Siapa yang menyangka aku bisa melangkah sejauh ini. Siapa yang akan menyangka bila dulu senang sekali mendambakan bisa memiliki hubungan spesial dengan seorang artis, kini terjadi. Memang tidak seperti abang Ichang, tapi yang versi lokal bisalah di coba— nggak kok, serius aku nggak mau meremehkan Daru.
Yara Airani, gadis berusia 19 tahun. Naksir abang Ichang tapi dapatnya Daru Han, apakah itu akan menjadi headline di bulan ini? Ah, sepertinya terlalu lebay. Tapi semua itu punya alasan kok, bagaimana aku bisa begitu percaya diri.
Semua itu bisa dijelaskan tanpa kata-kata. Aku seperti sudah yakin bahwa sebenarnya Daru juga naksir aku, meski kemungkinan masih 50% sih, sisanya pasti karena aku terlalu percaya diri.
Dari banyak perhatian dan hal yang sering ia lakukan untukku membuat aku merasa bahwa ya, ada yang aneh. Gimana enggak, dulu aja dia begitu dingin dan acuh sama orang, tapi kalau sama aku? Rasanya beda aja.
Daru juga selalu pakai aku kamu kalau ngomong. Orang Jakarta bakal nggak tahan kalau dipanggil dengan predikat itu. Tanpa sadar itu memang membuat status mereka lebih dekat. Seperti aku dengan artis yang lagi booming sekarang ini. Daru Han!
Sejak dia melambaikan tangan di lokasi syuting kemarin, rasanya pengen cepet-cepet ketemu dia. Lihat dia di sinetron semalam yang ditonton Mama, aku semakin kangen dan ingin hari segera berganti besok.
Paginya, ketika aku harus kuliah pagi. Aku segera mandi, bangun paling pagi bahkan sebelum matahari terbit—mama aja sampe kaget anak perawannya bangun pagi.
Aku adalah orang yang paling bahagia di sini. Seperti senyum sama sekali tidak memudar di bibirku. Penuh dengan bunga-bunga terbang dan kebahagiaan super duper.
"Kamu mau sarapan dulu atau langsung ke kampus?" aku berjalan riang menuju rak sepatu. Mama sedang ada di dapur, memasak sarapan pagi seperti biasanya. Junet datang dari kamar, dengan wajah bangun tidur yang aku jamin jeleknya luar biasa.
Aku menggeleng. "Lagi nggak laper, Ma." jawabku. Aku benar-benar sudah kenyang jika keinget Daru.
"Ini masih jam setengah tujuh lho. Kamu beneran nggak sarapan dulu."
Aku melihat jam yang terpasang di dinding ruang keluarga. Masih pukul setengah tujuh. Ternyata ini masih terlalu pagi untuk pergi ke kampus. Aku menghela napas, aku masih bisa punya waktu untuk sarapan.
Ternyata ini power of jatuh cinta, bisa bikin lupa waktu. Aku pikir dengan aku langsung bangun dan pergi ke kampus semuanya terjadi sama saja. Namun kini, aku dibawa oleh kebingungan karena ulahku. Tidak bisa mengendalikan waktu.
"Makan aja, awas aja nggak makan. Mama udah bikin sarapan buat kamu." ancam Mama. Ia bahkan mengacungkan centong nasi tinggi-tinggi, siap melemparku. Menjadikan macam sangkuriang yang durhaka kepada ibunya karena nakal.
"Oke, Ma." aku tidak jadi memakai sepatu. Sepatu itu aku taruh di tempat yang sama, lalu berjalan menuju meja makan yang jaraknya lima belas meter dari tempatku berdiri. Menyempatkan menelan makanan Mamaku yang cantiknya 17 kali dari Rapunzel—hahaha.
Setelah sarapan, dadaku seperti disundul. Rasanya seperti mulas namun aku senang. Perasaan tidak karuan untuk pergi ke kampus. Ah apakah aku akan diperlakukan manis di kampus nanti sama Daru? Ah, bagaimana aku bisa menemuinya dengan perasaan semenggebu-gebu ini.
Maka di parkiran, ketika aku melahirkan motorku. Aku berdiri, menguatkan diri untuk masuk ke kelas. Tarik napas, lalu buang. Paling tidak aku nggak serangan jantung atau gagal napas jika dibere perhatian oleh Daru yang aku yakin semakin ada perkembangannya.
Aku akan buktikan ke semua mulut perempuan-perempuan di fakultas ini. Apa yang mereka katakan bulan lalu itu sama sekali tidak benar. Aku bisa dekat dengan Daru dan aku yakin akan ada hal yang baik lagi ke depannya. Jadi pacarmu misalnya, ah jika mengingat hal itu dadaku lagi-lagi bergetar.
Aku berjalan menuju kelas. Kampus sudah mulai ramai dengan lalu lalang mahasiswa yang ada kelas pagi. Salah satunya ya aku ini.
Aku bersenandung lagu-lagu bahagia romantis. Seperti sebuah penyemangat untuk hari indah ini. Untuk pertama kalinya aku tidak membenci hari Senin.
"Riang bener nih gebetannya Daru." seseorang menyapa. Sapaannya membuatku kaget. Siapa yang tahu dengan ini.
"Kalem aja, gue pelan-pelan nyapanya." tambahnya lagi. Sepertinya ia memahami kekhawatiranku dengan nama Daru yang rawan sekali di telinga mahasiswa fakultas.
Itu Braga, salah satu orang atau bahkan satu-satunya orang yang tahu bagaimana perasaan aku dan dia berkembang dengan baik.
"Lo jangan terlalu heboh ya! Sekali lo ember gue timpuk nih." sahutku memperingatinya.
"Jadi bener kalau lo lagi deket sama Daru?" tambah Braga dengan wajah terkejut. Sepertinya ia memancing bagaimana responku terhadap hal ini. Benar saja.
"Udah ah!" aku keki. Meninggalkan Braga yang masih saja mengisengiku.
"Itu Daru!" teriak Braga yang sontak membuat gue menoleh. Ah kenapa kepalaku tiba-tiba jadi responsif banget deh, kan jadi ketahuan.
"Tapi boong!" Braga tertawa hebat. Membuatku yang awalnya sudah gondok ditambah lagi. Aku benar-benar mutlak meninggalkannya.
"Yara tungguin! Kali ini beneran ada Daru! Dia jalan ke sini!" Braga berteriak. Namun aku tidak peduli. Pasti itu bohong lagi. Lagian juga aku nggak mau kalau aku ketahuan jelas ngarepin dia.
•••
Kelas Pak Irwan dimulai dengan kilat. Tepat waktu dan itu tidak memberikan waktu untukku sekedar menyapa cowok ganteng di sana. Duduk di samping Braga, dengan wajah yang begitu serius.
"Terima kasih buat mahasiswa saya yang sudah bangun pagi dan berangkat pagi juga. Saya terpaksa memulai kelas terlalu awal karena nanti pukul sembilan saya ada seminar." Pak Irwan menjelaskan alasannya memulainya dengan cepat. Dosgenku ini memang orang penting, jadi banyak banget acara yang beliau harus hadiri. Sampai mahasiswanya harus mandiri untuk belajar.
"Iya pak nggak papa kok!" sahut banyak mahasiswa dengan jawaban baik hatinya. Sebenarnya semua itu palsu, di dalam hati mereka pasti menggerutu setengah mati.
Aku masih memandangi Daru dengan senyum yang mengembang. Tapi ia di sana duduk dengan wajah yang serius, sepertinya ia memperhatikan kelas dengan fokus hari ini. Bahkan dia sampai nggak menoleh ke aku, sekedar memberi sapa saja nggak.
"Kedip! Jangan ganjen." Seruni menyenggolku. Bahkan dia menutupi pandanganku dengan tangannya.
Seruni masih saja yang dulu, obsesif dan pencemburu. Padahal kan aku cuma diam-diam mandangin dia. Tapi apa peduli, bisa dekat dengan Daru sekarang ini menjadi hal yang membanggakan. Pasti kalau Seruni tahu aku kemarin main ke tempat syutingnya, dia kepanasan.
Pelajaran Pak Irwan sama sekali tidak masuk di otak. Aku sibuk memandangi Daru. Otakku seperti kesulitan untuk membagi fokus. Mungkin, kata orang yang mana perempuan bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus harus mengoreksinya karena orang jatuh cinta tidak mengenal hal itu. Ia punya mata, tapi buta. Ia punya telinga tapi tuli. Semua itu ada dalM diriku, saat ini.
"Terima kasih anak-anak! Selamat menikmati hari Senin!" Pak Irwan menutup kelas. Aku bernapas lega karena akhirnya masa-masa ini berakhir juga.
Semua mahasiswa bangkit bersama perginya Pak Irwan, tak terkecuali aku. Aku berdiri menuju Braga, pura-pura nanya tugas tapi sebenarnya mah deketin Daru.
"Ga, gimana projeknya diterusin kapan?" tanyaku. Aku berharap, dengan hadirku Daru akan menoleh dan ikut menimbrung, seperti biasanya.
"Oh, maunya kapan?" Braga berdiri.
Daru nggak terpengaruh. Ia sama sekali nggak noleh.
"Kalau gue sih kapan aja oke. Tapi Daru gimana?" aku mencoba memancing. Siapa tahu Daru bakal merespon. Jujur aku kan juga kangen suaranya yang care sama aku.
"Gue sih terserah." Daru nggak menoleh, ia sibuk membaca naskahnya.
Gue? Apa tadi dia lagi ngomong sama Braga? Ah pasti cuma perasaanku aja. Daru nggak mungkin manggil aku pakai lo gue.
"Kita kerjain ketika Daru ada free aja. Gue free terus kok." aku masih mencoba memancing. Mungkin ini nggak sopan menganggu Daru yang sedang menghapalkan naskah sinetron. Tapi rasanya nggak worth it ketika Daru mengabaikan aku yang mencoba mengajaknya berbicara.
"Gimana Ru? Lo kapan ada waktu luang." Braga ikut bertanya. Ia bersandar pada bangku Daru.
"Gue akhir-akhir ini sibuk. Gue juga bakal ada banyak episode tambahan untuk sinetron gue." dingin. Aku tahu Daru adalah orang yang penutup, tapi kata-katanya terlalu dingin untuk berbicara denganku dan Braga. Semua orang tahu bahwa teman Daru hanya kami berdua.
"Maaf kalau ternyata akhir-akhir ini kamu sibuk." aku ikut bersuara.
"Hmm." balasnya singkat dan benar-benar membuatku kaget. Maksudnya apa?
Perasaan bahagia yang sejak tadi menyundul-nyundul dadaku kini hilang. Hanya ada perasaan yang diaduk-aduk, rasa sakit yang menekan d**a. Seperti kekecewaan pada ekspektasiku yang terlalu tinggi.
Kemungkinan Daru menyukaiku menurun pesat sampai ke 0,99%. Entah kenapa hanya dengan kata-katanya yang singkat membuat dadaku nyeri.
Ini bukan Daru, lebih tepatnya bukan Daru yang aku kenal. Daru yang selalu ingin mencoba hal baru. Daru yang sering meluangkan waktu untuk apapun. Bahkan, sisi hangat Daru menghilang entah kemana.
"Yaudah, gue mau ke kantin ya. Ada yang mau nitip?" aku masih tetap berusaha. Kini lebih terlihat jelas untuk mencari perhatiannya. Paling tidak membuat kepala Daru terangkat melihatku.
Tapi beberapa detik berlalu tidak ada respon. Ia masih sibuk membaca naskahnya yang sudah dicoret-coret. Komat-kamit membacakan bagian dialognya. Sama sekali tidak peduli meskipun aku dengan jelas mencari perhatiannya.
Aku meninggalkannya, keluar kelas dengan perasaan yang sakit. Sia-sia aku begitu bahagia sejak kemarin. Ternyata aku hanya terlalu pede. Daru sama sekali tidak tertarik denganku. Ia hanya menganggapku teman, teman yang bisa ia dekati ketika butuh. Jika tidak, ia tidak peduli dan fokus pada kehidupannya.
Memangnya aku siapa? Siapa juga yang mau pada orang berantakan macam aku? Apalagi manusia yang sempurna seperti Daru. Dunia baginya hanya satu genggam. Dan aku? Siapa aku?
•••