Lelaki misterius

1237 Kata
“Hai, akhirnya kamu bisa juga menemaniku makan siang,” Bima terlihat sangat bahagia.   “Maaf, bos ku sangat menyebalkan,” jawab Kirana.   “Baik lah Ran, jangan banyak mengutuk orang itu lagi. Sekarang makan ini, aku tau kau sudah kelaparan sekali,” Bima memberikan nasi goreng kesukaan wanita itu.   “Tak ada yang lebih mengerti aku selain kamu, kak Bima,” Kirana memasang wajah memelasnya.   Keduanya makan dengan santai dan saling melempar guyonan untuk mencairkan suasana.   Satu jam sudah berlalu, keduanya pun harus berpisah kembali. Pekerjaan padat yang di miliki Kirana, membuat keduanya susah untuk bertemu. Tapi di kala senggang keduanya selalu menghabiskan waktu bersama.   “Baik lah, kak. Minggu ini kita harus pulang, kasihan mama sama ibu di kampung,” janji Kirana.   “Lihat jadwal kamu saja,” Bima membelai lembut rambut hitam Kirana.   “Baik lah kalau begitu nanti aku kabari lagi,” KIrana memasuki kantor tempatnya bekerja.   Jabatan sebagai sekertaris pribadi, membuatnya susah untuk berlama-lama beristirahat. Dengan senyum yang mengembang, Kirana melangkahkan kakinya menuju lift.   Ting   Lift terbuka, dan menampakkan beberapa orang mengenakan jas dan bosnya ada di tengah mereka. Kirana terkejut secara reflek menundukkan kepalanya.   Menundukkan kepala adalah hal yang paling di benci oleh Agni. Karena dia berpendapat, jika menundukkan kepala. Berarti dia menyerah untuk di injak dan di rendahkan.   Melihat hal itu di lakukan oleh Kirana, membuat Agni mengabaikan sekertaris pribadinya.   “Terima kasih atas kerja sama bapak, saya sangat senang perusahaan Prisma masih mau bekerja sama dengan saya.” jelas Agni.   “Itulah kenapa di butuhkan sebuah keprofesional an dalam bisnis. Sebenarnya semalam itu kesalah pahaman yang mendasari kita. Jadi, mari kita lupakan saja kejadian itu,” pungkas Gaurta Prisma, pemilik perusahaan Prisma.   Kirana mengurungkan niatnya untuk kembali keruangannya dan menunggu Agni di depan lift. Dingin, tak bersahabat dan di liputi awan mendung, itulah Agni saat ini. Berdiri di depan Kirana dengan membenarkan jasnya, menunggu lift terbuka.   Ting   Lift pun terbuka dan kedua orang itu masuk kedalam, menuju lantai tujuh di mana ruangan mereka berdua berada.   Selama di dalam lift, Agni tak berkata sepatah kata pun. Hal yang tak biasa membuat Kirana merasa bersalah. Berjalan cepat saat memasuki ruangannya adalah salah satu pertanda jika lelaki itu tengah di liputi oleh amarah.   Kirana hendak melepas jas milik Agni, seperti biasanya. Agni menghempaskan Kirana, rupannya lelaki tak ingin di sentuh oleh Kirana.   “Bereskan barangmu, dan aku tak ingin melihatmu hari ini!”   Deg   Apa yang sudah aku lakukan sampai membuat pak Agni marah?   Kirana langsung bersujud pada lelaki itu dan memohon maaf. “Maaf pak, kirana gak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama. Tolong berikan aku satu kesempatan lagi,” mohon Kirana dengan air mata yang sudah memeluhi pelupuk matanya.   “Percuma kau memohon padaku saat ini! Aku hanya ingin kau tinggalkan kantorku, hilang dari pandangan mataku. Sampai aku menghubungimu lagi, nanti!” ucap dingin dan datar seakan sebuah petir yang menyambar di telinga Kirana.   Merasa tak bisa berbuat apa-apa lagi, Kirana pun memilih untuk pergi meninggalkan ruangannya.   Kirana berjalan lemas memasuki ruangannya. Di lihat Jaka yang sudah menunggunya di ruangan.   “Lu dari mana saja? Hp di tinggal, lu tau gak? Bos kelimpungan nyariin elu.” Jaka tak melihat ekspresi Kirana, dia malah mengomel tak karuan.   “Ya gue tau, dan lu baik-baik di sini,” Kirana merapikan barang-barangnya dan hendak pergi, namun di tahan oleh Jaka.   “Mau kemana lu?” tanya Jaka semakin bingung.   “Gue di pecat!” Kirana meninggalkan Jaka yang masih mencoba mencerna ucapan KIrana.   Setelah wanita itu tak berada di ruangan itu, Jaka baru menyadari ucapan Kirana. “Di peca! Kirana, tunggu!” Jaka berusaha mengejar, tapi telat. Pintu lift Kirana sudah tertutup.   “Hais, Bos mengambil keputusan sesaat. Ini gak baik,” gumam Jaka.   Jaka berjalan cepat memasuki ruangan bosnya dengan kasar. Menggebrak meja milik sahabat yang menjadi atasannya saat ini.   “Gue gunakan hak sebagai temen lu sekarang! Lu sadar, sudah memecat orang yang paling lu butuhkan? Dia itu bukan hanya sekertaris elu, tapi dia rekan kerja yang bisa gantiin elu. Kalau di ingat-ingat, kemampuan dia dalam mengambil keputusan jauh lebih tepat dari pada pilihan elu yang asal. Lu tau, dia yang sudah mengatur apa yang menjadi kebutuhan elu selama dI kantor. Inget omongan gue, lu gak akan bisa apa-apa tanpa Kirana, karena Kirana lah yang menjadi orang di balik kesuksesan yang kau capai!”   “Siapa yang memecat Kirana? Gue cuma gak ingin melihat dia di kantor ini!” Agni membela diri.   “Apa bedanya, b*****t! Lu sama aja menggantung nasip dia.” Jaka meninggalkan ruangan orang yang menjadi sahabatnya sejak SD ini.   Agni melempar gelas yang ada di depannya sebelum meninggalkan ruangan dan kerjaannya. Baru kali ini Jaka emosi terhadap dirinya.  Pasalnya, Jaka selalu mendukung Agni selama ini. Tapi, hanya karena Kirana, lelaki itu berani membentaknya dan memakinya.   Sedangkan Kirana langsung menghapus air matanya setelah keluar dari gedung berlantai tujug itu. Menghubungi Bima adalah pilihan yang paling tepat untuk saat ini.   “Ada apa lagi dengan bos mu itu? Kau terlihat kacau.” Bima menjemput Kirana.   “Aku di pecat, kak. Tapi, sudah lah,”  ucap Kirana yang sepertinya tak ada sedikitpun penyesalan pada ucapannya.   “Kalau begitu, nanti malam kau bisa menemaniku ke pesta?” tanya Bima.   “Tertu saja bisa, tapi tarifnya tak murah ya,” jawab Kirana dengan candaanya.   “Berapapun yang kau minta, asal kau tak meninta jantungku saja,” candaan juga terlontar dari jawaban Bima.   “Tapi jangan salahkan aku kalau kau akan jadi kangker, kak.”   “Tenang lah, kalau kakak kangker kan bisa minta makan sama kamu,” skak mat Kirana tak bisa berkata apa kalau sudah berdebat dengan lelaki itu.   Perjalanan pulang diawal waktu, membuat Bima dan Kirana memiliki waktu untuk mencari gaun untuk ke pesta. Masuk ke salah satu butik ternama di kota itu, Kirana mencoba beberapa gaun simple nan anggun.   Setelah mendapatkan gaun yang cocok dengan Kirana, kini keduanya pulang ke rumah Kirana.   “Nanti aku jemput jam tujuh malam,” hanya mengacungkan jemplnya, Bima mngetahui jawaban dari Kirana.   Dari jam lima sore ke jam tujuh malam itu bukan lah waktu yang lama. Tapi Kirana tak menyia-nyiakan waktu yang sangat singkat itu.   Kirana yang sudah siap dengan gaun semata kaki tanpa lengan, kini tengah memoles bibirnya dengan lipstik warna senada --merah cabai--. warna merah yang kontras dengan kulit putihnya, membuat Kirana terlihat sangat mempesona.   Di padu dengan riasan rambut yang yang di bawa naik ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya. Menggunakan sepatu berhak tujuh senti pun memnambah keanggunan dari Kirana.   Wajah polos yang berubah menjadi wanita yang mempesona. Bima menjemout Kirana jam tujuh kurang sepuluh menit. Kirana keluar dan terlihat sangat anggun di mata Bima dan satu orang yang tengah memperhatikan Kirana dan Bima dari dalam mobilnya.   “Kau sungguh sangat cantik hari ini. Bisakah jam dua belas di tiadakan?” goda Bima yang terpesona pada penampilan Kirana.   “Ayolah, aku bukan Cinderella, kak. Cukup kau menggodaku untuk saat ini, atau aku akan malu dan kita gak jadi ke pesta!” ancam Kirana.   “Baiklah tuan putri, akuberharap kau memang bukan Cinderella yang berubah jadi Upik abu setelah jam dua belas,” Rayu Bima.   “Aku buka Cinderella, kak! Aku Anna, adiknya Elsa,” jawab KIrana manja.   “Baiklah Anna, kita langsung ke tempat pesta,”  keduanya pun berangkat ke tempat pesta di ikuti oleh satu mobil yang sedari tadi juga menunggu Kirana dari kejauhan.   Siapakah sebenarnya lelaki yang mengamati dan mengikuti Kirana dan Bima?   Bima dan Kirana tak menyadari jika mobil mereka telah di buntuti oleh seseorang yang tak di kenalnya. Bima dan Kirana memang tak pernah berfikira negatif terhadap orang lain pun tak ingin mengambil pusing hal-hal seperti itu.   Sesampainya di tempat pesta, dengan sigap Bima membukakan pintu untuk Kirana. Menggandeng lengan kekar Bima, adalah hal yang seharusnya di lakukan oleh Kirana sebagai pasanganpestanya malam ini.   Wajah ayu dan tubuh yang terkesan mungil di samping Bima pun menjadi sorotan para tamu undangan yang lainnya. Menyadari hal itu, Kirana hanya bisa menegapkan kepalanya dan membusungkan dadanya. Membuat orang terpana padanya, adalah hal yang tak pernah di sadari oleh Kirana.   “Kenapa kau lakukan hal ini saat tak bersamaku? Dan melakukan hal sebaliknya saat bersamaku?” ucap dingin lelaki yang sedari tadi mengikuti Bima dan Kirana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN