"Gue nggak tahu harus gimana Ga. Yara jauhin gue." Daru benar-benar putus asa saat mengatakan hal itu. Tak ada binar mata yang berkilau, yang ada hanya ketidaktahuan yang ingin ia jawab. Daru dilanda gelisah yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
"Gue tadi udah ngomong sama Yara, gue ngomong kalau gue minta maaf udah banyak ngerepotin dan bikin dia sakit hati. Tapi Yara sama sekali nggak ada sinyal mau balas omongan gue. Jangankan bales, Yara aja nggak noleh pas gue ngomong."
Frustasi, benar-benar frustasi. Siapa yang menyangka jika hubungannya akan menjadi serumit ini. Padahal jika dilihat lagi permasalahannya hanya ada pada pendramatisir keadaan. Masalah perasaan memang nggak bisa diukur. Daru sendiri, yang masih belum mengerti banyak dibuat kalah habis-habisan.
Braga sendiri, menatap kasihan sahabatnya. Orang-orang di luar sama mendapuknya sebagai artis idola, menjadi idaman dan semuanya tampak sempurna. Tapi, di sini, lihatlah. Daru hanyalah sekedar laki-laki payah yang mencoba memahami wanita tanpa rumus.
Daru limbung dan segalanya tampak gelap di depannya. "Ga, gue harus menyelesaikan ini. Jika gue nggak bisa membuat Yara berhenti menangis, paling nggak gue harus berusaha untuk membuat sumber tangisan itu hilang "
"Apa?" tanya Braga penasaran. Meski sejak kemarin ide Daru tidak pernah masuk akal, namun sebagai teman baik ia ingin selalu menjadi telinga terbaik.
"Seruni. Gue harus bisa membuat Seruni menghentikan ini." ucap Daru dengan mata berapi-api.
"Dengan cara apa?" Braga masih tidak mengerti. Seruni memanglah sumbernya, tapi melihat bagaimana penanganannya masih menjadi tanda tanya.
"Tujuan Seruni memperlakukan Yara seperti itu adalah karena gue. Seruni pengen gue perhatiin. Maka, ketika gue deketin dia, masalah selesai."
Braga memicingkan matanya. "Lo beneran serius mau deketin Seruni?"
"Iyalah." Daru masih percaya diri.
Braga bangkit dari bangku. Mendekati Daru yang wajahnya seperti baru saja mendapatkan temuan emas. Kelas tunggal hari ini telah usai, banyak mahasiswa sudah pulang dan hanya ada Braga dan Daru yang sedang berada di dalam percakapan cukup serius.
"Terus kalau Seruni kebaperan gimana?" Braga menyebutkan salah satu resiko yang ia dapatkan.
"Gue tinggal go public deh, jadi Seruni tahu kalau gue sama Yara emang udah pacaran kan."
Beaga mengerutkan dahinya. "Go public? Sama Yara?"
"Iyalah. Kan pacar gue Yara."
Braga menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi apa yang menjadi ide Daru memang tidak pernah berakhir baik. Selalu saja ada sisi tidak beres yang ia lakukan.
"Kenapa?" Daru bingung dengan respon Braga yang terbalik dengannya. Bukannya tadi Braga menyetujui gagasannya.
"Mending, lo batalin aja ide lo." putus Braga membuat Daru semakin kebingungan.
"Loh. Kenapa? Bukannya tadi lo setuju?"
Braga bingung harus menjelaskan seperti apa lagi. Daru orang yang terlalu rinci dan lugas. Menjadikan Braga kebingungan untuk membahasakan apa yang ada di kepalanya. Enak jika Daru orang yang bisa diajak kerja sama, tapi ini? Malah makin membingungkan.
"Kasih gue alasan Ga. Kenapa lo bilang jangan." Daru masih memburu, tak sabar dengan penjelasan Braga.
"Intinya jangan aja. Demi Yara."
"Tapi bukannya kalau nggak gitu Yara makin tersiksa. Dan menurut gue go public adalah salah satu jalan keluar terbaik buat Yara. Nama dia terlindungi dan semua orang tahu kalau Yara pacar gue." Daru menjelaskan alasannya. Siapa tahu dengan itu Braga langsung berubsh pikiran dan memberi izin.
"Ru. Mungkin dengan go public akan nampak baik-baik saja. Tapi, nggak semudah itu. Yara bukan kalangan artis, dia butuh privasi."
"Lihat saja sekarang. Yara belum di publish saja sudah banyak teror yang bikin dia nggak nyaman. Itu masih dari orang terdekat lho, gimana kalau orang satu Indonesia tahu? Apa nggak makin menyiksa Yara?" Braga tak mau kalah. Baginya gagasan ini memang perlu dipahami Daru agar tidak selalu salah melangkah.
Daru terdiam, mencoba menelaah kata yang dilontarkan Braga. Semuanya benar, Daru merasa ia terlalu gegabah. Itulah yang membuatnya tanpa sadar membuat gadis yang dicintainya menangis. Yara tersiksa dengan cara Daru yang tidak pernah bisa memamahinya dengan betul.
"Terus apa yang harus gue lakuin Ga? Gue buntu."
Percakapan itu selalu menjadi akhir dari obrolan mereka. Tak ada jawaban yang berarti, Daru dan Braga sama-sama lelaki yang nggak bisa menemukan jawabannya. Mereka butuh perempuan untuk menyelesaikan masalah ini. Satu-satunya orang itu adalah Mita.
Tapi, apakah Mita mau diajak menyelesaikan masalah ini? Dari cara bicaranya kemarin saja, terlihat Mita menghindari masalah ini. Mita memang bisa menjadi masalah keluar, tapi apa iya?
"Ga, lo mau temenin gue?" celetuk Daru di keheningan yang sudah terjadi beberapa menit terakhir.
Braga mengangkat wajahnya, "apa?"
"Lo mau kan, temenin gue ke kelas Mita. Kita ke gedung Fakultas Ekonomi sekarang." tanpa menunggu persetujuan Braga, tangannya sudah digaet Daru.
Braga sendiri kaget, tapi ia tidak punya banyak pilihan selain manut. Namun tetap saja, ini mengejutkan. Daru nggak tahu Mita kelas apa dan ada jam kuliah atau tidak. Dunia perkuliahan tidak sepadat dunia sekolah. Orang keluar masuk sesuka hati.
"Gimana kalau Mita nggak ada?"
"Pasti ada." Daru masih mencoba teguh dengan pendiriannya. Daru juga sudah nggak pengen mendengar penolakan dari Braga yang selalu ragu tiap Daru berpendapat.
Mungkin Daru gegabah, tapi tetap ada keputusan gegabah yang berhasil. Kita hanya perlu mencoba segala kemungkinan. Entah itu maksimal atau tidak, tujuan akhir selalu menjadi sebuah tujuan.
Ketika Daru berjalan gontai memasuki gedung Fakultas Ekonomi, semua orang yang ada di sana langsung memberi pandangan kaget. Tak sedikit juga yang mengabadikan moment itu.
Daru Han datang ke Fakultas Ekonomi? Seperti mimpi, artis penutup itu berjalan dengan santai di sini. Daru Han kenapa ke sini? Apakah dia punya kenalan dekat di Fakultas Ekonomi.
Itu adalah headline yang akan menjadi perbincangan hari ini. Daru sendiri tidak peduli dengan bisikan itu. Mereka hanya tidak pernah bertemu dengan Daru, wajar saja reaksinya berlebihan. Tujuan utamanya sekarang adalah Mita.
"Mita jurusannya apa nih. Gue nggak tahu." macet.
Saat mengingat betapa mereka tidak mengetahui kelas Mita, mereka langsung berhenti di dekat tangga lobi. Lagi-lagi banyak pasang mata yang memperhatikan Daru dari jauh, dan apabila ada yang berani mendekati, Daru akan dimintai foto.
"Lo tahu nama panjangnya nggak? Mungkin kita bisa cari kalau tahu namanya." Braga mencoba mencari cara untuk menemukan Mita.
"Gue nggak tahu." jawab Daru tidak memberikan jawaban yang memuaskan.
"Terus, sekarang kita harus nanyain nama Mita ke seluruh mahasiswa di sini? Satu persatu?"
"Nggak. Nggsk bisa." jawab Daru realistis.
"Ya makanya gue bilang nggak mungkin." jengkel Braga.
•••