Daru sudah menemukan jawabannya, namun itu bukan berarti masalah bersama Yara selesai. Ia harus menyelesaikannya sendirian, tanpa menyenggol Seruni sedikitpun. Karena bersama Seruni hanya untuk mengetahui detailnya. Percakapan kemarin sudah cukup untuk membuat kerangka permasalahan yang Yara alami. Yara tidak membenci Daru, ia hanya membenci dirinya sendiri dengan hubungan yang tidak bisa diandalkan ini.
Malamnya, pukul satu pagi. Selesai syuting, Daru kembali ke teras asri di salah satu perumahan yang kerap kali ia hampiri. Di depan gerbang setinggi dadanya, Daru memandangi rumah yang sudah mulai remang itu. Rasa kantuknya hilang setelah masuk gang rumah Yara. Ia merindukan kekasihnya sebagaimana dalamnya perasaannya pada Yara. Rasa bersalah dan rasa sayang yang tidak bisa ia jelaskan.
Daru membuka ponselnya, membuka kontak bernama Yara Airani. Mengecek statusnya, apakah sudah tidur atau masih online. Terlihat baru saja online. Daru langsung dibuat deg-degan dengan status itu. Apakah ini saatnya Daru menghubungi kekasihnya? Setelah pesannya terbalas singkat tiap hari dan selalu mengakhiri pesan dengan tanda tanya.
Daru mengirim pesan.
Aku sudah pulang syuting.
Pesan itu langsung dikirim Daru seketika, pesan-pesan yang selalu menjadi kebiasaannya. Meski Daru tahu, Yara jarang membalasnya. Ia mencoba untuk tetap pada kebiasaannya, agar Yara percaya bahwa Daru masih saja yang dulu, Daru yang masih menyukainya seperti sejak awal jadian dan Daru yang masih saja tertarik dengan Yara seperti awal pertemuannya di depan kelas J21.
Namun malam itu, pesan itu dibaca dalam waktu satu detik. Daru langsung kaget, tidak menyangka Yara masih terjaga dan akankah Yara akan membalasnya secepat itu juga. Itu tidak menjadi jaminan.
Daru tak mau menunggu di teras dengan sia-sia. Segera Daru menekan symbol telepon di chat room mereka. Suara dering langsung mengisi malam yang dingin ini. sendirian di teras dengan memandangi kamar yang sudah mati lampunya.
Pada telepon pertama, tidak terjawab. Daru yakin Yara memang akan enggan mengangkatnya. Benar saja, mengetahui semua yang terjadi dari Seruni tidak membuat masalahnya langsung selesai. Daru hanya tahu, tidak menyelesaikan.
Tak menyerah, Daru menelpon lagi. Kali ini Daru juga mengirim pesan yang memberi tahu Yara bahwa ia ada di depan rumah. Siapa tahu Yara akan berbaik hati membukakan pintu karena kasihan Daru kedinginan di sini.
Telepon itu lagi-lagi tidak terangkat. Sepertinya benar, tidak mudah membujuk Yara. Apalagi hanya dengan usaha mengejar yang tidak tahu strategi. Daru menghela napas pasrah. Malam ini bisa saja gagal, tapi kita bisa buat usaha di hari selanjutnya.
Daru berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari ia berdiri tadi. Hanya beberapa langkah dan rasanya begitu berat. Sampai sekarang Daru masih tidak mengerti kenapa ia bisa meregang sejauh ini dengan Yara. Bukanya jika dilihat dari lamanya hubungan mereka masih seusia jagung muda, tapi kenapa sudah ada perang dingin ini.
"Daru...." lirih seseorang. Daru yang awalnya mencoba melangkah meninggalkan pelataran langsung menoleh ke sumber suara.
Tak sedikitpun Daru merasa ngeri atas panggilan itu, meski sudah pukul 1 pagi, itu tidak mungkin suara orang lain. Pemilik suara itu adalah Yara.
Daru menoleh dengan senyum yang membuncah di wajahnya. Dadang berdegup kencang seakan inilah moment yang ia tunggu. Tapi setelah melihat mimik muka Yara yang datar, Daru mencoba menyembunyikan itu semua.
"Ada yang ingin aku omongin." ucap Yara lagi, penuh dengan keseriusan.
Lalu, Yara berjalan perlahan menuju Daru, membuka pelan gerbang yang menjadi pemisah antara Daru dan Yara. Saat terbuka, Daru berjalan pelan menuju Yara.
Sebenarnya, saat melihat Yara, Daru ingin sekali berlari dan memeluk gadisnya. Seperti pertemuan-pertemuan yang biasa mereka lalukan. Namun karena sekarang bukan saat yang tepat, Daru hanya bisa menahan diri.
Sabar, jika semuanya selesai kamu bisa memeluk Yara sepuasnya. Bisik Daru dalam hatinya, mencoba menenangkan hatinya yang dibuat tidak nyaman dengan keadaan ini.
"Masuk dulu, kita bisa bicara di teras." ucapnya pelan. Mungkin karena ini malam-malam membuat suaranya sedikit memelan karena suasananya yang sunyi.
Daru duduk di bangku teras tanpa banyak bertanya. Sejak awal Yara melontarkan kata, Daru hanya bisa mengangguk dan menuruti apa yang Yara katakan.
"Apa Ra?" ucap Daru saat semuanya sudah duduk. Meja kecil yang memisahkan mereka seakan begitu terasa bagi Daru. Seakan Yara memang semakin menjauh.
"Maaf jika selama ini aku udah bikin kamu nggak nyaman." ucap Yara lirih. Memulai percakapan serius dengan rasa bersalah.
Daru yang sejak tadi diam langsung menoleh ke arah Yara. "Kenapa kamu minta maaf?"
Yara tersenyum pelan, memberi tahu bahwa tawa itu hanyalah ejekan untuk dirinya yang sudah menjadi picik akhir-akhir ini.
"Karena semua kekurangan ada di dalam diriku, dan kamu... Terlalu sempurna untuk menjadi sebuah kesalahan."
Daru tidak tahu itu pujian atau apa, tapi kala mendengar itu dirinya seakan menjadi lakon paling jahat di dalam problema ini. Daru semakin menatap lekat Yara, sejak tadi ia melihat Yara menghela napas. Banyak sekali kekesalan yang memenuhi dadanya dan Daru tidak mengerti kenapa Yara melakukan itu.
"Lihat, kamu nggak bisa jawab kan." ucap Yara memancing keadaan.
Daru semakin tidak bisa berkata-kata. Kehadirannya di sini sebenarnya harus disambut Yara dengan baik, bukannya malah disindir. Bukannya kemarin Yara begitu merasa bersalah atas segala tingkahnya, lalu kenapa kini ia malah menampar Daru dengan seolah-olah dialah yang sempurna?
"Ru, kita putus aja yuk."
Kali ini benar-benar membuat Daru nggak bisa berpikir jernih. Ia langsung berdiri dan menatap Yara bingung. "Kenapa?"
Yara diam, tidak bisa memberi alasan yang jelas.
"Ra. Kenapa kamu bilang kayak gitu?" Daru masih memberondongi Yara dengan pertanyaan yang sama.
"Ra, jelasin alasannya? Kenapa putus?"
Yara terdiam, ia menelan ludahnya dengan kesulitan. Tak mendapatkan respon, Daru bergerak menuju Yara, mengambil posisi jongkok dan menatap Yara dengan serius.
"Ra. Kamu cuma mau prank aku kan?"
Yara membuang muka. Tak kuasa melihat wajah Daru yang menghujam hatinya.
"Untuk apa aku ngeprank kamu Ru. Aku beneran minta putus." jelas Yara lagi, dengan harapan Daru bisa menerima ini.
"Putus? Ra? Serius dong." Daru masih tidak terima. Bagaimana bisa, tujuannya ke sini untuk membuat mereka akur, bukan berpisah.
"Ra, jika alasan kamu adalah Seruni, aku bisa tangani. Jika alasan kamu Prita, aku bisa menghindar. Tapi please, jangan putus. Kita masih bisa perbaiki ini." Daru mencoba membahas permasalahannya. Siapa tahu Yara memang hanya berharap semua ini terlihat transparan.
"Gimana bisa menangani malah direspon." gerutunya. Tak percaya dengan ucapan Daru yang meyakinkan.
Daru mengerutkan keningnya, Yara bisa sepeduli itu. Artinya ia masih menyukai Daru.
"Ra, apa yang bikin kamu pengen putus? Apa?" Daru memang polos. Ia selalu butuh jawaban yang jelas dan terucap agar dapat memahami dengan betul hal itu.
"Aku udah nggak bisa bareng kamu lagi."
"Kenapa? Beri aku alasan?" Daru masih bertanya.
"Ru, kita itu saling nyakitin. Untuk apa bertahan?"
Daru tercekat, jadi ternyata benar. Yara begitu tersakiti dengan hal ini. Daru yang sejak dulu merasa Yara akan begitu kuat ternyata tidak. Yara tetaplah Yara. Namun Daru nggak pengen kehilangan Yara. Ia harus bisa mempertahankan kisahnya.
"Ra, jika dengan backstreet ini menyakitimu. Maka jalan satu-satunya adalah go publik." cetus Daru yang membuat Yara langsung menoleh ke arah Daru.
"Ru, nggak mungkin bisa." Yara masih putus asa.
"Aku tahu, kamu masih sayang sama aku. Begitupun aku, jadi aku mohon. Ayo kita sama-sama berjuang Ra." Daru berkata lirih, menatap Yara dengan lekat. Jika boleh, Daru juga ingin meraup wajah gadisnya, wajah yang sudah lama sekali ia rindukan.
"Ru, apa iya? Ini akan berhasil?"
"Paling tidak, itu bisa membuat orang tahu bahwa kamu milikku." ucapnya lagi. Penuh keseriusan.
•••