41 — I know you lie

2481 Kata
“Ra bangun Ra…. Daru nelfon terus dari tadi, gue nggak berani ngangkat.” Mita menggoyang-goyangkan tubuh Yara. Membuat Yara terbangun dari tidurnya. Setelah sampai di kos, Yara langsung mandi dan keramas lalu tidur untuk mengembalikan semangatnya. Mita sendiri belum mendapatkan cerita apa-apa karena memang Yara belum siap mengatakan semuanya. Maka, saat melihat Daru menelpon Yara, membuat Mita bingung harus berbuat apa. Mita takut salah ngomong dan bikin semuanya makin berantakan. Ia sudah kerap membuat masalah yang bikin Yara suka keki. “Daru? Nggak usah diangkat aja.” ucap Yara. Suaranya serak, khas orang bangun tidur. Lalu ia menutup wajahnya dengan guling milik Mita. “Ini pacar lo nelpon terus, emangnya lo nggak ijin sama dia kalau bolos kuliah.” Mita masih memberondongi Yara. Yara sendiri masih diambang kesadaran, matanya belum sempurna terbuka dan kepalanya pusing. Sepertinya bekas jambakan tadi masih terasa nyut-nyutan di kepala. “Dia chat juga, banyak banget.” Mita masih dibuat khawatir. Di bar notifikasi berkali-kali muncul nama Handaru mengirimi pesan dan menghubungi. “Biarin aja ah udah, gue mau tidur.” Seakan tidak peduli jika yang menghubunginya adalah artis. “Kok biarin, masak lo mau biarin Daru nyariin lo.” Yara bergeming. “Ra serius dong, masak gue biarin aja telepon dari Daru.” Mita masih mencoba memberondongi. Padahal Yara sendiri acuh dengan telepon itu. “Lo dulu ngejar-ngejar dia banget, dia dideketin orang aja lo cemburu, sekarang dia nyari lo malah dicuekin. Ra, inget. Yang ngincer dia tuh banyak.” Mita menampar-nampar pelan pipi Yara. “Lo masih belum ngerti ya Mit.” Ucap Yara sinis. “Ngerti yang gimana? Gue ngajarin lo realistis Ra. Nggak semuanya tuh bisa dimaklumi, sekarang mending mikir gimana nanti endingnya. Gue nggak mau lo nanti nyesel karena pilihan lo yang salah.” Sepertinya Mita masih tidak ada bedanya dengan biasanya. Apa yang ia ucapkan seakan tidak nyambung dengan rasa respectnya. Padahal saat ini bukan saatnya untuk membangga-banggakan Daru sebagai pacarnya. Masalah Yara lebih penting dari apapun. Yara masih diam saja. Ia sudah lelah berdebat dengan orang-orang meskipun itu Mita sekalipun. Sebanyak apapun ia menceritakan keadaannya, ia kembali lagi dipaksa untuk menjadi orang yang harus bersyukur. Bukankah semuanya tidak adil. Seakan-akan hanya Daru yang berharga, dan Yara sendiri tidak. “Lo beneran mau putus sama Daru? Ra?” Tak ada jawaban. Yara malah semakin acuh. “Raaa… gue serius.” Yara sendiri kembali memejamkan matanya, tidur lagi dan mencoba meredakan sakit kepalanya. Membuat Mita semakin dibuat bingung, apa yang harus ia lakukan? Daru menelpon lagi. Akhirnya, dari pada menunggu Yara, Mita mengangkat telepon itu sendiri. Ia akan berbicara apa adanya dengan keadaan Yara saat ini. Mita keluar kamar dan mengangkat telepon Daru. Belum juga Mita bersuara, Daru langsung memberondongi pertanyaan yang membuat Mita bingung harus menjawab seperti apa. “Ra, kamu di mana? Kamu habis dari mana aja sih, kok telepon aku nggak diangkat. Jugaaa, kenapa wa aku nggak dibales. Kamu kenapaaa?” Mita langsung terkesiap, tidak menyangka Daru akan se-care ini dengan sahabatnya. Sahabat yang bahkan tidak mensyukuri hubungannya. Untung saja Mita sudah terlatih untuk tidak meleleh kalau di samping Daru. “Ra, kamu nggak papa kan?” suara Daru terdengar lagi, karena memang tidak ada jawaban di seberang. “Halooo? Ra? Kamu masih denger suaraku kan?”Daru kembali bersuara, sedang Mita di sini masih saja membeku. Mita sendiri sedikit bergetar saat mendengar suara Daru yang begitu khawatir. Apa yang akan ia katakan pada Daru. Apa dia harus terang-terangan bilang kalau Yara pengen putus. Tapi dengan alasan apa? Rasanya tidak masuk akal. Mita menghela napas,“Halo, Ru, ini gue Mita.” “Mita?” lirih Daru. “Iyaa, gue. Mita temennya Yara.” “Yara mana Mit? Dia nggak papa kan? Terus kenapa dia nggak ikut kuliah?” rasa kekhawatiran Daru memang nggak bisa disembunyikan. Mendengar itu Mita semakin bertanya-tanya kenapa Yara harus melepaskan cowok sebaik dia. “Yara sekarang ada di kos gue, dia lagi tidur.” Hanya itu yang bisa Mita katakan. “Yara beneran sakit?” “Nggak... Yara baik-baik aja….” Mita menarik napas. “Yara emang lagi nggak mood kuliah aja, makanya dia bolos. Sorry ya nggak ngabarin lo.” “Gue ke sana ya. Gue khawatir Yara kenapa-napa. Share lock Mit.” Lagi, membuat Mita tidak bisa bernapas meski bukan dirinya yang dikhawatirkan. Rayi saja tidak pernah mencarinya. Meski Mita sendiri tahu kekasihnya juga mencintainya. Namun melihat bagaimana reaksi Daru atas hal ini membuat Mita semakin tidak mengerti apa maunya Yara. “Sorry ya Ru, gue tutup dulu. Bentar lagi gue ada kuliah.” Tanpa menunggu persetujuan dari Daru, Mita menutup telepon itu. Rasanya ia dibuat tak karuan harus menjelaskan seperti apa. Mita tahu dirinya tidak mengetahui dengan jelas permasalahan Yara, namun ia juga rasanya nggak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Permasalahan yang benar-benar nggak bisa ia mengerti. ••• “Gimana? Apa kata Mita?” Braga yang menyimak percakapan mereka samar-samar juga mulai penasaran. Daru sendiri hanya menggeleng, telepon itu tidak membuahkan hasil. Meski Daru tahu keberadaan Yara di mana, namun tetap saja Mita tidak mau menjelaskan secara detail keadaan Yara. Di bawah tangga, mereka berdua duduk berdua. Dengan keresahan yang ada di benak Daru kuat. Braga sendiri, sebagai teman yang baik siap menemaninya. Setelah selesai kuliah mereka dibuat bingung harus bagaimana. Berkali-kali menghubungi Yara tidak diangkat dan sekali diangkat hanya bisa diterima oleh Mita. “Mita tadi bilang apa?” “Yara tidur di kosnya, katanya lagi nggak mood.” Jawab Daru apa adanya. Tak ada jawaban yang membuatnya sedikit berkurang keresahannya. “Nggak mood? Kok bisa? Emangnya dia kenapa? Yara bukan orang yang mood swing deh.” kerut Braga, ia merasa perubahan mood Yara kali ini terlalu berlebihan jika hanya mengandalkan mood swing. Yara orang yang realistis dan selalu memikirkan resiko. Itulah yang membuatnya selalu was-was dengan apa yang terjadi, meski itu terlalu berlebihan sih. “Yara nggak lagi PMS kan?” tanya Braga lagi, memastikan kondisi mood Yara. Biasanya cewek akan berubah lebih sensitif apabila sudah mendekati tanggal bulanan. Daru mencoba mengingat tanggal menstruasi pacarnya, seingatnya Yara selalu mengeluh sakit perut saat awal bulan. Dan saat ini bukan waktunya untuk pra menstruasi. “Terus apa dong?” Braga tak menemukan jawabannya. Perempuan memang harus dibuatkan kamus agar bisa dimengerti oleh laki-laki deh. Daru sendiri nggak bisa kalau diminta mikir sendiri. Sulit sekali menebak Yara. “Ga, gimana kalau kita samperin kosnya Mita. Sumpah gue khawatir banget sama Yara. Ini tuh aneh banget, kayak nggak masuk akal.” Daru memberi gagasan. Namun seketika langsung ditolak oleh Braga. “Nggak. Jangan.” “Kenapa?” tanya Daru tak mengerti. “Ru. Kenapa sih lo selalu pelupa sama pekerjaan lo. Lo itu dikenal banyak orang, lo nggak boleh pergi ke sembarang tempat. Apalagi kos-kosan cewek? Gila lo.” Daru menghela napas putus asa. Kenapa sih dirinya harus menjadi artis dan dikenali oleh banyak orang. Daru juga pengen hidup dengan leluasa tanpa terekam kamera apapun. Bahkan di saat ia harus memilih keputusan terkecil pun, ia harus menimbangkan tentang kepopulerannya. Daru akhirnya menyusul Braga yang duduk di anak tangga, wajahnya benar-benar dibuat bingung. Ia pikir dengan melakukan backstreet semua mudah-mudah saja, banyak kemesraan yang akan mereka ciptakan diam-diam. Ternyata, itu juga membuatnya kerepotan dalam mencari kabar. Bahkan Daru kesulitan dalam menyelesaikan masalah sesepele ini. Daru nggak mungkin terang-terangan menanyakan kabar Yara pada orang-orang. Daru sendiri juga nggak bisa untuk mencari Yara dengan ketara. Ketenarannya menjadikannya terkunci dan menjadi pencundang. Daru harus selalu diam-diam saja saat keadaan apapun. “Ru, gue keinget sesuatu.” Celetuk Braga di saat Daru hanyut di dalam lamunannya. “Apa?” tanyanya tak berselera. “Tadi gue nanya ke Brillia kan, dia tahu Yara atau nggak…” jelas Braga perlahan-lahan, takut perbincangan ini menjadi problem jika dilakukan tidak dengan hati-hati. Daru sendiri langsung menoleh saat mendengar itu. Baginya nama Yara selalu menjadi sumber ketertarikannya. “Gini, Brillia sempet lihat Yara dan Seruni berada di dalam kamar mandi.” “Kamar mandi?” sela Daru spontan. “Ada apa sama kamar mandi?” “Bentar dengerin dulu sampe selesai dong.” Braga langsung menyela, meminta agar mendengarkan sampai ia menyelesaikan dulu. Daru mengangguk, kini ia merapatkan jaraknya dengan Braga. Dengan harapan tidak adanya miss komunikasi dalam penyampaiannya. Daru juga nggak pengen banyak orang dengar dengan masalah ini. “Lo tahu kan, kasusnya Seruni sama Yara beberapa bulan yang lalu?” “Iya tahu, laman komunitas mahasiswa kampus kan?” “Nah iya itu, jadi gini….” “Gue curiga ada yang nggak beres nih,” ungkap Braga yang mengingat kekhawatirannya. “Kan lo tahu sendiri. Seruni orangnya to the point banget. Gue takutnya, dia curiga kalau lo sama Yara tuh keliatan makin akrab jadi bikin dia makin cemburu. Lo tahu lah, Seruni sefanatik apa sama lo.” “Tadi juga kan, Mita bilang kalau Yara tuh lagi nggak mood. Gue takutnya nih, yang bikin nggak mood Yara itu adalah gara-gara Seruni.” Jelas Braga. Daru sendiri langsung kaget melihat kesimpulan yang dibuat oleh Braga. Seakan ini bisa menjadi masuk akal. “Tapi Ga, Yara bukan orang yang mudah roboh gitu.” Daru masih menyangkal, berharap apa yang dikatakan Braga tadi adalah kisah yang berlebihan. “Daaaaan, Brillia bilang juga… Seruni ke kamar mandi nggak sendirian.” “Pahamkan?” tambah Braga lagi. Daru membeku, “Yara…?” ia tak mampu mengatakan itu dengan jelas. “Praduganya adalah… iya, bullying.” Tegas Braga untuk membuat Daru agar mengerti dengan jelas. Mendengar kata-kata yang diucapkan Braga, membuat Daru tidak bisa berkata-kata, pikirannya buntu sesaat mengingat betapa Yara harus menerima resiko dari hubungan rahasianya. “Ini beneran Ga?” Daru masih tidak percaya, mencoba bertanya lagi. “Iya, itu tidak bisa menutupi kemungkinan.” Ucap Braga lagi. ••• Mungkin Daru memang mendapatkan jawaban dan alasan, namun tetap saja ia dibuat khawatir karena Yara sama sekali tidak mengiriminya pesan meski sudah selesai kuliah. Malam sebelum tidur, bahkan saat Daru mengatakan ia sudah pulang syuting sekalipun, Yara tak membalas. Paginya juga, di saat Daru terbangun dari tidurnya ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari Yara. Sebenarnya apa yang Yara mau? Kenapa harus menghindarinya? Apa yang dikatakan Seruni hingga Yara benar-benar tidak bisa meresponnya. Daru mengancingkan kemejanya, pagi ini pukul 10 ia ada satu perkuliahan. Mata kuliah di akhir pekannya. Daru senang, hanya saat inilah ia bisa menemui Yara. Di perkuliahan. Mulai minggu depan akan diadakan Ulangan Tengah Semester, di mana semua mahasiswa disibukkan dengan tugas yang banyak dan Daru yakin, Yara juga akan sibuk. Daru nggak pengen masalah yang belum selesai ini hanya akan membebani pikirannya. Semoga saja, nanti Daru bisa menyelesaikan semua ini, ngobrol bareng Yara untuk mengetahui apa yang terjadi dengan jelas. Tepat pukul 9.30, Daru sudah duduk di kelas yang masih sepi. Ia sengaja menunggu Yara karena ia adalah orang yang rajin, kerap datang paling pertama dan ini menjadi waktu yang tepat untuk ngobrol. Daru duduk di paling ujung. Untuk mengecek lagi, Daru mencoba mengirimi Yara pesan. Ra, hari ini ngampus kan? Aku kangen banget sama kamu. Tulisnya di dalam chat room, lalu ia mengirim pesan itu. Meski ia tahu, dalam waktu hampir 24 jam ini, satupun pesannya belum Yara balas. Daru sebenarnya ingin menelpon, namun takut hanya akan memperkeruh suasana. Benar saja, tepat 15 menit setelah kedatangan Daru, Yara muncul di pintu. Mengenakan kemeja warna senada dengan yang Daru kenakan. Daru segera bangkit, menghampiri Yara. “Ra. Akhirnya, aku ketemu sama kamu.” Ucapnya tanpa ragu-ragu. Jika ini tidak di kelas mungkin Daru bisa langsung memeluk Yara. Yara terkesiap dengan kehadiran Daru yang tiba-tiba. “Eh, hai Ru.” “Kamu baik-baik aja kan? Kok lemes?” “Aku lagi mau haid aja kok.” Jawab Yara mencoba menenangkan Daru. Namun sorot mata Yara tidak bisa menatap wajah Daru. Membuat Daru masih sangsi dengan yang terjadi. Yara meninggalkan Daru dan menuju bangku yang ada di bawah AC. Daru yang masih belum puas dengan jawaban Yara, mengejar pacarnya. “Ra. Bilang sama aku, siapa yang nakalin kamu?” Yara tersenyum pelan, “Nakalin gimana sih Ru? Emangnya aku anak SD.” Daru menatap pupil Yara, mencari celah kebohongan yang ia lontarkan. Sejak tadi percakapan mereka seperti tidak ada yang tulus, Yara terlihat merasa tidak nyaman dan itu ketara sekali bagi Daru. “Ra, I know you lie. But your is bad liar.” Jelas Daru dengan nada suara yang berat. Mendengar ucapan Daru yang sejak tadi meragu membuat Yara tidak bisa menahan diri. Ia menarik napasnya dan rasanya tiba-tiba tenggorokannya tercekat. Andai saja Yara bisa menceritakan semuanya, pasti tidak akan seperti ini. Tapi bagi Yara, apa yang ingin diceritakan? Bukankah ini berlebihan. Itu hanya akan membuat Daru merasa terbebani. “Ra. Sebenarnya apa yang terjadi.” Daru masih mencoba berusaha mencari jawaban itu. Yara menghela napas panjang, “Ru… udah deh, aku lagi PMS. Kalau kamu bilang gini terus aku makin jadi sensi.” Yara mencoba menghindari percakapan ini. percakapan berat yang sulit sekali ia lakukan kali ini. Daru masih belum menyerah, namun ia tahu apa yang Yara katakan sejak tadi tidak ada yang benar. Yara hanya memberi alasan agar tidak diburu pertanyaan Daru. “Ra, jika sekarang kamu masih belum terbuka sama aku its okay. Tapi asal itu membuat kamu lega. Aku nggak pernah menuntut kamu untuk cerita ke aku, namun jika ada sesuatu yang memberatkan kamu, please cerita ke aku. Aku juga harus bisa melindungi kamu dan tahu apa yang harus aku lakukan.” Daru menatap Yara lekat. Meski Yara sendiri tidak menatapnya, Yara hanya bisa membuang muka. “Mungkin ini konyol, atau aku yang berlebihan. Hubungan kita yang rahasia ini memang harus kita pertahankan bersama, dan jujur nggak segampang awalnya…. Tapi aku senang bisa bersama kamu.” “Aku minta maaf jika selama ini tidak bisa melakukan segalanya dengan sempurna. Banyak hal yang nggak bisa aku kendalikan yang akhirnya bikin kamu sedih atau bahkan kamu nangis diam-diam di belakang aku.” Yara menarik napasnya dalam-dalam. Suasana hatinya semakin diperkeruh oleh kata-kata yang keluar dari mulut Daru. “Tapi Ra, satu hal yang pasti… di segala hal kekurangan ini. Aku nggak mau kamu tersiksa sedangkan aku nggak tahu apa-apa.” Suara Daru melemah. “Jadi aku mohon. Apa yang saat ini terjadi, aku tahu ini nggak gampang.” Yara sendiri, tak mampu menahan air matanya yang mulai mengalir di pipinya. Suara yang Daru keluarkan dan segala kata-kata yang menyakitkan itu benar-benar membuatnya tidak tahu harus merespon apa. Kenapa kata-kata itu menyakitinya, bukankah Daru adalah orang yang tak pernah memberikannya luka. Daru yang penyayang dan Daru yang luar biasa. “Haloooooo teman-teman!” suara Brillia memecahkan kecanggungan. Sontak Yara langsung mengusap air matanya dan bangkit. “Hai Bril, tugas Bahasa Inggris lo udah kelar? Gue lihat dong.” Daru sendiri hanya bisa memaku di bangkunya, ditinggalkan Yara dengan tiba-tiba. Daru tahu Yara menangis, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Ra, aku tahu apa yang ada di kepala kamu begitu berat. Maaf sudah berkali-kali membuatmu kecewa. Namun satu hal, tak ingin aku melepaskanmu. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN