48 — Akhirnya Akur

2047 Kata
Berita hebat itu benar adanya membuat siapa saja kaget, bahkan Bela yang menjadi perundung Yara beberapa waktu lalu, juga dibuat kaget. Padahal ia sendiri sedang sibuk mencari buku di perpustakaan dibuat jantungan. “Anjir! Ini apa-apaan!” seru Bela saat menggulir layar ponselnya. Bahkan ponselnya hampir tersentak saking kagetnya. “GILAAAA!” Tambahnya lagi dengan keras. Sampai-sampai ia lupa bahwa saat ini sedang berada di perpustakaan. Lokasi yang keramat dengan suara teriak-teriak. Langsung saja seluruh pandang mata melirik tajam ke arahnya. “Sorry-sorry.” Ucap Bela langsung mundur dari rak-rak buku yang mengelilinginya. Bela menuju salah satu bangku di ujung perpustakaan untuk menelusuri lebih lanjut postingan yang ia lihat. Ya, postingan yang membuat Bela hampir copot jantungnya. Postingan dari Daru Han yang pastinya tidak hanya Bela yang kaget, namun juga semua makhluk hawa di Indonesia. Foto siluet bersama seseorang dengan caption yang romantis. Daru Han punya pacar. Daru Han punya pacar? Lalu siapa pacarnya? Pasti cantik banget. Tapi sepertinya itu bukan dari kalangan artis deh. Batin Bela Bela yang awalnya ingin mencari buku pinjaman di perpustakaan malah langsung nge-lag. Rasanya ini sebuah hal yang tidak mungkin. Pasalnya baru saja kemarin ia ngobrol bareng Daru di kantin dan Bela punya harapan untuk menjadikan Daru sebagai gebetannya. Tapi, itu juga nggak mungkin juga semudah itu. Sehebat-hebatnya dia, Daru masih berada di level yang tinggi. “Bener-bener beruntung deh tuh cewek, udah nggak artis, tapi dapet pacar sesempurna Daru.” Lirihnya. Tanpa memikirkan bagaimana rupa si gadis. Ya, meskipun Bela kerap merundungi orang, ia tetaplah orang yang realistis dan selalu memegang teguh kebenaran. Ia selalu menghargai sebuah fakta. Maka, saat melihat Daru Han punya pacar, its okay. “Eh ceweknya di tag.” Perasaan Bela langsung penasaran saat melihat tag yang Daru berikan di foto. Segera saja Bela menuju akun si gadis beruntung itu. Dalam hitungan detik, saat profil itu dibuka, Bela dibuat kaget bukan main. Sungguh ini adalah sebuah fakta yang di luar dugaan. Cewek beruntung itu adalah cewek yang pernah ia permalukan di kamar mandi bersama Seruni. Rasa bersalah segera menyeruak. Jika mengingat bagaimana ia semena-mena dan membully Yara, kini malah Yara menjadi pacar Daru. Seperti drama televisi yang membuat Bela nggak bisa berkata-kata. “Nggak, ini pasti Cuma bercandaan. Kan Yara temen sekelasnya, wajar dong.” Ucap Bela mencoba menyangkal informasi itu. Namun tetap saja ia tidak bisa yakin dengan apa yang ia lihat. “Tapi, ini jelas banget. Nggak mungkin Daru main-main sama akun instagramnya.” Bela bermonolog. Kepalanya bingung harus memahami fakta yang mana. “Duh malu banget gueeee. Pasti kemarin nih cewek ngadu ke Daru. Pasti Daru ngeblacklist gue. Ah.” Bela mengacak-acak rambutnya. Tujuannya pergi ke perpustakaan sudah menguap, lupa. Bela segera keluar dari perpustakaan. Menemui Seruni untuk mendapatkan fakta ini. Dia nggak mau jika namanya terlibat di dalam pem-bully-an ini. Meski ia juga menyadari bahwa dirinya yang juga terlibat dalam geng ini. Tapi tetap saja, Bela nggak mau dicap sebagai orang jahat. “Gue harus hubungin Nera. Dia harus tahu info ini.” Putus Bela saat didera kebingungan. “Halo Ner? Lo di mana? Gue pengen ngomong sesuatu.” Bela langsung membanjiri pertanyaan saat telepon itu terangkat. “Gue masih ada kelas, bentar ya.” Ucap Nera langsung menutup telepon. “Ah, gue harus gimana? Apa gue telepon Seruni aja ya. Kan dia yang ngajak gue kemarin.” Seruni yang tidak bisa dihubungi membuat Bela semakin bingung. Kenapa juga yang menjadi pacar Daru adalah gadis itu, meski Yara juga cantik dan layak jadi pacar Daru. Tapi Yara pernah menjadi korban pem-bully-annya. “Apa gue minta maaf ke Yara aja ya?” “Ah! Tapi kalau inget rambutnya dikasih lem. Bikin gue yakin Yara nggak mungkin maafin gue. Tapi gue nggak mau dibawa sampai pengadilan. Gue nggak mau terlibat, gue masih semester lima…” resah Bela. ••• Karena nggak mau mati dibuat bingung. Bela menghampiri kelas Nera pagi itu juga. Setelah di perpustakaan tidak mendapatkan apa-apa dan gagal belajar. Paling tidak Bela harus menyelesaikan masalah ini. Kelas Nera belum selesai, di dalam sudah ada Dosen yang menjelaskan perkuliahan. Nera sendiri sibuk menyimak perkuliahan. Benar-benar mahasiswi yang rajin. Cuma saja kelakuannya kalau ngelabrak orang nggak kira-kira. Bela aja suka bingung kalau Nera bisa sejahat itu. Padahal ia sendiri juga jahat. Suka nggak tahu diri memang dia. Dari pada capek nungguin Nera nggak keluar-keluar, segera Bela menghubungi Seruni lagi, sumber informasinya itu juga harus menjelaskan ini. Paling tidak, Seruni yang paling tahu problem ini. Nggak diangkat. Bela menghela napas bingung. "Pasti Seruni juga lagi gugup. Makanya nggak diangkat-angkat." Bela mencoba ber-positif thinking. Meski Bela sendiri nggak tahu. Seruni gugup atau tidak. Nggak hanya Seruni, Bela juga menghubungi dua kembaran tidak jelas itu. Mereka satu tim yang membuat kisah buruk untuk Yara. Tolong! Kalian buka link ini. Sumpah! Kalian harus tahu ini. Itu pesan yang diketik oleh Bela. Supaya mereka bisa menilai keadaan ini harus ditanggapi dengan seperti apa. Setelah setengah jam akhirnya Nera keluar. Kelasnya selesai tepat waktu, hanya saja Bela yang nggak punya kesibukan menunggu Nera kuliah. "Ada apa sih? Keknya lo ribet banget. Ada masalah apa?" berondong Nera dengan kesal. Sejak tadi di sela perkuliahannya wajah Bela melongok di kaca terus menerus. Bikin Nera ditanyain banyak teman-temannya dengan kelakuan random Bela. "Ini gawat." singkat, ucapan Nera terlalu singkat hingga Nera masih bingung. "Coba duduk sekarang duduk. Ceritain pelan-pelan." Nera menyeret Bela untuk duduk di bangku depan kelasnya. Nera masih belum tahu permasalahan yang membuat Bela linglung bukan main. "Yara itu pacarnya Daru Han." "Yara? Yara siapa?" Nera masih belum bisa menelaah informasi yang diberikan oleh Bela. "Lo ini kenapa sih Bel? Yang bener dikit dong, lebih jelas lagi. Yara artis apaan." Nera mendekatkan wajahnya dekat dengan Bela, bahkan tangannya sudah memegang pundak Bela. Siapa tahu sahabatnya ini sedang ada masalah yang nggak bisa diceritakan. Tapi semakin ke sini penjelasan Bela semakin nggak masuk akal. Bela memijit pelipisnya, kenapa ia jadi nggak nyantol begini. Padahal banyak sekali kata-kata yang bergumal di otaknya. "I-ituuu. Cewek rambut lem! Di kamar mandi! Ituuu, pacarnya Daru Han." "Cewek? Rambut lem? Pacarnya Daru?" Nera mengulang ucapan Bela. Bela mengangguk pelan. Satu detik. Dua detik. Nera langsung mundur. Setelah mencoba memahami informasi yang disampaikan Bela. Wajahnya mendadak kaku dan ia dibuat speechless. "Ma-maksud lo, cewek kemarin." Nera memberi dua kutip, takut apa yang menjadi pembicaraan mereka dikuping banyak orang. Soalnya mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian. Bela mengangguk pelan, "Gimana kalau tuh cewek lapor Daru, terus kita dipidana. Gue nggak mau." Bela menyebutkan ketakutannya. Itu yang saat ini menjadi kekhawatirannya. Nera menelan ludahnya. Benar, apa yang menjadi ketakutan Bela bisa saja terjadi. Tapi sebagai ketua dalam pertemanan ini, Nera harus bisa berpikir jernih. "Kalem Bel. Kita nggak boleh gegabah, semua pasti ada jalan keluarnya." Nera menepuk pundak Bela. "Apa? Kan kita udah ngelabrak dia. Mana bilang kalau dia gebatelan. Pasti tuh cewek nggak terima banget lah." Benar juga. Siapa sih yang mau dilabrak meskipun itu sebuah kesalahannya. Tetap aja, Yara bisa melaporkan ini. "Kita tanyain dulu sumbernya, Seruni. Dia yang membawa kita ke liang ini." Nera menemukan solusinya. "Kita juga harus minta maaf ke pacarnya Daru jika itu memang pure kesalahan kita. Ingat moto pertemanan kita?" Nera menatap Bela dengan mantab. "Berantas keburukan demi kebenaran." jawab Bela pelan. Ia masih dibuat ketakutan dengan memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk. "Betul! Ayo kita temui Seruni." Nera bangkit. Nera adalah yang paling superior di sini, selain dia yang jadi pengarep. Nera juga yang pikirannya selalu bisa tenang. Bela bangkit, "Lo tahu kelasnya Seruni sekarang di mana? Soalnya gue telfon dia, dia nggak ngangkat." "Kurang ajar bener nih si Seruni. Pasti dia tahu kalau ada yang nggak beres." maki Nera. Adik tingkat yang emang kurang ajar. Jika tahu ini akan menyebabkan masalah Nera nggak akan mungkin mau terhasut berita palsu itu. "Makanya gue juga sebel banget sama dia." Bela tak mau kalah menyampaikan rasa sebalnya. "Dia pasti lagi ngehindarin kita." Nera memutar otak, ia harus menemukan ide untuk menemukan Seruni. Gadis dengan na ayu tapi tidak dengan sifatnya. Ular bukan main. "Kita tunggu diparkiran. Sebentar lagi pasti dia ke parkiran. Ini pergantian kelas." jawab Nera dengan sangat yakin. "Oke!" Bela juga merasa ada sedikit kekuatan yang mengisi dirinya. Di usianya yang bukan lagi muda, Bela juga harus berani mengambil keputusan. Mereka mungkin melakukan kesalahan, tapi tetap saja mereka mau menanggung kesalahan mereka. Paling nggak mereka bertanggung jawab untuk membersihkan namanya. Sungguh pertemanan yang rumit, pertemanan yang nggak bisa dipahami dengan serius pola pikirnya. Tapi yang pasti, mereka adalah manusia. ••• “Ru, aku nggak siap pergi ke kampus. Aku takut banget sama respon orang-orang. Gimana kalau aku di bully lagi ” lirih Yara. Ia menatap Daru dengan segala perasaan takutnya. Entah dengan kekuatan apa, mereka tiba-tiba saja akur. Bahkan Yara tanpa ragu menjelaskan ketakutannya. Memangnya mau ke siapa lagi jika tidak ke Daru. Hanya dia yang memahami hal ini. Cuma Daru yang tahu bahwa jadi pacar artis serumit ini. "Udah, tenang aja. Pacar Daru nggak bakal diapa-apain. Kan udah ada pawangnya." Daru juga dengan yakin mengatakan itu. Kini mereka berdua berada di dalam mobil, bahkan mobilnya sudah terparkir di kampus. Mereka hanya perlu turun untuk menyambut dunia bahwa inilah mereka. Tapi lagi-lagi Yara yang tidak siap dengan hal ini. Yara nggak siap dengan kepraktisan ini, dia benar-benar nggak yakin dirinya akan sanggup menghadapi ini. Yara menatap lekat Daru. Pacarnya yang selalu tampak ganteng, meski terkadang terlihat menyebalkan. Daru selalu memberi biusan untuk siapa saja yang melihatnya. "Ru, kamu beneran nggak masalah dengan hal ini?" tanya Yara khawatir. Sebenarnya lebih ke khawatir takut perasaan Daru luntur dan menyesal telah pacaran sama cewek yang modelnya kayak Yara. Lalu, takut jika ternyata Daru berhenti menyukainya karena sudah tahu wajah singanya. Bahkan tahu betul saat pertengkaran dengan ibunya. Drama keluarga yang seharusnya tidak muncul di hadapan Daru. Tapi bangkai keluarganya tidak selamanya bisa tertutup. "Ra, believe me. Aku bakal jagain kamu. Sekarang nggak ada lagi yang bully kamu, nggak akan ada lagi yang bisa nyentuh kamu. Bahkan, cowok satu kampus bakal mundur ketika melirik kamu." Daru memegang bahu gadisnya. "Karena apa? Karna kamu pacarmu Daru Han." Meski sedikit narsis, Yara tersentuh dengan kata-kata yang Daru katakan. Rasanya memang so sweet. Siapa sih yang nggak baper digituin. "Ngomong-ngomong. Sekarang jam berapa?" tanya Daru saat menyadari ia telah terlalu lama di mobil. Yara membuka ponselnya. Sudah pukul 10.15. "Udah jam 10 lebih." ucap Yara yang menyadari ada hal yang nggak beres. "Hah? Beneran?" Daru tak percaya. Kenapa waktu berjalan begitu cepat. "Iya. Dan kita, telat." jawab Yara dengan polosnya. Seakan telat kuliah bukanlah hal yang serius. Malah sejak awal ia tidak ingin kuliah dari pada menjadi pembahasan. Tapi berhubung kekasihnya sudah menjemput, maka ya mau nggak mau mandi lah. "Hah? Kok kamuu santai-santai sih!". Daru yang menyadari itu langsung melebarkan bola matanya. Kaget bukan main. "Ra! Kita telat kuliah!" seru Daru kaget, "ayo kita buruan ke kelas." Daru segera melepas seat belt-nya. Yara sendiri nggak terlihat buru-buru ke kelas. "Ru, kita bolos kuliah aja yuk. Udah telat banget nih." Ucapan Yara membuat Daru berhenti buru-buru. Ia menoleh ke arah pacarnya. "Emang boleh?" tanya Daru polos. "Iya. Nggak papa. Cuma sekali doang lah, lagi kita nggak mungkin juga masuk kelas. Sudah pasti diusir." Sebenarnya Yara juga pengen menikmati waktu bersam Daru. Sudah lama sekali mereka nggak ngobrol membahas hal-hal yang lucu, melakukan quality time yang pastinya mengobati rindu mereka. "Nggak papa nih?" Daru masih aja nggak yakin. "Emangnya kamu nggak kangen sama aku." ujar Yara akhirnya. Daru yang awalnya bingung dan ngotot pengen kuliah segera mengurungkan niatnya karena ia harus mengobati rindunya juga. "Jika itu maumu Yara, maka gas!" Daru langsung memakai ulang seat belt-nya. Tidak peduli jika kuliahnya mendapat nilai C. Pokoknya ia pengen menikmati waktu sama Yara. Titik! "Kita emang mau kemana? Kok Seat belt-nya dipakai lagi?" celetuk Yara yang melihat Daru sibuk sendiri. Daru menghentikan aktivitasnya. Menatap Yara bingung, "Nggak kemana-mana sih." Yara tertawa, "ya kalau nggak kemana-mana yaudaaah nggak usah dipakai lagi." Daru linglung, kemudian tertawa, "Oiya." "Ya udah, sini peluk." Yara membuka tangannya. Daru yang memang sudah dasarnya manja langsung menyambut pelukan itu dengan hangat. "Aaa kangeeen." ucap Daru manja. Yara sendiri juga senang jika berada di waktu ini, melihat Daru dengan wajah yang sebenarnya, wajah Daru yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Wajah Daru yang hanya diberikan kepada dirinya. Wajah penuh cinta yang memang terlihat hanya Yara yang menjadi orang satu-satunya. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN