Mita mengamati wajah Yara lekat-lekat. Tidak ada ekspresi bahagia terpancar di wajahnya. Isinya hanya gelisah, resah dan segala sesuatu yang memenuhi kepalanya. Apakah Yara sudah masuk dalam krisis waktu dan pikiran dalam mengerjakan ujian tengah semester? Namun Mita sejak tadi masih mengamati dan mencoba menebaknya.
Suasana kantin siang ini ramai, wajar waktu istirahat telah tiba. Mita masih mengamati mimik Yara yang sejak tadi menyesap es jeruknya. Nafsu makan Yara akhir-akhir ini meningkat dan itu terlihat sangat jelas di depan Mita. Yara sedang tidak bisa berpikir jernih dan bingung dengan hal-hal yang terjadi. Akhirnya dari pada menebak hal-hal yang tidak bisa Mita pahami, ia menyerah.
“Lama nggak ketemu, wajah udah nggak beraturan gitu buk.” celetuk Mita, membuat si pemilik wajah mengangkat wajahnya dan berdecak dengan ekspresi getir.
Pertemuan mereka terakhir di lakukan ketika Yara main ke kosnya, itu pun hanya singkat. Selebihnya mereka tidak pernah bertemu hingga sampai di kantin kampus, menikmati istirahat panjang karena ada kuliah yang kosong.
“Tugas UTS lo banyak banget ya?” tanya Mita lagi, sembari mengunyah pangsit yang baru saja datang beberapa menit yang lalu.
Yara mengangguk, “Lumayan sih.”
“Lumayan tapi pikiran lo sepenuh itu? Are you kidding me?” kernyit Mita.
“Gue nggak tahu dengan apa yang terjadi sama gue Mit.” jawab Yara pasrah.
“Kenapa sih lo bingung? Bukannya lo harusnya bersyukur bisa satu kelompok sama Daru. Di mana itu adalah hal yang diidam-idamkan banyak orang lagi. Jadi apa lagi yang perlu lo bingungi?”
Yara memicingkan matanya ke arah Mita, mendengus pelan. “Kenapa sih, lo dari kemarin bilang-bilang bersyukur terus. Dikata gue nggak bersyukur apa.”
“Lhooo, gini loh. Lo itu udah sering banget ketiban durian. Dan lo masih banyak ngeluh. Gue jadi lo sih banyak-banyak bersyukur.”Mita masih mengeyel. Tak mau mengerti maksud dari pembicaraan Yara.
“Mit, Nggak ada yang mau ketiban duren. Meski itu perumpamaan, yang namanya ketiban duren tetap ada resikonya. Duren itu tajem dan yang pasti, gue nggak doyan duren.” sahut Yara realistis. Yara sudah dibuat kesal dengan kata-kata yang Mita ucapkan semakin tidak masuk akal. Bukankah ia lebih sering membual dari pada respect dengan apa yang Yara rasakan.
“Coba ceritakan apa saja yang ada di kepala lo? Kenapa mereka menuhin kepala lo?” Mita sedikit melunak.
Yara berdecak, ia membuang muka dari Mita dan menatap kipas yang menderu keras di ujung kantin. “Lo nggak pernah tahu Mit, maksud gue. Dari kemarin-kemarin kalau gue cerita lo selalu merespon dengan hal-hal yang nggak pernah bisa gue ngerti. Lo malah bilang gue kurang bersyukur dan segala hal yang menjadi gue semakin nggak bisa berpikir jernih. Lo pikir, jadi gue gampang? Lo pikir menjalin hubungan kayak gini enak?”
Yara menghela napas pendek, “Dari pada komunikasi kita nggak nyambung gini terus, gue lebih baik diem aja. Gue nggak mau malah ini menyakiti gue lebih dalam.” Yara menoleh ke arah Mita, “Nggak guna juga kan gue cerita.”
Yara bangkit meninggalkan Mita yang belum sempat siap mengatakan responnya, ia dibuat speechless dengan ucapan Yara yang menghunus dadanya. Apa yang salah? Mita hanya mencoba untuk respect. Tapi Yara malah menganggapnya dengan sebutan pembual.
“Ra… maafin gue!” Mita bangkit menghampiri Yara yang sedang membayar makanan siang ini.
“Nggak usah khawatir, gue yang bayarin makanan lo siang ini. Kan hidup gue enak, seperti kata lo.” ujar Yara dengan satire. Lalu Yara meninggalkan Mita yang memaku di samping kasir.
Mita menatap Yara yang meninggalkannya. Yara berjalan keluar dari kantin dengan kesal. Saat melihat tingkah Yara membuat Mita langsung merasa bersalah. “Gue jahat banget ya sama Yara.”
•••
Yara nggak tahu kenapa ia begitu emosional hari ini. Tapi yang pasti, kepalanya hari ini penuh dengan hal-hal yang ia benci. Sejak kemarin, ketika ia berharap bisa melupakan semuanya dengan kesibukan yang ia miliki ternyata hanya akan membuat tubuhnya semakin sakit.
Yara ingin berlari karena hatinya yang lelah, namun keadaan seakan memintanya untuk bertahan, dengan fisik yang dihantam kuat oleh kenangan. Yara tak bisa bergerak di ruangannya sendiri.
Yara sama sekali tidak berselera ngobrol dengan orang disekitarnya dan ingin meluapkan semuanya namun tidak ada ruang yang bisa memberinya tempat bercerita. Mita, yang ia harapkan bisa mengerti hal ini, ternyata sama saja. Orang-orang seakan menuntut untuk selalu tampak baik-baik saja padahal memang kadang orang juga perlu mengeluh.
Sejak pagi tadi, Yara tidak memberi ruang Daru untuk mendekat. Ia hanya bersikap biasa saja di kelas dan hanya menanggapi hal yang penting-penting saja. Selebihnya Yara tidak punya mood untuk melakukan hal itu.
Yara menatap dirinya di depan cermin toilet. Melihat wajahnya yang akhir-akhir ini penuh dengan penderitaan yang sepertinya ia buat sendiri. Perasaan-perasaan sensitifnya dan yang pasti hal yang tidak jelas. Yara tahu, ini sebagian dari pra mestruasi, tapi rasanya akhir-akhir ini terasa lebih kompleks dari pada bulan-bulan sebelumnya.
“Capek.” lirihnya, ia mencuci wajahnya di air wastafel. Berharap semua penat yang mengisi kepalanya lenyap bersama air. Meski itu tidak mungkin.
Drtt.. drtt…
Satu pesan masuk, suara getar itu terasa jelas di saku celana Yara. Yara menghela napas, itu pasti pesan yang dikirim oleh Daru. Yara memang sengaja membuat custom dalam dering Daru agar Yara bisa mengenali tiap telepon dan pesan yang masuk dari pacarnya.
Yara membuka pesan itu.
Kamu di mana? Buruan ke kelas ya.
Membaca pesan itu, Yara tersenyum tipis. Di antara kegelisahannya, Daru masih memberi perhatian pada Yara. Namun itu semua seakan tidak ter-notice sama Yara. Harusnya Yara emang lebih bersyukur lagi untuk tetap bisa baik-baik saja dan jangan berlebihan.
“Senyumnya manis banget. Ada apa niiih…” celetuk seseorang tiba-tiba. Yara langsung dibuat kaget oleh kehadiran gerombolan yang sudah mengepungnya. Membuat Yara berada di sudut dan tidak bisa bergerak. Di antara banyak orang di sana berisi Seruni, teman sekelasnya.
Yara hanya mengernyitkan dahinya melihat tingkah mereka yang seakan memberi kekuasaan tertinggi di dalam lingkungan kampus ini. Padahal kelakuannya hanya terlihat kekanak-kanakan dan hanya menang bergerombol saja.
“Chattingan sama siapa lo?” Seruni mengambil langkah maju, tubuhnya hampir menubruk tubuh Yarạ. Kemudian iameraih ponsel Yara, melihat pesan yang diterima Yara dari Daru.
“Gilaaaa… chattingan sama Daru. Mana dicariin lagi.” heboh Seruni. Kemudian ia memperlihatkan chatnya ke arah teman-temannya. “Lihat, cowoknya guys yang ngechat.”
“Pakai susuk nomor berapa lo? Sok banget.”
Yara menghela napas kasar, masalah emang nggak pernah bisa pergi deh. Di saat Yara mencoba habis-habisan untuk bisa menjaga mood-nya kini malah segerombolan sirkus mengganggunya. Namun sepertinya orang-orang itu tidak peduli dengan ekspresi Yara yang kesal. Mencoba melanjutkan perundungan ini.
“Oh, ternyata ini penyebabnya… pantesan aja ya seneng banget. Dichat artiiis.” sindir Seruni.
Semua orang yang ada di sekitar Seruni bersorak, nada ejekannya benar-benar terasa nyata. Ada lima orang yang ada di depan Yara; Seruni, satu orang superior memakai jaket jeans, gadis dengan rambut bondol, dan dua gadis dengan celana
cut bray masing-masing warna berbeda. Mereka semua menatap Yara dengan tampilan sinis, seakan Yara adalah orang yang terhina dan pantas dirundung.
“Artis yang satu kelas sama lo Ni?” sahut seseorang yang terlihat lebih superior di antara yang lainnya.
“Waduh, akrab banget dah.” timpal gadis dengan celana cut bray warna denim.
Seruni mengangguk.
“Daru Han?” tanya yang menjadi tertua di sini. Wajahnya menjelaskan bahwa dialah yang paling dihormati di sini.
“Daru Han yang ganteng itu? Kok bisa sih chat sama lo?” tambahnya lagi, menatap manik Yara yang sejak tadi tak berkutik. Yara memang sengaja untuk tidak terprovokasi dengan sikap mereka.
Ia tetap tenang meski semuanya mencoba menindas.
“Bisa lah. Kenapa? Iri dia nggak bisa chat lo.” jawab Yara dengan santai, tak mau kalah untuk memberi perlawanannya.
“Waaah nantang nih cewek.” si superior merasa tertantang.
“Emang nyolot nih orangnya, kegatelan juga.” Seruni semakin menyulut sumbu kompor yang sudah cukup panas ini.
“Lo kenapa sih Ni? Iri ya sama gue? Kasian nggak pernah bisa kegatelan sama artis.” kini Yara menatap Seruni dengan tatapan prihatin.
Seruni langsung membulatkan matanya, tidak terima di kata iri dan kegatelan, “Maksud lo apa hah?!”
“Maksud gue, lo itu. Kegatelan yang nggak dapet apa-apa.” jawab Yara sinis.
Semua orang yang melihat langsung kaget. Tak terima salah satu anggotanya terancam, si senior langsung menjambak rambut Yara. “Diem deh lo! Lo gaya banget ngatain temen gue gatel. Emangnya lo siapa? Berani banget lo! Bukan apa-apanya Daru aja udah belagu.”
Gue, gue itu pacarnya Daru! Dengus Yara dalam hatinya, namun ia mencoba untuk tidak mengatakan itu karena untuk apa? Bukankah itu bukan informasi yang penting buat mereka. Yara tetap mendatarkan ekspresinya, ia tidak boleh terlihat kesakitan yang akan membuatnya semakin tertindas.
“Diem aja kan lo!” si bondol mencecar. Mendorong pundak Yara.
“Sakit nggak?” tanya si senior, tangannya masih menggenggam rambut Yara.
Yara hanya diam. Tak memberi respon yang berarti. Namun itu hanya akan membuat si superior semakin menarik rambut Yara dengan kencang. Jika Yara boleh mengekspresikan itu, pasti ia sudah menjerit. Namun ia hanya bisa menahannya dengan menegangkan urat lehernya.
Lokasi kamar mandi yang sepi membuat Yara tidak bisa mencari pertolongan yang berarti. Ini adalah toilet yang jarang digunakan karena jauh dengan lokasi kelas dan keramaian. Yara benar-benar terpojok dan mereka pintar membuat siasat.
Seruni tidak tahan dengan ekspresi Yara, kini ia ikut maju menangani Yara. Usahanya untuk membuat Yara ketakutan dan menyerah yaitu dengan mendorong tubuh Yara. Membuat Yara langsung terpental ke belakang dan menabrak tembok toilet.
Rambut Yara yang tertarik paksa dan tubuhnya yang terpental membuat rasa sakit tersendiri di kepalanya. Rasanya seperti dikuliti, hal itu bisa terbukti dengan adanya rambut yang tersangkut di jemari si superior. Namun lagi-lagi Yara tidak boleh terlihat lemah. Ia harus bangkit untuk meraih ponsel itu.
“Gila ya lo, pantesan aja nggak tahu malu. Orang aja dijambak nggak sakit. Urat-uratnya udah pada putus nih.” si cut bray warna hitam menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kira-kira apa nih yang bikin dia kapok biar nggak cari muka terus sama Daru Han?” Seruni yang sudah bagus-bagus diam malah memancing keributan.
Si cewek dengan rambut bondol tersenyum nakal, “gue punya ide.”
“Apa?”
“Gue bawa lem kayu nih, sisa kerajinan tadi pagi.” celetuknya seakan ini adalah hal yang sangat berharga.
“Buat apa?” tanya si cewek superior.
Si cewek bondol mengerling ke arah tangan si superior. “Karena kita baik, kita tempelin lagi tuh rambut cewek kegatelan ini. Pakai lem yang gue bawa.”
Ucapan si cewek bondol membuat Yara langsung kaget, yang tadinya ia menunggu pembully-an ini selesai, ia malah langsung dibuat kaget dengan rambutnya. Yara langsung menyentuh rambutnya yang rasa sakitnya bahkan belum hilang.
“Kenapa? Takut?” goda Seruni saat melihat ekpresi ketakutan Yara.
“Kok takut sih, kan kita mau bantuin lo masang ini.” tambah si cewek superior, sembari mengangkat rambut Yara yang ada di tangannya.
Yara terkesiap, namun mencoba untuk biasa saja agar tidak terlalu takut. Ia menggeleng pelan, “Nggak usah repot-repot.”
Yara mencoba bangkit, namun baru saja menaruh lututnya untuk bangkit langsung didorong lagi oleh Seruni, membuat Yara lagi-lagi terpental. Yara tak bisa bergerak karena tanpa aba-aba Seruni dan si cewek cut bray denim memeganginya, membuat Yara tak bisa bergerak.
Cewek bondol sendiri langsung mengeluarkan satu toples lem kayu. Saat lem itu dibuka semerbak aroma lem mengisi kamar mandi. Sedang si cewek superior tertawa seakan dia telah menjadi psikopat nomor satu di dunia ini.
“Oles sekarang aja!” seru si superior.
Sesuai dengan aba-aba pemimpin, si cewek bondol beserta cut bray hitam mencolek lem dengan tangan kosong, lalu mengoleskannya di rambut Yara tanpa rasa ragu. Sedang Yara, mencoba melawan dengan menggerakan kepalanya. Usaha Yara tidak begitu berguna, kedua gadis itu tetap leluasa mengolesi lem itu di sana.
“Dasar manusia nggak berguna! Sampah kampus!” teriak Yara. Ia tak lupa meludahi gadis-gadis yang mengelilinginya. Membuat mereka langsung berdecak jijik. Pembalasannya adalah si superior langsung menampar mulut Yara. Meninggalkan bekas yang nyeri dan panas.
“Kayaknya belom kapok juga. Untuk penyempurnanya, gue ambilin air dulu.” si cewek superior langsung menuju kamar mandi. Membawa selang yang cukup panjang untuk menyemprotkan Yara air, membuat Yara langsung basah kuyup.
Yara hanya bisa pasrah. Rambutnya yang lengket dan kotor karena lem dan badannya yang basah kuyup membuatnya tak bisa berdaya. Satu dibanding lima tidak akan membantu banyak, Yara hanya akan membuka lubang kuburannya sendiri.
“Yok udah, ntar juga dia nangis nggak bisa ikut kuliah selanjutnya.” Seruni mengomando mereka untuk berhenti. Perploncoan sudah selesai dan mereka sudah puas dengan hasilnya.
“Dengan gini, Daru nggak mungkin mau deket-deket sama dia.” tambahnya lagi.
“Nih hp lo!” Seruni melemparkan ponsel Yara, membuat layar Yara sedikit retak di bagian ujungnya. Yara meringis melihat ponselnya hampir saja terluka parah.
Mereka semua pergi meninggalkan Yara yang benar saja, ia langsung dibuat menangis karena merasa cukup lelah dengan keadaan ini. Ia nggak tahu harus berbuat apa dan rasanya Yara pengen pulang saja, namun ia nggak mungkin pulang dengan kondisi yang seperti ini.
Yara akhirnya karena nggak tahu harus menghubungi siapa, yang bisa ia hubungi adalah Mita. Meski tahu ia marah tadi, tapi hanya dia yang bisa minta tolong.
Yara segera menghubungi Mita sebelum waktu istirahatnya berakhir. Dan dengan secepat kilat, Mita langsung mengangkatnya, “Mitaaa… tolongin gue!”
•••