Hari ini kelas berakhir dengan baik, Yara berjalan gontai menuju tempat parkir, bibirnya bahkan sejak tadi terkulum dan matanya berbinar. Ingatan tentang yang telah terjadi berputar-putar terus di kepalanya. Menyenangkan sekali! Bahkan mata kuliah terakhir berakhir begitu saja tanpa arti bagi Yara, ia selalu diam-diam memandang Daru yang berdiskusi bersama Braga.
"Kalau dilihat-lihat kulit Daru tuh mulus banget ya. Daru aja yang artis indo udah bening, apalagi abang ichang... " celoteh Yara dengan dirinya sendiri. Ia mengingat moment ketika duduk sejajar dengan Daru ketika kelas pertama tadi. Benar-benar shining, shimmering, splendid.
"Kira-kira skincarenya Daru harganya berapa ya?" mulutnya tidak berhenti berceloteh. Maka ketika ia berjalan sendirian, bibirnya tidak berhenti bergumam.
Benar kata, Mita, dirinya benar-benar ketimpa durian, sudah satu kelompok, mana deket banget lagi sama Daru. Ia senang karena dapat berkomunikasi dengan baik dengan Daru, tidak ada lagi rasa canggung, bahkan tadi mereka sempat berjalan bareng diam-diam. Sepertinya hanya semesta yang paham bahwa Yara juga diam-diam mulai jatuh hati dengan artis sinetron itu. Wajarlah, orang ganteng aja cuma dilihat bisa bikin naksir, apalagi kalau dia orangnya baik, beuh meleleh dah tuh kaum hawa.
Gini-gini Yara kan masih dikategorikan kaum hawa.
"Ati-ati lho, Daru emang bukan artis korea, tapi gitu-gitu dia tetap artis dan yang pasti ganteng. Pesen gue cuma satu, jangan pernah menyia-nyiakan takdir." ucapan Mita beberapa hari lalu berdengung di telinga Yara. Membuat Yara tiba-tiba langsung sadar menepuk pipinya.
Sadar Yara!
Setelah ribut dengan diri sendiri, Yara berjalan penuh dengan kekuatan menuju tempat parkir. Ia harus segera mandi dan menghilangkan perasaan halu ini, ya! Daru enggak mungkin bisa diraih, Daru itu adalah keindahan. Mana mungkin, yang modelannya mandi sehari sekali ini jadi pasangannya, mana bisa disandingkan dengan Daru yang perfect. Keluh Yara dalam hati.
Yara sampai di dekat motornya, segera ia merogoh kunci motornya di saku tas kanannya. Namun tangannya yang sejak tadi merogoh-rogoh tas tidak menemukan kunci motor berbandul minion itu.
Yara mengintip tasnya, berharap ia ada dan terselip di antara buku bindernya. Namun tidak ada. Kini euforia yang mengisi atmosfer Yara mendadak hilang, ia langsung mendapat serangan panik takut-takut ia tidak bisa pulang.
'Kalau kunci hilang, coba tanya satpam.' Yara teringat perkataan teman-teman sekelasnya yang memiliki pengalaman yang sama. Yara segera berlari menuju pos satpam yang berjarak 70 meter dari tempat parkir motornya.
Brak! Seseorang membuat langkah Yara mandeg seketik. Ia menabrak seorang perempuan yang sepertinya dikenali oleh Yara.
Seruni, teman sekelasnya.
"Kenapa lo lari-lari?" ucapnya dengan senyum sinis. Yara tidak kaget sebenarnya dengan intonasi bicara Seruni, bahkan raut wajahnya yang seperti mak lampir. Itu memang khasnya Seruni, apalagi kalau sama Yara.
"Sorry Ni, gue buru-buru." seperti tidak ingin berlama-lama, Yara menepis Seruni untuk menepi. Namun belum juga Yara melangkah jauh, lengannya sudah dicengkeram, oleh tangan Seruni.
"Mau kemana?" masih dengan suara ketusnya.
Sebenarnya Yara malas berurusan dengan Seruni, namun ia tidak punya alasan untuk tidak menjawab.
"Mau ke kantor satpam."
"Ngapain?" tanyanya.
Yara menghela napas, kenapa ia berurusan pada orang seperti Seruni, bahkan obrolan ini benar-benar tidak masuk akal. Apa maunya Seruni?
Belum juga Yara menjawab, lengannya yang lebih kecil dari pergelangan tangan Seruni langsung di tarik paksa. Yara diseret menuju keluar parkiran. Yara dipaksa duduk di bangku dekat taman mushola, saat itu sedang sepi karena sholat ashar telah berakhir.
"Ada apa sih Ni," Yara agak kesal dengan perlakuan Seruni yang kasar namun tidak jelas. Harusnya Yara sekarang sibuk mencari kunci motornya, kini malah ia duduk berdua dengan Seruni—manusia yang jelas tidak akur dengannya akhir-akhir ini.
"Udah mulai percaya diri nih," Seruni geleng-geleng kepala. "Gue cuma mau ngobrol sebentar sama lo tahu, Ra." Seruni memang sedikit meramahkan ucapannya, namun sama sekali tidak terlihat ramah, itu malah membuat Yara kebingungan.
Yara mengerutkan kedua alisnya, "Lo enggak kenapa-napa kan, Ni?"
Seruni tertawa, meski Yara tahu saat ini kondisinya sedang tidak ada candaan. "Lo sekarang makin menjadi ya, setelah deket sama Daru."
"Maksud lo?" Yara tidak mengerti dengan tujuan obrolan dari Seruni. Masalahnya ia memang tidak terlibat dekat secara perasaan dengan Daru, ya meski mereka juga pernah satu kelompok.
"Lo tadi pas istirahat jalan bareng Daru kan," ucap Seruni tanpa basa-basi.
"Ya emang kenapa? Kan Daru temen gue juga." seperti tidak takut dengan labrakan Seruni. Memang apa yang ditakutkan dengan Seruni, kan juga sebuah hal yang normal kalau mereka jalan bareng.
"Lo bener-bener enggak takut?"
"Takut apaan?"
"Takut dengan riwayat lo yang berakhir mati." sederhana namun begitu menikam, sedemikian rupa Seruni mengatakan itu, namun Yara bergeming.
"Udah deh, Ni. Ini tuh jaman udah berubah, kenapa gue harus takut mati? Emangnya gue nyebar ideologi sesat?" jawab Yara. Hal itu tentunya membuat Seruni memerah, ia mendengus begitu kasar.
"Udah deh gue mau nyari kunci motor gue." Yara bangkit, meninggalkan Seruni yang tidak begitu puas dengan rencananya, ia berharap Yara takut, namun ia tidak peduli.
Pletak! Sebuah benda terjatuh di depan kaki Yara, itu adalah kunci motor Yara. Yara menatap kunci itu, lalu menoleh ke sumber suara lemparan tersebut. Seruni berdiri dengan kacak pinggang.
"Lo masih belagu ya." ucap Seruni sebelum meninggalkan bangku. Yara sendiri memungut kunci itu dengan sedikit kesal, ia tidak masalah jika itu hanya Seruni. Toh, Seruni pasti hanya cemburu.
●●●
Malam itu, mungkin menjadi malam yang begitu biasa, awalnya. Yara selesai makan malam, kemudian mengulas jurnal-jurnal ilmiah untuk menjadi bahan tugasnya. Kemudian ia hanya rebahan dan menonton drama Korea kesukaannya untuk menambah imun setelah belajar. Terlihat biasa saja kan, namun ada satu moment yang membuat Yara makin bahagia.
Handaru menambahkan anda di grup Penelitian Team#1
Yara langsung terbelalak melihat notifikasi tersebut di bar ponselnya. Ada rona dalam senyumnya, ia mulai percaya diri dengan apa yang terjadi saat ini.
Yara juga mulai teringat dengan akhir perkuliahan di jam pertama tadi pagi. Pak Irwan, selaku dosen meminta mahasiswanya untuk membuat kelompok penelitian. Kelompok itu terdiri dari tiga mahasiswa yang dapat memilih bebas, dan malam ini. Daru memilihnya, seseorang yang menjadi orang idaman banyak orang, memilihnya lagi menjadi teman satu kelompok. Tapi sebentar, Yara juga penasaran siapa anggota kelompok satunya.
Yara membuka aplikasi chatting dan mendapati Braga dan Daru sedang terlibat percakapan singkat di kolom chat.
Handaru Minta bimbingannya ya para suhu.
Braga Aduh, mati gue. Kenapa lo milih gue Daru, nanti gue diprotes cewek-cewek.
Handaru Aman bosqu, kan lo ketua kelas.
Lalu Yara mulai tertarik untuk gabung di percakapan.
Yara Hallo, apakah saya satu-satunya perempuan di sini?
Yara menutup kolom chat, ia langsung mendekap ponsel itu di dalam dadanya. Kenapa Yara begitu senang ketika Daru selalu melibatkan permasalahannya dengannya. Bahkan, sekecil dalam pemilihan kelompok, Daru segera membuat kelompok padahal belum 24 jam.
Braga Aduduh ada gadis cantik di sini. Berasa cantik banget kan ya Ra, cewek sendirian.
Handaru Menyesal aku mengajak buaya dalam koalisi ini.
Yara tersenyum, seakan ia melupakan bahwa Daru ini adalah seorang artis. Cara mereka berkomunikasi juga layaknya teman akrab, namun hanya saja, karena Daru artis, sulit untuk berinteraksi layaknya teman biasa.
Sebenarnya enggak masalah kan mau temenan sama siapa saja, Seruni saja yang sensitif enggak bisa mendekati Daru dengan baik. Tapi, kata orang Daru ini adalah orang yang cukup pendiam, jadi bisa dekat dengan Daru adalah sebuah anugrah yang disyukuri Yara.
Tanpa sadar Yara tertidur dalam mimpi. Endorfin dalam dirinya belum juga menyusut, kini perasaan senangnya terbawa di dalam mimpi.
Dalam mimpi itu, Yara kaget melihat Daru tiba-tiba memeluknya, duduk di bawah pohon yang Yara tidak ketahui di mana. Daru juga mengelus kepala Yara dengan lembut. Persis seperti kekasih yang sedang melakukan adegan romantis. Yara kaget, namun ia juga menikmati moment itu di mimpi. Bahkan Yara juga bergumam pada Daru.
"Kita pelukan gini enggak ada yang tahu?" ucap Yara dalam mimpi. Bisa-bisanya ia mengatakan kata-kata itu dengan manja, seolah mereka sudah lama menjadi sepasang kekasih.
Daru dengan ketampanannya yang luar biasa di mimpi itu, tersenyum manis, menggeleng seakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. "Siapa yang akan tahu?"
Yara bingung, namun ia juga menikmati mimpi itu. Memang benar-benar mimpi yang membuat siapa saja enggan bangun.
"Nikah ya sama aku." Daru berujar lagi, kini suaranya begitu hebat, menggetarkan d**a Yara.
"Kapan?'"
"Sekarang." tiba-tiba Daru bangun dan menggeret Yara menuju tempat yang tidak ia ketahui, tempat itu sebuah gedung putih dan tiba-tiba saja Yara sudah mengenakan baju pengantin. Daru dengan baju pengantin jas hitamnya terlihat gagah berlari membelakangi Yara.
Mimpi indah yang sesungguhnya... dan sebentar lagi mereka akan menikah.
Drttr... drttr....
Getaran itu seperti gempa di dalam mimpi, Yara langsung terjatuh dan tiba-tiba Daru menghilang. Kepanikan itu perlahan-lahan menyadarkan tidur Yara. Yara mulai membuka matanya dan ini hanyalah mimpi.
Drtt... drtt...
Suara itu berasal dari benda yang terselip di bawah bantal Yara. Ia mengingat-ingat kembali apa yang terjadi semalam. Ia sedang chatting dengan Daru di grup chat lalu terpejam dan memimpikan sesuatu yang gila.
"Udah enggak beres nih otak, Daru mulu yang ada." Yara menggaruk rambutnya yang berantakan, ia mengusap belek matanya dan mengecek kedua sisi bibirnya, barangkali ada iler yang mengeras.
Drtt... Drtt...
Suara yang menyebabkan gempa itu masih menyala. Suara yang meruntuhkan masa keindahan Yara dalam satu malam.
Mita is calling...
Yara menyipitkan matanya, kemudian bergumam. "Ada apa sih." namun sedetik kemudian Yara mengangkat telepon itu.
"Hallo, ada apa Mit." masih dengan suara khas orang bangun tidur.
"Ra, lo mending buruan cek chat gue deh." Ucap Mita yang panik.
Ada apa?
Yara langsung membuka chat dari Mita yang sudah menumpuk, banyak kiriman-kiriman capture dari percakapan di sebuah media sosial. Yara membuka salah satu yang paling menonjol. Sebuah foto yang akan merusak mimpi paginya.
"Kook bisaaa." Yara kaget, ia bahkan tidak menyangka dengan apa yang terjadi.
"Ra, sumpah ini gila banget." Mita tak hentinya ikut mengoceh.
"Mit, gue harus gimana ini?" mendadak suara Yara bergetar, ia seperti enggan menghadapi dunia yang begitu jungkir balik. Petaka baru yang bahkan bukan kesalahannya.
"Miiitt..." Yara semakin gentar, kini bahkan tidak ada senyuman apa-apa. Yara mengkerut, di pagi hari yang bahkan harinya belum di mulai.
Mendadak Yara menyesal menganggap ketimpa durian itu adalah sebuah keberuntungan, kini ia sadar, duri-duri dari durian itu tidak seelastis squishy. Duri-duri itu menancap di ulu hati Yara, menyebabkan ia semakin benci dengan buah durian dan marga-marganya.
•••