19 – Pilihan yang Tidak Bisa Dipilih

2094 Kata
Jika pepatah mengatakan, ketika orang jatuh cinta, t**i ayam rasanya macam coklat. Daru sekarang akan membenarkannya. Logikanya benar-benar berantakan oleh perasaannya sekarang. Bukan berarti Daru ingin merasakan t**i ayam, bukan. Baginya, semuanya sama jika diperumpamaan dengan apa kata pepatah itu. Segalanya nampak begitu indah di matanya, termasuk Yara yang sedang duduk di tempatnya. Tersenyum dan memandang Daru dengan takjub yang sedang melakukan lakon di depan kamera. “Lagi happy nih?” Prita menyenggolnya. Kini mereka sedang membaca ulang naskah yang akan mereka adegankan. Masih di depan kamera syuting. Daru hanya tersenyum, seperti setuju dengan pernyataan Prita. Sudah sejak tadi Yara ada di sana dengan Braga, di sela-sela mereka menonton syuting, mereka juga mengerjakan tugas. Bahkan di sana Yara seperti sudah akrab dengan Kak Hana. Daru semakin senang melihat chemistry mereka. Apakah ini jalan yang mulus untuk menuju hal yang lebih jauh? Syuting berlalu tanpa terasa melelahkan bagi Daru. Ia menjalankan lakonnya dengan sangat profesional, bahkan kesalahannya sedikit. Alam bawah sadarnya seakan mengode untuk nampak sempurna di depan Yara, yaitu orang yang Daru taksir saat ini. Seperti ajang untuk pamer diri. Matahari sepertinya tidak mau diajak kerja sama untuk meluncur keperaduan lebih lama sedikit. Terbenam tepat waktu, seperti hari-hari biasanya. Daru tidak mau Yara meninggalkan lokasi syuting secepat itu. Meski sudah di sini selama  6 jam, Daru masih merasa kurang. Baginya jika boleh, ia ingin Yara ada di sini sampai syutingnya selesai. “Makasih ya udah mau nemenin syuting.” Daru menyalami Yara, ucapannya begitu halus dan penuh dengan perasaan. Braga berdeham di sampingnya. “Iya sama-sama. Makasih juga ya buat makanannya.” sahut Braga dengan manja. Daru langsung berdesis melihat tingkah temannya yang satu ini. Sepertinya ia memang tidak ahli dalam menyembunyikan perasaannya. “Haha, thanks ya sob. Udah mau gue repotin. Kalau ada kekurangan apa bisa gue bantu kerjain, jangan sungkan-sungkan.” tukas Daru pada Braga. Mereka saling berpelukan, pamit. Setelahnya, Braga dan Yara meninggalkan lokasi syuting. Diiringi dengan lambaian milik Daru. Bibirnya mengembangkan senyum termanis yang ia miliki. Senyum yang disertai dengan perasaan senang. Benar-benar suplai endorfin yang hebat. Mengisi rongga d**a dan mengaliri darahnya, membuat tubuh pemuda itu tidak memiliki rasa lelah sama sekali. Andai Yara bisa datang ke lokasi syutingnya setiap hari, pasti Daru langsung cekatan dan semuanya nampak mudah dilaluinya. Sudah satu jam kepulangan mereka, perasaan senang masih membekas di d**a Daru. Pada istirahat sholat ini, ia masih tersenyum diam-diam, apalagi jika teringat bagaimana Yara menyunggingkan senyum, mengatakan sepatah kata dan bagaimana ia berjalan dengan begitu ceria. Semua seperti biusan yang merasuki Daru. Ia sudah masuk fase jatuh cinta, benar-benar jatuh cinta. “Itu tadi temen lo?” Prita duduk di samping Daru, duduk tepat di bekas tempat duduk Yara tadi. Daru mengangguk. “Temen kuliah.” “Wow, so amazed.” Prita menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi. “Seriously?” “Iya.” bangga Daru. Mimik wajahnya seakan ingin menceritakan semua kebahagiaanya pada hari ini. “Beneran temen lo?” Prita masih begitu sangsi. Baginya, yang selalu hidup dalam rutinitas yang monoton ini seperti tidak mungkin mendapatkan teman, semuanya seperti membuat mereka semakin individualis. Apalagi statusnya yang menjadi public figure semakin sulit untuk memposisikan diri di masyarakat, apalagi sampai punya teman. “Lo serius beneran udah temenan sama mereka? Kalangan non artis?” Prita semakin ingin tahu dengan apa yang terjadi. “Iya, emangnya ada masalah apa sama mereka? Kan sama-sama manusia.” Daru menoleh, ia sudah merasa jengah dengan respon Prita yang sama sekali tidak ia mengerti. “Maksudnya gini, mereka beneran tulus sama lo atau cuma panjat sosial?” ucapan Prita membuat Daru langsung menaikkan alisnya. Pertanyaan itu benar-benar konyol. Bahkan memancing emosinya. “Jaga ucapan lo Prit. Lo nggak boleh seenaknya menjugde orang.” seru Daru tidak terima. Ia memang agak sedikit berbicara di lokasi syuting, terutama pada lawan mainnya. Tapi ucapan Prita kali ini udah kelewatan. “Gue nggak bermaksud gitu maksudnya, maksud gue tuh… gue minta lo buat waspada. Mereka orang asing bagi lo, dan kalian masih kenal selama sebulan. Gue sebagai temen lo cuma pengen bilang...” sambung Prita, mengoreksi kata-katanya yang menyakiti Daru. Daru segera memotong ucapan Prita, “Sebelum lo ngomong kayak gitu, lebih baik lo punya temen dulu. Percuma lo ngomong kayak gitu, kalau lo aja enggak punya temen. Jangan hidup individualis dan selalu curiga sama orang!” Daru bangkit. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya kini lenyap, hanya ada deru napas kasar dan kekesalahan yang tidak mungkin ia semburkan semua. “Dan lagi… teman? Sejak kapan kita berteman? Kita cuma rekan kerja!” tambahnya lagi, penuh dengan kata menyakitkan. “Daruuu maafin gue!” Prita bangkit, ingin menahan Daru yang meninggalkannya. Model berusia 20 tahun itu tidak mau memiliki masalah yang rumit dengan lawan mainnya. Bisa hancur image-nya sebagai gebetan Daru di mata para fans. “Udahlah Prit, jangan ganggu gue, kita masih ada syuting beberapa jam atau lo mau gue kehilangan chemistry untuk main sama gue.” ucap Daru pedas. Membuat Prita melepaskan lengan Daru yang ia tahan. Kata-katanya seperti sebuah tusukan besar yang mengenai tepat dadanya, menembus jantungnya yang berdetak tidak karuan. Daru meninggalkan Prita yang dadanya kembang-kempis sejak tadi. “Awas aja lo Ru! Seenaknya ngomong kayak gitu!” sumpahnya lirih. ●●● Pertengkaran kecil itu ternyata berdampak besar dengan perlakuan Daru pada Prita. Daru tidak berminat berbicara dengan Prita selain obrolan yang mereka lakukan di depan kamera. Ucapan Prita kemarin begitu menyakitkan dan itu benar-benar membuat Daru membencinya. Entah karena kelewatan atau Daru yang begitu menyukai Yara sehingga apapun yang berbau kritik terhadap Yara, membuat Daru ikut membencinya. Lokasi syuting itu terasa sunyi ketika dua pemain andalan mereka terkena perang dingin. Sebenarnya Daru tidak ingin membuatnya ketara, tapi sifat Prita yang merasa terlalu terdzolimi membuatnya seperti penjahat. Melihat situasi yang tidak nyaman ini Pak Berto mendekati Daru, ingin tahu masalah apa yang membuat mereka begitu dingin ketika di balik layar. “Ada masalah apa Ru?” tanya Pak Berto. Daru menggeleng. “Nggak ada masalah apa-apa kok Pak.” jawab Daru ringan. Ia sedang membaca naskah syuting untuk episode hari ini. “Maksudnya, kamu sama Prita.” Pak Berto langsung menjelaskan pertanyaannya. “Nggak ada apa-apa kok Pak, Daru sama Prita emang setiap hari gini. Biasa-biasa aja.” “Kata Prita kamu jauhin dia.” “Paaak… untuk apa Daru jauhin dia.” Daru masih membela dirinya, ia masih tidak mengerti dengan hal ini. Kenapa juga Prita harus membesar-besarkan masalah yang harusnya sudah berakhir kemarin. “Gini lho Ru. Aku bukannya mau jatuhin kamu atau menganggap kamu buruk. Tapi aku mohon kerja samanya ya. Akur sama Prita. Sinetron kita ratingnya lagi tinggi banget. Jangan buat penonton kecewa.”  ucapan Pak Berto benar-benar tidak bisa Daru lawan. Beliau adalah ketua tim produksi di sini, perannya penting. Seorang Daru yang hanya disewa tidak mungkin bisa membantahnya. “Jangan buat skandal yang endingnya membuat kamu jatuh.” Pak Berto bangkit, meninggalkan Daru yang menghela napas berat. Kenapa sesuatu hal yang harusnya tidak besar malah menjadi hal yang begitu menyeramkan. Bahkan sampai ke kata skandal? Bukankah itu berlebihan? Akhirnya Daru mengangguk. Bukan karena ia membenarkan semuanya, tapi karena ia tidak ingin semuanya terjadi begitu panjang. Mungkin hanya mengucapkan sepatah dua patah kepada Prita membuat semuanya selesai. Kak Hana menghampiri Daru yang sedang senewen. Wajahnya sejak tadi kusut, padahal hari ini kuliahnya libur. “Sabar.” kata Kak Hana. Tangannya memegang pundak Daru yang naik turun menahan emosi. “Ah, kenapa sih, gini aja dibesar-besarin. Dasar manja!” desis Daru. Ia mengatakan sembari menatap tajam Prita yang sedang haha-hihi di tempat duduknya. Katanya merasa dijauhi, tapi lihatlah, seri wajahnya bahkan lebih cerah dari pada Daru. “Tarik napas San, jangan banyak dendam. Ini dunia entertaiment, ada pertarungan tak kasat mata di sini. Jadi jangan terlalu serius dengan banyak mulut yang mencoba mengganggu kamu.” Kak Hana kembali menyadarkan Daru untuk menjadi manusia yang baik. Ia memberikan satu cup es kopi yang akan meringankan lelahnya, mungkin juga suasana hatinya. “Makasih Kak.” jawab Daru dengan senyum tipis. Ia ingin me-recovery mood-nya agar tidak berdampak pada aktivitasnya. Karena, sesuai kebiasaannya, ketika mood-nya sedang buruk, badannya akan dua kali lipat capeknya. Kak Hana mengeluarkan ponselnya, “Ohya, ada kabar bahagia nih. Kamu masuk nominasi pendatang baru terfavorit.” Kak Hana nampak berbinar menyampaikan ini. Berharap kabar bahagia ini bisa sedikit menenangkan hatinya. Tiga tahun usahanya menjadi artis berhasil, namanya bersinar dan kini ia masuk nominasi, untuk pertama kalinya. “Kamu masuk dua nominasi loh!” tambah Kak Hana dengan antusias. “Kamu dapat pendatang baru terfavorit dan aktor terfavorit media sosial.” “Beneran?” Daru yang tadi terlihat dongkol langsung bersinar. Wajahnya kembali polos seperti anak yang diberi tahu akan mendapatkan hadiah. Ia langsung bersorak hore saat itu juga. Perasaannya kembali diperbaiki dengan kabar bahagia itu. Namanya memang sedang bersinar tahun ini, namun untuk masuk nominasi sulit juga karena banyak aktor yang lebih berprestasi darinya. Wajah tampan tidak cukup, ia harus punya kompetensi untuk tembus di dunia hiburan ini. Maka ia akan bekerja lebih keras lagi untuk memenangkan itu semua. “Makanyaaa, apa kata kakak bilang. Jangan mudah terkena emosi hanya karena dihembus angin sedikit. Kamu tahu kan pepatah mengatakan, semakin tinggi pohon, semakin tinggi pula anginnya.” Kak Hana mengusap-usap punggung Daru. Ia juga turut senang adiknya memiliki perkembangan yang pesat dalam karirnya.  Adiknya yang dulu cengeng, kini bisa berdiri dengan kokoh di sini. Di sampingnya dengan wajah tampan idaman banyak remaja. Daru mengangguk-angguk. Motivasi dan dorongan Kak Hana akan selalu menjadi yang paling berjasa dalam hal ini. Hidup tanpa kedua orang tua dan hanya bersama Kak Hana yang menjadi kakak, manajer dan orang tua. “Janji ya, habis ini cari dua asisten.” Daru mengingat janji kakaknya jika ia masuk nominasi. Sebenarnya ini bertujuan bukan karena Daru ingin lebih berleha-leha dan merasa kaya, namun ia tidak ingin kakaknya kecapekan meladeninya. “Iya janji.”  jawab Kak Hana mantab. “Oiya, San. Ini bukannya Kakak mau melarang ini semua. Tapi kakak minta, kamu jangan pacaran dulu ya untuk beberapa waktu ke depan.” Kak Hana mengatakan itu dengan hati-hati. Takut menyakiti perasaan adiknya. “Aku nggak punya pacar kok kak.” “Maksud kakak begini. Kamu suka kan sama cewek kemarin?” Deg! Detak jantung Daru berhenti sejenak. Bagaimana Kak Hana bisa mengetahui segalanya padahal sepatah katapun Daru belum mengatakan hal itu. “Sebelum kamu melewati batas itu. Kakak  minta, tahan dulu perasaan kamu, atau itu akan membuat cita-cita kamu hancur seketika.” “Tapi kak, Sasan cuma…” Daru langsung gemetar, nada ucapannya langsung terbata. “Kakak tahu, Yara orang yang baik. Tapi ini untuk kebaikan kalian. Kamu sedang naik daun, dan Yara orang yang sama sekali tidak terlibat dalam dunia hiburan.” Kak Hana mengatakan hal itu dengan lebih hati-hati lagi. Ia tahu betul  bagaimana orang jatuh cinta. Ia akan merasa dunia yang mengatakan hal lain seperti menentangnya dan menganggap ini tidak adil. Untuk apa chemistry yang hebat kemarin jika restu saja ia tidak punya. “San, aku kakakmu. Kakak tahu apa yang terbaik buat kamu.” Napas Daru tercekat, dadanya kembang kempis. Wajahnya menampakan  raut kesedihan, sedih yang membuatnya semakin tidak bersemangat untuk melakukan segala aktivitas.  Jadi ternyata benar, artis adalah boneka. Boneka yang hanya bisa dipandangi dan dipermainkan oleh pemiliknya. Daru milik banyak orang, yang artinya ia harus digerakkan oleh banyak tangan. Sampai tangan dan perasaannya tidak bisa dimainkan oleh dirinya sendiri. Mendadak Daru tidak ingin menjadi artis bahkan tidak ingin menjadi sosok yang dikenal banyak orang. Untuk apa ia menjadi artis nomor satu jika ia tidak bisa melakukan hal yang ia suka. Untuk apa ia masuk dalam kategori aktor terbaik hingga ia harus selalu bersandiwara tetap baik di depan semua orang. Apakah perasaan suka hanya dimiliki oleh orang biasa? Apakah seorang Daru tidak boleh menunjukkan perasaannya pada semua orang? Apakah Daru tidak layak untuk bisa merasakan masa remajanya yang sudah terenggut? Bukankah menjalankan lakon sudah cukup sulit karena diatur, kini hidupnya juga? “Lebih baik menghindari ular, jika kamu tidak ingin terkena bisanya.” lirih Kak Hana akhirnya. Ia juga prihatin dengan apa yang adiknya rasakan, tapi ia juga punya kehendak atas kewajibannya sebagai manager. Ucapan semua orang hari ini kenapa begitu menyakitkan. Mereka tidak tahu, bahwa mood yang baik adalah dukungan yang baik untuk memainkan peran. Bagaimana ia bisa haha-hihi di depan kamera jika saja di balik kamera ia mendapatkan kritikan dan segala tuntutan. Segala kebahagiaannya kemarin tiada arti sekarang. Ia kini bahkan tidak yakin bisa menghadapi Yara dengan senyum manis. Semakin ia melihat Yara, rasa nyerinya semakin jadi. Untuk apa melihatnya terus menerus jika menyatakan rasa suka saja tidak bisa. ●●●    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN