06 — Merenggangkan Jarak, Lagi

1606 Kata
Setelah menghabiskan banyak waktu untuk menguatkan diri, kini Yara mencoba bangun dari ranjang. Ia menjadi begitu ciut untuk menyambut hari dan bahkan terlalu takut untuk pergi ke kampus. Yara berharap, pagi ini kelas dikosongkan saja agar dirinya tidak berinteraksi dengan siapapun, termasuk Daru. Sekali lagi Yara melihat postingan di laman kampus, fotonya yang sedang berjalan dengan Daru kini begitu ramai diperbincangkan. Banyak komentar-komentar jahat yang menganggap Yara naksir diam-diam dengan Daru. Padahal, Yara cuma suka aja bisa berkomunikasi dengan Daru dan jadi teman dekat. Cuma karena status Daru yang artis, statement masyarakat kurang edukasi ini jadi begini. Yara kembali teringat percakapan dirinya dengan Mita di telepon. Teman dekatnya itu adalah orang nomor satu yang kontra dengan postingan itu. "Siapa sih, sok-sokan pake anonimous account. Cemen banget! Akunnya aja enggak jelas siapa orangnya, masa gitu aja percaya infonya jelas atau enggak." Mita memaki-maki, ia begitu tidak terima pada perlakuan orang tidak dikenal itu di internet. Meski ia tidak kuliah di komunikasi, gini-gini dia tahu etika dan diajarkan untuk selalu berani dan jujur. "Lo tahu siapa orangnya enggak Ra?" Ucapan Mita seakan membuat pikiran Yara berlari ke belakang. Pertemuan kemarin sore di dekat mushala kampus. Jangan-jangan Seruni... Ah tapi... "Kalau iya yang nyebar anak komunikasi, wah. Bener-bener menyalahi kode etik! Nggak tahu diri, masak kayak enggak berpendidikan gini," Mita masih mendumel. Namun Yara masih saja mematung. Seperti enggan membagikan fakta itu—paling tidak, kemarin Seruni sudah memberikan kode, kode bahaya. Yara kembali menguatkan diri, sebisa mungkin ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini adalah hal yang sepele. Lagian, mereka tidak akan membunuh Yara kok, ya meskipun komentar-komentar jahat bertebaran. "Udah ya Mit, gue ada kuliah pagi." Tit. Telepon itu mati, tepat ketika Yara menyelesaikan kalimatnya. Ia masih mencoba menguatkan diri. Yara enggak mungkin bolos kuliah hanya karena postingan tidak jelas itu. "Raaa bangun! Katanya ada kuliah pagi!" ketika Yara sedang terpaku, Mama masuk ke dalam. Mama Yara yang biasanya selalu rempong kini kaget melihat anak gadisnya diam dan pucat begini di pagi hari. "Kamu sakit?" Yara menggeleng, "enggak, Ma. Yara baik-baik aja kok." tangkis Yara. "Ayo semangat dong. Kan kamu satu kelas sama artis." Mama memberikan semangat. Yara mendengus napas dengan keras. Kenapa harus lagi-lagi bahas Daru. Seperti poros bumi berpusat pada dia tahu. "Apaan si Mama, Daru juga orang biasa kali." Yara meninggalkan Mama di kamar. Ia segera menuju ke kamar mandi dengan terdiam. Namun di dalam hatinya, ia berharap bahwa Daru memang benar-benar orang biasa hingga tidak ada masalah begini. Masalah sepele yang dibesar-besarkan. ••• "Kak, Sasan pengen deh, punya motor." percakapan pagi diawali dengan permintaan Daru yang tiba-tiba. Kak Hana yang sedang menyiapkan sarapan cukup kaget mendengar ucapan adiknya. "Kan kamu nggak bisa naik motor." Benar! Daru tidak bisa naik motor, baginya dulu naik motor hanyalah kendaraan yang berbahaya, namun setelah kuliah ia begitu tahu bahwa waktunya berharga. Ia bisa datang ke kampus tepat waktu dan ia tidak dianggap miskin teman-temannya lantaran naik gojek tiap hari—sebenarnya mereka tidak mengatakan itu sih, Daru sendiri yang ngerasa. "Sasan capek harus bangun pagi terus cuma buat ngabisin waktu lebih lama di jalan kak." jelasnya terus terang. Di samping itu, mulutnya juga aktif mengunyah, sarapan pagi dengan sandwich telur keju. Buatan Mbak Desi, pembantu mereka. "Kamu bawa mobil aja kalau gitu." Kak Hana memutuskan jawabannya. Daru merasa kecewa. "Lagian, apa salahnya berangkat lebih pagi, disaat awal waktu, banyak mahasiswa yang belum berangkat, jadi itu bisa jadi nilai aman kamu. Bukannya kamu seneng kalau enggak dilihatin banyak orang?!" Daru mingkem, ia langsung kalah telak oleh jawaban sang kakak. Kak Hana memang benar, dan selalu benar. Ia selalu jadi orang yang paling tahu yang dibutuhkan adiknya. "Ya udah sana berangkat! Kakak nggak bisa nganterin, ada rapat di kantor agensi." Kak Hana mencangklong tasnya, memasukkan ponsel yang ada di meja. "Nih, kamu yang bawa mobil." Kak Hana menaruh kunci itu di meja, meluncur di depan mata Daru. Daru menghela napas, ia ingin protes namun kakaknya sudah meninggalkan meja makan. Daru masih kikuk menatap kunci mobil itu, cicak bahkan bersuara seolah mengejek Daru. Daru meraih kunci mobilnya, kunci itu berputar-putar ketika diangkat Daru di bagian bandulnya. Sungguh, untuk pertama kalinya ia akan ke kampus naik mobil. Mungkin inilah jiwa artisnya sempurna keluar. Keren, dan kaya. Padahalkan Daru pengen bisa naik motor, biar kayak teman-teman lainnya. Ya, temannya kan cuma Braga sama Yara, lainnya cuma sekedar teman sekelas yang belum yakin disebut teman. Daru akhirnya bangkit, menuju garasi di samping rumahnya. Ia menaiki mobil itu, memanaskannya sekitar lima menit, kemudian melesat di jalan Jakarta yang padat. Inilah alasan kenapa Daru senang naik motor. Dua minggu sering naik ojek membuatnya cukup hapal dengan jalur tikus yang sering dilewati ojek, itulah yang membuatnya percaya diri pengen punya motor. Kan enak, terobos sana, terobos sini. Dengus Daru dalam hati. Karena pakai mobil, perjalanan membutuhkan 15 menit. Daru segera memarkirkan mobilnya di bagian khusus mobil. Memang banyak mahasiswa yang ke kampus bawa mobil, namun Daru merasa begitu asing dan malu jika harus ke kampus dengan ini. Kini ia juga harus turun cukup jauh dengan gedung kampusnya, lantaran parkiran mobil dijadikan satu di kampus 3. Menyiksa sekali menjadi kaya raya. Daru turun dari mobil, tak lupa ia memakai tudung kepala dari hoodie-nya. Hari ini ia pakai warna krem. Daru memang pengoleksi hoodie, baginya itu adalah penutup terbaik ketika di ruang publik. Memakai hoodie memang tidak membuat Daru sepenuhnya tidak dikenali, ada beberapa kelompok obrolan di sekitar jalannya terdengar membicarakannya. Soal ketampanannya dan soal bagaimana Daru bisa hidup sebagai manusia. Pendewaan itu terkadang membuat Daru risih dengan dirinya sendiri. Namun lambat laun, ia mulai membiasakan diri untuk tidak peduli di kampus ini. Namun ia bersyukur punya teman seperti Yara, gadis yang mungkin satu-satunya yang menganggap Daru hanyalah manusia biasa. Di langkah Daru yang cepat, sorot matanya tiba-tiba melihat seseorang yang sedang ada dalam pikirannya. Gadis itu sedang memarkirkan motornya di parkiran dekat Fakultas Ilmu Sosial. Daru dengan tenang langsung mempercepat langkahnya, segera menyapa manusia yang ia anggap begitu akrab dengannya. "Ra! Tungguin." teriaknya ketika sudah hampir dekat dengan Yara. Yara menoleh, dengan wajah yang dingin, bahkan sekarang ia pakai masker. Bahkan sorot matanya seperti tidak ada keceriaan untuk menyambut hari. Wajah Yara acuh, dan seperti tidak bersahabat sekali. Ada apa? "Kamu pilek?" Daru langsung to the point. Yara menggeleng, kemudian ia kembali berjalan. Hal itu tentunya membuat Daru bingung, apa Yara beneran sakit ya? Kok diem aja. Akhirnya Daru tetap menyamai langkahnya. Yara tak mau kalah, ia makin cepat melangkah. Kini ketika sampai di anak tangga, langkah mereka begitu terasa saling kejar mengejar. Tak sampai itu, kejar-kejaran ini masih belum berhenti ketika mereka sudah mendekati gedung kelas mereka pagi ini. Bahkan, sesampai di lantai tiga gedung K, mereka masih saling kejar. Yara yang menghindar dan Daru yang bertanya-tanya. "Ra? Ada masalah?" Daru semakin penasaran. "Nggak ada." acuh namun Yara mencoba biasa saja. Kini ia duduk di kelas, dan Daru duduk di sampingnya. Padahal bangku itu sudah ada pemiliknya, hal itu bisa dilihat karena ada tas di meja. "Daruu, ini kan bangku gue." Brillia sang pemilik meja langsung protes. "Lo pakai yang lainnya. Gue lagi pengen dengerin Miss Santy jelasin materi nih." Alibi Daru, pagi ini kelas Teori Komunikasi di mulai. Karena Brillia salah satu mahasiswi yang takjub dengan ketampanannya, maka ia dapat diajak kerja sama. Ia menyetujui itu dan mengambil tasnya." Nggak papa deh. demi Daru." "Thanks ya, Bri. Nanti gue traktir bakso deh." ucap Daru penuh kharisma. Brillia segera berbinar. Ditraktir artis jajan di kantin adalah suatu hal yang langka. Brillia langsung berangan-angan bisa terkenal karena ditraktir Daru. Daru kembali ke Yara yang sejak tadi mencoba sibuk. Ia sudah melepas maskernya dan bahkan tidak terlihat sakit. Daru mulai merasa bahwa Yara memang menghindarinya, hal itu terlihat dari cara Yara yang mencoba menutup celah kesempatan Daru untuk ngobrol. "Ra, lo ada masalah?" ucap Daru lirih. "Sya, kelas Bahasa Indonesia ada tugaskan, itu disuruh ngapain?" Yara seperti tidak merasa ada Daru di sampingnya. Yara malah mencolek teman yang duduk di depannya, Kesya. "Ra... Aku minta maaf" Daru tetap tidak menyerah. "Kenapa minta maaf, kamu nggak salah." Yara merespon, meski kepalanya saja tidak menoleh ke arah Daru. Daru menunduk, ia tidak lagi memaksa jawaban. Sepertinya memang Yara sedang ada masalah dan Daru tidak ingin memaksa privasi itu. Kini ia bangkit, berjalan menuju Braga yang sedang mengobrol di daun pintu kelas dengan teman sekelasnya yang laki-laki. "Loyo banget bro." Braga langsung merangkul Daru, begitu akrab, seperti tidak ada status artis yang dibawa Daru. "Capek ya Ru, pasti. Gue enggak bisa bayangin deh jadi lo." Kevin, salah satu teman kelas menyeletuk. "Kalem, gue bisa menghandle diri gue kok. Aman, gue tetap waras." jawab Daru dengan mencoba sedikit ceria. Berharap suasana lebih cerah. "Jangan gila, kasian tampang lo yang ganteng bakal jadi milik orang gila. Mending kasih ke gue aja." Braga ikut menyahut. "Dih, malah lo yang gila!" Kevin menendang tumit Braga. Kini pemuda itu sedikit sempoyongan karena mendapat tendangan yang tiba-tiba. "Nggak papa dong. Kan yang penting ganteng." balas Braga dengan percaya diri. Braga memang cowok yang berkharisma dan memiliki teknik komunikasi yang baik. Ia begitu aktif untuk memahami situasi dalam hidupnya. Ia pandai berkelompok sosial dan menjadi pribadi yang tekun. Itulah alasan mengapa Braga terpilih menjadi ketua. "Kita ngopi yuk di kantin, gue ngantuk tadi pulang subuh." Daru mengajak dua temannya untuk meninggalkan kelas. "Ah males gue kebawah lagi. Ntar aja gimana pas istirahat." tolak Braga. "Ya udah, gue berangkat sendiri," Daru melepas rangkulan Braga, kemudian melangkah maju menuju anak tangga yang berada sepuluh meter di depannya. "Bro, tungguin atuuuh!" Akhirnya Kevin dan Braga memutuskan ikut bergabung. Kan lumayan bisa jadi perhatian cewek-cewek, ya meski sebenarnya kaum hawa hanya memandangi Daru sih. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN