Jika akhirnya hanya menyakitkan, kenapa harus memulainya? Itu sama saja sebuah tindakan tidak bertanggung jawab. Dan itu dilakukan oleh public figure, cowok yang menjadi idaman banyak orang.
Ternyata begini, menjalin perasaan dengan artis? Tidak menyenangkan dan cukup mengecewakan. Mentang-mentang terkenal, seenaknya dia mempermainkan perasaan. Meskipun Yara bukan orang yang terkenal dan disukai oleh banyak orang, begini-begini ia juga masih punya perasaan.
Apakah jatuh cinta hanya dilakukan sendiri? Bukan, semua itu ada karena sesuatu yang memancingnya. Jika bukan karena perasaan diri yang mendorong dan seseorang yang mengajaknya pasti semua ini tidak akan terjadi. Jika tidak ada perhatian yang membuat jatuh hati, pasti tidak akan ada jatuh cinta.
Mengapa kemarin memberi harap jika sekarang tidak bertanggung jawab. Mengapa kemarin harus memulai jika akhirnya dia tidak bisa membuatnya selesai.
Hujan di pagi hari ini semakin membuat suasana semakin dramatis. Yara diusir Daru padahal hanya ingin memberikan kopi. Rasanya d**a sakit dan badan menggigil beserta hatinya. Pipi Yara basah tanpa ia sadari. Ia berdiri di bawah kanopi jalan menuju tempat parkir. Tangannya memegangi tembok karena ia tak sanggup berdiri sendiri.
"Meskipun kita temenan bukan berarti kamu bisa seenaknya." Tadi kata-kata itu terus terngiang kepala Yara. Sakit, kecewa, Merasa dikhianati dan merasa tidak dihargai. Apakah salah jika ingin memberi perhatian, Apakah salah jika kita ingin melakukan kebaikan.
Apa yang terjadi kemarin kemarin itu apa? Jika Daru ingin memberi batas Kenapa tidak dari dulu ketika mereka saling memperkenalkan nama. Dan sekarang yang di saat dia ingin mencoba lebih dekat Ndaru menutup pintunya dengan rapat.
"Hanya bikin orang repot aja." Desisnya.
Sementara di tangga, Daru masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
"Lo udah jahat, lo manusia yang paling jahat!" Daru memukul-mukul dadanya. Kekesalannya hanya bisa ia pendam. Seperti Yara yang menangis di balik gedung ini, Daru juga Nampak begitu putus asa.
Daru menatap nanar kopi yang ada di sampingnya. Tangannya meraba gelas itu, masih hangat. Bibirnya tersenyum, namun air matanya merembes, ia tidak tahu kenapa bisa secengeng ini. Bagaimana bisa ia menyakiti perasaan seseorang yang seharusnya ia jaga. Bodoh!
Ketika kelas selanjutnya dimulai pun Yara masih merasa begitu sakit hati dengan perkataannya. Jika tadi ia melihat Daru dengan perasaan senang dan senyum-senyum karena jatuh cinta, kini ia melihat Daru dengan perasaan kecewa dan dan muak. Semua itu terjadi di dalam satu hari. Bahkan belum berjalan dua jam.
Daru diam-diam menatap Yara yang menundukkan wajahnya, seperti menahan diri untuk tidak menangis. Daru semakin diserang rasa bersalah karena bagaimanapun, itu pasti ulahnya. Karena ia terlalu jahat pada Yara dan menjadikan ini semakin rumit. Perasaan di kedua manusia itu kini semakin tak karuan, yang harusnya tumbuh kini harus dikubur lagi, ditindas sampai mati.
Dosen menjelaskan materi dengan lantang di depan kelas. Namun yang terdengar hanya dengungan seperti lebah bagi Yara yang sedang kacau. Ia tidak bisa fokus dan ingin kabur dari kelas ini. Badannya juga sedikit mengigil karena hujan tadi. Meski hanya gerimis, tapi air itu membasahi kemeja Yara. Basah yang sia-sia. Sekarang, ketika tubuhnya masuk angin sendirian, tidak ada yang peduli.
•••
Aku semakin kesakitan, dengan perasaan yang tidak bisa kuatur dengan baik.
Aku menjadi tidak tahan ketika semuanya memelukku dengan erat.
Membuatku semakin sesak.
Hal-hal yang semakin rumit, menjadikan aku kebingungan.
Kenapa bisa aku merasa gagal
Padahal aku saja belum memulai.
Jika ini terus menerus terjadi, aku tidak tahu bisa menjalani hari dengan baik atau tidak.
Kamu candu, tapi juga luka yang perlahan membuatnya semakin terasa perih.
Hujan semakin deras meski hari sudah beranjak sore. Yara sepertinya masuk angin karena sejak tadi memakai baju yang basah. Kepalanya juga pusing karena terkena hujan. Entah ada apa dengan hari ini, jika tadi ia datang dengan perasaan begitu senang, kini ia harus pulang dengan perasaan terburuk. Hatinya berkecamuk dan badannya sedang sakit. Seperti komplikasi yang sempurna.
"Siapa yang tahu jika hari ini akan hujan begitu deras." Yara menatap nanar hujan yang terjun bebas di pelataran gedung kelasnya. Ia sejak tadi pagi terjebak di gedung J. bersama Daru yang jika tiap diingat, selalu memberi rasa sakit.
Andai saja, jika semuanya masih baik-baik saja. Begitu menyenangkannya hujan, ia akan bermain tetes air bersama Daru. Tertawa riang karena hujan menunda Daru untuk meninggalkan kampus. Bukankah itu yang selalu Yara minta ketika ia bersama Daru, ingin merasakan waktu lebih lama lagi.
Yara segera menggelengkan kepalanya, berharap itu bisa menghentikan ingatannya yang semakin kurang ajar. Ia tidak ingin larut dalam andai-andainya jika diteruskan akan jadi luka.
Luka yang seharusnya Yara hindari, kini malah semakin mengejek. Berdiri tepat di samping Yara tanpa direncakan. Daru tanpa sadar berdiri di sana. Di depan kelas terakhir mereka, J12.
"Kamu nggak bawa payung?" celetuk Daru yang saat itu langsung ia sesali.
Yara diam, ia sepertinya sudah tahu jika menjawab pertanyaan Daru hanya akan semakin menyiksa batinnya.
Jika ingin menghindari mengapa ia begitu plin-plan. Kalau pengen membuatnya semakin buruk, ia tak seharusnya mempertanyakan hal itu.
Yara mengelus-elus lengannya yang mulai kedinginan. Dalam detik itu juga, jaket asing memeluk dirinya. Memberi kehangatan bekas tubuh Daru. Ya, itu Daru. Entah apa yang membuatnya berani melakukan hal itu.
Yara langsung menoleh ke arah Daru, cukup tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. I tidak tahu akan merasa begitu deg-degan atau membenci hal ini.
"Pakai, aku tahu kamu kedinginan." kata Daru pelan. Ia sungguh ingin memberikan sorot betapa ia mencintai Yara pada matanya. Namun ia tidak mungkin selantang itu.
Daru berlalu, meninggalkan Yara yang sama sekali tidak berkedip. Yara meremas pelan jaket warna navy itu. Ia merasakan hangat pada tubuh Daru, meskipun hatinya sama sekali tidak terasa hangat.
"Andai lo tahu Ru, gue naksir lo parah. Jika keinget gimana perlakuan lo, gue semakin bingung." lirih Yara yang melihat Daru perlahan pergi meninggalkannya.
Cinta memang kadang tidak adil, senang mempermainkan dan menjadikan semunya begitu dramatis dan menjadi sakit. Yara merasakan itu dengan sangat terasa.
Hujan semakin deras, membuat Yara semakin erat memeluk jaket Daru. Kamu seperti hujan pagi ini, menyakitiku padahal begitu kuharapkan untuk terjadi.
Jaket ini, menjadi tanda tanya besar di kepalanya. Setelah semua berlalu tanpa kejelasan, ia datang, dengan seakan membawa kehangatan terbaik. Seperti maaf yang tanpa bisa ia katakan. Namun bukankah itu tetap menyakitinya?
•••