Prita tidak main-main dengan ucapannya beberapa pekan lalu. Saat mengatakan ia mau main ke rumah Daru, hal itu benar-benar ia lakukan hari ini. DI Pagi-pagi buta Prita sudah berdiri di gerbang rumah Daru, mengenakan training dan kaos, sepertinya Prita sedang ingin olahraga.
Hal yang sangat langka, bagaimana bisa Prita ada di sini bahkan di saat semua kru syuting sedang terlelap. Ya, mereka telah melakukan syuting sampai subuh dan Prita datang ke rumah Daru saat itu juga bahkan Daru saat itu belum bangun.
Tingtong!
Prita menekan tombol bel gerbang. Dalam hitungan menit muncul Mbak Desi dengan tas yang dicangklong di tangan kirinya.
"Halo Mbak, Daru ada nggak?" tanya Prita saat dibuka kan gerbangnya oleh Mbak Desi yang mau ke pasar.
"Eh, hallo Mbak Prita. Duh, mas Darunya ada tapi masih tidur. Kan baru pulang subuh tadi sih." Mbak Desi mengenal Prita dengan dekat, Prita dulu kerap bermain di rumah Daru.
"Eh iya Mbak, nggak papa Mbak aku masuk aja." Prita tak keberatan dengan apa yang diucapkan Mbak Desi. Tak peduli sang pemilik rumah sedang tidur atau tidak. Kan nanti Daru juga bangun sendiri.
"Beneran? Emangnya Mbak Prita nggak butuh istirahat? Kalian sama-sama pulang subuh tadi kan?" Mbak Desi ragu, tampak kerutan di bawah kelopak matanya, sedikit menggelap. Jelas sekali Prita belum cukup istirahat. Bahkan Mbak Desi bisa bertaruh jika Prita belum memejamkan matanya sejak semalam.
"Ah, aku mah udah cukup istirahat Mbak. Ini malah lagi joging. Mau ngajak Daru juga, siapa tahu dia mau." dustanya, joging dari mana? Prita kali ini malah kabur dari rumah dan tidak membawa ponsel sama sekali. Karena Prita tahu, benda itu akan menjadi buntutnya yang membuat manager-nya harus mencari.
Sepertinya, jawaban Prita tidak meyakinkan. Lihat saja, di mana letak wajah cukup istirahat itu. Bukankah itu jelas sekali jika Prita kurang tidur.
"Bolehkan? Prita masuk?" tanya Prita menanyakan Mbak Desi.
Sebenarnya Mbak Desi bukannya mau melarang Prita untuk main ke rumah Daru, tapi melihat bagaimana kondisi Prita yang seperti ini membuat hatinya prihatin. Rasanya jahat jika Prita tidak banyak istirahat hanya karena memaksa diri main ke rumah Daru.
"Iya nggak Papa, tapi kalau kamu capek, istirahat di dalam ya." ucap Mbak Desi prihatin.
"Siap Mbak." sahut Prita dengan semangat.
"Kalau Prita haus bisa cari minuman di kulkas yang warna abu, itu di sana banyak makanan dan minuman." Mbak Desi masih tidak bisa menyembunyikan wajah khawatirnya.
"Iya Mbak tenang aja, Prita lagi diet, jadi makannya dikit aja. Hehe."
"Ya udah, Mbak mau ke pasar dulu. Tiga jam lagi, semua orang bakal bangun, jadi harus mateng sebelum semuanya bangun. Kalau Mbak Prita mau makan di sini juga nggak papa."
"Wah boleh banget tuh Mbak."
"Iya udah, masuk aja. Tapi masih pada tidur." ucap Mbak Desi sebelum benar-benar pergi meninggalkan Prita.
"Makasih ya Mbaaak." teriak Prita. Wajahnya senang sekali bisa masuk ke rumah Daru lagi, sudah lama sekali tidak pernah ke sini.
Prita memang ada niatan untuk datang ke sini, sudah lama sekali Prita ke sini. Lalu kini, saatnya ia datang. Setelah melihat bahwa ini akhir pekan dan syuting sedang libur. Meski cukup terlalu memaksakan diri untuk datang sepagi ini dan datang dengan kondisi tubuh yang lelah banget.
Prita memasuki rumah Daru, meski sepi, Prita dengan santai melihat sisi rumah Daru. Masih sama. Batinnya dengan tersenyum. Memandangi semuanya dengan perasaan senang. Prita melihat foto Daru masa kecil, bagi Prita itu adalah foto termanis yang pernah ia lihat.
Daru yang baik hati, yang polos dan pendiam, selalu membuat hati Prita penasaran. Ia tidak tahu mengapa hatinya akhir-akhir ini merasa ada yang berbeda. Sisi Daru yang berubah akhir-akhir ini membuat Prita juga berubah.
Prita berjalan menuju pintu kamar Daru yang tertutup, tidak dikunci, Prita membuka kenop pintunya perlahan dan melihat Daru masih tertidur dengan lelap di sana. Menutupi wajahnya dengan bantal dan terlihat tampak kelelahan. Prita memang kerap melihat Daru tidur di lokasi syuting, namun melihat Daru tidur di kamar membuatnya menghangat.
"Daru kenapa sih, lo bikin gue kayak naik roller coster." tatap Prita. Daru dulu memang menyebalkan, namun saat ada seseorang yang meraih hatinya, Prita merasa seperti ada yang hilang. Prita nggak mau kehilangan Daru dan segala sikap ramahnya, meski ia sendiri juga mendapatkan sisi dingin itu.
Prita menutup pintu kamar Daru, dengan sangat perlahan.
Prita menoleh ke arah pintu kamar Kak Hana yang masih terkunci rapat. "Pasti Kak Hana juga lagi tidur." lirihnya.
Artis usia 20 tahun itu menghela napas lelah, matanya terasa panas namun dia nggak tahu kenapa bisa sampai di sini. Harusnya ia tidur di rumah untuk mengistirahatkan tubuhnya. Namun hanya karena melihat bagaimana mesranya Daru dan Yara membuat Prita tidak ingin tertinggal.
"Ah, bosen banget gue nggak ada hp." keluhnya, rumah ini benar-benar sepi. Semua orang masih terlelap di sini dan Prita juga ngantuk.
Melihat tidak ada kehidupan yang berarti di sini, Prita akhirnya duduk di bangku sofa ruang tamu Daru. Terduduk dengan lemas memandangi langit-langit ruang tamu Daru.
Apa yang diucapkan Mbak Desi tadi benar terjadi, semua apapun Prita menahan kantuknya, ia tetaplah lelah. Perlahan-lahan, Prita kehilangan kesadarannya dan terjatuh tidur di sofa pagi ini. Di ruang tamu Daru dan tidak ada yang tahu.
•••
Besok aku libur yang, yok main ke rumah. Mbak Desi mau masak enak katanya. Aku jemput ya.
Satu pesan yang menghangatkan hati Yara pagi-pagi sekali,Akhir pekan adalah hari yang ditunggu-tunggu, apalagi jika ada janji yang menyenangkan. Hari ini Yara begitu excited dengan hari ini. Daru mengirimi pesan yang menyenangkan hati malam tadi. Pesan ajakan untuk datang ke rumahnya lagi. Bagaimana tidak senang, ia sudah libur dan Daru juga libur syuting. Bukankah itu adalah hari yang lengkap untuk melakukan quality time bersama.
Lagi, pagi-pagi sekali, Mbak Desi juga mengirimi pesan bahwa ia butuh teman masak pagi ini. Maka, di saat mentari pagi belum menyongsong terlalu ke atas. Yara sudah rapi dan selesai mandi. Padahal Yara kalau weekend orang yang anti dengan mandi.
Kemalasan Yara menghilang tiba-tiba pagi ini. Berbanding terbalik ketika ia harus pergi kuliah. Rasanya mengingat mata kuliah hari itu saja Yara sudah lelah. Namun hari ini, berbeda sekali.
"Mau kemana Ra?" tanya Mama penasaran, Mama mengintip Yara di kamarnya. Melihat putrinya sudah mengenakan baju paling cantik.
"Ke rumah pacar dong Maaa." jawab Yara dengan bangga. Ia menyisir rambutnya perlahan.
"Pagi-pagi gini? Emangnya Daru udah bangun?" heran Mama. Mama tahu betul jika di jam segini, Daru belum bangun.
"Emang belum bangun. Makanya Yara ke sana mau bangunin dia."
"Nggak cukup apa kemarin berduaan malem-malem?" goda Mama jika mengingat moment berdua kemarin. Di saat putrinya berduaan di luar, Mama mengintip lewat jendela kamarnya, manis sekali.
Yara kaget, ia pikir hanya dirinya dan Daru yang tahu, ternyata Mama tahu. Kan Yara sekarang jadi malu. Yara malah khawatir jika Mama akan berpikir yang tidak-tidak dan menganggap Daru anak yang nakal, padahal Daru kan terpaksa menemuinya malam-malam.
"Mama tahu?"
"Papa pun tahu."
"Maaf ya Ma. Yara kemarin nggak ngapa-ngapain kok, cuma ngobrol doang." jelas Yara, takut jika Mamanya berpikiran yang tidak-tidak tentang pertemuan malam kemarin.
"Iya nggak papa Ra, Mama tahu kok, Daru nggak mungkin bisa datang siang-siang dan nggak mudah buat ketemu. Secara jelas banget dia artis dan nggak mungkin main ke sini, terus mesra-mesraan di teras, yang ada gempar satu kompleks." jawab Mama dengan bijak. "Yang terpenting kalian semua harus bisa menjaga diri."
"Iya Ma, makasih ya." Yara menatap Mamanya dengan manja.
"Siap sama-sama. Asal jangan putus ya sama Daru. Mama kan pengen punya mantu artis." kembali lagi ke mode soak. Mamanya memang nggak pernah bisa berubah. Moment dramatis yang baru dibangun beberapa detik yang lalu amblas sia-sia.
"Mamaa kok gitu sih." cibir Yara.
Mamanya materialistis banget kalau urusan begini. Padahal pacar artis juga nggak menjamin kekayaan, memang Daru kaya raya, tapi apakah selamanya begitu. Eh, amit-amit doain putus rejeki orang. Lagi, Yara pacaran sama Daru kan bukan karena pengen dapat nama doang, memang karena cinta.
"Kamu mau ke sana pakai apa? Nggak dijemput Daru?"
Yara menggeleng cepat, meski sejak semalam Daru sudah menawarkan jemputan. Tapi tujuannya Yara memang untuk memberikannya kejutan, Yara pengen masakin Daru makanan buatan tangannya sendiri. Semoga Daru baik-baik saja ya.
"Kenapa?" kerut Mama.
"Ada pokoknya." Yara enggan menjelaskan alasannya, takut menjadi bulan-bulanan Mamanya.
"Yaudah Ma, Yara mau ke pasar dulu. Mau nemuin Mbak Desi. Nanti mau trial masakin calon suami." Yara mendekatkan wajahnya hanya untuk mengatakan 'calon suami'. Eskpresi songong menghiasi wajahnya. Hanya kepada Mama Yara berani begini.
"Aaa... Yara memang anak Mama! Sama aja!" seru Mama yang membuat ruang kamar pagi ini heboh.
"Mamaa, berisik. Yara nggak mirip kayak Mama. Yara baik hati dan lemah lembut!" sebelum mendapatkan damprat dan lemparan vas bunga. Yara segera ngibrit.
"Dasar kamu, nggak sopan banget sama yang tua." seru Mama melihat anaknya keluar rumah dengan perasaan riang.
Yara memang lagi seneng banget. Membayangkan akan menghabiskan waktu seharian di rumah Daru tanpa terburu-buru untuk berangkat syuting lagi.
•••
Sesuai dengan janji dengan Mbak Desi, Yara segera menuju pasar. Mbak Desi bilang, kalau mau jadi istri Daru harus bisa masak makanan rumah. Membayangkan itu perut Yara langsung penuh dengan bunga, senang sekali. Tapi juga sedikit panik jika Daru bakal mutusin dia karena Yara nggak bisa masak.
Yara mengendarai motornya di pagi yang masih sepi, menuju pasar yang jaraknya lebih dekat dari pada rumah Daru. Jadi hanya menghabiskan beberapa menit mengendarai sepeda motorny.
Sesampainya di parkiran pasar, Yara langsung menelpon Mbak Desi, Yara nggak mungkin memasuki pasar yang besar ini untuk mencari Mbak Desi. Hanya akan menghabiskan waktunya saja.
"Mbak Des, di mana?"
"Di pasar Ra." jawaban Mbak Desi sama sekali nggak membantu. Mungkin Mbak Desi mengira Yara bertanya apakah Mbak Desi sudah pulang atau belum.
"Maksud Yara lokasi strategisnya. Yara udah ada di parkiran." Yara menghela napas, mencoba untuk tidak ngamuk-ngamuk di depan Mbak Desi.
"Aa, hehe Mbak Desi lagi di blok C, datang aja ke sini. Eh, tapi bentar lagi Mbak Desi udah mau kelar, kamu tunggu aja di sana."
"Mbak Desi! Kok udah belanja." amuk Yara saat mendengar itu. Padahal Yara sendiri pengen banget bantuin buat belanja. Katanya tadi mau minta bantuan biar Yara bisa melayani Daru sebagai artis.
"Mbak Desi capek nungguin kamu. Kelamaan sih, ya udah belanja sendiri." jawab Mbak Desi sembari menggoda.
"Ih Mbak Desi jahat. Kan rumah Yara jauh." dumel Yara saat keterlambatannya dibahas. Bukankah hanya telat beberapa menit, padahal Mbak Desi juga bisa nunggu.
"Ya udaah, ini gimana mau dilanjut nggak?"
"Lanjut dong." Yara nggak terima jika belanjanya harus selesai di saat Yara sendiri baru hadir.
"Ya udah Mbak Desi tunggu di sini ya. Tahu kan tempatnya di mana?"
"Iya tahu. Pernah ke sini sama Mama."
"Okai ratu." jawab Mbak Desi sebelum menutup telepon.
Yara langsung bangkit dari motornya, masuk ke dalam pasar yang pagi ini ramai banget. Wajar, akhir pekan dan banyak orang tidak bekerja, jadi banyak yang ke pasar untuk belanja.
Yara awalnya sedikit bingung menemukan lokasi Mbak Desi, meski ia pernah mengantar Mamanya ke pasar, ternyata jika sendirian Yara sama saja kesulitan.
"Mati gue." Yara mendapatkan persimpangan yang tidak ada tanpa pasar. Yara kehilangan arah. tapi Yara malu jika harus menghubungi Mbak Desi dan bilang di mana, bukankah tadi dia sudah percaya diri.
Akhirnya dari pada tersesat sendirian, Yara bertanya ke salah satu penjual. "Bu, maaf, tahu block C nggak? Saya kesasar."
Untungnya, penjual itu baik. Tanpa banyak basa-basi, ibu itu langsung menunjukkan gang yang menunjukkan arah menuju block C. "Itu mbak, lurus aja, terus di sana ada persimpangan belok ya. Cari aja yang ada tukang sayur banyak, di sana block C."
"Makasih ya bu." jawab Yara dengan malu.
Yara segera menuju arah yang ditunjukkan oleh ibu itu. Tanpa butuh banyak waktu lama lagi, Yara langsung menemukan Mbak Desi yang sedang memilah sayur.
"Mbak Desiii!" seru Yara, ia berlari ke arah Mbak Desi dengan riang. Akhirnya ia bertemu dengan Mbak Desi.
“Hai Ra, nggak kesasar kan?”
“Nggak dong.” dustanya, iya dia nggak kesasarlah, kan dia tadi nanya sama ibu-ibu penjual.
“Kamu beneran kan mau bantuin Mbak masak?” tanya Mbak Desi lagi.
“Iya dong Mbak, kan Yara pengen belajar masak.” jawab Yara dengan mantab.
“Emangnya kenapa Mbak? Kok ragu? Takut Yara nggak jadi bantu ya?” tambah Yara lagi.
“Syukur deh, soalnya Mbak masak sendirian.”
"Kan biasanya juga sendiri Mbak, emangnya kenapa mbak?"
“Gini, kita tambah personil lagi buat makan ini. Kayaknya sih, agak beda gitu lauknya, Mbak nggak yakin.” jelas Mbak Desi.
Yara mengerutkan keningnya, “Siapa Mbak? Daru lagi nggak pengen makan apa-apa?”
“Bukan mas Sasan, kok.”
“Terus siapa?”
“Ada Mbak Prita di rumah.” jawab Mbak Desi ragu, sepertinya ia tahu jika dua perempuan yang ada di sisi Daru memang agak sensitif. Mbak Desi juga takut jika itu membuat Yara cemburu.
“Prita nginep di sana?” tanya Yara.
“Enggak, baru aja datang tadi sih, katanya mau ngajak Mas Sasan joging.” Mbak Desi orang yang nggak bisa bohong, tapi tetap saja ia nggak tega harus mengatakan ini.
“Yara nggak papa kan ada Prita di rumah?” tanya Mbak Desi khawatir.
“Eh nggak papa kok Mbak. Yara mah seneng ada temen Daru datang.” jawab Yara dengan mencoba biasa saja. Sebenarnya di dalam hatinya juga sedih, siapa sih yang mau masa-masa menyenangkannya harus diganggu sama orang lain. Apalagi Prita.
Bukan maksud Yara membenci Prita, tapi, mengapa harus sekarang? Seperti tidak ada hari lain yang bisa mereka lakukan selain hari ini? Yara kan juga pengen menikmati waktu bersenang-senangnya.
•••