46 — Alasan Klise

1281 Kata
Yara menatap Daru dengan lekat, mungkin Yara bisa saja meninggalkan Daru yang masih keras kepala. Namun karena ia masih begitu sayang dan mencoba menyelesaikan ini, ia bertahan. "Aku nggak papa, dari pada kita go public." ucap Yara mencoba menengahi. Daru menoleh ke arah Yara. Ia sejak tadi memang hanya diam karena merasa Yara yang belum mengerti maksudnya. "Nggak papa apanya, tadi kamu bilang kamu tersakiti?" Yara menghela napas, "Aku nggak bilang yang nyakitin aku, apalagi kamu. Aku cuma bilang, aku tersakiti hanya dengan sikap aku yang berlebihan. Aku menyalahkan aku sendiri Ru. Bukan kamu." Daru memicingkan matanya, "Apakah aku bilang kalau aku jahat sama kamu? Go public bukan semata-mata kita saling menyakiti, tapi untuk kebaikan kita." Yara masih tidak mengerti. Sedang Daru, dengan gencar mengatakan niat itu. Go public, sesuatu yang menggiurkan tapi tidak selamanya seindah itu. Akan ada banyak masalah yang akan menanti mereka jika itu dilakukan dan yang pasti semakin membuat hubungan mereka tidak nyaman. "Kenapa harus go public? Apakah nggak ada hal lain? Sebenarnya masalah kita nggak seberat itu kok. Jika kita saling mengerti " Yara menanyakan alasannya pada Daru tentang keputusannya. Baginya, go public memang bukanlah sebuah solusi yang masuk akal dalam menyelesaikan permasalahan ini. pasalnya, belum diketahui oleh banyak orang saja sudah membuat Yara diganggu oleh banyak orang. Bagaimana jika semua orang tahu hubungannya. "Karena aku pengen nyelamatin kamu." Jawab Daru dengan merasa yakin. Mata Daru berkilat menatap Yara yang masih bingung. Yara sudah mulai mengatakan banyak kata, tapi bukan ini yang ia malu "Tapi kan Ru, nggak semudah itu. Nggak semua orang mau ngerti itu dan memahami mau kamu. Oke fine, ketika kita pengen baik, tapi nggak semuanya dianggap baik oleh orabg lain. Semua orang punya kepala dengan pendapat dan pandangan yang berbeda-beda. Jadi, jangan pernah berharap baik dengan hal-hal yang akan kamu sangka baik." Ucap Yara masih tidak setuju dengan tujuan Daru. Malam semakin larut, udara dingin merasuk membelai kulit mereka yang tidak tertutupi kain. Daru sendiri hanya bisa menghela napas pelan. Kenapa selalu ada hal yang membuat ia tidak bisa dimengerti oleh banyak orang. Selalu saja pendapatnya tidak pernah dihargai. Hal itu tentu membuat Daru dianggap seperti anak kecil, ia dianggap remeh dan tidak bisa memutuskan permasalahan dengan baik, padahal Daru sudah besar. Tidak semua hal yang menjadi pemikirannya salah. "Ra, kamu kenapa sih? Harus berpikiran buruk dengan hal baik? Terus kalau kita nggak mau berpikir baik, kamu mau ngelakuin hal buruk?" Daru mulai terpancing. Ia memicingkan matanya ke arah Yara. Perasaan bersalahnya kini mulai tersisihkan dengan perasaan tidak terima. Yara kaget, tidak menyangka Daru akan memberi respon sefrontal ini. padahal Yara hanya memberi pendapatnya bahwa apa yang menjadi tujuan Daru tidak selamanya bisa diharapkan baik juga. "Kamu kenapa jadi gini Ru? Aku bukan mau nolak kamu, aku Cuma memberi pendapatku bahwa go public bukan tujuan yang baik." Yara masih dengan pendiriannya. Sedang Daru, masih tidak mengerti dengan baik tujuannya. "Ra, aku melakukan ini tuh karena aku sayang sama kamu. Harusnya kamu menghargai ini. karena apa, ini nggak membuat aku untung, kamu justru yang mendapatkan keuntungan besar." Ucapan Daru semakin kacau. Bahkan, ia mulai menganggap tindakan Yara bodoh. Yara makin dibuat tak habis pikir dengan pemikiran Daru yang semakin lama semakin tidak jelas. Yara tahu, Daru seorang public figure di mana asset ketampanan dan asset pacar visual menjadi daya tarik dan produknya dalam berjualan. Namun, Yara juga tidak ingin memanfaatkan itu. Yara tidak ingin mendapatkan panggung begitu besar setelah semuanya terbuka dengan jelas. Yara hanya ingin dikenal baik, bukan terkenal. Itu dua hal yang berbeda. Napas Daru terdengar menderu. Kasar. Sebagai laki-laki ia cukup merasa tidak dihargai setelah usahanya tidak dianggap, apalagi ia dianggap salah. Hidupnya sebagai artis dan terlalu lama menjadi prioritas membuatnya lupa bahwa ia juga harus mendengarkan pendapat orang lain. Kita nggak hidup di dunia ini sendirian. Akhirnya malam itu, tidak menjadi malam yang hangat bagi mereka. Pendapat keras masih mengisi masing-masing dari mereka. Menganggap bahwa tujuannya adalah yang terbaik, tanpa memikirkan hal-hal lain yang mendukungnya. Dingin semakin membuat mereka meregang, tidak ada peluk hangat yang mengisi mereka, segelas coklat hangat dan cerita menarik. Yang ada malam ini membuat mereka semakin menggigil. Dan yang jelas, masalah mereka sama sekali belum usai. Air semakin keruh dan mereka saling menyakiti. Padahal kerinduan jelas sekali tampak di pelupuk mata mereka. Padahal aku merindukanmu Ra, aku hanya ingin kamu merasa dianggap dengan status yang aku usahakan, tapi kenapa kamu nggak paham? Batin Daru yang belum juga memahami maksud Yara, sedangkan Yara juga tidak paham kenapa Daru harus melakukan ini. ••• Permasalahan mereka mungkin belum usai, tapi Yara tetap dibuat tidak tahan dengan semua yang terjadi. Setiap malam Yara memimpikan Daru dan Yara juga diam-diam menunggu pesan yang Daru kirim. Tadi malam, Yara sebenarnya girang bukan main saat tahu ada mobil berhenti di terasnya. Diam-diam bahkan Yara melihat Daru turun dari mobil. Dengan d**a yang berdebar-debar. Yara menyimak ha yang dilakukan Daru. "Gila. Gue kanget sama lo." lirih Yara. Drrtt drtd... Pesan itu masuk. Pesan yang Daru kerap kirim tiap malam. Tepat pukul satu dini hari. Pesan yang dibuat seperti template itu menggugah hati Yara Yara membuka pesan itu dengan perasaan yang ingin terbang. Daru juga merindukanmu, ternyata memang semenyenangkan itu ya. Bahkan saat Daru menelpon, Yara nggak kuat mengangkat karena ia dibuat senang bukan kepalang. Saking senangnya memang nggak kuat. Malam yang Yara harap akan menjadi malam yang dingin saat Yara mendapatkan kata tentang go public. Kata-kata yang membuatnya kaget dan merasa ini nggak mungkin. Kata-kata yang selalu menjadi resiko dari hubungannya bersama artis. Benar saja. Pagi ini Yara dibuat hampir tidak bisa bernapas saat ia ditandai akun i********: artis. Daru Han menandainya pada postingan dua orang dari belakang. Dua orang yang sedang melakukan pose lucu dan yang membuat Yara kaget adalah kenapa harus ditandai. Jika memang Daru menyembunyikan wajahnya, kenapa harus menandainya. Harusnya Daru tidak perlu melakukan itu. Jika ternyata go public hanya foto sembunyi. kenapa harus Menandainya. Ternyata karena itu pesan langsung terkirim banyak. Banyak orang yang mencoba menghubungi dan membuat Yara tak bisa bernapas. Banyak sekali chat yang menganggunya. Lagi, di saat kondisi kacau pagi ini telepon Mita menyentaknya. Dengan gemetar Yara mengangkat. "Ra? Lo? Beneran go public? Serius? Akhirnha kalian balik akuuur." Seru Mita dengan lugas. Sepertinya Mita memang pure nggak tahu masalah ini. Makanya ia langsung memberondongi dengan banyak pertanyaan. "Mit, gue takut." berbeda dengan respon Mita yang heboh, Yara malah gemetar. Sontak Mita langsung diam, suara cerianya kini lenyap. Hanya ada kekhawatiran yang mengisi kepalanya sekarang. "Gu-gue juga nggak tahu kenapa ini bisa terjadi." jawab Yara tak kalah gemetar. "Ra? Lo baik-baik aja kan?" Mita lebih perhatian pada sohibnya dari pada berita yang menyebar. "Mit, gue bingung." jujurnya. Rasanya sama persis dengan apa yang dirasakan oleh Yara dulu. Persis seperti Yara merasa dunianya akan hancur berantakan. Segala hal yang menyenangkan kini runtuh. Yara bahkan sudah tidak bisa berpikir jernih dengan keadaan ini. "Mit, gue nggak berani keluar. Banyak orang chat gue." Yara masih tak berhenti bergetar. Pesan-pesan spam langsung mengisi ponsel Yara, tidak jelas tapi pasti itu adalah pesan yang mengecamnya. Memangnya siapa dia bisa mendapatkan tempat terhomat sebagai pacar Daru Han. Yara yang tidak layak ini harus dipamerkan oleh anak-anak lain. Paginya yang ia harap cukup untuk beristirahat malah membuatnya langsung berantakan. "Ra, coba lo telfon Daru sekarang? Apa maksud dia ngelakuin itu?" Mita juga bingung, tapi sebagai sahabat yang baik ia harus menemukan solusi. Yara masih diam saja, namun Mita masih mendengar jelas deru napas Yara yang kebingungan. Di seberang sana, Mita memijit-mijit pelipisnya. Harusnya ini menjadi hal yang indah, hal yang membuat Yara bisa bernapas lega. Lalu kenapa malah Yara dibuat khawatir. Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah itu awal yang bagus untuk hubungan mereka? Kepala Mita penuh dengan hal itu. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN