07 — If You Not Artist

1589 Kata
Ketika Daru mengejar-ngejarnya pagi ini, sebenarnya Yara begitu senang ada teman yang begitu peduli, apalagi sosok Daru yang mempedulikannya. Ia ingin sekali berbalik badan, mengatakan pada Daru bahwa dunia sebenarnya tidak perlu berlebihan soal ini, namun apa daya memang keadaannya yang rumit sejak awal, sejak mereka memutuskan untuk saling berteman dan dekat hingga kini. Hal itu terjadi karena satu alasan, artis. Kasta terhebat itu menjadikan kehidupan Daru harus sempurna dan sesuai ekspektasi bagi siapapun. Bahkan hanya untuk sekedar berteman, Yara masih tidak pantas untuk bertukar sapa. "Eh itu cewek yang naksir Daru kan?" "Eh, eh. Beneran mereka jadian kok kejar-kejaran?" "Tapi nggak selevel sama Daru! Liat bajunya nggak modis, dia mau kemana dengan hoodie segede ituu." "Duh, gue nggak relaa mereka jadian." "Bahaya, Hanaddict dalam bahayaaa!!" Banyak suara yang membuat Yara semakin menciut, suara-suara yang ia dapatkan ketika menyusuri jalan kampus. Teduhnya pepohonan terasa seperti monster yang menerkamnya, Yara semakin mempercepat langkahnya kala itu. Pagi yang begitu berat untuk Yara, ketika ia berjalan menyusuri jalan kampus ia berusaha menenggelamkan wajahnya dan berjalan melewati lorong saja dari pada menjadi perbincangan banyak gadis di kampus. Banyak yang penasaran dengan Yara secara langsung, dan itu membuat Yara cukup risih—begitu risih tepatnya. Ia seperti orang biasa yang tiba-tiba mendobrak kepopuleran. Belum satu hari menghindari Daru benar-benar terasa berat. Daru yang mencoba mendekat dan ingin tahu masalahnya membuat Yara harus bekerja lebih ekstra untuk mencoba menghindari. Mungkin, ini pernah terjadi sebelumnya, namun perbedaannya kini Daru sudah cukup dekat dengannya, dan itu benar-benar semakin menyiksa Yara. Bukan hanya menjauh, Yara harus menghindari artis itu. "Oke, kita sudahi saja perkuliahan pagi ini. Ohya, kalian sudah buat kelompok untuk proyek UAS kan? Karena proyeknya cukup besar, maka segera dibuat kelompoknya ya." Bu Inggar mengakhiri kelas. Dosen muda itu adalah salah satu dosen di mata kuliah Creative Thinking, mata kuliah yang penuh dengan praktek nantinya. Mata kuliah yang sepertinya menjadi lubang neraka untuk masa kuliah Yara nanti, karena kelompok itu sudah ditentukan, tadi malam ketika Daru menambahkannya dalam grup obrolan. Daru sengaja membuat satu kelompok dengan Yara terus. Setelah Bu Inggar meninggalkan kelas, mendadak kelas langsung meriah karena teringat untuk membuat kelompok bersama. Yara sendiri masih terdiam, seperti enggan untuk mengikuti hiruk pikuk ini. Ia tahu betul apa yang terjadi, ia ingin mencari kelompok namun Daru menahannya untuk melakukannya. "Ga, lo udah bikin kelompok belum? Sama gue aja yuk." Kevin kini berdiri di dekat bangku Braga. "Duh sorry, gue udah satu kelompok sama Yara, gimana dong?." tolak Braga. Yes, ini adalah kelompok yang dibuat kemarin oleh Daru, kelompok yang sudah dibuat bahkan sebelum orang-orang berpikir akan membuat proyek seperti apa. "Yaah, gak asik. Lo mah nyari yang cewek." Kevin mendengus, ia merasa dikhianati. "Jangan gitu bro, ini masalahnya bukan solidaritas doang, tapi gue mencari dayung yang hebat buat kapal gue. Nggak mau gue ngulang cuma karena sekelompok sama lo." jawab Braga jelas, dan menyakitkan, tapi itulah kenyataannya. Solidaritas terhadap teman sama dengan mati meranggas karena pilihan yang salah. Kuliah ngulang satu tahun sama dengan menunda lulus satu tahun juga. Mendengar jawaban Braga yang masuk akal, Kevin mendadak langsung menghampiri para gadis-gadis, berharap ia bisa selamat di semester ini. "Guys, ada yang mau recruit gue nggak?!" teriaknya pada segerombol gadis yang sudah membuat kubu, sepertinya. "Nggak!" tolak para gadis seperti tahu bahwa Kevin hanya akan menyulitkan kelompok. "Gue ambis kok! Percaya deh." Kevin masih mempromosikan dirinya. Ucapan itu hanya mendapatkan tatapan aneh dari gadis-gadis. Tribute to Kevin, terima kasih telah berusaha. Ia kalah dalam usaha pertamanya. Di antara kalang kabut kelas, Yara tetap tenang. Kini ia bangkit, menuju kantin untuk bertemu Mita, sohibnya yang kurang ajar namun tetap orang yang terbaik untuk menjadi pendukungnya. "Ra!" teriak Daru. Yara langsung menghentikan langkahnya, perasaannya mendadak campur aduk. Sejauh apapun Yara mencoba menghindar, sosok Daru tetap aja mencoba mengejar. Tanpa sadar perasaan itu menyelami hati Yara, teka-teki tentang sikap Daru yang berlebihan takut membuat Yara salah tangkap. "Apa?" Daru bangkit, menghampiri Yara yang diam-diam jantungnya berdetak begitu keras. "Apapun yang terjadi, tetap satu kelompok ya." Sebenarnya Yara senang jika Daru masih baik dan peduli dengannya, tapi ketika Seruni menatap tajam Yara, ia menjadi gelagapan. Karena Yara tahu, penyebar informasi hoaks itu dari Seruni. "I-iya." jawab Yara singkat, mau tak mau ia harus menjawab, Yara takut kalau Daru berpikir ia sombong. Gini-gini Yara kan masih punya nurani. Kalimat singkat itu membuat Yara menahan napas cukup lama, ia memandangi Daru yang meninggalkannya menuju keluar kelas. Hal sederhana ini sebenarnya bukan sesuatu yang spesial, hal yang seharusnya bisa dilakukan secara terang-terangan, jika saja Daru bukan seorang artis. ••• Kantin siang itu ramai, Yara menghampiri Mita yang memilih duduk di samping dapur, tempat yang jarang digunakan. Mita sengaja mencari tempat itu untuk mengisolir Yara dari tatapan banyak orang. Kini Yara datang dengan hoodie menutupi wajahnya dan masker hitam. Seperti teroris di siang bolong. "Gimana kelas pertama lo?" Mita menaruh kedua lengannya di meja, sorot matanya tajam mendengar reaksi sahabatnya. Yara sendiri yang berada di seberang meja hanya mengulum bibirnya, getaran pelan itu nampak menjelaskan bahwa Yara kini sedang kalut. Ia membuka maskernya, namun ia tetap mencoba menyembunyikan wajahnya. "Mita, kenapa sih hidup gue gini amat." kata pertama yang Yara katakan selang Mita menatapnya begitu tajam. Kini Mita mengangkat badannya, sedikit tegak untuk memberi lindungan pada Yara, "Lo masih ditatapin aneh sama mahasiswa sini?" Yara mengangguk pelan, ia benar-benar frustasi jika setiap hari di masa kuliahnya harus terjadi hal seperti ini. Bisa-bisanya ketika Daru yang jadi artis, malah Yara yang sibuk menutupi identitas dirinya. "Daru gimana reaksinya?" Introgasi di mulai, dengan topik Daru Han yang tidak pernah basi bagi Mita. Yara menghirup napas begitu panjang, "kayaknya Daru belum tahu deh. Dia masih mencoba akrab ke gue." "Daru kayaknya suka deh sama lo." Mita mengatakan hal yang mustahil. "Ih, apaan sih lo. Jaga mulut lo Mit, jangan memperkeruh air yang udah butek!" tangkis Yara, ia menyeruput es teh Mita dengan gegabah. Ia tidak berani membayangkan sekacau apa hidupnya bila itu terjadi. Yara memang sejak dulu suka banget bayangin pacaran sama artis, tapi yang modelnya kayak Oppa-oppa, seperti Ji Chang Wook atau paling tidak Cha Eun Woo. Tapi, jika itu harus menjadi nyata? Apakah masuk akal? "Heh, aminin kek!" "Masalahnya nih ye, gue baru temenan aja udah disu'udzonin. Gimana kalau pacaran? Bisa-bisa besok gue diculik dari muka bumi ini!" jelas Yara tanpa tedeng aling-aling. Meski kantin ramai, lokasi tempat duduk mereka cukup sepi dan tidak menjadi pusat perhatian. "Nggak papa, kan cita-cita lo pengen hidup di mars." ucap Mita enteng. Sedangkan sahabatnya tidak percaya dengan ucapan cewek nyentrik itu. Yara menggeleng frustasi, bertemu Mita bukanlah sebuah jawaban untuk sembuh. Sekali k*****t, selamanya akan tetap k*****t. Itulah slogan yang cocok untuk Mita. Bagaimanapun, Daru memang tidak bisa digapai, bahkan dalam jenis pertemanan sekedar kelompok. Yara jadi menyesali doanya di masa lalu yang konyol itu. "Mit!" ketika Yara sibuk dalam kegundahannya, datang dua cowok menghampiri Mita. "Hai bradeer!" jawab Mita dengan antusias. Mereka menyalami Mita dengan antusias juga, kemudian duduk mengapit Mita. "Hallo, temennya Mita." sapa cowok yang memakai kemeja lepis, mendadak Yara teringat baju itu yang menjadi awal mula pertemuannya dengan Daru. "Hai," jawab Yara lirih. "Kenalin, nama gue Alfiyan." balasnya dengan senyum. "Kenalin juga, gue Defta," sahut cowok yang ada di samping Mita, ia tersenyum manis menyalami Yara. "Gue Yara." tapi itu tidak mengurangi kekalutan Yara, ia masih terngiang-ngiang oleh hal yang terjadi hari ini. Kenapa ia takut dengan Seruni? Memangnya dia siapa? "Lo kenapa? Ada masalah?" Defta mencoba sedikit ramah. Yara mengangkat wajahnya, "enggak kok." "Kenalin Ra, ini temen-temen gue, mereka satu kelompok sama gue di mata kuliah." Mita menjelaskan latar belakang dua cowok di sampingnya. "Temen-temen, ini namanya Yara, anak Komunikasi." "Weihhh, pantes aja cantik, anak komunikasi." Alfiyan memulai trik buayanya. "Jangan macem-macem deh lo. Dia deket sama Daru Han, lo kalah saing." Mita terkekeh. Namun Yara cukup kaget dengan candaan Mita, ia sudah mulai melupakan soal Daru, namun kini dibahas lagi. "Heh? Beneran?" Alfiyan kaget. "Nggak kok, gue cuma temen sekelas." Yara segera menampik. Yara tidak mau permasalahan ini semakin menjalar karena ucapan Mita yang sembarangan. "Syukur deh, gue masih punya jalan." Yara mendelik mendengar ucapan Alfiyan yang tanpa basa-basi. Tapi bukannya Yara baper, ia malah risih. Namun ia mencoba untuk biasa saja. Atmosfer canggung mendadak mengisi meja kantin pagi ini, tepatnya di mana Yara duduk. Ia sejak tadi lebih banyak diam dari pada menyahuti obrolan mereka. "Eh, pacar lo kemana Mit?" Defta mengisi obrolan untuk mencairkan suasana. "Hari ini nggak ada kelas, dia mau cari tempat magang." "Berarti bisa dong, nanti sore langsung gas nugas." Defta cerah, mereka memang satu kelompok, jadi wajar kalau mau bikin kerja kelompok. "Oke deh, bisa. Di cafe depan kampus ya. Wifinya kenceng soalnya." Alfiyan ikut menyahut. Obrolan mereka terlihat begitu akrab dan seperti tidak ada kekhawatiran yang begitu berarti, bahkan disaat Mita sendiri punya pacar, mereka tetap easy going. Berbeda dengan Yara. Mendadak perbandingan sosial dalam berinteraksi membuat Yara kembali sedih. Kalau saja Daru bukan artis, pasti pertemuan kelompok itu mudah saja terjadi. Yara bisa bekerja dengan fokus dan tidak ada kekhwatiran seperti ini. Penyesalan itu muncul, dan selalu berakhir dengan pikiran seandainya, dan andai saja. Seperti rasa ingin kembali normal dan ingin berlari. Tidak selamanya hidup berdampingan dengan artis itu menyenangkan, ia harus mengorban sesuatu yang dianggap sederhana namun sebenarnya penting. Yaitu kekebasan melakukan hal-hal di luar ruangan. Kini Yara mengerti kenapa Daru senang memakai hoodie, kini Yara paham mengapa Daru sering berjalan dengan cepat di tempat umum dan menjadi begitu tertutup. Kini semua itu dirasakan oleh Yara, karena satu hal, kepopuleran. Hal yang diidamkan oleh banyak orang termasuk Yara, dulu. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN