Kelas pagi ini terasa berbeda dari pada kelas biasanya. Semua orang antusias dan tidak sabar berangkat kuliah. Bukan karena selesai ujian tengah semester, namun karena ada pasangan baru yang tidak diduga-duga. Postingan Daru Han memang benar-benar mengguncang satu kampus—termasuk teman sekelasnya.
Antusias mereka macam-macam. Beberapa membenci fakta itu, karena rasa sukanya dengan Daru, tapi tidak bisa berkutik banyak karena nggak mungkin melakukan hal sekejam itu untuk mengecam Yara.
Teman sekelas yang dekat tidak terlalu benci, namun malah senang, tapi tidak menutup kemingkinan untuk beberapa orang tetaplah kaget karena tidak menyangka Daru akan memilih Yara untuk jadi kekasihnya. Kalo kata orang 'bikin orang iri aja.'
Siapa sih yang menyangka bahwa Daru akan melakukan hal ini. Pesona Yara yang humble membuat mereka mengakui bahwa selera Daru tidaklah buruk. Meski tidak secantik primadona kampus, Yara tetaplah gadis yang memiliki pesona dan intelektual yang dapat diakui.
"Sumpah! Gue kira Yara bakal jadian sama lo! Ternyata malah sama Daru." celetuk seseorang ke arah Braga.
"Iya, kasihan banget Braga. Harus terlibat dengan cinta segitiga yang menyiksa dirinya." Brillia ikut menimpali.
"Gue nggak papa. Ngapain kalian mikir gue gitu." sanggah Braga meluruskan fakta.
"Jangan gitu Ga. Gue tahu lo naksir sama Yara sejak awal kuliah kan." Kevin, manusia yang tidak diharapkan ikut menyahut. Mana satu suara lagi sama anak-anak cewek.
"Gue setuju Vin. Kelihatan banget dari cara lo ngobrol, cara lo memperlakukan Yara. Sayang banget, lo ditinggalin buat pacaran sama Daru."
"Tapi, gue kalau jadi Yara juga bakal milih Daru. Mending kemana-mananya dari pada sama Braga. Meski gue tahu, Braga ketua kelas." Tasya menjawab dengan realistis, benar-benar realistis.
Brillia dan Kevin tertawa. Menertawakan fakta dunia yang kejam.
Braga kaget. Meski sudah tahu berita hubungan Yara sejak lama. Tetap saja ia nggak punya pandangan akan menjalin hubungan pendekatan dengan Yara. Mereka cuma menikmati pertemanan yang asyik. Hanya itu.
Kini di kelas sudah ada banyak forum yang membincangkan Yara dan Daru, kebanyakan membahas tentang keterkejutan mereka. Syukurlah Yara punya teman sekelas yang sudah dewasa, supportif dan tidak menghina seenak jidat.
Tapi ada satu orang yang dibuat kembang kempis dadanya. Berada di ujung kelas dan menyaksikan nama Daru dan Yara terdengar terus menerus hingga seperti sebuah dikte.
Tak ada yang peduli dengan sosok pendiam itu. Tak ada yang peduli juga dengan amarahnya. Semua orang asik membahas pasangan yang lagi hangat. Sampai lupa ada yang terbakar di sini. Seruni.
Belum jadi pacarnya aja kemarin Seruni sudah sengit bukan main dan sekarang malah Yara mendapatkan posisi yang jika Seruni nggak dapatkan, paling nggak jangan Yara. Karena Seruni sejak awal sudah ditindas habis-habisan oleh langkah Yara.
Seruni benar-benar sebal saat nama Yara disebut-sebut. Bahkan ia juga sakit hati karena Daru kemarin sudah dekat dengannya, malah harapannya diluluhlantakkan oleh datangnya Yara.
Memangnya nggak cukup untuk labrakannya kemarin? Rasanya Yara selalu jadi obyek paling menyebalkan.
Di saat Seruni sedang panas-panasnya, ada telepon masuk. Nama Bela tertera di layar ponsel. Seruni mengerti.
"Ah, apa sih nih orang nelfon-nelfon."
Seruni menolak telepon. Benar-benar mengganggu. Batin Seruni. Karena Seruni tahu kenapa telepon itu ada. Tak lain karena memang membahas tentang Yara.
Bukankah saat ini Seruni sedang muak membahas nama Yara. Seruni menyandarkan bahunya di kursi. Neraka baru ini menjadikanya semakin sesak.
Satu pesan masuk ke dalam ponsel Seruni. Setelah nada deringnya seperti mengejar Seruni yang sedang durjana. Rasanya suara pesan ini akan menjadi hal selanjutnya.
Benar saja, pesan yang juga menyebalkan masuk. Dari Nera, cewek yang menjadi kakak kelasnya sekaligus pimpinan gengnya.
Run, cewek yang kemarin kita labrak pacarnya Daru. Lo tau soal ini?
Seruni tidak membalas, baginya ini bukan hal yang penting. Kenapa banyak orang semakin gencar membahas Yara. Memangnya sepenting apa dia sampai melakukan hal itu.
Seruni bangkit. Meninggalkan kelas yang semakin mendengus menyebutkan nama Yara.
"Mau kemana lo? Bentar lagi dosennya dateng." henti teman yang dekat dengan Seruni.
"Gue mau bolos." jawab Seruni dengan jelas.
"Gila ya lo!"
Seruni tidak peduli. Ia melenggang pergi meninggalkan kelas. Hanya dia yang tidak peduli dengan berita itu. Hanya dia yang dadanya dipenuhi rasa dengki. Meski semua orang tidak mengenal Yara dengan dekat, hanya Seruni yang berani membencinya dengan sangat.
Seruni berjalan dengan kasar menuju tempat parkir. Paling tidak itu satu-satunya tempat yang cukup sepi sekarang.
"Kenapa sih! Harus ada Yara di dunia ini." ungkapnya dengan kekesalan. Seruni duduk di bumper mobil. Nggak tahu sih, mobil siapa.
"Gue kira Daru bakal dengerin omongan gue. Ternyata, malah dijadiin pacar." lagi, monolog itu menunjukan perasaan Seruni yang semakin jelas.
"Males banget tau!!!" Seruni menendang botol yang seperti takdir sudah tersedia di depan kakinya.
"Ternyata lo di sini." celetuk seseorang dengan suara sinis.
Seruni langsung mengangkat wajahnya. Ekspresi yang tadinya kesal kini berubah kaget karena sumber suara itu berasal dari kakak tingkatnya. Bela dan Nera, si senior yang senioritas.
"Nggak ada kelas lo?" Nera duduk di samping Seruni.
"Ada. Tapi gue males masuk." jawab Seruni apa adanya. Sepertinya ia tidak memahami ekspresi dan suasana hati Nera yang sejak tadi menatap Seruni dengan rasa ingin menelan dirinya hidup-hidup.
"Kenapa males? Takut ketemu Yara?" Bela menyenggol nama Yara. Nama yang seharusnya tidak perlu diucapkan dihadapan Seruni.
Seruni memicingkan matanya ke arah Bela. "Jangan sebut nama dia deh."
Nera memberi senyum simpul, "Kenapa? Lo sebel?"
Seruni mengangguk dengan yakin, "Siapa sih yang nggak sebel sama dia. Lo sendiri juga sebel kan sama dia."
Nera tertawa renyah, diikuti Bela yang nggak kalah lebar juga tawanya. Jelas membuat Seruni bingung, ini bukan hal yang pantas ditertawakan.
"Sepertinya kita harus membuat hal ini lebih jelas deh." Nera maju, menatap Seruni dengan tatapan memburu. Wajah senioritasnya kini muncul. Mirip sekali dengan yang ditampilkan saat menatap Yara beberapa pekan lalu.
Seruni langsung kaget melihat reaksi Nera yang berbeda. "Lo mau ngapain Ra?"
"Ngapain?" Bela menyahut dengan sakras.
Mata Seruni bergerak cepat, memahami situasi yang terjadi. Sepertinya memang bukan situasi yang bagus.
"Kita mau bikin sesuatu hal yang benar terlihat dengan jelas." jawab Nera dengan lugas.
"Maksud lo apa Run, bikin kita melakukan hal yang salah? Lo gila ya!" Bela ikut memojokkan Seruni.
"Yang salah gimana?" bisa-bisanya Seruni malah bertanya. Padahal jelas sekali itu menunjukan peristiwa yang terjadi kemarin.
"Pemenang playing victim terbaik. Dasar ular!" Nera masih tidak percaya dengan perilaku adik tingkatnya yang luar biasa munafiknya.
"Lo tahu kan, gue orang yang jujur. Gue nggak bisa dibohongi dan melakukan hal yang keliru. Lalu, apa yang lo lakukan kemarin udah mencoreng nama gue dan temen-temen gue."
"Lagi, kalau memang lo naksir sama Daru. Kelarin masalah ini dengan baik, nggak usah ngajak-ngajak gue buat ngelakuin hal yang kayak anak kecil." Bela menambahi. Bahkan lebih tajam dari pada ucapan Nera.
Seruni yang awalnya takut mendadak mengeluarkan sisi jahatnya. Ia menyunggingkan senyum miring, sama dengan apa yang dilakukan Nera. Kini tak ada lagi wajah ketakutan. Seruni tidak selemah itu.
"Hal yang kayak anak kecil? Melakukan hal yang bener dan nggak mau salah?" Seruni malah mengulang ucapan dua kakak tingkat di depannya. Mahasiswa tahun ketiga itu dibuat kaget dengan tingkah Seruni yang tidak tahu malu.
Tapi dari pada menimpali dengan perkataan yang sulit dimengerti, mereka lebih menunggu Seruni untuk mengatakan hal selanjutnya.
"Kayaknya kalian harus memahami ucapan kalian lagi deh." Seruni menepis tangan Nera yang menghalangi tubuhnya. "Ketua anak-anak."
Nera langsung naik pitam. "Maksud lo apa?!"
"Maksud gue?" Seruni mengerutkan alisnya. "Maksud gue itu, lo lebih kekanak-kanakan dari pada gue."
"Pertama, tadi lo bilang jangan ngajak ke arah hal yang salah. Lo bilang lo hanya menegakkan keadilan?" Seruni sudah tak perlu menunggu respon Nera yang semakin memerah.
"Keadilan mana yang menindas mahasiswa tahun pertama dan dipojokkan bareng-bareng. abis itu dikasih lem."
"Lalu, dimana-mana kebenaran dan keadilan itu harus dilakukan bersamaan lewat jalur yang baik. Sejak kapan ya menindas seperti itu jalan yang baik. Gue aja yang mahasiswa baru aja tahu. Kok kalian yang udah lama kuliah di sini nggak paham." ucapan Seruni semakin menantang maut. Bahkan Nera udah nggak bisa membalas dengan kata-kata.
"Lagi nih ya, kalau lo memang orang dewasa kenapa lo malah nggak memilah dulu informasi. Lo menelan hal itu mentah-mentah dan dengerin aja. Itu yang dibilang dewasa?" Seruni semakin membalik kata-kata yang dilontarkan Nera tadi. Meski sebenarnya itu benar, tapi tetap saja penyampaian yang dilakukan Seruni tidak menyenangkan.
Seruni bangkit, menatap satu persatu seniornya yang membatu.
"Terakhir. Gue tahu kenapa kalian heboh banget dengan hal ini. Lo takut kan? Nama kalian diseret atas tindakan pelecehan?"
Fakta terakhir itu menohok hati Nera dan Bela seketika. Siapa yang menyangka adik tingkatnya adalah orang paling picik yang mereka kenal. Kata-katanya yang menyakitkan dan tingkahnya yang seperti ular pasti juga bakal membuat mahasiswa semester 13 muntab.
•••