Yara sebenarnya manusia yang realistis, ia tidak akan membayangkan sesuatu yang dekat dengannya. Ia hanya akan memikirkan Oppa-oppa Korea sebagai bahan haluannya. Namun, kini gara-gara ucapan konyol dari Mita semalam menjadikan Yara kehilangan kewarasannya. Yara memikirkan yang tidak-tidak soal Daru, lah naksir, lah Daru punya rasa dan perasaan tipuan lainnya. Bahagia, namun tidak jelas kebahagiaannya, mau sedih, iya ia memang harus sedih. Nyatanya, ucapan Mita tidak ada benarnya.
Yara mengutuki dirinya dan Mita, kalau saja Mita tidak sesumbar dan tidak mengatakan yang tidak-tidak. Sekarang, pasti Yara waras, pasti di akhir pekannya ia tidak akan menunggu Daru menghubunginya.
"Gue enggak nungguin Daru. Gue cuma nungguin pertanggung jawabnya soal tugas." Yara berkata pada dirinya sendiri ketika tiap dua detik mengecek ponselnya. Kemudian Yara fokus menatap layar laptopnya.
"Dari pada ngarepin Daru, mendingan gue fokus nyari bahan. Percuma gue ngarepin Daru, yang diarepin enggak bisa dipercaya." ucap Yara lagi pada dirinya sendiri. Kini ia membaca jurnal ilmiah yang terpampang nyata di layar laptopnya. Lusa sudah waktunya presentasi dan pengumpulan tugas.
Yara akhirnya kembali fokus pada tugasnya, ia sibuk membaca dan menulis ulang bahan materi yang ia buat. Bahkan sudah berlembar-lembar Yara menulis di buku catatannya.
Waktu berjalan satu jam, Yara sudah merasa mendapatkan semua bahan presentasinya. Kini tinggal mengubahnya di power point.
Ketika Yara sedang memilih template power point, Yara kembali terpikir.
"Kalau gue pakai pink ginian, nanti Daru enggak suka. Ganti ah." Yara menggeser template berwarna pink itu. Kini ia melihat-lihat template lainnya, pilihan Yara berakhir di warna biru dongker.
"Pake ini aja, kan cocok sama Daru. Dingiin." ia masih tidak henti-hentinya berbicara sendiri. Kini ia malah sibuk memilih template yang akan ia gunakan presentasi. Memilih template ternyata menghabiskan waktu 15 menit. Yara sibuk memikirkan modelnya, yang dipikirin malah belum menelpon.
Yara berhenti beraktivitas, tangannya berhenti menggeser kursor. Ia kini melirik layar ponselnya. Yara diam-diam menantikan telepon dari Daru.
Drrttt...
Getaran itu mengagetkan jantung Yara, ia sempat terlonjak takut-takut itu Daru. Namun harapannya pupus, nama Mita menjadi penelpon pagi ini. Yara mendengus melihat nama manusia yang dibencinya terpampang di layar ponselnya.
Yara mengangkat telepon Mita.
"Halo, ngapain lo nelpon pagi-pagi." jawab Yara ketus. Ponselnya ia jepitkan di bahu dan telinganya.
"Pasti Daru belum nelpon nih." sahut Mita tanpa perasaan. Sudah tahu Yara lagi sensi, malah problem masalahnya dibahas.
"Gue sibuk nih. Kalau lo cuma bahas Daru, gue matiin nih telpon." tanpa babibu, Yara memang benar-benar jengah dengan manusia bernama Mita.
"Iya deh iya. Sibuk apa sih, sohib gue yang paling cantik." goda Mita. Yara jijik namanya dipanggil sok imut.
"Gue lagi nugas, Senin kan ada presentasi." Yara mulai meredakan emosinya. Kini bahkan ia menjawab dengan jelas pertanyaan sohibnya.
"Wih, libur pertama kok udah sibuk aja sih."
"Iya nih, gue ngerjain sendirian." Yara memainkan pulpennya, mencoret-coret abstrak cover buku catatannya.
"Ini tugas yang sekelompok sama Daru?"
Tuhkan, selalu saja tiap permasalahan berakhir dengan Daru. Yara kan jadi bete bahasnya.
"Udah deh, jangan bahas Daru. Udah ya, gue tutup." Yara menutup telepon dengan sepihak. Ia benar-benar tidak ingin memulai pembahasan soal Daru.
Yara belajar tentang masalah semalam, ia membiarkan Mita membahas Daru habis-habisan, dan itu berakhir dengan perasaan galau yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Yara mencoba kembali fokus pada tugasnya. Ia kini sudah memilih template power point.
Drtrr drtt...
Meski hanya getar, itu mengganggu Yara. Ini pasti Mita, pasti dia marah karena telepon dimatikan sepihak. Yara meraih ponselnya, segera mengangkat suara getar itu.
"Mit, bisa enggak sih, lo jangan nelpon gue dulu. Gue lagi repot nugas niiih." Yara mengomel di awal telepon. Sebelum Yara matikan, ia ingin mendengar Mita meminta maaf padanya.
"Halo, Yara. Ini Daru..." bukan suara harapan Yara. Namun suara itu juga menjadu suara yang ditunggu Yara semalaman jenuh, dan pagi ini. Yara mendengar suara itu. Telepon dari Daru.
•••
Baru juga satu minggu menjadi mahasiswa, Daru ingin menyerah karena jadwalnya terlalu sibuk. Pagi kuliah hingga siang, sepulang kelas Daru harus segera menuju lokasi syuting. Syuting hingga tengah malam dan Daru harus kembali ke rumah untuk tidur. Siklusnya seperti itu selama satu minggu ini. Daru mengeluh habis-habisan.
"Pokoknya besok aku mau istirahat. Haruuus." cetus Daru ketika ia selesai syuting tengah malam. Ia menjatuhkan badannya di kasur. Nyaman, macam dipeluk dan dipukpuk. Daru langsung tidak sadarkan diri ketika badannya berpelukan dengan kasur kamarnya. Tanpa ganti baju dan cuci muka.
Paginya, Daru masih terpejam. Tidak ada syuting di hari Sabtu dan tidak ada kuliah pagi yang membebaninya, Daru bebas tidur sampai siang. Bahkan Kak Hana juga tidak mengganggu adiknya yang sedang istirahat total. Ia paham betul bahwa kehidupan adiknya terlalu sibuk di minggu pertama jadi mahasiswa.
Pukul 11 siang, Daru membuka matanya. Ia menggeliatkan badannya yang terbaring di ranjang. Matanya mulai membicarakan diri dengan cahaya yang begitu terang mengenai wajahnya.
Daru meraih ponselnya, ia mengucek-ngucek matanya untuk membuat jernih pandangannya. Daru memicingkan mata melihat layar ponselnya, barang kali ada pesan yang penting.
Daru mendapati pesan dari Braga, ketua kelasnya.
Hallo bro, lo udah tahu kan kalau satu kelompok sama Yara?
Daru duduk dari posisi tidurnya, ia mengingat-ingat yang terjadi kemarin. Ia memang sibuk syuting sehingga ingatannya terpecah, terlebih soal tugas kuliahnya. Daru juga mulai mengingat kejadian selesai kelas. Pertemuan dengan Yara lewat di ingatannya, Daru langsung memekik keras.
"Aaaakh... Aduh!" mata Daru melek sempurna. Ia langsung meraih ponselnya lagi, mencari kontak Yara yang sudah ia simpan kemarin. Ingatan Daru juga tertuju pada ucapannya yang sudah janji ingin menghubungi Yara semalam, namun yang ada Daru malah fokus syuting hingga tertidur.
Daru menelpon Yara, dalam hitungan detik nada sambung terdengar hingga kemudian suara Yara terdengar nyaring di speaker Daru.
"Mit, bisa enggak sih, lo jangan nelpon gue dulu. Gue lagi repot nugas niiih." mendengar omelan Yara di sana, Daru ciut.
Duh, kayaknya aku salah nih. Yara kerepotan gara-gara aku. Batin Daru, ia maju mundur ingin membantu Yara, tapi posisi memang ia wajib membantu.
"Halo, Yara. Ini Daru..." ucap Daru memberanikan diri. Lalu di seberang, suara Yara mendadak hilang.
"Yara sekarang lagi di mana?" ucap Daru lagi. Ia kini harus punya mental ekstra untuk meminta maaf pada Yara. Mentang-mentang dirinya jadi artis dan sibuk, bukan berarti Daru tidak ikut meng-handle tugas.
"Aku ke rumah kamu boleh? Dari pada kamu ke rumahku." Daru memberanikan diri. "Iya, aku soalnya lagi ada free syuting." jelas Daru. Padahal Yara belum merespon sama sekali.
"Iya, ke rumahku gapapa. Nanti aku kirim alamatnya." jawab Yara biasa saja, macam tidak ada apa-apa. Sepertinya Yara memang kesal dengan tingkah Daru.
"Makasih ya Ra. Sebentar lagi aku ke sana." Daru bangkit, ia kini memang masih memegang ponselnya, namun langkahnya menuju kamar mandi.
"Kamu jangan dilanjutin nugasnya, biar aku bantu." kemudian Daru menaruh ponselnya di meja depan kamar mandi. Ia segera mandi untuk segera pergi ke rumah Yara, sesuai alamat yang dikirimkan Yara lewat pesan w******p.
Daru langsung bergerak cepat, tanpa ba-bi-bu ia segera mandi. Ia kini bahkan selesai mandi hanya 5 menit, lebih cepat dari makan.
"Enggak sarapan dulu San?" Kak Hana lewat depan kamar mandi, melihat adiknya selesai mandi Kak Hana mengernyit heran.
"Sasan nanti bisa makan di luar."
"Mau hangout?"
Daru menggeleng. "Mau nugas kuliah." Daru menaruh handuk kotor di ember. Kemudian ia berjalan melewati kakaknya.
Kak Hana menggelengkan kepalanya, bibirnya tersenyum menatap adiknya sudah sebesar ini. Bahkan, tingginya kini melebihi dirinya 10 cm. Benar-benar sudah sebesar itu Daru.
"Aku pulang nanti sore Kak, jangan dicariin ya." ucap Daru sebelum meninggalkan rumah. Kini Daru menutupi wajahnya dengan masker duckbill dan topi warna hitam. Sudah macam artis mau pergi ke mall.
•••
Akan kedatangan artis ke rumahnya, Yara kalang kabut menyuruh keluarganya untuk bersikap biasa saja. Apalagi, sifat narsis Mama Yara yang tidak tertolong takut-takut membut Daru ilfeel dan kapok main ke rumah Yara. Yara juga mengancam adiknya, Junet untuk tidak nakal ketika ada artis datang.
Paling tidak bocah usia 10 tahun itu tidak menembaki Daru dengan pistol air, atau lebih-lebih meminta Daru menggendongnya. Jangan sampai.
"Mama pokoknya enggak boleh heboh. Anggep aja temen Yara kalau main ya." Yara tak henti-hentinya mewanti.
Bahkan, Yara yang tadinya nugas dengan gembel kini sudah berdandan rapi, meski tidak menonjolkan diri, paling tidak kini Yara tercium harum.
"Gofood!" seru seorang kurir di depan. Yara yang sedang duduk gugup di ruang tamu langsung bangkit. Ia mengernyitkan dahinya, siapa nih yang pesan makanan di moment genting kek gini.
"Apa ya, Mas?" tanya Yara pada kurir.
"Ini, chicken wings sama pizza, pesanan atas nama Handaru, dikirim ke Yara." Mas-mas kurir melihat ponselnya. "Ini beneran Mbak Yara kan?"
Yara dengan cengo mengangguk. Namanya memang Yara, tapi Yara seperti tidak asing dengan nama Handaru. Siapa nih?
"Mbak Yara tenang aja, ini makanannya sudah lunas dibayar kok." ucap Mas kurir sembari menyerahkan makanan ke tangan Yara. Refleks Yara menerimanya, sembari memikirkan nama Handaru.
Yara resmi membawa kresek plastik itu, ia kini tertegun di tengah pintu.
Handaru...
Handaru...
Siapa Handaru?
Kepalanya masih ngebug memikirkan nama Handaru. Yara melangkah masuk, ia menaruh makanan di meja, di dekat laptopnya yang masih menganga.
Ting!
Bel rumahnya berdering lagi, jangan-jangan itu Mas kurir yang ingin mengambil lagi kiriman makanannya yang salah. Jadi Yara membawa kresek itu, sembari membuka pintu rumahnya.
"Ini mas, saya balikin." ucap Yara memulai obrolan. Tanpa sadar di depan pintu tidak ada Mas kurir, yang ada hanyalah Daru yang berdiri bingung.
"Kamu mau kemana Ra?" tanya Daru heran, ia kini menurunkan maskernya dan melepas topi miliknya.
Yara kaget mendapati Daru sudah berdiri di depannya. Dengan posisi berdiri canggung ia mempersilahkan Daru masuk ke rumahnya.
"Ini dari gofood?" tanya Daru sembari menunjuk bungkusan kresek yang di bawa Yara.
"Iya, kayaknya salah alamat deh. Takut jebakan juga, gimana kalau ini beracun?" Yara duduk, di dekat laptop.
"Tenang aja, itu aman kok." Daru ikut duduk di samping Yara.
"Gimana cara kamu memastikan kalau ini aman?" Yara menatap Daru lekat.
"Kan yang pesen makanan akuu." Daru menjelaskan dengan tenang.
Yara semakin bingung. "Handaru?"
Daru menghela napas, "Kamu lupa nama asliku itu Handaru?"
Yara terdiam beberapa detik, matanya memicing memikirkan sesuatu. Namun kemudian ia memekik. "Aaaah, kenapa aku bisa sampe lupa." Yara menutupi wajahnya malu.
Di saat itu juga, Mama Yara datang dengan membawa es jeruk. Seperti memang sudah disiapkan, baru juga Daru duduk, minuman sudah ada. Sebenarnya memang Mama Yara sudah berdiri di dapur, menunggu artis itu datang.
"Temennya Yara ya, diminum Mas Daru..." ucap mamanya Yara, memang, tanpa perkenalan pun Daru sudah dikenal.
"Terima kasih tante." jawab Daru sopan. Ternyata di luar dugaan, kesopanan Daru yang secuil membuat mamanya Yara langsung senang.
"Memang ya, udah ganteng, sopan lagi." puji mamanya Yara.
Mendengar mamanya sudah hampir kelepasan, Yara segera memberikan kode pada mamanya untuk segera meninggalkan area ruang tamu. Jangan sampai kelakuan norak Mama Yara menjadikan ia semakin tidak punya muka di hadapan Daru. Jangan aneh-aneh, mereka baru seminggu berteman.
"Ohya, Tante. Ini Daru bawain makanan. Kalau tante mau ini bisa tante ambil," Daru menyodorkan satu bungkus pizza, dan satu bungkus ayam goreng.
"Ah, nak Daru merepotkan. Harusnya tente yang ngejamu, malah ini bawain makanan." beda mulut beda tingkah. Ngomongnya nolak, tapi Mama Yara malah menarik makanan itu. Benar-benar membuat Yara pengen ganti kulit.
Mama berlalu, ia harus segera berlalu karena Yara senewen. Ia tidak mau diomeli Yara dan dilarang bertemu Daru lagi. Kan, Mama Yara belum sempat minta foto sama Daru, lumayan bisa buat pamer kalau arisan.
"Mana tugasnya? Biar aku lanjutin." Daru kini meraih buku catatan Yara.
"Ini aku udah dapat templatenya dan materinya tinggal nyalin." Yara ikut mendekat ke Daru, memperlihatkan laptopnya yang terbuka template power point.
"Emang ya, sekelompok sama cewek itu enak." Daru tertawa renyah, kini pandangannya terfokus pada catatan yang dibuat Yara. "Thanks ya, Ra."
Yara yang dilihat Daru sekilas langsung membeku. Ia agak speechless bisa duduk di samping artis, bahkan kini di rumah Yara. Hanya berdua di ruang tamu.
Yara menatap Daru diam-diam, ia teringat artis Korea muda, mirip Song Kang, wajahnya yang tampan namun versi Indonesia, Yara mengamati kelopak mata Daru yang sesekali berkedip. Daru yang diamati tidak tahu, ia tetap fokus pada layar laptop, tangannya sibuk menggerakan mouse.
Begini ya ternyata liat artis dari dekat. Kulitnya mulus, wajahnya teduh dan tampan. Apalah daya Yara yang macam gembel ini. Yara menatap dirinya sekilas, kulitnya kusam, bahkan sekarang Yara hanya mencepol rambutnya sembarang.
Untung saat ini mereka sedang di dalam rumah Yara, enggak habis pikir jika mereka mengerjakan di kafe. Pasti Yara bakal kena bulan-bulanan cewek.
"Ra? Ini cuma segini doang?" tiba-tiba Daru menoleh. Yara gelagapan, ia langsung mengalihkan pandangannya yang sejak tafi menatap Daru lekat.
"I-iya. Atau mau ditambah lagi?" jawab Yara mencoba biasa saja.
Yara memejamkan matanya, tadi Daru tahu enggak ya kalau gue ngeliatin dia? Daru ilfeel enggak ya?
•••