36 — Kehadiran Prita

2091 Kata
Mungkin Yara bisa mengatakan nggak papa dengan kehadiran Prita di rumah Daru, tapi itu tetap tidak bisa menipu hatinya. Yara yang mencoba untuk biasa saja tetap saja merasa kesal. Lantaran hari ini adalah hari yang ingin ia buat untuk menikmati akhir pekan bersama Daru. Akhir pekan yang sudah lama sekali ia rindukan, akhir pekan yang bisa ia nikmati 24 jam sekalipun. Karena Daru libur syuting. Bukankah itu adalah kesempatan emas yang harus ia syukuri. Namun, hadirnya Prita menjadikan rencana itu berantakan. Sejak awal, Prita memang nggak pernah suka jika Daru punya pacar. Mentang-mentang di sinetron dia didapuk jadi pasangan, bukan berarti Prita bisa menguasai Daru di dunia nyata juga. Mengingat hal itu semakin membuat Yara kesal. “Ra, Mbak Desi nggak menyangka loh, kalau ternyata Mas Sasan bisa jatuh cinta sama orang non artis.” Celetuk Mbak Desi saat mereka berjalan menyusuri jalanan pasar. Mereka sudah selesai berbelanja, saatnya sekarang menuju rumah Daru. “Ohya Mbak? Kok bisa?” sahut Yara penasaran. “Iya, Mas Sasan tuh dingin banget. Bukan dingin sih, lebih ke polos. Dia itu nggak pernah cerita soal cewek ke Hana apalagi ke Mbak. Beuhh, makanya Mbak kaget saat tahu Mas Sasan ke rumah bawa cewek.” Cerita Mbak Desi dengan antusias. Yara mulai tertarik dengan kisah yang dibawakan oleh Mbak Desi, sejenak ia melupakan masalah tentang Prita. “Ah masa sih Mbak, mungkin Daru saking banyaknya cewek, makanya bingung mana yang mau diceritain.” Yara mencoba tidak percaya dengan cerita Mbak Desi. “Lah, mana sempet sih Mas Sasan nyari cewek. Mbak nih bareng Mas Sasan sejak dia belum jadi artis. Pas dia masih jadi orang biasa, dia sama aja culun. Pas jadi artis, makin culun. Serius. Eh, bukan culun sih, lebih tepatnya polos banget, nget….” Mbak Desi menekankan suaranya di akhir kalimat. Sepertinya memang itulah kenyataannya. Yara menyunggingkan senyum, soal fakta Daru yang polos memang Yara benarkan. Daru sepertinya jarang bersosialisasi dengan banyak orang. Terlihat dari bagaimana ia ngobrol bareng Yara yang terkadang sulit nyambung. “Terus kalau Prita Mbak, Daru nggak pernah suka?” Yara teringat seseorang itu lagi, Prita. Mungkin apa salahnya menanyakan itu dengan Mbak Desi. “Oh Mbak Prita?” Mbak Desi tertawa, “Mbak Prita itu Cuma temen biasa. Mas Sasan juga ngerasa nggak ada yang spesial deh untuk Mbak Prita. Jadi ya menurut Mbak, Prita itu nggak masuk dalam kualifikasi Mas Sasan sih.” Jelas Mbak Desi yang membuat Yara lega. Paling tidak itu bisa membuatnya yakin bahwa Daru bukan orang yang suka dengan Prita. Tapi, tidak semudah itu untuk tetap merasa yakin. Saat Yara sampai rumah Daru. Yara harus melihat seseorang yang tertidur di atas sofa. wajahnya yang cantik kala tidur membuat d**a Yara bergetar. Bukan karena suka, namun karena begitu kagum dan merasa kalah. Daru memang nggak menyukai Prita, lalu bagaimana jika Prita yang menyukai Daru. Bagaimanapun Prita memiliki segalanya, dan Yara yang bukan apa-apanya akan kalah. “Kasian banget Mbak Prita. Pasti capek.” Ujar Mbak Desi saat melihat Prita meringkuk di sofa. “Lagian kenapa sih ngeyel pengen jogging kalau tubuhnya kecapekan gini.” Mbak Desi menaruh belanjaannya di meja ruang tamu, lalu menuju belakang dan membuka lemari. Mbak Desi mengeluarkan selimut untuk diberikan kepada Prita. “Pasti Mas Sasan belum bangun nih. Emang sama-sama pada tidur subuh sih.” Yara sendiri hanya bisa berdiri, melihat Mbak Desi mondar-mandir di depannya. Entah kenapa melihat hal ini perasaan mindernya kembali muncul. Di dunia ini tidak hanya Yara yang menjadi satu-satunya perempuan di samping Daru. Meski hanya Prita yang terlihat, di luar sana banyak perempuan yang berharap banyak pada Daru. Daru Han yang memiliki talenta luar biasa itu, apakah pantas bersanding dengan Yara ini? ••• Saat kesadarannya muncul, Daru langsung membuka matanya lebar-lebar. Bibirnya mengulum senyum menatap langit-langit kamarnya. Hari ini telah tiba. Hari yang menjadi hari terbaiknya, hari kencannya di rumah. Ya! Yara hari ini main ke rumah dan yang pastinya itu akan menjadi hal yang menyenangkan. Siapa yang nggak senang jika ketemu pacar yang sering Daru kangenin. Daru menatap jam dinding yang tergantung di kamarnya. Pukul 9 pagi, artinya Mbak Desi sudah pulang dari pasar dan Yara pastinya sudah bersiap-siap ke sini. Daru segera bangun untuk segera menyusul Yara ke rumahnya. Tuan putri itu harus sesekali dimanjakan. Kan kasian jika Yara terus yang menghampirinya. Daru meraih ponselnya dan mengecek pesan dari Yara, siapa tahu ia mengirimi pesan. Bukankah setiap pagi Yara selalu mengirimi pesan. Hallo selamat pagi sayangku, aku on the way ke rumahmu. Udah aku nggak usah dijemput yaaa. Aku mau kencan sama Mbak Desi dulu. Pesan itu dikirim pukul 7 tadi, itu artinya Yara sudah ada di sini sejak tadi dan sekarang mereka sudah sibuk di dapur. Padahal baru saja baru bangun. Daru berdecak kecewa karena gagal menjalankan misi penjemputan. Daru segera menelpon ponsel Yara untuk berjaga-jaga apakah memang benar Yara sudah di sini. Namun tidak diangkat, itu bisa menjadi arti bahwa Yara sudah ada di sini atau sedang di perjalanan. Namun ini bukan saatnya ia bersedih. Meski ia nggak bisa menjemput Yara, tapi pacarnya sudah di sini. Dan saatnya ia menyambut pacar tercintanya. Daru segera keluar untuk mengecek keberadaan pacarnya, dan benar saja. Di dapur sudah terdengar suara denting yang menandakan ada kehidupan di sana. Daru segera mengembangkan senyumnya. Tak ada waktu untuk mengumpulkan tenaga, saat mendengar suara itu Daru langsung dibuat semangat dan terpacu. Dara berlalu menuju luar kamar, tersenyum tak peduli dengan dirinya yang berantakan. Daru tak peduli imejnya sebagai artis rusak. Bukannya Yara udah sering banget lihat berbagai model dari Daru. "Sayaaaaang." seru Daru dengan riang, padahal rambutnya sudah acak-acakan. Meski belum sampai dapur, Daru sudah heboh dan pandangan fokus menuju dapur. Yara yang saat itu sedang memotong sayuran langsung dibuat kaget dengan kehadiran Daru yang tiba-tiba, bahkan tidak diduga Yara akan bangin secepat ini. Biasanya ia selalu bangun siang jika sedang libur syuting. "Daru jangan teriak-teriak." tegur Yara, mencoba menghindari waktu mesranya. Habisnya Yara malu jika harus didengar oleh Mbak Desi. "Kak Hana kan masih tidur." tambah Yara lagi. Kamar Kak Hana memang hampir dekat dengan dapur, takutnya malah menganggu istirahat kakaknya. Mbak Desi sendiri hanya nyengir sembari menanak nasi. Romansa anak muda yang baru saja jadian memang paling manis. Mbak Desi sebenarnya sudah terbiasa dengan sikap Daru yang manja, hal itu kerap Daru lakukan di rumah. Tapi melihat Daru yang jatuh cinta hampir tidak pernah Mbak Desi lihat. Daru terlalu sibuk dengan hidupnya yang hampa. "Kok nggak bangunin aku sih, kalo udah sampe. Kalau gini kan aku nggak bisa jemput kamu." omel Daru. Ia duduk di bangku dekat Yara. Tak peduli dengan teguran Yara tadi. "Ngapain sih dibangunin, ganggu orang masak aja." bukannya bersikap manja, Yara malah membalas dengan sadis. Seperti lupa kalau pacarnya ini seorang public figure yang menjadi idaman banyak orang. Daru mengerucutkan bibirnya. "Ih, nggak romantis banget sih. Kan aku kangeeen." "Ru, malu tahu ada Mbak Desi." bisik Yara. Kelakuan Daru emang nggak bisa dikontrol jika mengurus hal ini. "Kenapa harus malu? Kamu malu punya pacar aku? Iyaa? Malu punya pacar artis? Iya?" Daru malah meninggikan suaranya, melebihkan nadanya padahal tidak seharusnya ia berteriak seperti itu. Daru memang selalu menjadi anak manja bila sudah masuk rumah. "Ruuu, nggak usah teriak-teriak ah." "Ah males ah." Daru ngambek. "Mending dari pada Mas Sasan marah-marah, mandi sana. Makanyaa Mbak Yara nggak suka. Kan belum mandi." Mbak Desi ikut nimbrung, celetukannya langsung mendapatkan jempol dari Yara. Pokoknya ketika Yara sudah bertemu dengan Mbak Desi dan Kak Hana, Daru sudah kehilangan suara dan pendamping. Ia akan menjadi orang yang dilawan habis-habisan oleh kaum hawa. "Okee-okeee, aku bakal mandi, aku bakal balik ke sini dengan tampilan paling ganteng biar kamu nyesel udah marahin aku." Daru bangkit dengan drama. Ia membuang muka seakan Yara adalah target balas dendamnya. Bukannya merasa takut dan ngeri, Yara malah segera menutup telinganya karena merasa itu adalah hal yang menggelikan. Bagaimana bisa seorang Daru Han yang kece badai, idaman banyak orang yang banyak fotonya di i********: cakep-cakep malah menjadi bayi dewasa di rumah. "Sabar ya Ra. Kalau sama Sasan emang harus ngomong gitu. Nggak usah malu. Itu tandanya Sasan sayang banget sama kamu." ujar Mbak Desi setelah melihat Daru meninggalkan dapur. Mbak Desi tahu, Daru tak akan melakukan hal sekanak-kenakan ini. Jadi ada lebihnya juga yaitu kita bisa tahu seberapa banyak Daru menyayangi seseorang. Kini, takaran paling banyak adalah untuk Yara. Itu wajar saja, Daru nggak pernah punya pacar yang benar-benar pacar. Mungkin Yara bisa tersenyum manis di depan Daru, bercanda dan ngobrol dengan santai. Namun jika menyadari hal lain, ia akan menjadi kembali getir. Tepatnya Yara merasa tidak nyaman dengan kehadiran Prita di rumah ini. Meski Yara tahu ia tidak punya hak untuk mengusir artis itu, tapi paling tidak, bisa nggak datangnya jangan pas Yara ke sini juga. Prita memang masih tidur di sofa depan, sepertinya ia tidak sempat istirahat dengan cukup dan ketiduran saat datang ke sini pagi tadi. Meski begitu, saat Yara masuk rumah ini, Yara merasa ada yang nyeri di dadanya. Tapi, kenapa Daru biasa-biasa saja. Apa dia nggak tahu kalau ada Prita di rumah ini? Pikiran-pikiran itu mengganggu Yara yang seharusnya menikmati waktu bersenang-senangnya. Benar saja, baru saja dipikirin tiba-tiba Prita bangun dari tidurnya dan menuju dapur. "Hallo, Mbak. Eh ada Yara." sapa Prita dengan ekspresi sedikit ngantuk. "Kamu ngapain di sini Ra?" tanya Prita lagi, bahkan sebelum Yara menjawab. "Iya nih, mumpung libur." jawab Yara seadanya. Andai saja Yara bisa memamerkan hubungannya, pasti Yara tanpa malu bilang kalau ke sini ya suka-suka Yara. Harusnya yang perlu ditanya begitu itu Prita. "Daru udah bangun?" tanya Prita lagi. "Udah, dia mau mandi." jawab Yara pelan. Ia masih fokus memotong sayuran yang akan ia buat menjadi tongseng. Prita mengerutkan keningnya, "Kalian sedekat itu ya? Sampai lo tahu sedetail hal yang mau dilakuin Daru?" Pertanyaan Prita konyol, kenapa dia nggak bisa menyimpulkan hal yang sudah jelas-jelas terpampang nyata. Daru sudah memberikan banyak sinyal dan sudah banyak juga pertemuan yang menjelaskan hubungan spesial Yara Daru, masih saja nanya seberapa dekat? "Lho Mbak Prita nggak tahu." Mbak Desi yang merasa ingin melengkapi informasi, berceletuk. Membuat Prita dan Yara menoleh bebarengan, "Apa mbak?" "Kan Mas Sasan sama Mbak Yara pacaran." jelas Mbak Desi dengan lugas. Mbak Desi merasa hal ini juga nggak baik jika disembunyikan terlalu lama. Toh, Prita memang juga dekat dengan Daru. "Wah beneran?" Prita kaget, ia menutup mulutnya. Ekspresi bahagia terpancar di wajahnya. "Yaraaa... Kok lo nggak bilang sih, kan gue kalau nggak dikasih tahu juga nggak bakal tahu." Yara hanya bisa memberikan senyum kecut. Ia nggak tahu harus menimpali seperti apa percakapan ini. Rasanya, persoalan hubungannya dan Daru memang nggak bisa diceritakan dengan rinci. "Kenapa Daru nggak cerita sih, kalau ternyata pacarnya Yara, gemes tahu." Prita masih heboh sendiri, padahal berita itu juga nggak penting-penting sekali. Yara sebenarnya juga enggan untuk menjelaskan statusnya, kalau boleh meminta, Yara juga nggak pengen Mbak Desi menceritakan itu, namun jika Mbak Desi nggak bilang. Manusia seperti Prita juga nggak bakal nyingkir. Tapi apa iya, semudah itu. Sejak kedatangan Prita ke dapur, Yara semakin dibuat pendiam. Bersama Prita selalu membuat Yara kelu, ia kehilangan fokus untuk melakukan hal-hal yang seharusnya menyenangkan. "Sayaaaang, aku udah mandi nih!" seru Daru dari kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat ada sosok Prita juga berdiri di sana. "Loh Prit, lo ngapain di sini? Baru aja dateng?" "Udah dari tadi pagii. Bahkan ya, aku sampe ketiduran di sofa. Lo sih, tidur kayak kebo." jawab Prita enteng. Ia berjalan menuju Daru dan menyentuh rambut Daru yang basah. "Enak banget ya lo, mandi pagi-pagi. Gue juga pengen dong." celetuknya. "Ya mandi lah. Kan ada kamar mandi." jawab Daru seadanya. Ia memang merubah mode diri menjadi cuek. Soalnya kalau diingat-ingat bagaimana sikap Prita saat dibaikin, dia malah ngelunjak. "Tapi, gue nggak bisa mandi di sini, rame banget. Gue jadi ngerasa nggak tenang kalau mandi di sini." alibinya. "Gimana kalau gue pinjem kamar mandi kamar lo." ceritakan Prita membuat semua mata terbelalak, tak terkecuali Yara yang sedang sibuk masak. Daru nggak bisa nolak meski itu adalah hal yang tidak masuk akal. "Iya, pakai aja." jawabnya melemah. "Asiiiik!" seru Prita dengan percaya diri. Ia memasuki kamar Daru seakan itu adalah kamarnya sendiri, Bukankah yang seharusnya ada di sana Yara. Sejak mereka pacaran pun, Yara belum tahu isi dari kamar Daru apa saja. Namun kini, Prita dengan mudahnya masuk. Dada Yara nyeri sekali, seperti ada yang menggerogotinya. Daru sendiri hanya dibuat merasa bersalah dengan hal yang ia lakukan. "Ra, kamu nggak papa kan? Kok mukanya murung gitu?." tanya Daru dengan wajah yang resah. "Aku nggak papa kok." Dusta Yara. “Eh kamu abis mandi ya, hmmm… wanginya pacarku.” Goda Yara untuk mengalihkan suasana canggung. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN