeda dengan Agni yang malah melarang semua yang menjadi keinginan Kirana. Seperti makan nasi goreng seperti ini. Agni mengatakan jika nasi goreng mengandung banyak minyak dan tak bagus untuk kesehatannya. Terutama dengan penampilan sempurna Kirana.
Bukan rahasia lagi memang, jika Agni menuntut kesempurnaan fisik pada kirana. Selain otak yang mumpuni juga, tentunya. Memang, Kirana adalah satu-satunya pelamar yang memiliki kecerdasan yang di inginkan oleh Agni saat melamar waktu itu. Di samping wajah yang juga di atas rata-rata dalam menarik perhatian Agni.
“Aku ngantuk kalau seperti ini kak,” ucap Kirana yang sudah menyender di d**a bidang milik Bima.
“Tidur lah dulu di sini, nanti kakak angkat kau ke kamar. Kakak masih malas pulang,” Bima membenarkan duduknya senyaman mungkin.
“Jangan bilang kalau wanita itu ada di rumahmu,” tebak Kirana.
“Sudah lah, kalau dia mah setiap malam juga datang. Tapi aku cuekin, kakak cuma pengen denganmu saat ini,” Bima kembali berfokus pada ponselnya setelah sejenak mengalihkan pandangannya pada Kirana.
“Berasa kaya orang ketiga gak sih kan, Kirananya.” dengan berani KIrana memeluk lelaki yang tak memiliki hubungan darah dengannya itu.
Hhhffffttt
Bima tak menyajawab ucapan Kiranan, selain menghembuskan nafas besarnya.
Kirana sudah terlelap dalam tidurnya, saat Bima selesai menyelesaikan pekerjaannya di layar pipih berukuran tujuh inci itu.
Bima membelai lembut rambut basah Kirana akibat keringat. Mengecup pelan ujung kepala wanita yang sangat di kasihi itu.
“Mau secantik apa pun wanita yang menunggui kakak, tetap kamu yang kakak mau. Hanya kamu yang mengisi hati kakak. Nanti kalau kakak sudah berhasil, pasti akan melamarmu. Jadi bersabarlah sebentar lagi,” ucap BIma yang membalas pelukan Kirana.
Memang sulit menolak kata cinta di tengah kata persahabatan antara lelaki dan perempuan. Apa lagi bersahabat dengan wanita yang sangat mempesona dan juga sangat menarik seperti Kirana.
Menepati ucapannya, Bima menggendong Kirana dan menidurkan wanita itu di ranjang nya. Merapikan tidur Kirana sebelum mengecup kening dan meninggalkan wanita itu.
“Selamat malam penjaga hatiku,” bisik Bima sebelum meninggalkan Kirana dalam tidur malamnya.
“Selamat malam juga, pencuri hatiku,” senyum mengembang dalam tidur Kirana.
Rupanya Kirana tak sepenuhnya tertidur, dan mendengarkan semua ucapan Bima dari di ruang tamu. Kirana yang juga memiliki rasa yang aneh itu pun tak merasa lagi cintanya bertepuk sebelah tangan.
Merasa terjawab apa yang ia rasakan, kini Kirana bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan Kirana juga bermimpi indah malam ini.
Mimpi di mana Kirana tengah memegang bunga yang akan di lempar bersama Bima ke arah tamu undangan. Sungguh mimpi yang tak pernah di bayangkan sebelumnya. Jika semua ini terjadi, maka sempurnalah kehidupan Kirana.
Hidup bahagia dengan orang yang selama ini selalu ada di setiap Kirana butuhkan. Tak pernah menyangka juga Kirana, jika perasaannya selama ini terbalaskan.
Oh, bahagianya Kirana malam ini.
Pagi menyambut dengan senyum dan semangat baru du hati Kirana. Meski kini dirinya sedang di rumahkan, tak menyurutkan hati kirana yang tengah berbunga.
Jika di lautan ada yang namanya pasang surut, maka yang terjadi pada Kirana saat ini adalah perasaan yang tengah pasang. Kirana yang tengah sibuk di dapur menyiapkan bekal sarapan untuk pencuri hatinya. Maka berbeda dengan ponsel yang berada di dalam kamarnya.
Ponsel yang tengah konser dengan menyanyikan lagu Dynamite milik BTS. Lagu yang sudah berputar lebih dari sepuluh kali itu, tak ada yang mendengarkan. Kasihan sekali, bukan?
Setelah menyiapkan bekal sarapan sehat untuk Bima, Kirana berniat untuk bersiap di kamar. Kirana tercengang melihat ada dua puluh lima kali My bos memenuhi panggilan tak terjawabnya. Tapi, dengan santainya Kirana mengabaikan panggilan tak terjawab tersebut.
“Kak, sudah bangu? Aku ke rumahmu sekarang,” itulah kata yang di sampaikan oleh Kirana saat menelfon lelaki yang sudah mencuri hatinya.
“Hati-hati ya, kakak gak bisa menjemput mu,” jawab Bima dari ujung ponsel Kirana.
Mandi? sudah.
Poles pipi? Sudah.
Sekarang saatnya berangkat untuk mengantarkan sarapan untuk sang pencuri hati. Kalau pencuri biasanya di masukkan ke dalam sel, tapi Bima? Oh tidak, dia selalu di penjara dalam hati Kirana. Sendirian, tanpa ada yang bisa membebaskan lelaki itu.
Sudah sangat siap dengan apa yang di perlukan, Kirana di kagetkan dengan kedatangan Agni. Lelaki itu masih mengenakan baju tidurnya datang ke rumah Kirana.
“kenapa gak angkat telfon dariku?” tanya Agni dingin pada Kirana tepat di depan pintu.
“Tadi saya lagi buat sarapan pak,” Kirana menunjukkan rantang yang dia bawa pada Agni.
“Ayo!” seru Agni yang tak menerima penolakan.
“Tapi, pak….” ucapan Kirtana terpotong karena tatapan tajam milik Agni.
Kirana terpaksa ikut dengan lelaki yang datang di pagi hari. Menghancurkan segala impian indah pagi hari Kirana bersama Bima.
To. Kak Bima.
Kak, maafin Kirana tak jadi ke rumahmu. Pak Agni datang menjemputku,
From. Kak Bima.
Iya, gak apa. Nanti kakak sarapan di kantor saja. Kamu hati-hati, jaga diri baik-baik.
Besok kakak ajak kamu pulang, kangen ibuk, katanya.
To. Kak Bima.
Kakak yang terbaik. Semangat!
Itulah percakapan Kirana pada Bima melalui pesan singkat. Meski hanya seperti itu, senyum Kirana tak mampu berbohong jika dia tengah bahagia.
“Ada yang menyenangkan kah, sampai kau tersenyum seperti itu?” tanya Agni yang melihat senyum manis milik Kirana.
“Bukan urusan bapak!” Jawab Kirana datar.
“Senyum lah lagi, aku masih ingin melihatmu tersenyum,” pinta Agni dengan cara menggoda Kirana.
“Pak, kenapa belakangan ini kau jadi genit? Apa ada ulat bulu yang masuk dalam dirimu?” tanya Kirana merasa sangat jengkel.
“Iya, kau lah ulat bulu itu.” jawab Agni