Daru tak pernah menyadari hidupnya akan dijungkirbalikkan seperti ini. Namanya yang dipuja-puja kini orang sudah mencercanya. Jika kemarin ia baru saja tertawa dan berbangga ria dengan hubungan barunya. Kini, apa yang mau dibanggakan. Sejak kepalanya penuh semalam, kini Daru malah tak sanggup bangkit. Jangankan untuk membungkam kesalahpahaman itu, untuk duduk saja kepalanya seperti dihantam batu besar. Daru jatuh sakit. Begitupun dengan Kak Hana. Subuh tadi, di saat Mbak Desi baru saja datang. Kakak adik itu sudah tergeletak saling berpelukan di kamar. Tubuh mereka menggigil dan mereka menangis. Hana demam tinggi sedangkan Daru sesak napas. Ketika pikirannya begitu runyam, ia hampir kehilangan nyawa. "Kenapa nggak nelfon Mbak Desi sih semalam." itu yang Mbak Desi lontarkan saat meliha

