50 — Parkiran Mobil

1450 Kata
 “Jadi kita akur kan sekarang?” Daru mencoba melakukan validasi dengan Yara. Meski terlihat akrab dan sudah kembali tenang. Daru masih takut jika ternyata Yara masih kesal. Tapi di mana letak kesalnya jika sejak tadi senyum sudah terlukis di bibir Yara. “Teruuus, mau kamu gimana?” Yara tidak mau menjawabnya. “Ya terus kita udah nggak usah berantem lagi. Nggak usah minta putus dan yang paling nyenengin adalah disaat aku bisa menggandeng tanganmu di depan banyak orang.” Daru mengatakan itu dengan manis, nadanya yang tulus dibarengi dengan tangannya yang merayap di sela-sela jemari Yara. Mengangkat tangan gadis kesayangannya. Yara tidak menjawab, dan sepertinya tanpa Yara mengatakan sepatah kata pun, Daru tetaplah tahu bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Daru menilik jam. Sudah hampir setengah sebelas. Satu jam lagi kelas dosen pertama akan berakhir. Dan untuk pertama kalinya mereka melakukan hal pertama mereka di jam bolos. Ya, jika dulu awal perjumpaan ketika di depan kelas J21, kini mereka melakukan awal go public ketika bolos kuliah. Entah siapa yang mengajari dan memberi tahu mereka bahwa bolos kuliah adalah hal yang menyenangkan. “Terima kasih dan maaf jika selama ini aku belum bisa jadi yang terbaik.” Yara menautkan alisnya saat mendengar kata itu keluar dari bibir Daru. Kata-kata maaf yang seakan hubungan mereka adalah sebuah keterpaksaan. Padahal dalam hubungan asmara, semua dilakukan dengan senang hati, tidak ada kata maaf. Tapi Yara lagi berada di mode senang, ia nggak mau nyari gara-gara. “Iya, aku maafin. Tapi janji ya.” “Janji apa?” “Jangan plin-plan. Hilangkan semua rasa ragu kamu. Aku aja gregetan lihat kamu lemot banget kemarin.” ujar Yara dengan sangat jujur. “Aku tuh nggak plin-plan tahu!” Daru menyangkal. Ia tidak mau punya celah dalam dirinya yang sudah terbangun sempurna. “Terus apa kemarin?” “Eh itu semua gara-gara Braga ya! Aku tuh udah kasih gagasan atau ide, eh selalu dibantah sama Braga. Masak aku dibilang nggak bisa mikir, kan kesel.” Daru mengingat dengan jelas tiap moment yang terjadi selalu ada Braga yang menyangkal gagasannya. Hal itu sepertinya yang membuat proses Daru mengejar Yara selalu terhalangi. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, Daru juga bakal punya banyak kesalahan ketika melangkah dengan gagasannya. Banyak hal-hal yang keliru dan tidak masuk akal selalu mengisi kepalanya. Namun, untuk hal go public ini, sepertinya mutlak bahwa Daru memang jenius. Mereka memang bertengkar di awal, tapi kan juga akur bahkan lebih akur dari biasanya. Go public menyelesaikan masalah tanpa membuat jawaban. Mereka hanya perlu bertemu dengan baik. Karena mereka berdua telah sama-sama rindu. Saat Daru menatap Yara tiba-tiba saja di belakang Yara terdapat sekelebat orang jatuh. Ia terdorong dan sepertinya jatuh di samping mobil Daru. Ekspresi Daru yang awalnya hangat berubah menjadi kaget, pupilnya membesar seketika. “Kamu kenapa Ru?” Yara yang menyadari perubahan ekspresi Daru juga kaget. “Kayaknya ada orang berantem di luar.” ucap Daru masih dengan raut wajah yang pias. Yara menoleh, memastikan apa yang terjadi di luar mobil. Yara juga kaget, ada tiga cewek yang sedang adu fisik. Dua lawan satu, dan yang jelas dua gadis itu mendominasi. Mendorong dan memojokkan satu gadis yang sendirian. Pertengkaran sengit itu sedikit diketahui banyak orang karena berada di antara sela-sela mobil. Saat ini juga sedang jam perkuliahan, membuat jarang orang berada di luar. Saat mengamati dengan lekat, Yara semakin dibuat tak bisa berkata-kata. Yara mengenal dengan baik orang itu, meski hubungannya tidak dekat tapi Yara tahu siapa mereka. Baik dari penyerang maupun yang diserang. Dada Yara dibuat berdebar, ia kaget namun juga dibuat teringat moment buruk yang ia lalui beberapa pekan. Tiga manusia yang berada di dekat mobil Daru adalah Seruni dan dua cewek pembully. Tapi yang membuat Yara makin kaget dan bingung kenapa Seruni malah menjadi orang yang diserang. Bukankah beberapa waktu lalu mereka menjadi satu tim? “Itu mereka yang bully kamu kan Ra?” lirih Daru. Ia mengetahui dengan betul wajah-wajah mereka. Yara menoleh ke arah Daru, ia menelan ludahnya karena kaget melihat kekasihnya sudah mengetahui semuanya. “Iya, mereka orangnya.” “Tapi kenapa Seruni di serang?” sahut Daru bingung. Yara mengendikkan bahunya. Tak mengetahui sebab yang terjadi. “Ru, aku kasihan banget sama Seruni. Aku tolongin aja kali ya.” Tangan Yara memegang kenop pintu, tapi langsung ditahan Daru. “Mau ngapain?” “Mau nolongin Seruni. Dia diserang sama temennya sendiri.” Daru yang mendengar itu langsung menyahut, “Kasihan?” “Iya. Lihat, betapa Seruni nggak bisa melakukan perlawanan yang fire. Aku kasihan lihat Seruni di bully. Pasti rasanya takut banget. Aku nggak boleh diem aja dong.” Yara mengatakan itu dengan tulus. Membuat Daru tidak paham dengan kepolosan Yara. Banyak hal menyakitkan yang mereka lalui dan kini Yara dengan mudah mengatakan rasa iba pada manusia yang tidak paham apa kata baik. “Ra? Kok bisa kamu kasihan sama dia sedangkan dia aja nggak kasihan sama kamu.” Yara menoleh ke arah Daru, “Aku kasihan karena aku pernah ada di posisi itu. Rasanya emang nggak enak banget.” bela Yara. “Tapi Seruni nggak hanya bully kamu, tapi dia yang udah buat kamu nggak nyaman menjalani perkuliahan. Dan sekarang kamu bilang kasihan? Ra, anggap saja ini hasil dari perilaku dia.” Daru masih menahan Yara untuk tidak keluar dari mobil. Untuk apa ikut campur dengan masalah yang bukan urusan Yara. “Ru. Jangan terlalu jahat jadi orang. Aku tahu Seruni pernah jahatin aku. Tapi nggak gini juga. Ini bukan masalah Seruni pernah nyakitin aku atau tidak, tapi bagaimana aku bisa memberi kebaikan dan membantu orang. Sekalipun itu Seruni.” “Raa. Gimana kalau kamu yang diserang balik? Atau malah dua cewek itu bakal bully kamu?” Daru masih khawatir. Yara menggeleng pelan, tak ada sorot takut dari wajahnya.  Ru, trust me. Jika mereka nyerang aku karena bantu Seruni. Bukankah itu bakal jadi pertarungan yang fire? Dua lawan dua. Jadi apa yang perlu ditakutin.” Yara sudah menutup kesempatan Daru untuk menahannya. Segera saja Yara keluar dari mobil Daru dengan gagah. “Stop!” “Jangan main keroyokan! Lo lupa kalau Seruni temen kalian! Temen mana yang nyakitin temennya sendiri.” Langsung saja dua gadis yang menindas Seruni menoleh. Itu Nera dan Bela. Setelah mendengarkan ucapan-ucapan panas dari Seruni tadi, akhirnya Bela dan Nera melakukan serangan besar-besaran. Membuat Seruni si mulut besar tersuruk di antara mobil. “Yara?” lirih Bela. Ia hapal betul bagaimana wajah Yara, maka saat gadis itu datang wajahnya langsung pias. Belum juga kekakuan mereka berakhir, Daru sudah ikut menyusul, ia ikut keluar mobil. “Hentikan ini atau gue laporin ke satpam!” Nera memberi senyum picik, “Siapa yang mau lo laporin?” “Ya lo berdua.” “Kayaknya, lo harus mendengar alasan pertengkaran ini terjadi deh, biar lo nggak salah paham dan laporin kita.” Nera menambahi lagi. Karena masih terbawa panas dengan penghinaan yang Seruni berikan membuat Nera tidak bisa memasang wajah manis ke arah Daru. Daru dan Yara saling pandang. “Maksudnya?” Nera berjalan pelan menuju Yara, membuat Yara melangkah mundur. Agak ngeri juga jika mengingat betapa superiornya Nera kemarin. Wajahnya kini masih judes, dengan kejutekan alami yang ia miliki membuat siapa saja bergidik ngeri, termasuk Daru. “Ra. Gue tahu, lo orang baik. Tapi jangan terlalu polos.” ucapan tajam itu keluar dari mulut Nera. Yara diam. Ia tidak mau langsung menyahut. Ia ingin mendengarnya lebih panjang, bisa saja ini sebuah kalimat jebakan. Mengingat bagaimana fakta hubungannya sudah tersebar di segala penjuru membuat Yara semakin takut. “Lo tadi bilang apa? ‘Jangan main keroyokan! Lo lupa kalau Seruni temen kalian! Temen mana yang nyakitin temennya sendiri.’” Nera mengatakan ulang ucapan Yara. Bahkan dengan begitu jelas dan tepat. “Sejak kapan gue sama manusia ular ini berteman.” “Ra. Lo tahu, cewek nggak tahu diri ini yang membuat masalah ini. Dia jelekkin lo dan pengen ngerebut pacar artis lo.” Bela ikut menambahi, dengan ucapan yang lebih halus dari pada Nera. Yara dan Daru semakin dibuat bingung. Sebenarnya permasalahannya apa? Kenapa namanya dilibatkan, padahalkan mereka baru saja datang. “Gue minta maaf kalau kemarin udah ngelakuin hal yang salah. Gue minta maaf. Tapi, ini manusia, nggak ada mukanya dan nggak punya harga diri malah bilang kalau lo itu nggak pantes berada di samping Daru.” Nera memelankan nada suaranya, meski masih saja ada penekanan tiap kata yang diucapkan. Apalagi jika berkaitan dengan Seruni. Kekesalan seakan memenuhi kepalanya. Seruni sendiri hanya terdiam. Melihat Yara yang datang bagai pahlawan kesiangan semakin membuat dirinya tidak tahan, dadanya kembang kempis dan ia ingin menampar Yara. Tapi ada dua manusia yang menghalangi antara dirinya dan Yara. “Ra. Seruni pantes dapetin ini.” Bela memberikan kesimpulan.  “Bacot!” Seruni bersuara. Dengan kata-k********r yang tidak pernah mereka duga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN