“Aku sudah dilahirkan sebagai perempuan yang kuat. Jadi, nggak usah drama banget hanya karena masalah ini. Being better Hana, aku percaya sama kamu.” Hana memegang dadanya, di sentuh kuat-kuat, seakan kini ia meyakinkan pada jantungnya untuk selalu berdetak dengan kondisi apapun. Kamu sudah dewasa, kata-kata itu selalu menjadi simfoni yang membantu Hana kuat. Semua sudah dilalui dengan rasa sakit dan hanya karena masalah ini Hana menangis? Untuk apa? Mama hanyalah orang asing, darah mama memang mengalir deras dalam tubuh Hana, tapi tetaplah saja wanita itu yang memilih melepaskan ikatannya. Erat sekali dan sulit untuk kembali. Di mobilnya, Hana menangis sendirian. Supirnya ia minta libur hari ini. Agar Hana bisa menangis sepuasnya. Karena sekuat apapun ia untuk tetap tersenyum. Hana akan

