37 — Meja Makan

1242 Kata
Impian untuk menikmati akhir pekan yang menyenangkan hancur sudah. Tidak ada lagi goda-goda Mbak Desi yang menghangatkan, tak ada lagi senyum-senyum malu ketika digoda. Semuanya hancur, karena kedatangan satu personil tak diundang. Prita Agatha, artis nomor satu yang datang ke rumah Daru pagi ini. Kedatangan Prita membawa kecanggungan luar biasa di meja makan, bahkan sebelum acara sarapan dimulai. Di saat Yara sudah bersimbah keringat dan lelah dengan bau masakan, Prita si saingan keluar dari kamar Daru dengan aroma wangi, wangi sabun Daru yang kerap Daru gunakan. “Gue pakai sabun lo ya.” celetuknya. Ia datang dan langsung duduk di bangku yang biasa Yara duduki, tepat di samping Daru. Yara yang sedang mempersiapkan piring langsung dibuat kaget, namun seperti biasa, tak ada reaksi yang berarti yang bisa ia berikan. Semuanya hanya bisa ia pendam rapat dalam diam. Menjawab kekalahan telaknya dalam bersaing. Selalu saja begitu, Yara yang tidak pernah bisa berusaha untuk memberi perlawanan. “Emangnya lo nggak masalah pakai sabun gue? Nggak takut jerawatan?” tanya Daru heran. Seorang artis yang selalu menjaga namanya. Mandinya nggak sekedar cuma pakai air terus disabunin, prosesnya panjang. “Nggak masalah, lagian tadi pagi gue udah mandi. Ini cuma mandi buat ngilangin ngantuk. Kulit gue nggak manja kok.” jawabnya dengan tenang. Yara hanya mendengarkan percakapan mereka, begitu dekat dan rasanya ia menjadi orang yang disingkirkan. Gerakannya sejak tadi menyiapkan makanan seperti bukan apa-apa di dekat mereka. Sebenarnya yang jadi pacar Daru Han itu siapa? Kenapa dia malah melayani layaknya pelayan? Yara menghela napas pelan, nggak seharusnya dia melakukan itu. Ia tahu, perasaan cemburu itu hanya membawa efek negatif di dalam dirinya. Harusnya Yara bisa lebih mengontrol dirinya untuk selalu bersikap netral dan percaya pada setiap yang dilakukan Daru. Bukankah Daru hanya menyukainya seorang saja, seperti apa yang sudah kerap Daru katakan di depannya sendiri. Ia bolehlah menjadi idaman banyak orang, namun itu tidak membuat hati Daru berpindah dan meragu. Namun tetap saja, Yara seorang perempuan dan tidak semudah itu untuk selalu yakin akan setiap kata yang Daru ucapkan. Daru punya banyak sisi yang membuat Yara meragu. Bukan pada apa yang dimiliki Daru, namun apa yang tidak dimiliki oleh Yara. “Ra, yuk sayurnya keluarin.” Mbak Desi membangunkan Yara dari lamunannya. Sejak tadi Yara hanya berdiri di dapur dengan memegang lap. Pikirannya sedikit kacau jika memikirkan hal-hal sederhana itu. “Eh iya Mbak, maaf.” “Iya nggak papa.” Mbak Desi tersenyum ke arah Yara. Sepertinya Mbak Desi mengetahui apa penyebab sikap Yara yang sedikit linglung pagi ini. Semangat yang Yara keluarkan dari pekan sebelumnya berbeda sekali dari pada hari ini. “Kamu nggak sakit kan?” tanya Mbak Desi. “Nggak kok Mbak, Yara cuma laper aja.” ucap Yara mencoba menenangkan Mbak Desi. “Syukurlah. Ya udah, ini ditaruh meja, terus ini aku mau bangunin Mbak Hana dulu ya.” ujar Mbak Desi sebelum meninggalkan dapur. Sudah hampir siang, saatnya makan untuk mengisi tenaga. Mereka semua juga sudah terlihat cukup tidur. “Oke Mbak.” jawab Yara dengan lembut. Yara sendiri juga segera membawa mangkok berisi sayur asem yang sudah ia buat. Sayur yang ia buat dibantu dengan Mbak Desi, sayur yang ia buatkan untuk Daru. Seharusnya… Yara menaruh mangkok itu di meja, lalu ia duduk di bangku yang hampir tidak pernah diduduki siapapun di rumah ini. Satu bangku kecil yang berada di ujung meja makan. Seharusnya Yara bisa duduk di seberang Daru, namun itu adalah tempat duduk Mbak Desi dan Kak Hana. Maka, jalan keluarnya adalah duduk di sini. Yara banyak terdiam saat Prita sibuk berceloteh dengan Daru. Cerita-ceritanya yang sederhana ia ceritakan dengan antusias, seperti mereka adalah teman lama yang tidak pernah bertemu bertahun-tahun. Yara sendiri hanya diam, tak mengerti harus menyahut pada bagian yang mana. Daru sendiri menoleh ke arah Yara, melihat ketidakantusiasan Yara membuatnya tak enak. Ia mendekat ke arah Yara, melupakan cerita antusias dari Prita. “Kamu tadi ke sini naik apa?” “Naik taksi online.” sahut Prita, seperti ia berhak menjawab pertanyaan itu. Yara sendiri hanya diam, meski ia tahu itu ditujukkan untuknya. “Kamu Ra? Naik apa?” Daru mengulang lagi pertanyaannya. “Naik motor.” jawab Yara pelan. Ia begitu tertutup pagi ini. “Kok lo bisa sih, Ra naik motor. Keren banget. Kalau gue nih, sejak kecil nggak pernah dibolehin naik motor, selalu naik mobil. Jadi nggak bisa, duh pengen deh bisa naik motor.” sahut Prita mencoba akrab. “Kalau gue nggak bisa naik mobil, soalnya nggak pernah punya waktu buat belajar.” jawab Yara malu-malu. Sebenarnya hatinya juga sedikit terluka saat Prita mengatakan seolah-olah ia punya mobil. “Loh kenapa? Kan lo sekolah dan sering banyak mainnya. Kok nggak pernah belajar naik mobil?” Prita membalas lagi. Yara tersenyum getir, “Iya, soalnya yang sibuk mobilnya. Jadi enakan naik motor. Adanya juga motor.” jawabnya mencoba tetap tegar. “Nggak papa Ra, aku seneng kok sama cewek yang bisa naik motor sendiri. Soalnya luar biasa dan mandiri. Kayak kamu.” Daru yang merasa Yara tertindas dengan tiap kata yang Prita lontarkan langsung menyahut. Daru nggak mau Yara terlibas oleh permainan kata yang Prita lakukan. “Wah keren, bener kata lo Ru.” Prita ikut berada di kubu Daru. Entah apa tujuannya mengatakan hal itu. Yara kebingungan dengan respon-respon yang akan ia berikan. Sejak tadi memang ia merasa bahwa apa yang ia katakan selalu tidak bisa dimengerti, Yara merasa jadi orang yang nggak asik dan apa yang menjadi obrolannya tidak menarik. Ia kehilangan ruang pada tempat tinggalnya sendiri. Untungnya, ada Mbak Desi yang datang bersama dengan Kak Hana. Mereka memecahkan kecanggungan di meja makan. Paling tidak, Yara tidak merasa sendiri dengan tameng yang dibuat Prita. “Hallo selamat pagiiii.” sapa Kak Hana. Wajahnya baru bangun tidur, namun ekspresinya bahagia. Terlihat sekali Mbak Hana telah tidur cukup. “Hallo Kaaaak.” seru Prita dengan antusias. Lag-lagi ia mengambil ruang itu lagi. “Hai Prita, kamu ke sini sendirian? Pagi-pagi banget.” “Hehehe, iya nih, tadi rencananya mau ajak Daru joging, eh udah kesiangan. Ya udah diajak Mbak Desi sarapan di sini.” Prita menampakan wajahnya yang paling ramah. “Sorry ya, sarapan di sini kalau libur emang suka kesiangan, tapi kita selalu berusaha makan makanan rumah sih, gimana suka?” “Suka dong, soalnya aku juga udah lama nggak makan. Lagian, kalau masakan gini tuh sehat ya kak dari pada junk food.” “Ini Yara lho Mbak yang masak.” celetuk Mbak Desi di sela obrolan mereka. Mendengar namanya disebut, Yara mengangkat wajahnya, sedikit malu. “Ohya, duuuh, pinternya sih Yara. Maaf ya, kamu jauh-jauh ke sini malah masak.” Kak Hana menoleh ke arah Yara. Tersenyum ke arah Yara dengan tatapan hangat. “Nggak papa kok Kak. Ini bukan aku yang masak, aku cuma bantuin nyiapkan bumbu-bumbunya aja. Belum jago masak. Hehe,” sahut Yara sungkan. “Nanti latihan masak sama aku ya. Aku juga pengen belajar masak.” Daru menimpali Yara, bahkan mengelus pundak Yara. “Duh, iya deh nanti Mbak Desi ajarin ya.” Mbak Desi ikut bersuara, menambahi ucapan Daru. “Siap kalau itu siiih.” Daru tertawa pelan. “Prita boleh ikut belajar kan Mbak Des? Prita juga pengen belajar soalnya.” Prita ikut nyahut. Daru dan Yara langsung menoleh ke arah Prita, tumben sekali Prita ingin ikut campur pada hal yang sepele ini. Bukankah hari-harinya terlalu sibuk untuk memikirkan hal-hal pentingnya. “Boleeeh deh.” jawab Mbak Desi akhirnya. Ujarnya untuk menjaga perasaan siapapun, termasuk Yara dan Prita. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN