Aku tanpamu, bisa apa?!

1264 Kata
“Kenapa kau lakukan hal ini saat tak bersamaku? Dan melakukan hal sebaliknya saat bersamaku?” Agni memegang erat lengan Kirana.   Rupanya pesta yang di hadiri Bima, juga mengundang Agni. Sebagai arsitektur dan pengusaha properti yang menjual apartemen dan hunian lain, akan selalu di pertemukan di acara-acara sepeti ini. Dan bodohnya Kiraa telah melupakan hal penting seperti ini.   “Maaf, anda bukan lagi atasan saya. Anda sendiri yang memecat saya,” ucap tegas Kirana.   “Siapa yang mengatakan kamu saya pecat? Saya hanya menyuruhmu untuk pergi dai hadapan saya sampai saya menghubungimu kembali!” ucap egois Agni membuat perhatian para tamu tertuju pada kedua orang yang menggunakan warna jas yang serupa dengan wanita yang ada di tenagh-tegah mereka.   “Maaf, anda sudah menghalangi perjalanan kami,” Bima melepas tangan Agni dari lengan Kirana.   “Tetapi dia sekertaris pribadi saya!” tak ada yang mau mengalah, Agni dengan otoritasnya menginginkan Kirana.   Sedangkan Bima yang merasa mengajak wanita itu pun enggan untuk mengalah.   “Bukan kah tadi tuan Agni sendiri yang mengatakan jika pasangan saya ini untuk tak terlihat dari pandangan sampai anda menghubunginya?” Bima membalikkan ucapan Agni.   Mundur terhormat adalah pilihan tepat saat ini. Agni membiarkan Kirana menjadi pasangan pesta Bima untuk malam ini.   Meski sudah mundur, pandangan Agni tak lepas dari dua orang yang mengaku bersahabat ini. Setiap Bima menyentuh pinggang Kirana, ada rasa tak tergambarkan di hati Agni.   Agni terus meminum minuman berakohol yang di sediakan oleh tuan rumah. Melihat adanya Agni duduk di pojokan, Gandi pemilik hajat pun menghampiri lelaki penuh ambisi ini.   “Saya mencium ada aroma terbakar di sini,” Gandi mengikuti pandangan Agni yang terus tertuju pada sekertaris pribadinya itu.   “Jangan membuat berita yang tak masuk akal! Kau sengaja memanggil para wartawan untuk mencari scandal mereka?” Tanya Agni yag merupakan teman dekat sekaligus rekan bisnis pertamanya.   “Ya, kau tau itu. Jual tanah sekarang kalah sama jual rumah gratis istri. Jadi aku mau membuat gebrakan dengan menual scandal,” senyum smrik Gandi membuat Agni mengerti apa maksud lelaki itu.   “Kenapa gak kau jual wanita-wanitamu saja? Lumayan untuk pelicin bisnismu,” saran Agni yang malah membuat Gandi tertawa.   “He, seperti sekertarismu yang kau jual pada arsitek dari perusahaan EDO?” jelas Gandi siapa Bima pada Agni.   “Mereka bersahabat dari masih kecil. Hanya itu yang aku tau, dan aku gak pernah menjual siapa pun pada pihak mana pun,”   “Percaya! Tapi, aku meragukan persahabatan mereka. Sahabat yang suka memegang pinggag? Atau sekertarismu itu di bobok in sama sahabatnya, kamu tak tau?” Gandi masih dengan opininya.   “Berhenti membakarku, aku tak akan terbakar. Camkan itu!” kemabali Agni meminum cairan merah pekat itu.   “Stop kau minum Wine ku!” Gandi merebut gelas dari tangan Agni.   “Kau tak akan bangkrut dengan aku menghabiskan satu botol wine ini,” Agni berusaha merebut kembali gelas miliknya.   “Kau mau menghabiskan yang ada di mini bas itu pun aku tak akan bangkrut. Tapi kau lupa akan toleransimu terhadap alkohol!” Gandi terus menjauhkan gelas itu dari pemiliknya.   Gandi memang sudah setengah sadar, karena minuman memabukkan itu. Tapi lelaki itu masih ingin meminumnya lagi, dan lagi.   “Ran, Agni sudah tak sadarkan diri,” Gandi memberi tahu Kirana yang tengah asik bercengkrama dengan rekan seprofesi Bima, yang merupakan teman kuliahnya dulu.   “Orang ini mencari mati!” Kirana meninggalkan Bima dan teman-temannya demi mengurus Agni.   Saat hendak mengejar Kirana, Gandi menahan Bima. “Jangan sia-siakan masa mudamu mengejar orang yang tak memiliki hati untukmu, brow!”   “Bukan urusanmu!” jawab Bima tegas.   Bima memperhatikan Kirana yang telaten mengurus Agni. Mungkin benar apa yang di ucapkan Gandi, tapi, bukankah mereka hanya bersahabat?   Setelah berfikir sebentar, akhirnya Bima menolong Kirana untuk mengurus Agni. Gandi melihat ketulusan Bima pun merasa salut pada lelaki itu.   “Menolong orang yang paling berpengaruh di kehidupan wanitanya, ini sungguh cerita yang paling dramatis,” ucap Gandi dengan senyumannya.   Bima mengantarkan Agni ke apartemennya, atas permintaan Kirana. Selam di perjalanan, Kirana terus menghapus keringat yang keluar di kening Agni. Bima juga merasa khawatir dengan keadaanAgni saat ini,   “Apa gak seharusnya kita ke rumah sakit saja?” Tanya Bima.   “Gak perlu, dia memang memiliki toleransi yang buruk pada minuman berakohol. Dia hanya perlu istirahat satu malam saja,” jawab Kirana menepis rasa khawatir Bima.   “Baik lah kalau begitu. Sini aku bantu untuk memapah bosmu,” dengan sigap Bima memapah badan Agni yang sudah lemas.   Bima langsung membawa lelaki itu masuk ke dalam apartemennya yang berada di lantai paling atas. Langsung membawa ke kamar, sesuai yang di tunjukkan oleh Kirana. Dengan telaten Kirana melepaskan jas kemeja yang membalut tubuh lelaki itu.   “Ran, kamu mau pulang atau mau menunggui dia di sini? Sepertinya dia demam,” tanya Bima pada wanita yang sepertinya juga tak tega meningalkan lelaki itu.   “Tidak bisakah kau juga menemaniku di sini, kak? Aku terlalu takut dengan dia,” ucap Kirana mengiba.   “Baik lah, aku akan bersamamu di sini,” Bima akhirnya menyerah untuk menunggui Kirana dan Agni selayaknya kakak menjaga adik-adiknya.   Kirana yang memang sudah mengenal apartemen milik Agni pun menyiapkan kamar untuk Bima tidur. Sedangkan Kirana sendiri menjaga Agni sepanjang malam. Mengompres dan engelap keringat yang keluar dari badan dan wajah Agni. Mengukur suhu badan Agni setiap dua jam sekali, untuk memastikan jika bosnya itu akan membaik dalam waktu yang singkat.   Hingga subuh menjelang, Kirana masih mondar-mandir untuk mengompres Agni menggunakan Air dingin. Suhu tubuh yang sudah sedikit normal, membuat rasa lega Kirana. Karena kelelahan, Kirana tertidur tepat di samping Agni yang terlelap.   Pagi menjelang, saat Bima berpamitan pada Kirana. Bima memasuki kamar yang di tempati oleh Agni.   “Biarkan dia tidur, dari semalam dia belum tidur,” ucap Bima pada Agni yang hendak membangunkan Kirana.   “Kamu, kenapa kalian malah merawatku? Tidakkah kau cemburumelihat dia mengurusku semalaman?” tanya Agni yang melihat Bima masuk kedalam kamarnya.   “Cemburu? Buat apa?” Tanya Bima yang menganggap Kirana hanya sebatas sehabat atau adiknya sednriri.   “Kalian…?” tanya Agni menggantung.   “Dia sudah aku anggap adikku sendiri,” pungkas Bima sebelum meninggalkan apartemen itu.   Mendengar jawaban dari Bima, Agni merasa sedikit lega.   Tunggu!   Lega? Karena apa?   Gak mungkin kan, Agni memiliki rasa pada sekertaris pribadinya? Agni langsung menepis pikiran yang bukan-bukan tentang Kirana.   Agni melihat Kirana yang tertidur di lantai pun merasa kasihan. Lelaki yang sudah merasa segar pun langsung mengangkat wanita itu tidur di ranjangnya. Sedangkan dia sendiri berjalan ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang lengket karena keringat.   Setelah mandi, Agni kembali melihat Kirana yang terlihat sangat kelelahan.   “Sedang mimpi buruk kah kau? Sampai mengerutkan dahi saat tidur?” Agni memperhatikan Kirana.   Kebiasaan di siapkan oleh Kirana, kini Agni merasa kesulita mencari kemeja mana yang akan di kenakannya.   “Dengan banyaknya kemeja dan jas, kenapa Kirana bisa memilihkan yang ingin aku pakai? Benar-benar tak isa di lepaskan wanita ini.” Agni berbicara sendiri saat berada tepat di depan lemari bajunya.   Setelah memilih baju yang ingin di gunakan, kini Agni beraih ke tempat dasi. Satu, dua, tiga dan masih banyak sekali warna yang sama. Sekali lagi Agni mengumpat karena tak bisa menemukan dasi yang ingin di kenakan.   “Apa-apaan ini? Kenapa aku membeli dasi dengan warna dan motif yang hampir sama begitu banyak? Aku harus pakai yang mana?” Agni kebingungan mencari dasi yang pas dengan kemejanya.   Setelah mengambil dasi secara acak, Agni berjalan sedikit kearah samping dan mendapati deretan jam tangan mewah miliknya. Kembali Agni di suguhkan dengan pilihan yang begitu memusingkan.   “Gue gak mau pusing lagi masalah penampilan. Tapi ini memang memusingkan sekali! Oh Tuhan, besok aku harus menandai semua ii sesuai hari, atau bahkan tanggal untuk memakainya!” seru Agni.   Dan setelah memakai Jam tangannya, Agni kembali memeriksa penampilannya. Dan…. cincin yang selalu menghiasi jari manis dan jari telunjuknya masih luput dari pandanganya.   “Oh Tuhan,kenapa aku tak keluar-keluar dari tempat ini! Kiranaaaaaa, aku membutuhkan mu,” akhirnya Agni sadar akan pentingnya keberadaan Kirana di sampingnya.   Jam delapan pagi, seharusnya Agni sudah berada di ruangannya dan mendengarkan Kirana membecakan agendanya. Tapi, apa yang di lakukan Agni hari ini? Bahkan dia masih belum keluar dari ruangan yang ia khususkan untuk meletakkan perlengkapan dirinya.   Agni benar-benar di buat setres dengan keinginanya sendiri. Kesempurnaan yang selalu di inginkan oleh Agni memang terletak pada Kirana. Merasa gagal dengan apa yang di inginkannya sendiri, Agni memutuskan untuk kembali tidur dan menemani wanita yang ia tidurkan di ranjangnya.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN