47 — Kedatangan Daru

1617 Kata
"Ru, kamu gila! Bener-bener gila!" sambutan pagi yang unik. Gumam Daru saat mengangkat telepon dari Yara. Padahal kini ia sudah ada di depan rumahnya, hanya menunggu beberapa menit Daru sudah ada di hadapan ceweknya. Tapi telepon Yara lebih dulu menyapanya. Dengan makian yang tidak pernah Daru duga. Sebenarnya Daru tahu kenapa Yara bisa seperti itu. Tapi yang pasti, Yara hanya salah paham. Daru tidak gila. "Ra, tenang dong. Aku masih baik-baik aja dan nggak gila." Jelas Daru dengan senyum yang mengisi wajahnya. Padahal di seberang sana pacarnya sedang uring-uringan. "Gimana aku bisa tenang Ru? Kamu nggak lihat sosmed aku rame banget." Yara masih saja medumel. "Alhamdulillah dong, besok langsung buka endors." Daru masih saja menganggap ini adalah sebuah hal yang sepele. Sebenarnya setelah percakapan panas semalam. Daru bingung, ia merasa bahwa Yara hanya berlebihan. Makanya Daru memutuskan untuk mempublikasikan hubungannya. Mungkin dengan itu bisa membuat hubungannya adem ayem. "Daru! Aku nggak tahu kamu kenapa? Tapi aku minta tolong. Bereskan semua ini. Aku nggak mau namaku semakin tercemar." Yara merengek. Sepertinya ini terlihat makin serius. "Ra, kamu nggak melakukan kesalahan. Jadi untuk apa nama kamu tercemar. You just being my girl friend. Okay?" Daru mencoba memelankan suaranya. Jika tadi ia lebih banyak menggoda, maka kini ia harus memberi Yara kepercayaan bahwa semua akan baik-baik saja. "Kamu nggak ngerti Ru. Nggak semudah itu." Yara masih belum menerima perkataan Daru. Memang benar, Daru nggak akan paham dengan yang dirasakan Yara. Siapa sih yang mau terkenal mendadak. Tapi jika tidak dimulai dari sekarang, mau memulainya kapan? "Ra, sabar ya. Semuanya akan baik-baik saja. Kalau ada masalah, kan ada aku yang bakal jaga kamu." Daru masih berusaha membuat Yara percaya. "Bener?" "I promise." "Janji doang nggak dilakuin sama aja." cecar Yara. "Nggak dong. Kan saya artis, mana ada nggak ditepatin." Daru segera memberi pembelaan. "Bodo ah." Klik. Telepon itu mati. Sepihak, bahkan di saat Daru belum mengatakan penjelasannya. Daru tersenyum simpul. Meski Yara masih marah-marah dan teleponnya hanya berisi omelan, tapi ini kali pertama mereka melakukan telepon lebih dari dua menit. Bahkan Yara sendiri yang menghubunginya? Memang benar, Yara tuh masih suka sama Daru. Daru menghela napas lega saat mengunggah postingan itu. Ia sudah memperkirakan segalanya, baik dari komentar-komentar yang membeludak ataupun wartawan yang akan siap memburunya. Mungkin Yara juga akan menjadi semakin sibuk dengan itu. Daru tahu itu merepotkan, tapi paling tidak itu menjadi awal yang baik untuk membuat Yara semakin terlindungi. Yara kini akan mendapatkan perlakuan yang layak bahkan lebih spesial saat namanya menjadi dibahas seantero jagat—sedikit berlebihan. Daru juga berharap, dengan postingan ini. Hubungannya dengan Yara kembali menghangat. Bahkan mereka akan terang-terangan untuk berpegang tangan di umum. Itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Ra, aku sudah ada di depan rumah kamu. Kuliah yuk. Daru mengirim pesan itu, pesan manis yang ia kirim untuk memberi tahu bahwa ayo melangkah bersama. Daru kembali menata rambutnya di kaca. Tak ada balasan. Namun Daru tak peduli, mungkin ia harus masuk ke dalam rumah pacarnya, untuk memberi tahu bahwa inilah pacar sempurnanya. Benar saja, langkah Daru terlihat percaya diri saat keluar mobil dan membuka pagar yang tidak terkunci. Daru benar-benar sudah siap menjemput hari yang bersinar baginya. Tanpa tahu jika ternyata, di dalam kamar Yara masih dibuat tidak sadar dengan dunia. Yara masih terkunci di dalam pikirannya yang kacau. Yara masih bingung harus bagaimana. Apalagi pesan-pesan yang memberondonginya di i********:. Followers Yara meningkat raja, lebih tajam dari pada ulah Daru kemarin. Pesan-pesan itu tidak hanya berisi sapa, tapi juga cerca. Pesan yang masuk dengan kasar itu, adalah pesan yang menjadi momok untuk Yara. Betapa membuat dadanya bergetar hebat. "Selamat pagi Tante." sapa Daru hangat. Mama Yara sedang sibuk mengelap daun tumbuhan yang Daru tidak tahu namanya. "Halo Daru? Mau pergi kemana nih?" Mama Yara langsung menoleh. Melihat calon mantunya datang. "Mau kuliah tante, ini mau jemput Yara." "Kalian ada kuliah?" Mama Yara malah balik bertanya. "Iya tante. Berangkat jam 9." Mama Yara langsung membuang lap dengan sekenanya lalu bangkit. "Ini udah jam setengah sembilan, tapi kenapa Yara belum bangun!" sentaknya sembari meninggalkan Daru dengan kebingungan. "Bukannya Yara udah bangun tadi ya?" kerut Daru. Teleponan singkat tadi, hanya ada rasa kekhawatiran Yara yang menyeruak. Daru tidak diperijinkan untuk ikut komentar karena Daru yakin, act of service lebih baik dari pada affirmation. Tapi Daru nggak mau ambil pusing dengan masalah keluarga Yara. Bukankah Mama Yara memang kerap ribut sendiri terkait perilaku Yara yang suka menyimpang, Mama Yara kan memang rempong. Dari pada ikut campur, Daru memilih duduk di ruang tamu. Menunggu Yara keluar dengan siap berangkat kuliah. Daru membuka akun instagramnya lagi. Terlihat banyak balasan yang terkejut melihat Daru berani mem-publish pacarnya. Komentar-komentar dari fans yang lucu baik yang setuju, rasanya Daru senang sekali banyak orang yang menyukainya bahkan setuju dengan hubungannya. "Apa gue bilang, Yara cuma khawatir aja. Padahal nggak semua yang dia khawatirkan terjadi. Itu akan menjadikannya lebih sejahterakan?" bangga Daru pada dirinya sendiri. ••• Yara menutup tubuhnya dengan selimut, benar-benar sempurna tertutupi. Baik dari ujung kaki hingga ujung kepala, semuanya tersembunyi. Alarm kuliah Yara sudah berdering, tapi ia semakin enggan untuk bangun. Telepon dari Daru tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Daru malah menganggap hal ini jangan diambil serius. Bagaimana tidak diambil serius jika Yara sendiri diburu oleh banyak orang? Apalagi kini Yara kuliah. Rasanya Yara pengen skip hari ini aja. Capek banget sama keadaan yang bakal dia terima sekarang. Bagaimana ia bisa menghadapi dunia jika orang-orang akan membahasnya menjadi topik yang hangat, bahkan sangat panas. Yara nggak siap dengan dunia yang mendadak terkenal ini. "Gue pengen tidur lagi, dan berharap ini cuma mimpi pagi yang aneh." celetuknya. Bisa saja, kan semalam Yara begadang untuk membahas hal ini bareng Daru di teras. Bahkan sudah hampir menjelang pagi, jadi wajar saja Yara mengigau. Tapi, telepon dan obrolan tadi jelas sekali. Baik dari Mita dan Daru, suara mereka jelas. Bahkan alurnya juga terstruktur. Meskipun tetap saja menyebalkan. Drtt... Drtd.... Getaran ponsel memecahkan kekesalannya. Ponsel busuk yang harusnya lenyap dari du ia ini. Kenapa harus mengeluarkan suara jahat. Membuat pagi Yara semakin berantakan. Siapa sih yang menelponnya di hari yang begitu buruk. Yara segera meraih ponselnya yang kini entah menghilang kemana. Tak ada. Yara mengeranv dan menghela napas kesal. Ini bener-bener nyebelin. Dunia seakan membuatnya kerepotan, kini, hanya masalah ponsel Yara bergetar. Membuat moodnya semakin berantakan. Mau tak mau harus bangkit untuk mencari ponselnya. Effort yang luar biasa hanya untuk mematikan getar. Yara meraih ponsel yang ternyata ada di samping lututnya. Kenapa bisa berlari sejauh itu sih, bukannya tadi tidak jauh-jauh banget. Handaru memanggil. Yara langsung menggerutu. Kenapa sih dia harus nelfon lagi? Nggak cukup tadi ganggu Yara, bahkan sampai menggoda. Memangnya dia pikir, mentang-mentang dia artis bisa seenaknya aja. Melihat itu, Yara langsung melempar ponselnya di tumpukan baju kotor. Paling tidak itu jarak yang cukup jauh untuk membuat Yara tahu notifikasi sampah. "Gue bolos aja kali ya. Nggak papa ah, kan juga abis UTS juga." gagas Yara. Karena pernah bolos membuat Yara merasa bahwa bolos itu enak banget. Makanya dia sekarang ketagihan. Apalagi melihat kondisi kampus lagi membara, pasti dosennya baik bakal ngasih izin. Yara langsung merebahkan badannya. Menutupi wajah dengan selimut dan kembali ke alam mimpi. Yara merasa ia juga kurang tidur, maka ini waktu yang tepat untuk menggantinya. Toktok!! Tadi getaran ponsel, sekarang gedoran pintu. Sepertinya memang tidak ada hari tenang untuk Yara. "Raaa! Bangun! Ayo kuliah." sahut Mama di balik pintu. Untung saja Yara selalu mengunci pintu kamarnya. Kan males banget kalau nyonya besar masuk kamar sambil bawa gayung. "Yara libur kuliah Ma. Dosennya ada rapat." alibi Yara. Toh Mama juga nggak tahu betul kesibukan dosen Yara. Sesekali bohong juga nggak ketara kan. "Libur apaan? Jangan bohong kamu." Nggak semudah itu menipu Mamanya. "Iya Ma libur." sahut Yara mulai agak kesal. "Tapi ini ada Daru, gimana dong." ucap Mama lagi. Daru? Mata Yara langsung membuka lebar. Namun segera ia mengabaikan itu karena Yara sudah kerap kali dikibuli Mama. Ini sudah tidak mempan. Daru nggak mungkin kesini, lagian Daru kan biasa ngechat duluan dari pada ngomong ke Mama. Makanya Yara nggak percaya. "Udah ah Ma. Ngapain sih pake-pake nama Daru. Yara udah nggak percaya kalau Daru ke sini." "Heh. Mama beneran ya. Ada Daru di sini." Mama semakin keras berteriak. Yara dibuat ragu. Tapi jika mengingat semuanya, lebih banyak kibulnya dari pada asli. "Yara mau tidur Maaa. Capek semalem abis diapelin ayang Daru." ucap Yara ingin menyelesaikan permainan. "Oooooo, udah diapelin. Ya udah, berarti sekarang nggak butuh diapelin lagi nih ya." "Iyaaaaaa." Yara gak mau kalah. Sebelum rasa kantuknya hilang, Yara harus kembali tidur. Titik. "Ya udah, Mama suruh Daru pulang ah. Capek banget punya anak nggak tahu diri." Yara bergeming. Meski suara Mama lantang bukan main. "Ruuu, Yara nggak mau keluar. Mending kamu kuliah sendiri aja ya." "Mama bisa aja deh actingnya." desis Yara kesal. Meski Mama membuat percakapan palsu itu, Yara tetap keukeuh tidak mau keluar. "Iya Tante. Kalau gitu Daru pergi sekarang ya." sahut seseorang. Suara pria yang juga terdengar lantang. Telinga Yara langsung berdiri. Suara itu, bukan suara Junet, apalagi Papanya. Nggak mungkin mereka bisa ada di sini. Jadi, pemilik suara itu adalah... "Raaa, aku pulang ya!" seru suara itu lagi. Membuat Yara langsung menepis selimutnya. Bangkit dan membuka kunci kamarnya. Itu suara Daru. Daru Han. Pacarnya! Namun sesaat kenop itu tergenggam. Yara berhenti, ia menoleh ke arah dirinya yang terpantul pada cermin full body. Wajah berantakan dan kepala seperti singa jantan ini tidak mungkin menemui Daru. Ini wajah terburuknya. Tapi? Yara nggak pengen Daru pulang. Ia harus menemuinya dan mengomelinya seperti di telefon tadi. Karena bagi Yara, itu satu-satunya moment yang bisa Yara manfaatnya untuk ngobrol dengan Daru tanpa pertikaian. Hanya itu jalan satu-satunya untuk kerinduan Daru. Maka, Yara nggak mau kehilangan Daru lagi. Karena Yara sudah kangen berat sama manusia ganteng itu. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN