"Jelaskan kepada gue apa yang terjadi sekarang dengan jelas Ra, kita harus menyelesaikan masalah ini bagaimanapun caranya." Mita mengawali obrolan tanpa basa-basi. Ia sudah siap menjadi telinga super lebar untuk kekalutan Yara dan inilah saatnya.
Yara menghela napas cukup panjang, bagaimanapun masalah memang harus diselesaikan.
"Sebenarnya gue udah tahu siapa yang nyebar postingan anonymous itu." Yara memang tidak ahli menyembunyikan rahasia. Kini, di bawah pohon akasia yang rindang, Yara menjelaskan apa yang bersarang di dalam pikirannya sejak tadi pagi. Lagi pula, Mita juga sudah bisa dipercaya untuk masalah seperti ini.
"Lo beneran nggak bisa biarkan ini terjadi terus-memerus Ra, ini nggak bener. Apapun alasannya, apapun itu, yang namanya mencemarkan nama orang itu enggak baik. Lo sendiri tahu kan sebagai anak Komunikasi yang sudah dijelaskan bagaimana etikanya." Mita menepuk pundak Yara menjadi orang paling bijak nomor satu di masalah ini, ia memang yang paling tidak terima dengan hal ini.
Setelah istirahat tadi mereka berdua tidak ada kelas, jadi di sinilah mereka berada, di taman kampus belakang perpustakaan utama. Gedung kampus yang cukup jauh dengan gedung fakultas mereka. Suasana taman cukup sepi karena banyak yang sedang ada kelas.
Yara melepas kerudung hoodie yang menutupi kepalanya. Ia mulai meneteskan air matanya, kini ia juga mulai sesenggukan karena merasakan hari yang berat. Mungkin banyak orang menganggap ini sepele, namun perundungan tetaplah perundungan, ia menyakiti perasaan bagi siapapun yang kena. Yara yang begitu ceria dan humble juga merasakan rasa sakit itu.
"Siapa orangnya Ra?" Mita prihatin. Dalam batin Mita sudah bergejolak ingin melabrak seseorang itu, tidak peduli mau ia senior sekalipun.
Namun Yara tidak segera menjawab, ia butuh tenaga untuk mengatakan itu, maka selama lima menit ia hanya menangis. Ia ingin melegakan hatinya dari pada menjelaskan apa yang terjadi. Hidup menjadi orang dewasa terlalu ribet dan itu membuat Yara terkadang ciut nyali.
"Kalau lo udah merasa nyaman, jangan sungkan-sungkan cerita." Mita merangkul Yara layaknnya sahabat lamanya. Ia tersenyum begitu manis sehingga cukup membuat Yara merasa tenang. Sesegera mungkin ia mengusap air matanya.
"Temen sekelas gue Mit, dia naksir sama Daru." suara Yara serak, namun ia bisa mengatakan itu dengan jelas.
"What?!" respon Mita dengan spontan.
"Gila! Orang gila!" Mita langsung mengumpat, pupilnya melebar dan bibirnya berdecak. Ia tidak habis pikir dalang di balik semua ini.
"Dia kenapa bisa giniin lo?"
"Lo tahu kan, gue dan Daru sering terlibat obrolan ringan, bahkan Daru juga sering duduk di samping gue ketika kelas. Dan semuanya terjadi begitu saja."
"Jadi, dia enggak bilang ke elo soal ini?"
Yara menggeleng pelan. "Gue enggak tahu, Mit. Tiba-tiba aja kemaren dia ngajak gue ngobrol dan mengancam gue, dia minta gue jauhin Daru. Tahunya, ancamannya begini."
Mita mengerang, ia seperti frustasi mendengar drama fans artis ini. Ternyata fanatik tidak mengenal usia, harusnya di usia yang mau berkepala dua harus rasional dikit, minimal jangan membuat orang susah.
"Siapa namanya? Kayak apa dia? Cantikan mana dia sama gue?"
"Udah Mit, biar gue aja yang ngurus." Yara menenangkan Mita yang heboh.
"Beneran lo bisa?"
"Percaya sama gue."
"Nanti lo malah semakin kenaa. Gue temenin ya?" Mita menatap mata Yara lekat, mencoba sedikit melunak.
Mita memang k*****t, tapi dia temen yang bisa diajak kerja sama.
"Yakin sama gue. Nanti ketika kelas selanjutnya gue bakal bilang sama dia. Gue bakal ngomong baik-baik saja dia dan nanya alasannya. Jadi tenang aja." kini air mata Yara tidak menetes lagi, bahkan pipinya sudah kering.
"Kenapa nggak lo labrak aja biar seru?" mulai, kompor dua tungku itu malah memulai dengan perkara baru.
"Mit! Jangan bikin perkara deh." seru Yara, moment seriusnya mendadak cair.
"Hehe, bercanda kali." Mita nyengir, menampakkan dua siungnya yang tipis. "Jadi, Yara yang tangguh ini siap melawan dunia ya."
Yara ikut tersenyum, ia juga mulai merasa geli melihat perilakunya beberapa menit yang lalu, sungguh drama yang nyata.
"Lo harus kuat mental, ini masih cuma temenan sama Daru, belum lagi lo jadi pacarnya jadi pacarnya Daru, pasti lo di demo seindonesia, bahkan emak-emak yang naksir sinetron dia bakal melempari lo dengan batu." ucap Mita mengerikan.
Yara mendelik, pikirannya tidak sampai sejauh itu, toh dia juga tidak pernah membayangkan akan pacaran dengan Daru, karena Yara tahu, sedekat apapun mereka, status mereka tidak lebih sebagai teman satu kelas.
"Mit, mending lo jangan bicara ngadi-ngadi deh, gue takut nih."
"Semoga, Yara pacaran sama Daru, Daru yang jadi artis itu ya Allah. AAMIIN." Mita malah semakin menantang, ia terang-terangan berdoa di depan Yara yang semakin merasa ciut dengan masa depan itu.
"Mitaaaaaaaaa, gue enggak mau mati muda!"
●●●
Tidak ada kelas menjadi sebuah keberuntungan bagi Daru, setelah melewatkan malam yang panjang untuk syuting, istirahat lebih dari dua jam itu bisa Daru manfaatkan untuk mengganti tidurnya yang kurang. Ternyata ada manfaatnya juga Daru diminta membawa mobil ke kampus, dengan itu Daru bisa memejamkan matanya di sana, sembari menunggu kelas selanjutnya yang akan di mulai setelah istirahat siang.
Daru menyenderkan badannya di kursi mobil yang sudah seperti ranjang keduanya. Daru menutup tirai di jendela mobilnya, jadi tidak ada yang tahu bahwa ia tidur di dalam. Sebelum memejamkan matanya, Daru mengingat kelas pagi ini. Daru masih tidak habis pikir dengan tingkah Yara yang mendadak dingin padahal semalam mereka bertukar pesan dan kemarin mereka tetap mengobrol ramah. Seperti ada yang tidak beres dengan hal ini.
"Apa gue bikin salah ya sama Yara? Apa dia marah karena enggak bisa milih kelompoknya?" perasaan itu mengisi kegelisahan Daru.
"Apa gue minta maaf ya?" kini Daru sudah membuka ponselnya, membuka kolom chat dengan Yara.
"Tapi, baiknya gue ucapin langsung aja deh, nanti juga ketemu."
Daru menutup ponselnya, menaruhnya di dasbor mobil, selanjutnya ia akan mengganti hutang tidurnya yang jarang terbayar lunas.
Terpejam dua jam membuat Daru cukup nyenyak, namun ia segera bangun karena suara alarm hpnya berdering begitu keras mengisi kekosongan mobil. Daru memang sengaja menyeting alarm agar ia bisa bangun untuk kelas selanjutnya, kan bisa berabe dia bolos kelas lagi.
Daru meraih ponselnya dan mematikan alarm itu. Setelah mematikan alarm Daru segera melihat pesan yang banyak dikirimkan di ponselnya, pertama ia membuka dari Kak Hana.
Hallo adikku sayang, nanti sore syuting di undur sampai habis magrib ya. Ohya, untuk kontrak iklan kopi acc, seminggu lagi kamu syuting itu dan utk konsepnya nanti malam kakak kasih.
Daru tersenyum, ia punya cukup waktu luang sore ini, mungkin tidur di dalam mobil lagi bisa, sebelum menuju tempat syuting. Berbeda dari biasanya, ia kerap kali dikejar waktu untuk selesai kuliah langsung meluncur ke tempat syuting dan itu benar-benar menyiksa.
Mengingat banyak pesan yang ia terima, segera kemudian Daru membaca pesan selanjutnya, dari Braga. Ada apa? tumben banget Braga mencarinya.
Daru, lo di mana. lo harus liat ini.
Kemudian Daru mengunduh gambar yang dilampirkan di pesan, ia melihat capture sebuah postingan di laman komunitas kampus. Di postingan itu menampakan foto paparazzi dua orang sedang berjalan. Daru meyakini itu adalah fotonya dan dengan Yara, karena wajah Yara terlihat jelas di sana. Kemudian Daru membuka capture yang satunya, di sana menunjukkan komentar-komentar dari postingan itu yang mencapai lebih dari seratus dan berisi perempuan semua.
tan.123 HAHAHAHAHA, SADAR DIRI, MINIMAL MODEL KAMPUS KALO MAU NGGAET DARU HAN.
kzellax Kalaupun Daru mau, sepertinya Daru kena santet.
kopipahit Dia siapa sih? Kok bareng Daru Han terus?
lulask09 Cunguk merindukan BULAN. OH, SUNGGUH NGENES
angelchai_ perlu diajari tata krama nih bocah, bisa2nya calon suami gue diembat
Sungguh komentar yang mengerikan, bisa-bisanya orang mengetik pesan tanpa perasaan. Dan tunggu, postingan ini memang membahas tentang dirinya, namun tujuan yang diejek bukan Daru. Daru kaget dengan postingan itu, ia kaget bukan karena dirinya menjadi gosip, karena baginya menjadi pusat perhatian memang memiliki resiko untuk dibicarakan. Namun hal yang membuatnya kaget karena orang lain yang seharusnya bukan tempatnya malah menjadi korban, Yara Airani, satu-satunya teman baik Daru malah kena.
Apakah ini salah satu alasan kenapa Yara bersikap dingin hari ini, karena postingan itu membuat Yara jadi bahan pembicaraan fakultas? Jadi alasan Yara pakai hoodie, dan pakai masker lalu menghindarinya karena ini? Karena ia telah dikecam banyak masyarakat kampus. Pasti benar-benar seperti neraka. Daru saja yang sebagai artis masih saja merasa risih, apalagi Yara yang latar belakangnya saja bukan seorang artis dan tiba-tiba menjadi pusat perhatian.
Daru segera menelpon Braga untuk mengetahui kejelasan informasi itu, dalam beberapa detik telepon itu sudah diangkat.
"Halo, Ga? Lo dapet ini dari mana?" Daru seperti benar-benar penasaran siapa dalang di balik ini. Ia tidak bisa menjadikan kesalahpahaman ini terus menerus terjadi.
"Gue dikasih tahu cewek-cewek kelas."
"Lo tahu siapa pelakunya?"
"Masih terduga, tapi gue enggak bisa bilang sekarang, gue lagi di kelas." Braga sedikit enggan bersuara, bahkan kini nada suaranya terdengar lebih pelan.
"Oke gue ke sana." Daru mematikan telepon dan segera bergegas untuk menuju kelas.
Daru menatap nanar kaca mobilnya, ia merasa begitu bersalah terhadap Yara sehingga membuat kekacauan ini terjadi. Padahal Daru hanya ingin berteman baik dengan orang-orang, dan kenapa selalu saja menjadi luka pada orang-orang yang dekat dengannya. Apa artis tidak boleh punya teman?
"Gue harus minta maaf sama Yara, ini enggak boleh terjadi." Daru segera merapikan dirinya, ia mengucek matanya dan segera keluar dari mobil, ia harus menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.
Dug! Ketika Daru membuka pintu, pintu itu malah menabrak seseorang yang sedang berjalan di samping mobilnya.
"Aduuuh." rintih seseorang yang mengenai pintu mobil.
Daru menghela napas, ia meringis melihat telah melukai seseorang. "Maaf."
Gara-gara Daru lupa membuka tirai menjadikan kecelakaan kecil di samping mobilnya. Meski tidak berdarah, tabrakan itu pasti juga sakit, terlihat dari suaranya yang keras dan betapa kerasnya pintu ini.
"Iya, nggak papa. Lain kali lihat-lihat ya mas, kalau mau buka pintu mobil." gadis itu mengelus-elus lengannya. Namun ketika ia mendagak ia kaget dengan sosok yang ada di depannya.
"Daru." lirihnya, bahkan mulutnya sedikit menganga melihat Daru yang bengong.
"Yara..." jawab Daru kala itu juga, ia membeku dan tidak bisa berkata apa-apa melihat teman baiknya sekarang.
Kata-kata yang ia ingin ucapkan mendadak berantakan dan ia melupakan untuk mendatangi Braga dengan cepat.
•••