Banyak televisi menyajikan tayangan tentang indahnya masa remaja, apalagi masa remaja yang memasuki masa SMA. Segalanya tampak indah di gambar oleh pertelevisian dalam bentuk drama. Baik dari percintaan maupun persahabatan, ada saja warna yang mereka buat untuk menjadikan remaja berekspektasi tinggi terhadap masa SMA.
Padahal masa SMA juga tidak seindah itu, semuanya biasa saja jika ditilik lagi. Masa SMA sama saja dengan masa SMP dan SD, mereka sama-sama sekolah dan belajar, jika beruntung kamu akan mendapatkan teman baik jika tidak, sama saja.
Banyak orang berekspektasi tinggi dengan hal-hal yang ia terima nanti ketika mereka menjadi siswa SMA sampai lupa jika sebenarnya keindahan itu tidak mereka dapatkan, namun mereka buat.
Seperti Yara, yang termakan habis-habisan dengan sinetron yang membuatnya merasa dewi fortune akan menemaninya merajut usia belasan akhir. Bertemu seseorang yang menjadi cinta pertamanya di SMA dan akan menikmati akhir pekan dengan seseorang itu.
Baru saja masuk menjadi siswa SMA, Yara sudah dipenuhi ekspektasi akan ditaksir oleh kakak kelas yang paling killer. Kakak kelas yang menjadi ketua OSIS dan satu sekolah akan kaget dengan fakta itu. Meski kini fakta yang dimaksud masih dalam bentuk bayangan Yara. Tapi yang pasti, indah saja di dalam bayangan Yara.
Yara terlalu banyak tercekok banyak cerita fiksi yang ia baca maupun tonton. Jelas itu berdampak pada psikologisnya yang belum matang dan belum tersentuhnya peradaban yang baik. Yara masih menjadi siswa yang no life dan kebanyakan tidak tahu aturan.
Yara bahkan kerap kali ditegur oleh ketua kelompoknya karena ia sering melamun melihat Kak Faros—ketua OSIS sekaligus ketua acara Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah.
“Lo, yang namanya Jahe sini!” teriak seseorang yang membuat Yara langsung celingukan. Nama panggilannya adalah jahe, itu adalah nama yang ia dapatkan dari undian kemarin. Kakak kelas itu dapat mengetahui dari name tag yang Yara gunakan.
“Kakak manggil saya?” tanya Yara, ia agak sedikit linglung karena baru sadar melamun.
“Iyaa, Lo! Cepet sini!” ulangnya lagi, wajahnya sudah tampak kesal karena harus mengatakan kata yang sama pada Yara.
Dengan polos Yara bangkit menghampiri kakak itu. Senior dengan seragam dan jas OSIS yang melekat di tubuhnya. Wajahnya cukup cantik, tapi nggak cantik-cantik banget. Cuma putih doang.
“Ada apa ya Kak?”
“Lo dari tadi ngapain liat Faros? Naksir lo?” nada bicara senior itu semakin sinis.
“Ooo, namanya Kak Faros, bagus juga.” Yara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah namanya bagus orangnya ganteng lagi. Makin yakin Yara jadiin Kak Faros jadi pacarnya. Tunggu saja satu semester lagi.
“Lo ngerti nggak sih, kenapa gue manggil lo kesini?!” mendengar jawaban Yara yang acuh membuat senior itu tersulut. “Lo jangan ngada-ngada ya buat deket sama Faros. Faros tuh nggak suka sama lo!”
Teriakan cewek itu membuat semua peserta MPLS langsung merinding, tidak menyangka Yara akan mendapatkan perlakuan seperti itu meski hanya memandangi Faros hampir sepanjang kegiatan. Seakan itu menjadi hal yang berlebihan.
“Ra, lo mending minta maaf deh.” Bisik Nia yang berada di belakang Yara tepat. Teman SMP Yara ini kasian melihat Yara dibentak-bentak segitunya.
“Minta maaf kenapa? Emangnya gue salah?” Yara menyahuti ucapan Nia dengan bingung. Ia menggaruk kepalanya. Sepertinya Yara tidak memahami situasi mencekam ini.
Di antara banyak orang, hanya Yara yang tidak takut dengan omongan senior cewek itu. Padahal sejak awal senior itu sudah mendapatkan tanda killer karena sering banget marah nggak jelas. Hal itu tentu membuat banyak siswa tidak mendekati singa betina itu.
“Jahe! Gue ingetin lagi. Sekali lo liatin Faros lagi. Gue keluarin lo dari peserta MPLS. Tahu nggak!” senior itu meninggikan suaranya.
“Sebentar doang nggak boleh?” Yara masih saja mencoba menawar, padahal ini bukan hal yang harus ditawar.
Wajah senior semakin memerah, ia menatap tajam Yara dengan kesal bukan main. “Lo keluar dari barisan sekarang!”
“Kak maaf, saya sudah keluar barisan sejak tadi.”
“JAHEE!” teriak senior itu benar-benar frustasi.
•••
Yara nggak tahu kenapa bisa melakukan hal sebodoh itu hari inagurasinya. Bisa-bisanya, Yara menembak Kak Faros bahkan di saat Kak Faros tidak tahu siapa Yara.
Namun sejak pandangan pertama, Yara sudah merasakan bahwa Faros adalah orang yang akan mewarnai masa SMA-nya bahkan di saat Yara baru masuk sekalipun. Yara nggak masalah jika ternyata Kak Faros hanya bisa menemaninya setahun di sekolah ini tapi paling tidak ia sudah membuktikan bahwa Kak Faros akan menjadi pacarnya.
Dengan modal nekat dan bekalnya dalam menonton sinetron. Yara mengatakan itu dengan lugas. “Kak Faros, aku suka sama kakak.” Ucap Yara kala itu.
Faros yang baru saja turun dari pidato penutupan langsung dibuat kaget. Tubuhnya membeku dan ia dibuat kaget dengan keberanian gadis kecil di depannya.
“Terima kasih ya sudah suka sama Kakak.” Jawab Faros akhirnya. Sebagai ketua OSIS ia bingung harus bersikap bagaimana. Tapi ia harus tetap menghargai perasaan siapapun.
Yara yang melihat respon positif dari Faros langsung dibuat percaya diri. Ia langsung mengambil langkah maju. “Kak Faros mau nggak jadi pacarnya Yara.”
Pernyataan kedua sontak membuat Faros kehilangan detak jantungnya, napasnya berhenti saat itu juga dan ia dibuat merinding. Apa yang harus ia jawab? Faros memang terkenal dan selalu jadi pandangan orang. Namun untuk kata pacaran tidak semudah itu, itu tidak masuk dalam fans service-nya.
“Eng… gimana ya Ra.”
“Kakak mau kan? Kalau Kak Faros mau, nanti Yara mau minta tolong Mama buat masakin tumpeng.” Kata-kata Yara semakin freak. Siapa yang mengajarinya mengatakan hal-hal tidak masuk akal itu. Sepertinya Yara semakin tidak beres.
“Kayaknya kakak nggak bisa deh Ra, jadi pacar Yara.” Jawab Faros dengan perlahan-lahan.
“Lho kenapaa? Kakak nggak nonton film Pacar Pertama.” Tanya Yara bingung. Yara bahkan menyebutkan sinetron dengan kata film, jelas-jelas itu adalah dua jenis yang berbeda.
“Kakak nggak pernah nonton film Ra. Tapi meskipun itu film kesukaan Yara, bukan berarti itu bisa dilakukan di dunia nyata ya.” Ucap Kak Faros dengan sangat halus. Membuat Yara bingung, sebenarnya ia ditolak atau sedang dihibur sih. Kan perasaan Yara jadi bingung bedainnya.
“Yara jadi ini ditolak dong.”
Faros mengangguk, “Maaf ya Ra.”
Kemudian Faros meninggalkan Yara dengan perasaan sedih, namun ia juga senang bisa berinteraksi dengan Faros, bahkan bisa mendapatkan perhatian semanis itu. Hal itu tentu saja membuat Yara tak henti-hentinya menjadikan Faros tokoh kebanggaannya.
Di kelas, Yara menceritakan itu dengan apa adanya, semua yang terjadi di belakang panggung itu ia ceritakan tanpa filter. Yara yang awalnya berharap ini akan menjadi kisah yang menarik malah ia mendapatkan perlakuan yang sebaliknya.
Tak ada pujian karena aksi heroik dari Yara maupun Faros, yang ada hanya ada cercaan untuk Yara karena terlalu bodoh untuk menjadi siswa baru di sekolah ini.
“Ra, lo bodoh banget sih. Sebenarnya Kak Faros itu jahat, nyatanya dia nggak nerima lo jadi pacarnya, karena dia malu pacaran sama lo!” seseorang membangun persepsi buruk di kelas. tentu saja itu bisa masuk akal.
“Dasar gadis d***o! Hidup tuh di dunia nyata. Masak lo langsung nembak Kak Faros pakai acara nggak jelas. Ya jelas nolak lah!”
“Kak Faros tidak akan bisa ada di samping Yara, soalnya Yara anak culun.”
“Yara, Kak Faros kayaknya malu deh, kan lo gila sinetron.”
“Gue harap sih, lo nggak mimpi ketinggian untuk pacaran sama artis ya.”
Segala hal yang dimiliki Yara banyak kurangnya dan tentu saja membuat Yara tidak mungkin bisa berada di posisi sebagai pacar. Namun Yara yang saat itu tidak bisa berbuat banyak hanya bisa menarik diri.
Ternyata nggak semua hal yang kita sukai tidak semua disukai oleh orang. Banyak ketidakcocokan yang membuat apa yang kita sukai terperangkap. Yara yang mencoba mencari teman kala itu, dibuat bimbang dengan dua prinsip yang ada di kepalanya.
Yara sudah diajarkan Mama untuk selalu melakukan hal yang membahagiakan hatinya, termasuk haknya untuk menyukai Kak Faros. Namun hasil dari perilakunya itu membuat banyak orang menganggapnya aneh dan kurang jelas. Tentu itu membuat perasaan Yara sakit hati.
Yara akhirnya mulai terpikir untuk mengikuti arus orang-orang di sekitarnya agar ia bisa diterima oleh masyarakat. Namun itu semua tidak mudah. Yara tidak sebaik saat ini di usia 19 tahun. Masa remaja Yara membutuhkan banyak perjuangan hingga kini bisa menjadi pacar Daru.
Yara benar-benar tidak menyangka jika langkahnya kini terlalu jauh. Yara bahkan sudah mulai melupakan prinsip pertamanya tentang rasa bahagia yang ia pilih sendiri. Kebahagiaan Yara kini perlahan-lahan hilang karena kini berisi kekhawatiran yang tidak jelas.
Mungkin Kak Faros memang tidak sebaik Daru, Daru juga menerima Yara meskipun Yara tidak sempurna. Namun banyak hal yang membuat Yara merasa ada sisi tersiksa dari hubungan ini. yara capek jika harus sering bersembunyi dan mengatakan baik-baik saja.
Siang ini, di saat pembullyan itu berakhir, Yara dibuat tidak kuat mengatasi kehidupan remajanya yang kembali berantakan.
Semua cercaan itu membuat hatinya kembali ciut, membuatnya tidak bisa bergerak lebih luas. Lagi-lagi Yara tidak bisa melangkah maju. Ia hanya terjebak.
•••
“Sekarang ceritain Ra! Lo kenapa?!” Mita khawatir saat melihat Yara sudah tersimpuh di lantai toilet. Penuh dengan aroma lem dan basah.
Yara menatap Mita, menggelengkan kepalanya, “Maafin gue ya Mit, bikin lo harus ninggalin kelas.”
Saat mendengar Yara menangis di dalam telepon, Mita langsung lupa daratan, ia lupa jika sepuluh menit lagi akan ada kuliah tiga sks dan ia tinggalkan begitu saja. Yara sendiri harusnya ada perkuliahan, namun ia sudah tidak memikirkan bagaimana bisa hadir dengan kondisi seperti ini.
Mita menuju ke dalam kamar mandi, kemudian sudah memegang satu gayung berisi air bersih. Segera ia mengusap rambut Yara perlahan-lahan dengan air. Lem ini memang tidak begitu mengeras, namun jika tidak ditangani dengan cepat akan membuat rambut Yara rusak.
“Sabar ya Ra, habis ini kering kita langsung ke kos. Lo bisa istirahat dan mandi di sana.” Mita tetap berbicara meski Yara sendiri hanya bisa diam.
Yara sudah kehabisan air mata untuk menangis, namun itu bukan berarti perasaannya bisa sembuh. Pikirannya tentang masa lalu di SMA kini mengisi kepalanya. Pembullyan masih menjadi jejak menyakitkan untuk Yara. Meski ia tahu itu hanya sebuah gertakan kecil.
“Siapa yang bully lo Ra? Sebenarnya ada masalah apa?”
Yara menggeleng, “gue nggak kuat buat cerita ini Mit.”
“Oke-oke nggak papa. Saat ini yang paling penting buat lo adalah istirahat.” Mita kembali fokus untuk membersihkan rambut Yara. “Tahan ya Ra, jangan sampai kedinginan.”
Yara hanya diam.
Menghabiskan waktu 15 menit untuk membersihkan lem di kepala Yara. Lalu saat semuanya sudah bersih, Mita langsung meminjamkan jaketnya ke Yara. “Nih pake.”
Mita memasangkan jaket itu ke Yara, lalu menutup kepala gadis itu dengan topi, “ini pakai dulu ya topinya Rayi, mungkin agak bau tapi nggak papa buat sementara.”
Mita langsung mengajak bangun Yara, Yara sendiri hanya lesu saat dibawa Mita meninggalkan kamar mandi. Melelahkan juga dibully, bahkan bisa menguras energi Yara sebanyak mungkin.
“Mit…” lirih Yara saat berada di rangkulan Mita.
“Iya ada apa Ra?”
“Kira-kira kalau gue putus sama Daru gimana ya?” celetuknya. Sontak langsung membuat Mita menoleh ke arahnya.
“Lo berantem sama Daru?!”
“Nggak, Daru baik banget kok sama gue.”
“Terus kenapa lo minta putus sama dia? Bukannya lo dulu bilang kalau suka banget sama Daru?”
“Gue nggak tahu Mit. Bener emang kata orang. Nggak semua yang indah kelihatannya bisa enak dijalanin. Gue berkali-kali jatuh Mit.” Yara menjelaskan itu dengan air mata yang mengalir.
“Lo baru satu bulan pacaran sama Daru, menurut gue itu wajar aja. Semua pasti bisa dilaluin kok Ra. Gue dulu sama Rayi juga gitu.”
Lagi, ucapan Mita seakan-akan menjelaskan bahwa pengalamannya bisa diterapkan ke siapa saja termasuk Yara. Padahal orang yang menjalin hubungannya saja sudah beda.
“Ra, gue tahu. Lo muak dengan kata-kata gue, tapi pegang apa yang gue katakan. Jika sampai sekarang Daru belum nyakitin lo, pure yang dari dia ya. Dan dia masih sayang sama lo, fix, pertahankan.” Mita sepertinya menyadari ekspresi Yara yang selalu sama jika Mita menjelaskan ekspresinya.
“Tapi Mit, nggak semudah itu.” Yara masih tidak bisa memahami kata-kata Mita. Terlalu sulit.
“Gini. Gue tahu, Daru seorang artis. Dia punya banyak tuntutan kehidupan. Tapi selagi Daru masih sayang sama lo dan memperlakukan lo sebagai perempuan spesial di matanya, ya udah buat apa lo nengok kanan kiri.”
Mita berubah menjadi bijak. Kampus yang sepi karena masih jam perkuliahan membuat mereka bisa melakukan cerita tanpa terganggu. Bahkan ia bisa menyebut nama Daru dengan lantang sekalipun.
“Tapi gue dibully Mit. Itu satu problem yang lain juga.”
“Mending, lo bilang sama Daru apa adanya.” Mita sudah tidak punya solusi lain yang dapat membantu Yara. Sekarang satu-satunya yang bisa diandalkan adalah Daru.
“Gue nggak berani. Gue takut kalau dibilang pengadu.”
“Terus apa bedanya sama lo yang dibully. Ra, ini kalau lama-lama dibiarin bisa bikin lo mati muda.” Mita masih keukeuh dengan pendapatnya. “Emang lo nggak mau kalau nanti muka anak lo mirip Daru.”
“Mit jangan bercanda deh, gue serius nih.”
“Iya iya cintaku, ayo kita bangkit bersama. Udah ya jangan sedih, nanti makin sedih.”
•••