44 — Jawaban

1061 Kata
Mendekati Seruni untuk mencari jawaban sepertinya sama sekali tidak membuahkan hasil. Kedekatannya satu minggu ini sama sekali tidak mendapatkan hasil. Daru sendiri hanya sibuk menemani Seruni belajar dan makan siang. Semuanya malah tampak seperti pendekatan orang yang mau jadian. Sedangkan bukan itu tujuan Daru sebenarnya. Seruni hanya sibuk menceritakan kehidupan pribadinya yang tidak seru bagi Daru, membuat Daru selalu ingin kabur jika terlalu lama mendengar ceritanya. Andai saja, Daru tidak memilih jalan ini. Pasti ia tidak menemukan pertemuan-pertemuan bagai belenggu ini. Namun itu ada baiknya, dengan begitu Seruni tidak punya waktu untuk memperhatikan Yara. Karena setelah Daru ada di sampingnya, Yara tak lagi penting. Jadi untuk apa? Tapi, bukan berarti hubungannya dengan Yara membaik. Kisahnya hanya menggantung tanpa ada jawaban yang memenangkan masing-masing hati. Daru masih tidak memahami dengan apa yang ada di kepala Yara. Mengapa ia masih menghindarinya? Bukankah ia sudah menyelesaikan dua permasalahan yang mengganggunya. Prita dan Seruni. Lalu siapa yang mengganggunya lagi? Selain itu, Yara juga malah semakin jauh dari genggamannya. Perang dingin yang mereka buat menjadi benteng penjaga jarak mereka. Tak ada yang tahu apa yang terjadi di antara mereka. Pacaran diam-diam itu seakan hanyut tanpa adanya pembantu yang menjadikan mereka akur. Daru tak tahu jalan keluar yang akan ia pilih. Langkahnya tak menemukan arah yang tepat. Ia hanya stuck dan tak bisa bergerak. Daru tak punya banyak waktu untuk menyelesaikan masalah ini. Ini hanya akan membuat satu sama lain terluka. Daru pun juga tersiksa dengan rindu yang menggunung di dadanya. "Daru... kok lo dari tadi ngelamun." celetuk Seruni yang duduk di depannya. Mereka melakukan makan siang di kantin fakultasnya. Menikmati waktu akhir pekan setelah lelah memikirkan tugas UTS satu pekan ini. Daru mengerjap-erjapkan matanya, menggeleng pelan. "Nggak papa, gue cuma mikir nanti sore syutingnya apa aja. Soalnya agak lola tadi fokus ngerjain ujian." alibinya. Pasti Seruni akan mengangguk meski itu tidak benar. "Duh, sibuk banget ya pasti. Gila sih, lo hebat banget." puji Seruni. Bagi Seruni yang baru saja masuk di kehidupan Daru memang adalah hal yang membanggakan. Lebih tidak menyangka jika bisa bersama orang hebat seperti Daru. Bagi Daru sebenarnya semua biasa saja, tidak ada sesuatu yang spesial dan mereka terlalu berlebihan. Padahal Daru hanyalah orang biasa yang memang memiliki pekerjaan sebagai public figure, hanya itu saja. Tapi membuat privillage tentang dirinya berubah. "Haiiii Ni? Lagi apa lo?" tiba-tiba dari arah belakang Daru ada seseorang menyapa Seruni dan mereka langsung mengambil duduk di samping Seruni. Ada tiga orang, gadis dengan berpakaian modis dan tampak seperti penguasa kampus dengan fashion yang ia selalu usung di mana-mana. "Weilah, sama cowok baru nih. Kenalin dong." celetuk salah satu dari mereka. Sebelum benar-benar menoleh siapa cowok yang mereka bicarakan. Benar saja, saat mereka menoleh ke arah cowok yang ia maksud--Daru Han. Mereka langsung membesarkan pupil mereka, bahkan membuka mulut mereka tanpa sadar. "Da-daru, Han?" kata mereka dengan terbata. Daru sendiri hanya memberi senyum kikuk. Meski kerap mendapatkan respon seperti ini, ia masih bingung harus menimpali bagaimana. Daru memang masih belum biasa disorot sebagai orang istimewa di lingkungan yang ia harapkan bisa menerimanya tanpa melihat latar belakangnya. Namun apa bisa? Tidak akan bisa, kecuali Yara... Mengingat Yara membuat Daru kembali merindukannya. "Kalian kenapa berlebihan gitu sih? Kan Daru juga temen sekelas gue." ucap Seruni dengan gaya seakan-akan Daru hanyalah orang biasa. Si cewek rambut bondol menyenggol-nyenggol Seruni, air muka mereka mengatakan bahwa Seruni adalah cewek yang hebat. Cepat banget menggaet Daru yang berada di kalangan atas, mereka saja yang sudah teratas masih tidak yakin bisa mengambil hati Daru. "Kamu nggak sibuk syuting ya?" cewek yang tampak paling menonjol di antara mereka maju, mencoba berbasa-basi, bahkan menggunakan predikat kata 'aku'. kata-kata yang sedikit mengarah mencoba akrab untuk anak Jakarta, katanya. "Pakai gue lo aja deh, gaya banget sih pake aku kamu." senggol temannya yang nggak terima dengan sikap sok manis. Daru tersenyum kikuk, melakukan hal seakrab ini bersama orang-orang yang baru membuatnya merasa aneh. "Ya udah deh sorry yaa," si pengguna aku meminta maaf. "Kenalin nama gue Bela, lo bisa panggil gue jodoh. Aduhh." Banyolannya sontak mendapatkan seruan dari teman-temannya. Daru hanya tersenyum tipis, mencoba menghargai suasana yang mereka coba bangun. "Eh, eh, gue nama gue Nera. Cantik kan nama gue." si rambut pendek tak mau kalah memperkenalkan diri. "Kalau gue Lena... Nah yang ini temen deket gue Namia." yang sejak tadi diam ikut memperkenalkan diri. Memang, mencoba ingin dikenal artis adalah harapan semua orang. "Kok lo bisa sih Run deketin Daru. Gila gue juga iri." celetuk seseorang yang membuat Daru merasa semakin tidak nyaman. Namun sepertinya mereka tidak peduli dan menganggap hal ini tidak mengganggu Daru. "Ah kata siapa, Daru kan temen sekelas gue. Ya wajar dong gue deket sama dia." Seruni memasang wajah malu-malu. Ia nggak mau disebut cari muka hanya karena terlihat jelas sekali hanya dia yang berambisi. Padahal itu benar dan Daru menyadarinya. "Kalau sekelas, terus kenapa lo ngajak gue kemarin?" tanya Lena dengan polos. "Iya. Lo ngapain ngajak gue ngelabrak. Gimana kalau dia nggak salah, gue nggak berani jamin nih." Nera ikut menimpali. Ketua geng itu memang menjadi pemimpin pembullyan tapi dia nggak mau kalau melakukan pembullyan yang tidak berarti. Apalagi pada orang yang nggak bersalah. Mendengar itu telinga Daru langsung berdiri. Pembicaraan mereka mungkin akan menjadi cerita yang panjang. Dan yang pasti bisa menjadi jawaban yang Daru tunggu selama ini. Daru menatap Seruni, ekspresinya terlihat sekali kaku dan bingung harus menjawab bagaimana. Daru curiga jika ternyata apa yang dikatakan teman-temannya benar. "Ta-tapi yang kemaren emang genit banget kok. Gue aja sampe risih sama kelakuan dia." Seruni membela. Mencoba membersihkan nama baiknya. Daru sadar bahwa Seruni telah melakukan hal yang buruk. Playing victim. Tapi Daru masih mengurung diri, tidak seharusnya ia langsung menghakimi Seruni dengan tuduhan yang belum jelas, namun apa yang mereka bicarakan sudah mulai mengarah ke sana. "Siapa Run yang genit?" Daru memancing. "Siapa tahu, dengan lo bilang gitu gue bisa berhati-hati sama dia. Kan lo tahu, gue nggak suka sama orang yang numpang nama gue." tambahnya, mencoba meyakinkan Seruni. Seruni menoleh ke arah Daru, tidak menyangka jika responnya seperti itu. "Lo beneran Ru, mau ngelakuin hal itu?" Daru mengangguk, mengikuti permainan. "Siapa sih orangnya?" tanya Daru. "Yara." jawab Seruni dengan yakin, "dia udah genitin lo dan coba-coba mau jadi orang terdekat lo." Jawaban Seruni membuat Daru terhenyak. Ia terdiam dan tidak bisa mengatakan banyak hal. Namun Daru juga nggak bisa berbuat banyak, ia telah dibuat tidak karuan dengan jawaban itu. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN