Hidupku sibuk, tak ada kesempatan untuk mencoba hal baru, dan tak ada waktu untuk melangkahkan kaki mencari hal yang menurut orang sebuah kebiasaan, hidup bersosial. Keseharianku diatur dan aku bahkan tidak tahu bagaimana bersenang-senang dengan baik. Terlihat biasa saja memang, tapi lama kelamaan, aku juga jenuh. Yang tersisa hanya lelah dan hampa. Aku sering memainkan peran jadi orang lain, merasakan kebahagiaan yang di sorot kamera sampai lupa hakikat kebahagiaan itu apa di dunia nyataku. Di kehidupan Daru Han yang sebenarnya.
Teman, satu kata yang menurutku hampa. Aku sama sekali tidak memahaminya. Meskipun aku juga berhubungan dengan sesama artis, namun aku sama sekali tidak merasakannya. Merasakan bagaimana bisa berjalan-jalan bersama dan menikmati hari yang berat, karena hidup kami sama-sama berat.
Tapi ketika aku datang dan masuk ke dalam hidup perkuliahan, aku mulai sedikit merasakan perbedaan. Aku memiliki teman yang dulu kupikir tidak mungkin kumiliki. Mereka semua memberikan energi positif, memberi semangat untuk perkuliahan dan syuting yang berat. Mereka seperti penyuntik bahagiaku.
Yara, awal aku melihat sosoknya di depan pintu J21, satu bulan lalu. Gadis ceria yang sama sekali tidak kusangka masuk dalam duniaku, perlahan-lahan menyapa dengan hangat hatiku. Sampai kini, senyumnya sudah menjadikan aku begitu bersemangat.
Jika dulu perasaanku mati karena sibuk memerankan lakon di dunia peran. Kini aku tidak bisa mengingkari perasaanku. Jatuh cinta, ternyata memang semenangkan ini. Rasanya seperti ada kekuatan magis yang menjadikan sosok itu nampak begitu sempurna di mataku. Bagaimana ia tersenyum, bagaimana ia merangkai kalimat-kalimatnya yang indah, dan bagaimana ia mengekspresikan emosinya dengan tepat.
Garis-garis wajahnya seakan menjadi gerbang untukku dalam memahami tiap geraknya, tiap emosinya dan tiap apa yang ia ingin sampaikan. Yara Airani, adalah pematik perasaanku di usia 20 tahun ini. Pemuda polos yang sibuk dengan dunia perannya sampai lupa bahwa kehidupan nyatanya juga harus diisi.
Perasaanku yang ragu kemarin mulai berkembang, tumbuh rimbun mengisi ketenangan. Tapi, dunia seakan menahanku untuk tidak terlalu jatuh. Hatiku ditahan hingga aku tidak bisa menggapainya. Ada satu benang tipis yang membatasi kami, pekerjaanku.
"Lebih baik menghindari ular, jika kamu tidak ingin terkena bisanya." kata-kata itu berkelebat lagi di otakku. Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat, ingin menghilangkan kata-kata itu di dalam benakku. Rasanya membuat dadaku sakit, seperti ada yang mengikat terlalu kencang di dalam sana.
Ketika aku mengingat kata itu di depan Kak Hana, aku segera menatap Kak Hana nanar, bagaimana bisa orang yang satu-satunya kupercaya malah melarangku keras. Apa yang menjadi alasannya melarangku untuk tidak memiliki hubungan spesial dengan siapapun, bahkan Yara sekalipun. Jika hanya karena statusku sebagai artis, aku bisa saja menjalankan hubungan di balik layar dan menjadikannya seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi kenapa? Apa usiaku masih terlalu dini? Jika tidak dimulai dari sekarang, maka kapan aku harus memulai ini?
Kamu tahu bagaimana rasanya? Aku kesulitan melakukan aktivitas karena perasaanku tidak bisa diajak bekerja sama. Aku kehilangan fokus dan semuanya terasa tidak menyenangkan. Malamnya, setelah Kak Hana mengatakan itu, aku kesulitan tidur. Apa yang harus aku lakukan besok? Dengan bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan Yara. Apa aku bisa memandangnya dengan baik setelah tidak adanya restu pada cinta pertamaku.
"Kamu nanti kalau selesai kuliah langsung ke lokasi syuting. Nggak ada pake mampir." Kak Hana menyambut pagiku dengan perkataan yang lagi-lagi membuat benakku tidak nyaman.
Aku selesai mandi, bersiap pergi ke kampus karena ada kuliah pagi. Pagi-pagi sekali. Padahal semalam aku tidak bisa tidur sampai subuh, kini harus beraktivitas di pagi-pagi begini, dengan perasaan yang tidak karuan dan mood berantakan.
"Kamu nanti naik ojek ya. Mobilnya mau dipakai ke kantor agensi." Kak Hana masih saja berbicara, meskipun sejak tadi aku sudah bersungut-sungut. Untuk pertama kalinya aku tidak ingin berinteraksi apapun dengan Kak Hana. Aku meninggalkan Kak Hana di ruang tamu yang baru saja bangun tidur. Segera meninggalkan kampus.
●●●
"Makasih pak." aku menyerahkan uang untuk membayar ojek.
Supir ojek tersenyum menerima uang dariku. "Pasti capek ya Mas, udah syuting, sekarang kuliah." ucap supir ojek dengan tulus. Aku yang ditatap seperti itu merasa kikuk. Pasti wajahku sekarang terlihat lebih kusut dari hari biasanya.
Aku meninggalkan gerbang kampus, berjalan pelan menuju gedung J21, gedung pertama aku masuk ke kampus. Lagi-lagi aku membenci ingatanku yang selalu mudah terkoneksi ketika melihatnya.
Semoga saja kelas segera dimulai, aku tidak segera berinteraksi dengan Yara, paling tidak itu nggak membuat hatiku semakin pilu.
"Hey bro!" Braga menyapaku dengan hangat. Aku menoleh, berharap tidak ada Yara di sana. Karena seperti biasanya, Braga, Yara dan aku kerap terlihat bersama.
Aku menghampiri Braga, mencoba untuk sedikit bersemangat. "Lo juga baru berangkat."
"Tadi ada Yara, tapi dia ngambek."
"Kenapa?" kataku reflek. Kenapa aku masih ingin tahu apa yang terjadi denganya. Bukannya aku sendiri yang menjaga jarak dengannya.
"Dia ngambek karena gue kibulin. Gue bohongin kalo ada elo di sini. Eh dia marah dong." Braga menjelaskan dengan begitu bersemangat.
"Kenapa harus marah?" aku masih lagi-lagi bertanya. Sampai kapan bisa menghindar jika rasa penasaranku masih maju paling depan.
"Kayaknya dia nyariin lo sih."
Ah? Nyariin aku? Di hari yang kuliah saja belum dimulai. Aku tidak tahu apakah aku harus senang atau harus sedih.
Jika Yara mencariku, itu tandanya dia juga merindukanku. Memiliki perasaan yang sama denganku, tapi kini apakah aku bisa menikmati rindunya jika aku saja tidak bisa menyuarakan kerinduanku.
Kelas pagi ini berjalan dengan begitu berantakan. Bukan kelasnya, tapi bagaimana aku menyimak kelas pagi ini. Pikiranku kosong dan aku sejak tadi kebingungan menangkapnya. Aku ingin memandangi Yara diam-diam. Jujur aku juga rindu.
"Dari tadi Yara senyum-senyum liatin lo. Kayaknya dia beneran naksir deh sama lo." Braga masih semangat bercerita meski Pak Irwan menjelaskan perkuliahan pagi ini.
Aku hanya berdeham. Jika saja aku bisa menoleh, aku ingin membalas senyumnya, melakukan komunikasi rahasia seperti waktu lalu.
Drt drt...
Ponselku bergetar, aku segera merogohnya. Siapa tahu penting. Tapi justru pesan itulah yang membuatku semakin tidak ingin ada di kelas ini.
Semangat kuliahnya ya.
Dari seseorang yang mati-matian aku hindari, gadis yang saat ini melihatku di sela perkuliahan.
Tanganku gatal, ingin kubalas pesan itu. Namun itu sama saja dengan aku memberinya harapan. Untuk apa aku memberi harapan kepada seseorang yang aku miliki saja tidak mampu?
Akhirnya, Aku hanya membaca pesan itu, tanpa membalasnya apalagi menoleh ke arahnya. Mungkin ini yang terbaik untuk kita saat ini, Ra. Andai saja kamu memahami ini dengan baik, pasti semuanya akan berjalan dengan baik.
Maafin aku Yara. Jika ternyata dengan ini begitu memberi luka. Kenapa semenyakitkan ini hanya untuk jatuh cinta pada seseorang?
•••
Kelas Pak Irwan berakhir, aku menghela napas lega. Aku tidak sanggup menangkap materi yang disampaikan tadi, kepalaku berkecamuk dan rasanya enggak pengen ngapa-ngapain.
Aku mengeluarkan naskah sinetron yang selalu aku bawa. Ini naskah untuk episode selanjutnya, mungkin dengan belajar ini aku bisa lebih rileks.
"Ga, gimana projeknya diterusin kapan?" celetuk seseorang. Seseorang yang langsung aku ketahui suara siapa. Yara. Diam-diam dadaku bergemuruh hebat.
"Oh, maunya kapan?" Braga berdiri, jarak duduknya denganku dekat. Jadi aku bisa mendengar gerak-geriknya. Aku masih fokus membaca naskah, meskipun sebenarnya buyar.
"Kalau gue sih kapan aja oke. Tapi Daru gimana?" Yara memanggil namaku. Aku masih.menahan diri.
"Gue sih terserah." kujawab dengan sedingin mungkin, bahkan kini suaraku terdengar serak.
"Kita kerjain ketika Daru ada free aja. Gue free terus kok." Yara masih berusaha.
"Gimana Ru? Lo kapan ada waktu luang." timpal Braga. Ia sampai menyenggolku.
"Gue akhir-akhir ini sibuk. Gue juga bakal ada banyak episode tambahan untuk sinetron gue." Alibiku, sebenarnya itu hanya untuk menghindari Yara, agar perasaanku bisa lebih mudah kuatur.
"Maaf kalau ternyata akhir-akhir ini kamu sibuk." ucap Yara melemah. Suaranya yang getir membuat hatiku teriris, maaf jika aku begitu jahat.
"Hmm."
"Yaudah, gue mau ke kantin ya. Ada yang mau nitip?" Aku masih diam, padahal dadaku sejak tadi bergemuruh hebat. Tenggorokanku tercekat dan lidahku kelu.
Perasaan yang belum pernah kurasa sebelumnya, perasaan getir yang kerap kali aku perankan, kini kurasakan. Ternyata memang menyakitkan, pantas aja aku disuruh sampai menangis untuk mendalami karakter ini. Tapi kini aku sedang tidak acting, this is my reality.
Aku bangkit, mungkin dengan mencari angin segar aku bisa sedikit lebih baik. "Gue mau keluar dulu, mau cari kefokusan."
Braga mengangguk, seperti paham apa yang kurasakan saat ini.
Aku meninggalkan kelas, berkali-kali aku menarik napas, mercon mengeluarkan segala kegetiran. Berharap duniaku lebih sedikit tidak dramatis. Aku duduk di tangga belakang, tangga yang jarang ada orang berlalu lalang di sini.
Aku menatap naskahku yang masih dalam genggaman. Hari ini, terasa begitu berat. Aku hanya ingin tidur lebih lama, bersembunyi di dalam selimut dan menghindari dunia yang penuh hingar bingar ini.
"Nih, buat kamu." seseorang bersuara, sembari memberikan segelas kopi hangat di depanku. Badannya setengah basah.
Aku mengangkat wajahku, menatap gadis itu, Yara. Ia memberikan segelas kopi itu dengan senyum yang kurindukan. Bagaimana bisa ia senyum dengan indahnya.
"Aku tahu, kamu pasti capek." Yara menaruh minuman itu di sampingku. Kemudian ia ikut duduk."Jadi, jangan lupa ya kopinya diminum."
Aku masih membisu, entah dengan kata apa aku bisa merespon ucapannya. Aku takut jika ternyata aku melampai batas dan membuatku semakin tersiksa.
"Kamu pasti lagi fokus banget ya?" Yara masih gigih mengajakku berbicara. Meski aku tahu, ia sudah kerap kali aku abaikan.
Aku menatap deretan kalimat di naskahku. Deretan yang mendadak menjadi buram karena aku tidak bisa fokus. Yara masih duduk di sampingku. Bajunya sedikit basah karena gerimis di luar.
"Kamu terganggu gak?"
Hening.
"Jadi aku ganggu kamu ya."
Hening. Dadaku semakin sesak.
"Ru, kenapa kamu sama sekali nggak ngrespon? Aku punya salah? Sampai kapan kamu mau diemin aku kayak gini?" Yara menatapku. Aku masih saja menunduk, dengan gemuruh di d**a yang sebisa mungkin murahan.
"Ada apa? Kamu bisa cerita kok? Siapa tahu aku bisa bantu." ujar Yara . Aku tidak tahu kenapa ia begitu mengatakan banyak hal..
Aku menoleh, bibirku masih terkunci rapat. Namun mataku menatapnya sekilas.
"Aku cuma sibuk, jadi aku mohon aku minta waktu untuk sendiri." ucapku tajam, penuh dengan penekanan.
"Meskipun kita berteman dengan baik, bukan berarti kamu bisa ganggu aku kayak gini."
"Jadi, paling nggak, bisa kan pergi dari sini."
Yara terpaku, ia sepertinya kaget dengan ucapanku. Aku menelan ludahku yang mengisi rongga mulut. Dadaku begitu sakit ketika kata-kata tajam itu terlontar dari mulutku.
Yara bangkit, dengan kasar. Aku tahu itu sangat menyakitkan, tapi aku tidak tahu harus melakukan apa.
Andai saja kamu tahu dengan baik Ra, pasti aku tak akan seperti ini, kita tidak akan melakukan hal rumit ini. Aku tidak akan membuatmu sakit dan aku tidak perlu membuat aku tersiksa.
Punggung Yara semakin lama menghilang, aku masih menatapnya nanar. Tombak menebas hatiku dengan cepat. Darah seakan mengucur dan merembes hingga mengikat otot tubuhku. Naskahku jatuh, tanganku melemas.
Pada seseorang yang telah membuatku jatuh hati, maaf jika ternyata aku mengecewakanmu. Tidak mampu menjaga apa yang kamu beri, dan menorehkan luka pada tiap usaha-usahamu.
Pada seseorang yang telah membuatku jatuh hati.
Maaf tidak bisa menjadi seseorang yang baik untukmu.
Ketika melihat punggungnya yang basah, aku ingin memberikan jaketku padanya. Paling tidak ini memberikan kehangatan untuknya. Meski aku tahu itu tidak mungkin bisa kulakukan sekarang.
"Ra, andai saja kamu tahu, jika aku menyukaimu lebih dari apapun."
•••