43 — Kata ‘Seharusnya’?

1078 Kata
Tidak berhasil. Daru dan Braga hanya terdampar di lobi. Nggak bisa menemukan Mita karena akan kesulitan menemukan Mita di antara ratusan mahasiswa. Fakultas Ekonomi juga fakultas paling besar di kampus ini, artinya mahasiswanya udah yang paling banyak. "Udah yuk, pulang aja." Braga mengajak Daru pulang. Percuma juga kan. "Sekarang?" tanya Daru ragu. Ia masih ingin mencari Mita, siapa tahu ada keajaiban yang bisa membuat mereka bisa bertemu Mita tanpa sengaja. Tapi sepertinya, itu bisa dibilang mustahil. Braga mengangguk dengan yakin. Memang inilah waktunya harus menyerah. Kini Daru memahami babak baru dalam hidupnya yang belum pernah ia jajal. Memahami sisi orang lain. Selama jadi public figure, Daru tidak pernah melakukan ini. Hidupnya hanya sebatas acting dan benar saja. Reality its not same with film. Daru dan Braga keluar dari Fakultas Ekonomi dengan tangan kosong, bahkan dengan tujuan yang tidak tercapai. Satu-satunya cara yang harus Daru lakukan adalah menemukan sumber utamanya. Yaitu Seruni. Meski Braga menolak keras, Daru ingin melakukan itu diam-diam. Mendengarkan kata Braga memang masuk akal, namun tidak selamanya menyelesaikan masalah. Daru harus melangkah lebih nekat untuk mendapatkan hal yang luar biasa. Hal yang sama sekali tidak bisa ia dapatkan jika hanya duduk dalam zona nyaman yang seperti Braga katakan. Maka, diam-diam. Daru mencoba menghubungi Seruni, dengan modus menanyakan tugas. Mungkin ini adalah chat yang sepele, tapi bagi Seruni yang sama sekali belum pernah berhubungan dengan Daru adalah hal yang berkah. Komunikasi diam-diam itu ternyata berjalan mulus sesuai harapan Daru. Seruni yang mudah sekali terbuka hanya sekali ketukan, menguntungkan Daru. Jika dengan begitu, Daru juga akan mudah mengorek informasi Yara. Bahkan, di hari UTS pertama. Daru menyapa Seruni di pintu masuk kelas. Seruni senang bukan main, memangnya siapa yang nggak bahagia jika disapa oleh orang yang paling kita inginkan. Begitu logikanya. "Lo udah belajar semalem?" tanya Daru. Mereka duduk sejajar karena nomor tes mereka yang berurutan. Ini seperti takdir Tuhan yang membantu Daru, sekaligus keberkahan untuk Seruni. "Belum nih. Nggak yakin gue." jawab Seruni dengan ramah. Wajah yang tidak pernah muncul di depan Yara itu, dengan bebasnya diberikan pada Daru. "Sama. Gue semalem juga capek syuting." Daru tak mau kalah dengan pembicaraannya. Mencari tema yang menarik dengan Seruni benar-benarlah mudah. "Wah, bakal kena nih kita. Semoga soalnya gampang deh." Keakraban mereka yang tiba-tiba membuat Braga, yang duduk di ujung belakang mengernyitkan dahinya. Seperti ada yang tidak beres. Di mana sisi Daru yang acuh. Yara sendiri, mencoba tidak peduli dengan Daru. Mau seperti apa sikapnya, saat ini prioritas Yara adalah ujian. Daru memang pacarnya, tapi kini permasalahan membuat Yara kehilangan hakikat makna pacar itu sendiri. Mereka menjauh tiba-tiba dan kini, saling tidak mengenal. Semenjak tangis Yara sabtu lalu, Daru sama sekali tidak berusaha membujuknya lagi. Melontarkan kata terima kasih dan banyak maaf. Semuanya tidak ada. Rasanya, menyakitkan. Yara tahu, segalanya memang terlalu berlebihan. Tidak seharusnya ia ngambek dan memaksa Daru memohon seperti layaknya ia yang salah. Namun tetap saja, Yara mengharapkan sisi Daru yang itu. Sisi yang manis dengan penuh merendahkan. Egois bukan? Mereka jarang berkirim pesan dan hanya sekali saling pandang, itupun dalam sorot mata yang canggung. Meski kerinduan menumpuk di pelupuk mata Yara. Kesadarannya kembali menampar bahwa ini bukan saatnya melakukan hal itu. Atau... Sudah tidak ada waktu untuk melakukan itu lagi. Pikir Yara dengan pikiran kacau. Harusnya Yara bisa fokus dan tidak terbebani dengan masalah sepele ini. Yara menghela napas pendek. Dadang nyeri tanpa aba. Pikiran buruk berserobok, membuat apa yang sudah ia pelajari semalam suntuk meluap tanpa asap. Bahkan, Yara tidak bisa memungutnya kembali. Dalam benak Yara, bagaimana bisa. Ketika dirinya ditindas habis-habisan oleh perempuan dengan kemeja ungu itu, Seruni. Sedangkan orang yang paling Yara harapkan kehadirannya malah mengobrol dengan riang. Bukanya ini menjadi pemandangan yang menyakitkan. Dasar, tidak toleransi perasaan. Ujian pagi ini benar-benar membuat Yara tidak habis pikir. Jawabannya rumit dan semuanya juga membuat kepalanya penuh. Daru masih asik mengobrol dengan Seruni. Mereka membicarakan hal-hal yang tidak pernah Yara dan Daru obrolkan. Entah apa itu. Rasanya Yara kembali dikhianati kedua kalinya. Jika dulu ketika masih bersama Prita Daru masih memberi pembelaan pada Yara. namun kini lihatlah. Daru sama sekali tidak peduli, menyesakkan sekali. Apakah memang semenyakitkan ini. hubungan yang semesta saja tidak tahu bahwa ini ada. Yara terlalu sembunyi dan Daru yang kerap menutupi. Haruskah? ••• Satu minggu berlalu dengan benar-benar berat. Daru masih saja diam. Meski Yara sendiri juga sering tidak peduli dan menutup diri. Hubungan mereka seperti di pause ketika ujian berlangsung sampai pekan berakhir. Akankah menjadi seperti ini terus menerus? Yara tidak tahu. Rasanya melelahkan banget sih. Yara sendiri sampai pengen nangis aja dan melupakan segala yang berbau rasa bersalah ini. Yara tidak tahu apa yang membuat hubungan mereka stuck seperti ini. Apakah Yara yang sensitif karena terlalu ketat dalam belajar sedang Daru tidak ingin menganggu. Tapi dari itu semua, Yara hanya ingin ini baik-baik saja. Tapi apakah iya? Di ujian terakhir. Yara berharap ingin akur, mungkin dengan mengalah bisa membuat Daru merasa bahwa melelahkan juga tidak melakukan komunikasi. Memangnya Daru apa nggak kangen lama-lama nggak menghubungi Yara. Yara saja sudah kangen. Yara selesai mengerjakan duluan. Namun ia tidak langsung pulang, ia akan menunggu di luar sampai Daru selesai mengerjakan soal. Terlihat sekali Daru fokus mengerjakan soal ujian itu, pasti Daru rajin. Yara diam-diam tersenyum melihat Daru. Hatinya mengganggu melihat orang yang sudah ia sayangi selama ini tumbuh dengan begitu baik. Yara juga menyadari kenapa banyak orang begitu menyukainya. Segala hal yang menjadi manner-nya selalu menjadi pandangan yang menarik. Yara menelan ludahnya, serat. Menunggu hampir 15 menit setelah Daru selesai mengerjakan ujian. Maka setelah itu saatnya Daru keluar. Namun sebelum itu Yara menarik napas dalam, rasa deg-degannya sama seperti masih pendekatan. Daru berjalan keluar, aura tampannya menyeruak dari wajahnya yang tampan dan lembut itu. Yara dibuat terpesona. Daru sendiri juga sudah tersenyum manis dari kejauhan. Seperti menyadari bahwa mereka memang akan segera melepas rindu. Yara sudah siap untuk memberi sambutan, bahkan jika mereka tidak melakukan backstreet, Yara bisa langsung memeluk Daru. Yara menyiapkan suara paling apiknya. "Hai, apa kabar?" Katanya dengan lirih "Aku baik." jawab Daru lemas. Yara menatap manik mata Daru yang penuh kerinduan. Banyak sekali yang Daru ingin curahkan pada kekasihnya. Namun tidak sekarang. Tapi paling tidak, mereka sudah tidak perlu melakukan permintaan maaf yang berat. "Ru? Temenin gue yuk." celetuk Seruni yang tiba-tiba datang. Merangkul Daru dengan rasa keakraban. Senyum Daru yang lebar mendadak menciut. Tak ada lagi senyuman yang berarti. Mereka bermesra-mesraan di depan Yara yang seharusnya menjadi pacar Daru. Namun, selanjutnya, dia menjadi sebagai apa? Yara sudah begitu digeser habis-gabisa. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN