40 — Selamatkan Gebetan Lo

2053 Kata
Di antara mahasiswa yang sedang fokus menyimak perkuliahan, ada satu mahasiswa yang sejak tadi tak henti-hentinya mengecek ponselnya. Hampir dua jam berlalu namun pesan itu belum di balas dan kini keberadaan dari si penerima pesan itu belum diketahui. Daru dibuat bingung bukan main. Daru mengacak-acak kepalanya. Tidur siang singkatnya sama sekali tidak bisa mengobati senewennya karena Yara. Rasanya Daru ingin bangkit dan meninggalkan kelas ini. tapi itu tidak mungkin ia lakukan. Sebenarnya Yara kemana, mungkin Daru tidak masalah jika Yara tidak membalas pesannya, namun kini lihatlah. Di perkuliahan usai istirahat Yara saja sudah tidak hadir. Hal itu justru membuat Daru semakin gelisah. Materi perkuliahan siang ini sama sekali tidak ada yang masuk di otaknya. “Ru, Yara kemana kok nggak kuliah? Sakit?” tanya Braga yang menyadari ketidakhadiran Yara di kelas. Daru hanya bisa menggeleng, ia tidak memiliki jawaban yang pasti. Daru sendiri juga kebingungan gimana cara mencari Yara. Sebenarnya ada apa? “Lo beneran nggak tahu?” tanya Braga lagi. “Udah lo chat?” “Ga, chat gue nggak dibales. Gimana gue bisa tahu dia di mana?” jawab Daru putus asa. “Yara nggak mungkin bolos semudah itu, apa dia sakit?” “Yara masih baik-baik aja sama gue tadi. Masak secepet itu dia sakit.” “Iya juga sih.” Braga sendiri bingung, ia tidak menemukan jawabannya. Daru sendiri hanya bisa menghela napas, obrolannya dengan Braga tidak membuahkan hasil, sekarang yang hanya bisa ia lakukan adalah menunggu pesan Yara. Tapi sampai kapan. “Ga, pikiran gue makin nggak enak nih sama keadaan Yara, gue ngerasa ada yang nggak beres. Soalnya emang Yara nggak mungkin melakukan hal seaneh ini, Yara nggak mungkin ninggalin kelas dan nggak ada kabar sama sekali.” Daru makin dibuat khawatir. “Ru, tenang. Ini masih kuliah, kita cari Yara nanti ya.” Braga mencoba menenangkan. Bahkan menengok ke kanan dan ke kiri untuk berjaga-jaga kalau suara Daru terlalu kenceng. Bagaimanapun juga ini kan masih jam perkuliahan. “Ga kita keluar sekarang yuk. Ijin ke toilet. Temenin gue.” Daru mulai tidak bisa menahan diri. Bukannya mengangguk Braga langsung menolaknya. “Nggak mau gue!” “Kok nggak mau ini ide brilian.” Daru masih ngeyel. “Nggak ada Daru. Lo itu artis, tapi kenapa stupic banget sihhh.” “Bukannya stupid ya, kok jadi stupic.” Bisa-bisanya Dari mengoreksi ucapan Braga. Padahal lagi nggak pas kondisinya. “Gue sengaja plesetin, karena takut kena infotainment.” “Ga, gue serius nih.” Daru mencoba kembali ke pembahasan awal. Selain pendiem Daru emang orangnya agak kaku, susah baget diajak bercanda. “Iya! Gue juga serius.” Braga tak mau kalah. “Ya terus kenapa lo nggak mau pakai ide gue?” Daru masih mempertanyakan alasan penolakan Braga. “Harus ya gue jelasin?” Braga menautkan alisnya. Ia menghela napas, menatap dahi Daru—soalnya kalau menatap matanya selalu bikin Braga ketawa. “Ya harus, jadi orang itu harus lugas.” Daru menantang. Braga meringis, kenapa ia harus berada di kondisi yang seperti ini sih. “Ru, gini…” Braga mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan kata ini, kata-kata yang sepertinya berat. “Iya?” Daru bisa-bisanya menyahuti. “Lo dan gue itu cowok.” “Emang cowok kan.” Potong Daru di sela penjelasan Braga—emang ngeselin nih bocah. “Nah, di mana-mana kalau cowok sering banget berduaan yang ada nanti kita dikata gay. Gue nggak masalah sebenarnya, tapi nih, masalahnya lo artis. Kalau lo artis yang ada ini bukan hanya jadi gunjingan tapi jadi fitnah buat karir lo. Gue nggak mau. Gitu.” Braga menjelaskan itu dengan sangat jelas, bahkan sampai menjelaskan alasan kenapa ia meolak begitu keras. “Lagi, gue juga nggak mau terkenal mendadak gara-gara digosipin sama lo.” “Gue nggak mau!” putus Daru cepat. Otaknya memang selola itu ya? “Makanya gue bilang gue nggak mau artis!” desis Braga. Percakapan mereka yang seru akhirnya menjadikan Pak Kuncoro, yang awalnya mengajar di depan tiba-tiba mendekati Braga dan Daru yang ada di bangku belakang. Sesaat mereka selesai berbicara dan menghadap ke depan mereka langsung dibuat kaget dengan adanya Pak Kuncoro yang sudah berdiri di depan mereka. “ASTAGFIRULLAH!” Braga langsung istigfar. Sedang Daru hanya kaget biasa, karena ia memang lebih sering pendiem. “Kok kaget?” tanya Pak Kuncoro ngajak bercanda. Di mana-mana ya kalau tiba-tiba ya kaget pak. “Engg… maaf Pak, nggak bermaksud.” Sahut Braga langsung meminta maaf. “Kalian pacaran ya?” tanya Pa Kuncoro di luar dugaan. Sontak membuat semua orang di kelas mereka tertawa, “Pak saya tahu Daru artis, tapi nggak sampai saya pacarin juga dooong.” Elak Braga. Daru sendiri dari tadi hanya banyak diam, ia nggak pernah berada di posisi ini—posisi yang mempermalukannya. “Bener Daru? Dia nggak jadi pacar kamu?” Pak Kuncoro menoleh ke arah Daru yang sejak tadi membisu. “Bukan pak, saya nggak suka sama Braga.” “Tapi kenapa kamu ngajak dia ke kamar mandi bareng?” Pak Kuncoro semakin memancing percakapan. Braga langsung membuka matanya lebar-lebar. Kenapa harus dikatakan dengan jelas sih di sini. “Maaf pak, bukan seperti itu.” Daru menolak perkataan Pak Kuncoro. “Lalu?” “Tidak ada lalu pak, memang ini sudah selesai. Tadi kami Cuma ngobrol-ngobrol nggak jelas aja.” Braga menambahi. Pak Kuncoro menarik napas, “Lain kali kalau ngobrol-ngobrol jangan di kelas saya ya. Kelas saya tuh sulit, masih mau banyak ngobrol. Emangnya kalian udah paham?” Daru dan Braga hanya diam, tak ingin menjawab dengan alasan tidak ingin memperpanjang obrolan ini—sekaligus tidak mengerti jawaban apa yang mereka beri, kan mereka juga nggak paham. ••• Setelah perkuliahan Pak Kuncoro selesai dan ketika tepat Pak Kuncoro meninggalkan kelas, mereka berdua langsung menghela naoas lega. Akhirnya selesai juga, soalnya sejak tadi mereka hanya bisa membeku karena takut disamperin Pak Kuncoro lagi. Memalukan banget jika sampai wajah mereka ditandai sampai akhir semester. Daru dan Braga saling pandang, inilah saatnya untuk melakukan rencana yang tertunda lagi. Mencari Yara. Mereka harus mencari Yara untuk mengetahui keadaannya. “Apa yang pertama harus gue lakukan?” tanya Daru, ia sudah dibuat mati gaya dan gelisah karena memikirkan kabar Yara. Pasalnya, setelah Daru mengirim chat lagi tadi, Yara belum membalas chatnya. “Coba lu telepon Yara… siapa tahu diangkat. Soalnya kalau kita nggak nyoba telepon kita nggak pernah tahu dimana keberadaannya." Braga memberi saran sebelum mereka meninggalkan kelas. Tanpa memberi respon yang banyak, Daru segera mengeluarkan ponselnya, menghubungi nomor Yara yang berada di kontak paling atas. Nada tersambung terdengar, Deru dan Braga saling pandang mereka cukup deg-degan dengan respon Yara. Namun sepertinya tidak semudah itu, setelah suara dering itu berbunyi hampir 1 menit. Tidak ada jawaban sama sekali dari Yara. Daru menoleh ke arah Braga," Gimana nih kok enggak diangkat." Braga nggak mau su'udzon dan akhirnya meminta Deru untuk menelpon lagi, "Coba telepon lagi, kan kita nggak tahu… siapa tahu Yara lagi emang nggak megang hp. Coba deh telepon lagi.” " Oke." Daru menekan lagi tombol telepon hingga suara dering itu terdengar lagi. Namun nihil tidak ada jawaban meskipun itu telepon kedua. “Kayaknya Yara emang lagi nggak megang hp sih… atau dia lagi tidur. Bisa aja dia ketiduran kan? Di kosnya siapa tuh… temennya Yara." Braga masih mencoba untuk berpositif thinking. Bahkan mengingat teman Yara yang nempel banget kalau lagi istirahat. "Mita?" kerut Dara. "Nah iya itu Si Mita, coba ditelepon.” Daru hanya diam. Hal itu membuat Braga menatap curiga Daru. “Lo punya nomornya kan?" Daru menggeleng lemah. Ia ternyata nggak punya nomor temen Yara selain teman dekat di kelas. " Gue nggak punya nomornya karena emang gue ngerasa gue takutnya nomor gue bakal disebar." Braga mengerang dia memijit pelipisnya dan ingin memaki dan saat itu juga," Daru… kenapa sih lu bisa mikir kayak gitu.” Daru hanya diam ketika Braga mengatakan hal itu. Ia menyadari sikapnya memang salah dan terlalu berlebihan. “Kan Mita bukan orang yang gak dikenal. Dia juga nggak mungkin nyebar nomor lo ke orang-orang kali! Dia tahu kalau lo pacar sahabatnya. Auk ah, yang ada capek gue punya temen kayak lo." Daru menunduk lesu, ia sudah dibuat resah oleh hilangnya Yara kini malah dimarahin Braga dengan alasan konyol. Kenapa akhir-akhir ini ia melakukan banyak kesalahan sih. Akhirnya cara untuk menghubungi Yara gagal, Daru dibuat bingung harus bagaimana dan apa yang harus ia lakukan. Daru menatap Braga dengan putus asa, "Gue harus gimana nih. Gaa, gue  nggak tahu harus gimana Gak bantu dong.” “Kita coba tanya deh sama orang-orang siapa tahu satu kelas kita ada yang tahu keberadaan Yara tadi siang.” Braga mencari cara lainnya. “Ya udah oke.” Daru bangkit ingin melakukan hal yang disarankan oleh Braga, namun segera tangan Braga memegang lengan Daru. “Jangan.” “Katanya disuruh.” Jawab Daru bingung. “Maksudnya biar gue aja, kalau lo yang tanya, yang ada orang-orang makin curiga.” Ucap Braga gentle. Membuat Daru langsung tersenyum bangga. “Thanks ya Ga! Ntar gue kasih nomor whatsappnya Prita.” “Boleh diadu! Gue jabanin dah nanyain sekampus.” Sahut Braga bersemangat. “Beneran nih?” “Nggak lah njir. Bisa mati kehabisan suara gue dah.” Lalu Braga bangkit. Menuju satu persatu teman sekelasnya yang masuk akal untuk ditanyakan. Orang pertama yang Braga tuju adalah Kevin, meski ia nggak dekat dengan Yara paling nggak tadi Kevin habis pulang dari kantin. “Pin.” Braga duduk di samping bangku di mana Kevin duduk. “Iya ada apa bro?” “Lo tadi habis ke kantin kan?” “Iya, kenapa? Lo tadi mau nitip. Sorry gue udah nggak mau ke kantin lagi.” “Bukan itu.” “Terus apa?” “Lo tadi liat Yara nggak di kantin?” Braga mulai bertanya lebih spesifik. Capek kalau harus berbasa-basi dengan Kevin, nggak pernah bener sih. “Lihat. Kenapa emang? Lo kangen sama Yara.” Tuduhnya. Tatapannya selidik, curiga banget soalnya mereka deket banget. “Nggak. Kenapa? Cemburu?” bukannya serius, Braga malah membuat percakapan mereka semakin absurd. “Ih, nggak dong.” Braga ingin bangkit, ngobrol bareng Kevin tidak memberikan informasi yang jelas, yang ada Braga malah semakin dibuat gila ngobrol bareng Kevin. “Itu, tadi Yara di kantin sama temennya cewek, terus abis itu mereka pisah udah. Yara pergi temennya masih di sana.” Jelas Kevin yang membuat Braga menghentikan langkahnya. Braga berbalik arah, “Jadi, Yara nggak bareng sama temennya itu.” “Iya.” “Oke makasih.” Braga langsung meninggalkan Kevin, melanjutkan aktivitas bertanyanya. “Bril, lo tahu Yara nggak?” selanjutnya adalah Brillia, teman sekelasnya yang juga cukup dekat dengan Yara. Brillia yang saat itu sedang ngerumpi langsung menoleh ke arah Braga, “Yara? Nggak tahu gue kalau sekarang. Oiya, kira-kira Yara kenapa ya nggak berangkat kelas ini?” “Kok lo malah nanya gue sih.” Braga malah membalikkan pertanyaannya. “Ya kan lo gebetannya. Kok lo malah nanya ke gue.” Sahut Brillia tanpa filter. Bahkan menyebutkan kata gebetan di depannya. “Sumpah lo tahu dia nggak?” Braga mengulangi percakapannya. “Tahu,” lirih Brillia. “Di mana?” Braga langsung mendekat ke arah Brillia, merasa percakapan mereka akan menjadi percakapan yang rahasia. Pasalnya Brillia memang sudah memelankan nada suaranya. “Gue tadi lihat Yara di kamar mandi, bareng Seruni.” Bisik Brillia selanjutnya. Satu kelas sudah tahu kalau Yara dan Seruni nggak akur. Sejak adanya penyebaran berita soal Yara di laman kampus, membuat mereka cukup hati-hati dengan interaksi Seruni dan Yara. “Seruni?” kerut Braga. “Iya. Lo tahu kan….” Brillia memberi tanda kutip dan tidak meneruskan percakapannya, takut membuat Seruni, yang duduk di ujung mendengar percakapan ini. “Tapi ngapain mereka ada di satu toilet. Pasti kebetulan.” Braga masih nggak mau berburuk sangka. “Ga, lo jangan polos-polos deh jadi orang.” Brillia menoyor jidat Braga. Jarak kepalanya memang dekat banget dari Brillia, membuat ia dengan mudah menyentuh jidat Braga. “Gue takut, Yara bakal berantem sama Seruni. Kan lo tahu sendiri.” Brillia menambahkan lagi, menambah persepsi baru di kepala Braga. Braga yang sejak tadi mencoba berpositif thinking menatap nanar ke arah Seruni yang sedang santai bermain ponsel. Seperti tidak ada beban hidup yang ia pikul. Gadis angkuh itu memang banyak diam, jadi nggak semua orang bisa menebak tiap ekspresinya. “Selametin gebetan lo Ga. Gue tahu itu.” Brillia menepuk pundak Braga. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN