Melihat bagaimana tingkah Prita yang sudah mulai keterlaluan. Yara tanpa sadar menunjukkan ketidaktarikannya pada tiap percakapan yang Prita lakukan. Yara mulai menjaga jarak dan terkadang lebih mengabaikan cerita-cerita Prita yang penuh dengan antusias.
Padahal Yara adalah sosok yang periang dan mudah bergaul, namun bersama Prita, ia menjadi orang yang paling menarik diri.
Percakapan hanya didominasi oleh Braga dan Prita yang mencoba akrab dengan orang di sekitar Daru. Harusnya nggak boleh diganggu, kan ini lagi ngerjain tugas. Emangnya Prita nggak tahu ya kalau yang namanya senggang sama enggak itu kayak gimana.
Daru menyadari ada perbedaan degan sikap Yara, selama obrolan mereka ketika mengerjakan tugas, Yara lebih terlihat banyak diam dan menatap Prita dengan tatapan tidak nyaman. Meski Daru tidak tahu apa penyebabnya, namun ia cukup khawatir. Daru takut apa yang terjadi membuat keduanya tidak nyaman, baik Yara maupun Prita.
“Kok lo bisa sih, deket banget sama Daru?” tanya Prita ke Yara, melontarkan pertanyaan itu lagi, bukankah tadi sudah tidak bisa dijawab, ekspresi Prita menunjukkan ketertarikan dengan Yara, bahkan mendekatkan jaraknya dengan Yara. Membuat Yara sedikit mundur ke belakang untuk tidak terlalu dekat.
“Kan gue sekelas sama dia.” Jawab dia dengan apa adanya. Jawaban untuk menjaga aman jika banyak yang nanya akrab. Memang jawaban itu sudah menjadi bekalnya jika ditanya.
Prita mengerutkan bibir dan dahinya. “Perasaan, gue nggak bisa seakrab itu deh kayak lo. Padahal kalau dilihat-lihat, gue lebih deket dan ketemu tiap hari sama Daru.”
Skakmat. Pertanyaan Prita kini tidak bisa dijawab Yara. Daru sendiri yang menyadari ada pertanyaan seperti itu langsung dibuat gusar. Daru menatap manik Yara yang membeku. Ingin sekali menimpali namun ia bingung harus berbuat apa.
Apa yang dikatakan oleh Prita memang benar, sesering apapun mereka bersama, Prita memang tidak bisa mengambil hati dan akrabnya Daru. Harusnya ia tidak menanyakan hal itu dengan terang-terangan di depan Yara dan Daru.
“Masak sih Prit, gue sama Daru juga akrab lho.” Braga ikut berceletuk. Tapi Daru nggak tahu, ini bisa menjadi bumerang atau membantu. Pasalnya, bukan ini jawaban yang Prita mau—bisa saja begitu.
“Ah, kan beda Ga. Lo cowok, wajar aja. Tapi ini Yara cewek, konteksnya beda banget. Apalagi sejak gue kenal Daru tahun lalu, dia itu orang yang cuek dan bodo amat. Apalagi soal cewek. Makanya gue heran.” Benar, apa yang dilontarkan oleh Braga tidak menjadi jawaban yang memuaskan untuk Prita. Itu hanya akan menambah masalah yang semakin tidak bisa diselesaikan oleh Daru dan Yara.
Satu-satunya yang mereka harapkan adalah sebuah keajaiban agar Prita tidak menanyakan hal yang lebih lagi. Tapi itu mustahil sekali, dan sepertinya juga tidak semudah itu.
“Ru, lo kenapa sih dingin sama gue?” tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Braga. Prita menoleh ke arah Daru. Daru sendiri langsung mematung saat sorot mata Prita menuju dirinya.
“Eh… kata siapa? Gue akrab kan sama lo.” Jawab Daru sebisanya.
“Masak? Gue ngerasa enggak tuh.” Kenapa sih, Prita hobby banget nyari gara-gara. Padahal Daru sudah mencoba baik hati untuk tidak mencari gara-gara.
“Paling karena kebanyakan acting, jadi gue nggak bisa bedain harus gimana. Coba deh lo ngobrol bareng gue di luar syuting, pasti beda kayak mereka-mereka.” Jawaban Daru semakin kacau. Ia sendiri bahkan tidak tahu apa yang ia bicarakan.
“Bener ya Ga?” Prita melakukan validasi dengan Braga.
“I-iya. Daru kalau syuting suka lupa diri. Beda lagi kalau di kampus, ramah banget. Gue aja sering ditraktir sama dia.”
“Bener ya Ra?” kini, Prita menoleh ke arah Yara.
“Iya, Daru emang bener sesuai dengan yang dibilang sama Braga.”
“Hmmm… tapi bener kan? Daru akrab kalau di luar. Awas aja kalau emang cuek dan sama aja. Kan gue mikirnya kalau Daru benci sama gue.” Prita tak henti-hentinya berbicara.
“Nggaklah Prit. Ngapain gue benci sama lo.” Sahut Daru cepat. Daru nggak mau chemistry kerjanya bareng Prita bisa hancur karena persepsi yang hampir saja mendekati kenyataan. Lebih tepatnya, bukan benci, lebih ke cranky jika sifat Prita yang over muncul.
“Ya udah kalau gitu, gue pengen main ke rumah lo atau ke kampus lo deh. Boleh kan?”
Daru membulatkan matanya, tidak menyangka pertanyaan Prita akan sejauh ini. kenapa Prita menjadi berbahaya seperti ini. Daru juga menoleh ke arah Yara, siapa tahu Yara bakal marah jika mendengar respon Prita terlalu sedekat itu.
“Eung, boleh deh. Silahkan aja.” Jawab Daru mau tak mau.
Maafin aku Yara, batinnya dalam hati. Karena Daru tahu, meski tidak terlihat Yara akan tersiksa melihat ini. bukankah dulu sebelum pacaran Yara sudah dibuat tersiksa dengan yang terjadi, kini di saat Yara sudah menjadi pacarnya dan sudah mendapatkan lisensi kepemilikan, makin dibuat panas dengan apa yang terjadi di depannya.
“Okey, seneng dengernya. Gue bakal main ke rumah lo terus kalau senggang.” Prita merangkul Daru tanpa malu-malu. Seperti mereka memang sudah akrab dan tak peduli jika Yara harus menahan cemburu dan perasaan mindernya dalam waktu yang sama.
Daru sendiri agak kikuk saat mendapat pelukan tiba-tiba itu.
Baik Daru maupun Yara, harus mengerti resiko memiliki pacar rahasia memang seperti ini.
Namun diam-diam, Braga mendekati Yara, menguatkan teman dekatnya itu. “Gue tahu apa yang lo rasain kok, Ra.” Bisiknya dengan amat sangat pelan. Namun Yara dapat mendengar itu dengan jelas.
Braga dan Daru tahu bahwa d**a Yara sedang dibuat panas, melihat artis lawan mainnya berlaku mesra di luar layar, bukankah itu di luar jam kerja?
•••
Harusnya setelah bertemu Daru Yara menjadi senang dan merasa lebih baik. Apalagi Kak Hana respect sekali dengannya dan semuanya berjalan dengan baik. Braga mengertinya dan Daru juga nggak cuek. Namun hanya karena kehadiran Prita yang singkat membuatnya tidak karuan. Merusak moodnya dan membuat Yara marah, sebel, dan sedih—karena tidak bisa menjadi sebaik Prita.
Malam ini, di saat waktu sudah menunjukkan pukul satu. Yara belum terpejam sama sekali, ia menatap nanar layar ponselnya. Sepi. Biasanya jam segini Daru sedang selesai syuting, dan Yara sama sekali belum terpejam.
Yara lagi-lagi, menggali lubang kuburannya sendiri. Ia membuka i********: dan membuka akun i********: Prita, gadis yang menjadi gangguan dalam kepalanya. Semoga saja tidak menjadi pengganggu dalam hubungannya.
Rasanya pengen cerita ke Daru, tapi itu takut membuat Daru tidak fokus kerja dan malah membuatnya khawatir dengan keadaan Yara yang tidak penting jika harus diperpanjang
Yara cuma minder dan cemburu. Apa yang mau diperbesar dari masalah ini? Bukankah itu hanya akan mengganggu Daru yang sibuk? Sudah jelas iya, Daru bakal ngerasa keganggu.
Tapi, itu tetap saja membuat Yara tidak nyaman. Sebentar lagi ia akan berjumpa dengan waktu sibuknya, ulangan tengah semester pertamanya harus dibuat tidak tenang dengan masalah sepele itu.
Kling.
Ada notifikasi masuk dari Daru, membuat Yara mengerutkan keningnya saat membaca pesan singkat itu. Kenapa Daru harus mengirim pesan di saat kepalanya sedang penuh oleh pikiran Daru.
Udah tidur Ra?
Yara sedikit mengembang hatinya. Ia rindu saat yang seperti ini. Daru memang kerap mengirimi pesan Yara pukul satu malam, dengan format pesan yang hampir selalu sama. Karena saat inilah, Daru pulang dari syutingnya. Jika Yara belum tidur akan dibalas, jika sudah tidur ya diabaikan aja sampai ketemu paginya.
Belum.
Jawab Yara singkat.
Bisa keluar nggak? Aku ada di depan.
Membaca pesan itu, d**a Yara dibuat tak karuan. Di saat Yara sedang kacau seperti ini mendadak harus menemui pacar sempurnanya. Pasti memalukan sekali.
Untuk jaga aman, Yara segera meraih hoodie milik Daru yang memiliki kerudung, lalu mengikat kencang tali kerudung untuk menutupi kepalanya yang berantakan.
Ada apa?
Tanya Yara sebelum keluar, ia bisa keluar sekarang, namun Yara nggak boleh jual murah.
Sesuatu. Pokoknya. Aku udah berdiri di samping pagar nih, sendirian lagi. Aku juga bawa es coklat favorit kamu.
Membaca itu membuat Yara segera bangkit dan keluar dari kamar. Lampu ruang tamu yang sudah mati membuat malam semakin meremang. Yara mengintip sedikit lewat kaca rumahnya. Memastikan bahwa apakah benar Daru ada di depan rumahnya.
Benar saja. di samping gerbang, ada sosok laki-laki sedang berdiri. Tatapannya lekat menatap rumah Yara. Jadi benar Daru ada di sini, Yara semakin dibuat malu.
kling.
Pesan masuk lagi bahkan di saat Yara belum membalas pesan Daru.
Udah jangan ngintip, aku tahu kamu ada di sana cepetan keluar.
Membaca pesan itu membuat d**a Yara semakin terpacu dan bingung. Yara memang kangen Daru, tapi untuk menemukan di tengah malam begini aneh saja rasanya.
Setelah mengumpulkan kekuatan untuk menemui Daru, Yara membuka kunci pintu utamanya. Sesaat, pemandangan malam yang sunyi menyembul di depannya.
Yara berjalan perlahan menuju gerbang dan segera membuka pintu gerbang. Namun, di saat itu juga, Daru menatapnya manja. Perasaan senang dan rindu beradu menjadi satu.
Ceklek.
Gerbang itu terbuka. Dalam hitungan detik, Daru segera menyambar Yara dengan pelukan. Pelukan yang bahkan Yara belum siap terima. Namun Yara tak mau menolak, dipeluk Daru seperti ini membuat malamnya yang dingin mendadak menjadi hangat.
"Ra, maafin aku ya." lirih Daru.
Mereka masih di dalam pelukan, maka saat Daru mengatakan itu, pikiran Yara langsung kemana-mana. Membayangkan kesalahan apa yang sudah Daru lakukan.
"Untuk apa Ru?" Yara bertanya, ia mendongakkan wajahnya melihat Daru.
"Untuk semuanya. Maafin belum bisa jadi pacar yang baik buat kamu." tambah Daru lagi. Namun itu masih belum bisa ditanya Yara sepenuhnya.
Yara mencoba melepas pelukan Daru. Yara ingin mengerti lebih jelas apa yang Daru katakan tadi. Rasanya memang ada sesuatu yang nggak beres.
Namun segera Daru mengeratkan pelukannya. Lebih erat dari awalnya.
"Izinin aku peluk kamu kayak gini lebih lama. Aku nggak pernah bisa melakukan ini dimanapun. Maka, biarkan tetap begini ya." ucap Daru saat itu juga. Suara Daru yang lembut membuat Yara meleleh. Meski Yara sendiri tahu bila Daru sudah kerap melakukan ini di depan layar kaca.
"Ada apa Ru?" tanya Yara penasaran, "Ada apa sampai kamu datang ke sini?"
"Kangen." jawab Daru singkat. Namun kata itu bisa melambungkan Yara bersama gemintang.
"Sama." jawab Yara dengan malu-malu.
"Aaaa, seneng bangeeeeet." Daru semakin memeluk erat Yara, membuat gadis 18 tahun itu hampir kehilangan oksigen.
Meski begitu, Daru memang selalu menjadi obat terbaik untuk keresahannya yang tidak memiliki dasar yang jelas. Pelukan mereka berjalan cukup lama sekali. Di antara sepinya kompleks, mereka saling memberi kehangatan dan meredakan lelah mereka.
Pelukan yang sulit sekali mereka lakukan hanya karena status Daru sebagai artis, rasanya memang menyiksa seperti ini. Daru menatap Yara, lalu mencium pucuk kepala Yara yang terbalut kerudung hoodie.
“Ini kenapa pakai ginian. Kan aku nggak bisa cium rambut kamu.” Ucap Daru sembari mencoba melepas kerudung Yara. Namun segera Yara tepis tangan Daru.
“Hih, jangan. Rambut aku berantakan.” Jawab Yara jujur, bukankah tadi dia mencoba menutupi itu, lalu kenapa dia malah mengatakan itu dengan terang-terangan.
“Nggak papa, ah. Aku juga kucel banget baru kelar syuting.”
“Tapi kan kamu ganteng, mau kucel atau nggak tetep aja nggak ada bedanya.” Jawab Yara jujur, tapi juga kesal melihat pacarnya bisa-bisanya merasa tidak sempurna.
“Akhirnya dikata pacar sendiri ganteng. Perlu syukuran.” Daru terkekeh mendengar jawaban Yara.
“Ru, emangnya kamu kalau ke sini nggak ganggu Kak Hana?” tanya Yara sembari menatap mobil yang terparkir di luar gerbang.
“Kak Hana udah pulang duluan sayang, ya kali aku main ke sini mau ngajak kakak. Ntar malah dikata nggak berani.”
Yara bernapas lega, soalnya kan kalau memang ada Kak Hana Yara malu banget. “Ya udah yuk duduk di bangku aja, nggak capek berdiri terus.”
Daru mengangguk, melepas pelukan Yara dan merangkul Yara menuju bangku teras rumah Yara. Namun sebelum Daru duduk, ia malah berlari menuju mobilnya.
“Bentar mau ambil makanannya bentar.” Seru Daru dengan lucu.
Yara tersenyum, melihat tingkah Daru yang absurd menghibur hatinya malam ini. Sungguh manis romansa yang Yara alami.
Dalam hitungan detik, Daru sudah kembali dengan menenteng satu bungkus makanan dan dua es coklat. Yara mengerutkan keningnya, “Kamu beneran beli es malem-malem? Dingin lho?”
Daru menaruh bungkusan bawaannya di meja dekat bangku Yara, “Nggak dingin kok, percaya sama aku. Aku sengaja bawain ini biar perasaan kamu adem. Kan aku tahu kamu membara terus sejak tadi sore.”
Yara menatap Daru sengit, “Apaan sih.”
“Kok marah sih, aku pulang nih.”
“Pulang aja sana.” Yara tidak mempan dengan ancaman Daru. Karena Yara yakin Daru nggak mungkin pulang lah, Daru aja lagi kangen-kangennya sama Yara.
Benar saja, Daru tidak bangkit. Malah memeluk Yara dengan erat, membuat pacarnya tidak bisa bernapas seketika. “Nih makan, makan!”
“Akhhh…. Sungguh cinta ini membunuhku.” Seru Yara dengan napas tersengal-sengal. Daru sendiri malah tertawa melihat ekspresi Yara yang seperti ikan kehabisan napas. Serem juga ya Daru, agak psikopat.
Mereka menikmati waktu berdua mereka, setelah lama saling menjaga jarak dan Yara dibuat tidak karuan perasaannya. Ia dapat kembali bertemu Daru dengan rasa rindunya yang luar biasa. Daru juga seperti merasakan hal yang sama kangennya dengan Yara. Ia rela mampir tengah malam hanya untuk menyembuhkan rindu mereka.
Mereka menikmati makanan ringan dan minuman dengan tawa ringan di malam yang sudah menuju paling gelap. Pukul satu malam bahkan di saat semua orang terlelap, Yara dan Daru menikmati malam dengan tawa dan saling menghangatkan.
“Ra?” suara Daru yang serak memecah kehangatan yang sudah mereka ciptakan.
“Iya?” sahut Yara dengan cepat, rasanya ini akan menjadi percakapan yang serius.
“Kamu kalau ada masalah bisa cerita ke aku.” Daru menatap manik mata Yara dengan serius. Jujur ini menjadi kekhawatiran Daru sendiri saat melihat Yara tidak begitu menikmati moment yang kerap mereka nikmati.
“Hmm… nggak ada kok.” Yara langsung menggeleng, rasanya memang tidak ada masalah yang perlu diceritakan.
“Aku tahu mata kamu nggak bisa bohong.”
Yara terdiam, ia tidak bisa mengelak hal itu. Matanya memang adalah pintu kejujuran dalam dirinya. Yara memang tidak bisa acting sehandal Daru.
“Ada yang jahatin kamu lagi?”
Yara menggeleng.
“Tapi kenapa kamu diem aja? Pasti ada sesuatu yang kamu pikirin.” Daru semakin melembutkan suaranya.
Daru tahu betul sorot mata itu, sorot mata yang pernah Daru lihat beberapa bulan lalu. Di saat Yara mendapatkan perundungan dari orang-orang yang mengidolakan Daru. Namun, apakah hal ini masih terjadi? Bukankah Daru tidak melakukan publikasi khusus dan tidak pernah menyenggol nama Yara di mana pun berada.
“Aku cemburu Ru.” Jawab Yara dengan mengumpulkan sekuat tenaga.
“Sama?” kerut Daru. Sungguh di luar perkiraannya.
“Prita.” Jawab Yara. Nadanya melemah saat menyebut nama Prita. Bukankah dulu dia dengan getol mengatakan tidak akan cemburu dengan Prita. Bukankah dia memahami Daru bahwa apa yang dilakukannya hanya sekedar acting belaka? Lalu kenapa kini Yara malah menjadi orang yang mudah cemburu?
Daru tidak langsung melakukan pembelaan. Ia hanya diam menatao Yara, meski memang benar ini sebuah hal konyol, tapi seorang Daru tidak mungkin melakukan hal yang akan menjadi konyol. Semua punya alasan yang kuat untuk hal-hal yang dianggap remeh. Daru tidak ingin meremehkan hal itu.
“Maaf ya.” Hanya itu yang keluar dari mulut Daru.
Yara menggeleng kuat, “Nggak, harusnya bukan kamu yang meminta maaf. Itu terjadi karena memang aku belum terbiasa dengan pekerjaan kamu. Ini memang resikonya kok.”
“Ra, maafin aku ya. Nggak bisa menjadi orang biasa yang bisa bikin kamu merasa tenang. Maaf.” Daru memeluk Yara. Daru menyadari dirinya terlalu egois, ia selalu memuaskan rasa senangnya dan melupakan bahwa Yara juga berhak mendapatkan perasaan itu.
“Nggak papa kok Ru. Aku bakal mencoba untuk terbiasa dengan hal ini.”
“Maaf ya.” Kata maaf selalu terlontar dari bibir Daru. Membuat Yara tak bisa menahan tangisnya, diam-diam, di dalam pelukan Daru, mata Yara basah.
•••