Hari Senin menyapa lagi. Kini Yara tidak terlambat, bahkan ia masuk sebelum mahasiswa datang. Ia duduk paling depan, dengan flashdisk di genggamannya. Ia tidak menyangka bahwa pekan kemarin, di hari Sabtu adalah hal paling menyenangkan baginya. Ajaib, seperti tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Ingin rasanya Yara sesumbar, namun ia kembali sadar bahwa ia tidak akan bunuh diri. Memamerkan moment-nya bersama Daru memang sama saja bunuh diri.
Seruni masuk kelas, kini ia terlihat biasa saja. Sepertinya mood Seruni telah kembali. Namun, sebaik apa itu moodnya, ia tidak akan akrab dengan Yara, ya karena memang untuk apa akrab dengan Yara? Seruni duduk di bangku belakang, jauh nun di ujung sana.
Yara kembali fokus pada flashdisk-nya. Ia berdebar membayangkan ia akan berdiri di depan bersama Daru, menjelaskan pada teman sekelasnya tentang konsep yang telah mereka garap. Kemarin, berdua saja di rumah Yara.
Sungguh, jika mengingat hal itu d**a Yara kembali berdebar. Seperti ada kekuatan magis yang menyelinap.
Sepuluh menit berlalu, kelas mulai terisi banyak mahasiswa, namun tak kunjung Daru datang. Yara membuka ponselnya, mencari kontak Daru yang sudah disimpan Yara kemarin.
Daru Handaru.
Itu nama Daru di kontak Yara, bagi Yara nama Handaru membekas diingatannya, tragedi gofood yang serasa begitu akrab.
Namun sedetik kemudian Yara sadar, ia tidak mungkin mengirim Daru pesan, apalagi kalau modelnya sok akrab. Kan Yara tidak sedekat itu dengan Daru, hubungan dengannya hanya sebatas temen nugas. Enggak lebih, enggak kurang.
Yara memasukan ponselnya ke dalam totebag, lebih baik bersikap biasa seperti hari-hari lainnya. Bahkan, perasaannya kembali seperti ia malu menemui Daru.
AC ruang kelas seakan tak membuat Yara sejuk, ia masih gusar di bangkunya. Kakinya ia hentak-hentakan, seperti menunggu seseorang.
Wala!
Orang yang ditunggunya benar-benar datang, di sambut hangat oleh teman sekelas. Mereka melakukan tos ria, seperti senang berteman dengan artis. Daru juga begitu, ia seperti senang memiliki teman yang ramah.
"Seger banget nih muka artis." seru Braga setelah ber tos ria dengan Daru.
"Halah, udah gue bilang jangan panggil gue artis di kelas." Fakta, Daru benar-benar tidak suka bahwa ia distratakan, ia tidak suka bahwa ia selalu dipandang beda oleh orang-orang. Maka, harapan Daru, ia ingin dianggap oleh orang biasa oleh teman-temannya.
"Iya, iya." Braga menyahut sembari memberikan jempolnya."Gimana tugas lo? Udah kelar?"
"Aman, kan gue sekelompok sama Yara." Daru mengerling Yara yang sedang duduk. Yara yang dinotice langsung kaget.
Teman-teman sekelasnya, terutama cewek, selalu berharap mendapatkan posisi yang sama dengan Yara. Satu kelompok dengan Daru.
Baru juga anak-anak cowok ngobrol di depan pintu. Pak Irwan datang, membawa laptop mininya dan beberapa jilid lembar kertas yang sepertinya itu presensi kelas. Dan di waktu itu juga, Daru duduk di bangku samping Yara—tepat sampingnya. Yara langsung kaget dan napasnya berhenti beberapa detik.
"Filenya fix yang kamu kirim di chatkan?" Daru menjorokkan wajahnya ke arah Yara. Menjadikan Yara panas dingin. Tadi Daru pakai lo-gue ke Braga, sekarang pakai aku-kamu ke Yara. Sebenarnya Yara cukup canggung dengan penggunaan itu.
Sebenarnya ada apa sih? Ini kenapa? Jerit Yara dalam batinnya. Lama-lama ia baper juga diajak seakrab itu.
"Iya, udah aku kirim kan." jawab Yara halus. Ia selalu mencoba biasa saja tiap bersama Daru. Tahu kan, Daru tidak suka dispesialkan?
Kemudian mereka sama-sama diam, Pak Irwan membuka kelas. Hari ini adalah presentasi konsep, dan Yara sudah menyiapkan materi yang akan ia jelaskan ke depan nanti, bersama Daru. Please, tiap kepikiran hal itu Yara selalu deg-degan.
Semua mahasiswa di kelas maju satu persatu, mereka diberi waktu 5 menit untuk menjelaskan konsep. Singkat namun dapat dipahami, hanya satu-dua mahasiswa yang kena pertanyaan dari Pak Irwan, itupun jika konsep yang mereka pilih benar-benar menarik perhatian. Hingga tiba waktunya Yara dan Daru presentasi. Yara benar-benar dibuat demam panggung.
Yara menatap satu persatu teman sekelasnya, apalagi Yara melihat bagian teman-teman perempuannya yang diam-diam menatap tajam.
"Selamat pagi, kali ini yang saya ambil adalah konsep komunikasi verbal dan non verbal." Daru membuka presentasi dengan santai. Ia seperti sudah bisa mengendalikan audiens, termasuk Pak Irwan yang manggut-manggut mendengar. Kaum hawa dibuat kagum dengan cara Daru menjelaskan dan yang pasti ketampanan yang tidak bisa dipungkiri.
"Jadi, untuk ini saya menjelaskan tentang fakta bahwa komunikasi non verbal adalah komunikasi paling jujur." masih berlanjut, Yara kini mengubah slide, di layar terpampang visualisasi gambar orang berkomunikasi.
Kini giliran Yara menjelaskan, setelah menayangkan video singkat. "Teman-teman dapat melihat bahwa dalam komunikasi non verbal, orang dapat melakukannya dengan reflek. Contohnya, Braga, ketika menyimak bahan yang saya jelaskan, ia menopang wajahnya dengan tangan. Matanya hanya berkedip beberapa kali dalam semenit. Artinya apa?"
Yara menghela napas pendek, lalu melanjutkan penjelasannya. "Jadi, artinya dalam komunikasi non verbal, Braga memperlihatkan bahwa ia mendengarkan dan menyimak."
Braga kaget, bahwa apa yang dikatakan Yara memang ada benarnya. Ia memberikan jempol pada Yara, teman sekelasnya yang ternyata cerdas.
"Sekian dari kelompok kami, bila ada kesalahan kami mohon maaf." presentasi di tutup. Yara dan Daru memberi penghormatan ke teman-teman dan Pak Irwan. Lalu, tepuk tangan riuh mengisi kelas. Kaum hawa heboh karena Daru menutup presentasi dengan senyum maut.
Yara kembali duduk di bangkunya, ia lega telah menyelesaikan tugasnya pagi ini. Daru juga kembali duduk, dengan tenang. Yara kagum pada Daru, bukan karena ketampanannya, tapi kagum dengan cara Daru menguasai materi. Yara senang, Daru belajar dengan baik di sela kesibukannya.
"Kamu hebat Ra!" seru Daru dengan pelan. Namun itu terdengar seperti teriakan heboh di hati Yara.
"Kamu juga keren, dari tadi Pak Irwan enggak kedip lihat kamu." Yara tak mau kalah memuji Daru.
"Aku senang, bisa satu kelompok sama kamu."
Duar.
Suara itu terdengar keras dan berdentum di hati Yara. Kenapa Daru harus sebaik ini jadi manusia, seperti tiada celah. Tampan dan baik hati, pasti Daru diciptakan Tuhan ketika sedang baik perasaannya. Sungguh pagi yang begitu manis.
•••
"Aduuuuh buyung, manis kali lah senyum Yara Airani." goda Mita ketika melihat sejak tadi temannya tidak berhenti senyum. Berbeda dengan minggu lalu, kini komunikasinya dengan Daru dapat dikualifikasi sebagai komunikasi yang baik dan dapat dipercaya.
"Bilang aja iri." sahut Rayi. Manusia paling sebal jika nama Daru mulai menjadi topik obrolan.
"Gimana? Di depan kelas bareng Daru?" Mita menaruh gorengan di meja, kemudian mengganyangnya tanpa menganggu bicaranya. "Lo beneran bisa jelasin materi dengan baik? Kalau gue pasti udah tremor."
"Kalau gue juga pasti tremor, Ra. Kan gue belum sarapan." guyon Rayi yang tidak mendapatkan respect dari pacarnya. Ya kali, di moment menggemaskan ini mahasiswa tingkat tiga itu malah ngelawak.
"Agak sih, tapi dapat gue kuasai. Ya kali gue tremor, ntar dapet C gue." jawab Yara tanpa mengurangi senyumnya.
Jika diingat-ingat lagi, akhir-akhir ini ia memang sedang mujur. Sering banget dia berkomunikasi sama Daru, baik langsung maupun chat. Tapi Yara tidak menceritakan soal Daru ke rumahnya. Bisa rubuh nih kampus kalau Mita teriak heboh, nanti takutnya juga kalau Mita ember dan Yara berakhir tragis. Enggak deh, ngeri. Biarkan ini menjadi rahasia.
"Eh, eh. Daru beneran manggil lo pake aku-kamu? Gilaaa, lo enggak baper kan Ra?" Mita seperti tidak pernah kehabisan topik pembicaraan tentang Daru, apalagi di suruh meracuni pikiran, paling jago dia.
"Kemaren aja, lo bilang Daru biasa aja. Sekaraaang, lo tremor juga." Mita geleng-geleng kepala melihat tingkah Yara yang tidak ada bedanya dengan dirinya.
Yara mengangguk, entah mengangguk pada bagian mana. "Dia yang mulai, gue sungkan kalau nolak."
Mita menggeleng-gelengkan kepala, tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Lo beneran enggak baper Ra? Jujur gue aja suka merinding kalo dipanggil Rayi aku-kamu. Gimana kalau sama Daru." Mita memegangi lengannya, menggosok-gosok sedikit lengannya yang sedikit berdiri bulunya.
"Daru emang baik ke semua orang. Jadi, yakali gue baper." Yara tetap bertingkah biasa saja. Seolah sikap Daru memang biasa saja, padahal dalam batin Yara ia baper setengah mati. Namun sengaja disimpan, biar tidak menjadi-jadi di tangan Mita.
"Tolooong, ajarin cara pindah jurusan. Mau sekelas sama Daru gueee!!" teriak Mita yang sempat menjadi tontonan. Banyak yang menyinyir karena membahas Daru dengan begitu antusias.
"Biasa aja, Daru juga manusia kok."
"Tapi lo beneran enggak ngerasain sesuatu kalau ngobrol sama Daru? Kalau gue bisa ngobrol sama dia, udah ngajak tetangga gue syukuran dah."
"Tapi gue tetep biasa aja ya, beda lagi kalau sama lo, lo baru beberapa meter sama Daru aja udah tremor." Yara tak terima disindir.
"Sama gue aja, enggak ada tremor-tremornya." Rayi memasang wajah cemberut. Ia lama-lama juga muak Daru terus yang dibahas.
"Dih, cemburuan." Mita seperti tidak ada respect. Ia memang tidak peduli pada Rayi.
"Udah deh, jangan bahas Daru." kini Rayi terus terang. Ia mengunyah bakwan dengan dengusan.
Yara tersenyum. "Iya, enggak lagi." meski obrolan ini berakhir, degup Yara belum juga usai. Ia bahkan mengunyah bakwan dengan wajah berseri-seri. Macam orang menang lotre 15 juta.
"Gue ngerubah cita-cita boleh enggak Yi?" kini Mita menatap pacarnya.
"Emangnya lo punya cita-cita Mit?" balas Rayi menyakitkan hingga akhirnya ia mendapatkan hadiah tampol.
"Tolong dong Ra, tukar tambah pacar di manaaa!!" seru Mita kesal. Rayi dan Mita memang tidak pernah akur, Rayi yang usil bertemu Mita yang macam penjual terompet. Hampir tiap hari mereka baku hantam, baku mulut. Lagi-lagi Yara tertawa melihat tingkah mereka. Lucu.
"Gue mau tukar rugi," Rayi tak mau kalah.
"RAYIIII!!! Lo jahat banget sih." teriak Mita mulai jualan terompet.
Yara berdiri, takut kena imbas dari pertengkaran random temannya. "Gue ke kelas dulu ya."
Mita menoleh ke arah Yara yang sudah berdiri. "Mau kemana looo!! Masih sepuluh menit lagi kalii!!"
"Dosennya ngadain kuiiis!" alibi Yara.
"Eh jangan ngaco ya. Mana ada pertemuan ke dua ngadain kuis!"
Yara tetap bergeming, ia meninggalkan Mita dan Rayi di kantin. Pertengkaran mereka tetap berlanjut.
Ketika Yara sudah tidak terlihat di kantin, tiba-tiba seseorang berjalan sejajar dengannya. Menyamai langkahnya yang santai.
"Dari kantin?" tanyanya. Manusia dengan tinggi 177 cm itu menutupi kepalanya dengan hoodie, sepertinya hoodie menjadi outfitnya di kampus.
Yara mendongak, melihat siapa pemuda yang ada di sampingnya. Daru! Itu Daru Han. Yara langsung panik, takut-takut ada yang tahu mereka berjalan sejajar.
"Tenang aja, kan aku pake ini." Daru menunjuk penutup kepalanya, bahkan wajahnya tenggelam di tudung kepala yang begitu maju.
"Kamu habis dari mana?" tanya Yara yang sudah agak tenang.
"Beli air minum, mumpung kantin agak sepi." Daru mengangkat satu botol air mineral.
"Kenapa enggak nitip aku aja, dari pada kamu diliatin banyak orang." Yara menatap jalan di depannya. Lorong itu agak sepi, jadi mereka dengan bebas berjalan.
"Beneran? Ntar ngerepotin." Daru nampak senang. Yara kaget jika Daru menganggap ini serius.
"Iya, chat aja, nanti aku bawain." lagi-lagi mulut Yara durhaka. Kenapa ia mengatakan hal-hal yang sok baik.
"Wah, baik banget sih kamu Ra." kini Daru menepuk pundak Yara. Membuat gadis usia 19 tahun itu menegang sejenak. Yara diam membeku, ia kelu karena terlanjut kaget.
"Ohya, kelasnya Pak Irwan kan disuruh buat riset. Kita sekelompok lagi ya?"
Tawaran Daru membuat Yara makin membeku, bahkan kini ia berhenti melangkah. Yara menatap Daru yang masih senyum.
Duh, kenapa sih Daru harus menjadi manusia paling ramah? Kan jadi enggak beres nih hati gue.
"Enggak usah takut, aku bakal bantuin ngerjain kok. Suer." lagi-lagi senyum Daru melebar. Kini jantung Yara berdetak tidak normal.
Kenapa sih, lo harus artis?
•••