"Enggak tahu malu sih, serius. Mau gaya-gayaan deketin Daru."
"Gue yang lebih mending dari dia aja masih mikir-mikir deketin Daru, loh."
"Tapi gue akuin tuh cewek berani sih, masih maba, deketin artis. Yah meski endingnya gagal sih, hahahaha."
Ternyata gosip bahwa Yara dicuekin Daru di kantin benar-benar menyebar dengan cepat satu fakultas. Mayoritas mereka menertawakan tentang rasa kepercayaan Yara di waktu sebelumnya. Mereka pikir Daru mau didekati dengan pembuktian konyol itu?
Sejak berita itu tersebar, Yara mendadak menjaga jarak dengan Daru. Sebisa mungkin dia menghindari percakapan bahkan pertemuan dengan Daru. Pada kelas-kelas selanjutnya, Yara lebih memilih duduk nun jauh dengan Daru. Ia seperti kehilangan kepercayaan dirinya soal itu. Tidak ada lagi Yara dan Daru akrab, tidak ada lagi nongkrong di kantin bareng. Semuanya mendadak hilang dari pikiran Yara dan yang pasti Daru juga menganggap itu tidak penting.
Pagi ini, kelas Praktikum Bahasa Inggris, Yara yang duduk di ujung belakang menjorokkan wajahnya ke depan demi melihat tulisan di papan tulis. Minus satu yang dimiliki memang merepotkan, terlebih ia juga malas menggunakan kacamata. Andai Daru tidak duduk di depan, mungkin Yara akan dengan percaya diri duduk di depan sana.
"Ni, Runi. Minjem catatan ya, nggak keliatan nih." Yara nyeletuk ke arah Seruni, teman sekelasnya yang juga duduk di belakang.
"Kenapa nggak di depan aja deh lo, biar kelihatan tulisannya" balas Runi, nadanya sedikit culas. Yara yang menyadari langsung menarik permintaannya. Runi memang cenderung pelit dan sombong. Menyesal Yara meminta tolong.
"Gak jadi deh, makasih."
"Hmmm..."
Yara tahu betul alasan Seruni judes banget terhadapnya, itu karena Runi naksir banget sama Daru, sayangnya Runi kebingungan cara mendekati Daru dan hanya membenci orang yang secara teknis akrab sama Daru. Padahal kan, Yara juga udah jaga jarak pakai banget sama Daru, bisa-bisanya masih dibenci.
Yara menatap binder di mejanya, masih kosong tanpa catatan. Akhirnya Yara hanya mengandalkan pendengarannya untuk meringkas catatan kelas siang ini.
Kelas berakhir dan mulainya hari akhir pekan pertama untuk mahasiswa baru. Kesan mengikuti kelas seminggu memang cukup menyenangkan dan cukup untuk mulai beradaptasi. Yara masih terduduk di bangkunya, menunggu mahasiswa mulai keluar satu persatu, dan yang pasti menunggu Daru meninggalkan kelas agak jauh. Merepotkan banget sih, menghindari orang. Satu kelas terus pula.
Ketika di rasa kelas sudah kosong, Yara keluar kelas. Setibanya di depan pintu terdapat pemuda berdiri tegak di pintu. Hal itu membuat Yara kaget bukan main.
"Braga! Ngagetin aja lo." ucap Yara ketika Braga menampakan senyumnya ke Yara. Braga Febiano adalah ketua kelas, jadi Yara dengan mudah mengenal teman laki-lakinya itu.
"Untung deh lo belum balik, ada yang mau gue sampein ke lo."
"Lo enggak lagi mau nembak gue kan?" tanya Yara penuh percaya diri. Namun ia lakukan semata-mata bercanda.
Mendengar celetuk Yara, Braga dengan berani menjitak jidat Yara.
"Kurang ajar lo. Sakit woy!" dengus Yara. Ucapannya bercanda tapi hukumannya nyata.
"Mau ngomong apaan sih, sampe di tengah pintu gini."
"Lo kemarin kelasnya Pak Irwan diusirkan?" Braga akhirnya mengucapkan pembahasannya.
"Iya, lo tahu banget kan. Gue diusir dengan tidak hormat di depan kalian." Yara mengingat masa menyebalkan itu. Tapi ingatannya dengan seenak jidat merembet ke pertemuan dengan Daru. Kenapa sih, di saat ingin menghindari seseorang, kita semakin teringat.
"Tapi kan abis itu lo sarapan bareng Daru Han." Bahkan kini Braga malah mengatakan dengan jelas ingatan itu.
"Ga, bisa gak sih lo jangan berbelit-belit. Apaan yang mau lo sampaikan." tukas Yara, agak jengah juga sih mendengarkan nama Daru disebutkan.
"Ada tugas, buat video portofolio tentang bab pertama. Untuk silabusnya udah gue share kemarin di grup kelas."
"Iya, gue tahu kok kalau ada tugas. Gampangkan."
"Tapi ini berkelompok, dan udah dibuat kemarin pas kelas berlangsung, kelompoknya pasangan."
"Makin enak dong, ada temen ngerjainnya," Yara tersenyum. "By the way, gue satu kelompok sama siapa Ga?"
"Udah dong, gue pilihin yang cocok buat lo." jawab Braga dengan percaya diri.
"Siapa?" Mata Yara berbinar.
"Sama Daru."
"Ha!" mata Yara membulat sempurna. Yara yang berusaha menghindari Daru dengan sekuat tenaga malah dipersatukan dalam satu kelompok.
"Baik-baik ya sama artis," Braga pergi meninggalkan Yara dengan kondisi muka yang masih syok.
Disaat Yara berusaha sekuat tenaga, semesta seakan tidak mendukung usahanya.
●●●
Selama perjalanan menuju parkiran, Yara sejak tadi menggigit kuku tangannya. Meski satu kelompok dengan Daru adalah hal sederhana, tapi rasa malu, dan rasa ingin ganti kulit masih berada dalam harga diri Yara. Kejadian beberapa hari lalu, harusnya ia tidak menuruti kata Mita, mana sekarang dia sok-sokan sibuk sama tugas kuliah lagi. Membuat Yara ingin membunuh Mita aja.
Ketika Yara hampir sampai parkiran, terdapat seseorang yang menunduk di samping motornya, pemuda dengan hoodie abu-abu yang menutupi kepalanya membuat Yara mengerutkan alisnya. Siapa?
Namun selanjutnya ia segera menuju motornya, "Maaf mas, bisa geser sedikit. Saya mau ambil motor saya," ucap Yara sopan.
Yang dipanggil Mas menoleh, dan itu adalah Daru.
"Daru!" teriak Yara kaget. Namun mendadak Daru berdiri dan mendekap mulut Yara dengan tangan lentiknya yang membuat siapa saja pasti insecure. Tangan kanan Daru menuntun Yara untuk ikut jongkok dan bersembunyi di antara motor yang terparkir.
Mendadak Yara merasa malu pada Daru, namun di sisi lain ia juga merasa tidak nyaman berada begitu dekat di tempat sempit ini bersama seseorang idaman satu kampus. Namun ada baiknya mereka bersembunyi di sini, agar publik tidak melihat Yara bersama Daru.
"Ada yang pengen aku sampein," Daru berkata lirih.
Ada apa sih sama orang-orang hari ini, kenapa kata awalan itu selalu muncul. Yara berasa kayak mau ditembak, tapi Yara nggak mungkin celetuk begitu ketika Yara masih merasa canggung dengan Daru.
"Apa?" akhirnya hanya kata sederhana yang muncul dari mulut Yara.
"Besok, kamu sibuk enggak? Ikut aku yuk"
"Kemana?" lagi-lagi hanya sederhana. Abisnya, Yara dibuat speechless sama Daru sih.
"Ke lokasi syuting. Kita buat tugas videonya, untuk bahannya aku minta tolong kamu carikan kotornya. Sisanya biar aku yang urus. Kamu mau kan?" Daru menatap Yara dengan tatapan minta tolong.
Bisa-bisanya dengan mudah Yara menangguk. Habisnya ia tidak tahu mau ngapain.
"Ohya, aku boleh minta nomor w******p kamu enggak? Biar bisa gampang kontaknya." dengan senyum manis Daru yang pasti membuat cewek manapun klepek-klepek.
Minta nomor w******p? Seriusan nih? Kalem-kalem Ra, dia gitu gara-gara lo satu kelompok. Batin Yara menenangkan.
"Boleh," Yara menyerahkan ponselnya. Ketika Daru ikut serta mengeluarkan ponsel, Yara mendadak insecure karena ponsel Daru keluaran terbaru.
Daru yang seperti menyadari kekaguman Yara langsung menyahut, "kalau bukan buat endorse sama promosi, aku juga enggak bakal beli hape sebagus ini Ra."
"Ya tetep aja, beli hape segitu kayak beli permen buat kamu." celetuk Yara pelan. Tapi Daru juga mendengarnya.
"Aduh, gini nih stigma masyarakat sama artis. Ayo deh sekali-kali main ke rumah, biar kamu tahu aku tuh aslinya kayak gimana."
Sebenarnya Daru orangnya asik. Kalau bukan artis, Yara pasti bisa leluasa berteman dengannya. Tapi kenapa Yara jadi malu gini kalau ketemu ya?
Setelah Daru mendapatkan nomor telepon Yara, Daru segera menutupi wajahnya dengan kerudung hoodie.
"Nanti malam aku w******p ya," itu kata Daru sebelum pergi.
Kenapa sih, Daru nggak pakai gue-elo ke Yara, kenapa harus pakai aku-kamu? Kan Yara jadi kepedean Seperginya Daru, Yara masih speechless dibuatnya.
Bisa-bisanya artis terkenal jongkok di samping motornya sembari menunggu Yara pulang. Tapi dalam sekejap Yara langsung menggelengkan kepalanya, sebisa mungkin ia tidak membumbungkan tinggi perasaan tidak jelasnya. Ia tidak boleh kepedean cuma karena hal sepele itu.
●●●
Setelah dijunjung tinggi oleh rasa percaya dirinya, sampai malam Yara tidak berhenti tersenyum. Ia masih tidak percaya apa yang terjadi sepulang kelas tadi. Tanpa sadar ia mengecek berkali-kali ponselnya, barangkali ada notifikasi dari Daru.
Ketika Yara memandang lekat ponselnya, tiba-tiba suara dering keras sekali muncul. Suara itu berasal dari ponselnya, tertulis nama Mita di sana. Yara menghela napas, di saat begini ini manusia malah menelpon. Padahal kemarin-kemarin dia menghilang.
"Halo." akhirnya Yara mengangkatnya, meski sapa di awalnya datar.
"Halooo Yara, apa kabar niih." sapa Mita di seberang sana. Tanpa memikirkan bagaimana keadaan sahabatnya kemarin yang dicerca karena ulah gilanya. Tapi Yara baik jadi enggak boleh marah ke Mita, lebih baik memang dibuang ke laut aja.
"Menurut lo kabar gue gimana?" jawab Yara dengan nada sejudes mungkin.
"Gue rasa lo lagi bahagia. Tuh keliatan banget nada bicara lo kayak dibuat-buat."
Mendengar jawaban dari sahabatnya, Yara mendadak membelalakkan matanya, namun kemudian dia tersenyum.
"Tuhkan, gue juga bisa dengar deru napasnya nih... bau-baunya ada yang lagi bahagia nih." Mita memang paling jago kalo urusan ini. Inilah yang membuatnya dapat berteman baik dengan siapa pun termasuk Yara.
Senyum di bibir Yara semakin melebar, ia kini bahkan bersuara dengan jeritan. "Iya-iya nih, gue lagi seneng banget." aku Yara akhirnya.
"Wah kabar bahagia apa ini? Lo jadian sama Daru." cetus Mita seenak jidat. Membuat sahabatnya ini langsung memotong.
"Ih mulutnya."
"Aamiinin kek, doa baik nih." Mita tetap keukeuh dengan cetusannya.
"Ya tapikan, pacaran sama artis berat."
"Berarti ngarep nih, mau dong pacaran sama Daru." lagi-lagi Mita membuat pipi Yara memerah.
"Mita lo nyari gara-gara gue bunuh nih." Yara mencoba untuk menjaga hatinya. Menjaga biar enggak terbang tinggi. Kan bisa gila ngarep sama artis.
"Iya iya. Ampun deh." Mita akhirnya mengakhiri godanya. "Jadi hal bahagia apa yang lo rasakan sekarang?"
Yara terdiam, sekilas mengingat kejadian tadi siang. Bibirnya lagi-lagi mengulum senyum, "tadi siang Daru minta nomor gue."
Bukannya ikut senang, Mita malah memotong ucapan Yara, "bentar-bentar, lo sama Daru satu kelas kan."
Yara yang mendengar respon Mita yang seperti itu mendadak bungkam, wajahnya kembali datar karena respon Mita tidak sesuai ekspektasinya. Tapi dalam dua detik kemudian ia kembali nyengir lagi
"Lo sekelas sama Daru, dan yang pasti kalain punya grup w******p kan buat kontak." tanpa menunggu jawaban dari Yara, Mita melanjutkan ucapannya.
"Kalau memang Daru ada butuh sama lo, kenapa dia enggak langsung ngambil nomer lo di grup chat. Kenapa harus minta segala?" teori Mita menjadikan Yara memikirkan ulang kenapa Daru begitu tidak ada kerjaannya.
"Ya gue enggak tahu kalo Daru sebodoh itu." jawab Yara mencoba memperbaiki citra teman artisnya.
"Eh. Maksud gue bukan Daru bodoh."
"Terus apa?"
"Karena lo something buat dia. Kalau cuma butuh-butuh doang, ngapain repot-repot minta. Bisa aja Daru langsung chat kan. Daan itu artinya, Daru lagi modusin elu." jawab Mita mematikan. Menjadikan Yara semakin terbang dibuatnya. Yara adalah gadis yang hobby halu, hatinya riskan banget. Jangan dikasih harapan kalau memang cuma main-main. Eh ini dengan bodohnya Mita toxic soal harapan-harapan tak jelas itu.
Apa benar? Daru cuma pengen deket sama aku?
Lagi-lagi Yara dibuat bimbang. Mana mungkin seorang artis, tampan dan disukai banyak orang menaruh hati sama maba enggak jelas seperti dirinya.
Tapi teori Mita masuk akal juga. Malam itu Yara dibuat makin frustasi, ia berharap dan bahagia dengan kejadian siang tadi, namun juga gelisah karena sampai sekarang Daru tidak menghubunginya.
●●●