52 — Pro Kontra

2661 Kata
Prita tidak tahu apa yang terjadi. Setelah bangun kesiangan dan tidak punya waktu untuk bersantai. Banyak pasang mata memandanginya sejak awal turun dari mobil. Prita tahu, dirinya sebagai publik figur memang sudah biasa menjadi pusat perhatian. Namun kini yang melihatnya adalah beberapa kru syuting. Bukankah mereka adalah orang-orang yang kerap Prita temui setiap hari. Kenapa harus begitu? Tapi Prita mencoba untuk biasa saja. Takutnya Prita dianggap GR. Maka, ia mencoba berperilaku dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa. “Gue pikir, lo bakal jadian sama Daru Han. Ternyata enggak.” celetuk Melinda bahkan disaat Prita baru menghentikan langkah kakinya. “Soalnya gue lihat lo selama ini chemistrynya kena banget. Gue aja suka cemburu karena mikir lo ada apa-apa sama Daru.” Jadian dengan Daru? Kenapa tiba-tiba banyak orang membahas ini. Bukannya nggak ada orang yang tahu kalau Daru punya pacar. Lagian, kenapa Prita ikut dilibatkan. Prita yang baru saja tiba di lokasi syuting dibuat bingung. Mendengar itu Prita langsung mengerutkan dahinya. “Maksud lo apa?” “Lo duduk dulu deh.” Melinda mempersilahkan Prita untuk duduk. Wajahnya menyorotkan rasa iba meski tidak sepenuhnya iba. Kini mereka sedang duduk berdua untuk persiapan syuting. Beberapa kru sudah datang namun belum di mulai, dan Prita salah satu yang baru saja tiba. “Sebenernya ada apa Mel?” tanya Prita dengan rasa penasaran yang semakin menumpuk. Melinda, juga teman syuting Prita tersenyum simpul. “Lo bener nggak tahu apa-apa Ta? Beritanya udah nyebar banget lho.” “Berita soal apa?” Prita masih benar-benar polos. “Daru Han ngupload foto cewek di i********:, dan ceweknya bukan lo.” Prita langsung kaget. “Siapa? Lo kenal?!” Senyum Melinda semakin melebar. Wajah yang awalnya iba menjadi senang melihat reaksi Prita yang tak bisa disembunyikan. Di lokasi syuting ini sudah menjadi rahasia umum bila Prita suka sama Daru Han, tapi karena alasan profesional, mereka nggak mau memperlihatkan dengan jelas hal ini. Maka saat melihat kabar menggemparkan ini mereka langsung memandangi Prita dengan tatapan iba. Prita segera merogoh ponselnya di sling bag yang belum ia lepas. Membuka kunci ponsel dengan terburu-buru dan malah salah mengisi kata sandi. Prita tahu, Daru memang sudah mencintai seseorang di belakang layar, tapi untuk urusan publikasi rasanya Prita merasa ini bukan hal yang tepat. Daru lupa, bahwa namanya juga dipertaruhkan di popularitas Daru. Bagaimana jika banyak orang hilang respek dengan figur Prita di dunia hiburan. Bukankah sejak dulu dirinya dan Daru sama-sama menjadi ikon? Benar saja. Baru membuka beranda i********:, postingan Daru masuk di bagian paling atas. Foto yang sedikit tidak jelas itu menjelaskan bahwa gadis di dalamnya adalah bukan dirinya. Prita tersenyum getir. “Ini kan cewek yang sering ke sini.” celetuk Prita mencoba tidak mengenali Yara. Padahal ia sudah mengetahui fakta itu dengan jelas. Mereka juga pernah mengobrol bersama. “Nah, lo tahu orangnya. Nggak nyangka banget sih gue.” “Lo juga tahu dia Mel?” “Pacarnya Daru?” Prita mengangguk pelan. “Iya, kan dia sempet beberapa kali ke sini kan. Alesannya ngerjain tugas, eh sembunyi-sembunyi PDKT.” Melinda menepuk pundak Prita dengan kasihan. “Sabar ya Ta. Gue tahu lo sedih.” Prita menggeleng cepat, dia nggak mau harga dirinya terluka. “Ngapain lo kasihan sama gue. Gue nggak papa, gue malah seneng kalau Daru punya cewek. Biar dia nggak gangguin gue terus.” Tak lupa Prita membubuhkan tawa lebar untuk meyakinkan Melinda bahwa ini bukan hal yang perlu dikasihani. Meski Prita tahu, sulit untuk membohongi Melinda. Ia tahu betul bagaimana dengan yang terjadi setiap hari di lokasi syuting. Melinda sendiri memberi senyum getir. Bingung harus memberi respon apa? Nggak mungkin banget ia mengupas kisah asmara Daru di depan Prita yang lagi menguatkan hati. “Kalian lagi bahas apa sih, seru banget kayaknya.” tiba-tiba Daru datang di saat Prita dan Melinda berada di tengah kecanggungan. Wajah Daru sumrpingah banget, sepertinya hari ini ia sedang ketimpa durian karena bisa memeluk kekasihnya di tempat umum. “Wah tumben banget lo nyapa kita.” goda Melinda. Memang sebuah hal langka jika Daru menyapa. Biasanya hal itu terjadi jika mood Daru lagi baik banget dan hari ini adalah waktunya. Siapa sih yang nggak seneng dengan kelegaan yang ia terima. Berbeda dengan Prita yang kaget. Takut jika Daru mendengar semuanya dan takut jika Daru tahu betul dengan dirinya yang kelihatan naksir sama Daru. Bukannya Prita sudah kerap kali bilang kalau mereka hanya teman profesional. “Eh Ru. Lo punya pacar baru nih. Asikk banget berani publish.” goda Melinda. Daru langsung memerah, ia malu jika harus dibahas tapi juga senang karena semua orang mendukung hubungannya. “Ah biasa aja sih Mel. Tapi by the way, udah bukan pacar baru sih. Udah lama.” Daru semakin ingin menceritakan segalanya. Prita yang takut disenggol hanya bisa banyak diam. Dirinya nggak mau jika Melinda membahas hal yang seharusnya nggak perlu dibahas. Harga diri Prita benar-benar dipertaruhkan. “Ohya, masak lo nggak cerita sih ke kita. Ngomong-ngomong Prita tahu nggak nih soal pacar lo.” ucapan Melinda benar-benar membuat jantung Prita terpacu hebat. Prita memang bisa beralibi di depan Melinda, tapi dia juga nggak bisa melakukan ini di depan Daru juga. Daru melebarkan senyumnya, “Kan kemarin gue backstreet, ya nggak mungkin lah gue cerita.” “Iya juga sih.” jawab Melinda akhirnya. Prita sendiri melirik singkat ke arah Melinda dan Daru, mengawasi ekspresi mereka apabila tiba-tiba menibani dengan pertanyaan. “Eh gue mau ke toilet bentar ya. Gue mau cuci muka.” Prita segera bangkit meninggalkan mereka. Paling tidak itu adalah usahanya untuk menghalangi pertanyaan-pertanyaan dari Melinda. Kenapa sih, harus terjadi kayak gini? ••• Syuting berjalan dengan lancar, meski kabar Daru menyebar dengan hangat dan banyak wartawan yang mengunjunginya. Daru tetap meladeni mereka dengan senang. Biasanya ia paling tidak senang jika dikorek-korek kehidupannya.Namun jika itu berkaitan erat dengan Yara, gadis tercintanya why not. Bagi Daru, orang-orang menganggap Daru cantik. Awalnya Kak Hana sempat ragu melihat Daru tidak bisa beristirahat dengan tenang. Tapi setelah melihat respon yang diberikan oleh Daru cerah dan Daru tidak mengeluh sama sekali, akhirnya Kak Hana memberikan izin kepada semua wartawan untuk bertanya. Meski masih memiliki batas waktu. “Mas Daru kenapa bisa tertarik dengan orang yang di kalangan non artis?”tanya salah satu wartawan di sela Daru break. Kini banyak sekali mikrofon yang teracungkan di depan wajahnya. “Karena menurut saya,ini nggak bisa saya jawab. Pasti semua orang pernah ngerasain jatuh cinta kan, orang kalau jatuh cinta memang nggak kenal kondisi dan latar belakang. Jika saya ngerasa nyaman dan yakin sama dia, untuk apa saya memikirkan latar belakang tersebut. Lagian, Yara ini bukan dari orang yang buruk, dia baik banget. Nah, jadi seharusnya itu bukan masuk dalam pertanyaan yang harus menjadi rasa penasaran kalian.”Daru meladeninya dengan sabar.Sejak tadi ronanya tak pernah memudar saat Daru menyebut nama Yara. “Jadi ini beneran pacaran ya Mas, nggak settingan apalagi panjat sosial?” pertanyaan selanjutnya membuat Daru sedikit tercekat. Kenapa orang-orang selalu memikirkan kemungkinan terburuk. “Tentu ini bukan settingan. Saya bener-bener suka sama Yara dan begitupun sebaliknya. Dia temen sekelas saya di kampus.”jawab Daru yang perlahan-lahan mulai hilang ronanya. Dari sekian banyak pertanyaan entah kenapa pertanyaan ini sedikit menyentil hatinya. “Lalu gimana dengan Mbak Prita, sepertinya kalian kerap terlibat adu romantis di televisi. Apakah itu hanya settingan? Lalu apakah Mas Daru pernah memikirkan untuk berpacaran dengan Mbak Prita?” kini pertanyaan kedua malah semakin membuat Daru bingung harus menjawab apa. Wartawan yang awalnya terlihat humanis, kini seperti pengorek informasi tanpa memikirkan kemanusiaan. Baginya, seorang artis memang hanya tempat hal yang ingin diketahui. Meski Daru tahu itu sebagian dari resiko, tapi tetap saja mereka berlebihan. “Kalau untuk Prita, dia baik. Saya kerap bermain dengan dia di luar adegan syuting, tapi itu cuma sebatas temen. Ya cuma temen aja.”sungguh jawaban Daru yang singkat itu akan menjadi rasa sakit bagi Prita dan bagi pendukungnya yang selalu menjodohkannya dengan Daru. Tapi Daru tetaplah pencinta kejujuran,ia polos dan kerap kali menjawab sekenanya. “Gimana kalau ternyata Mbak Prita suka sama Mas Daru? Apakah itu akan mengganggu pertemanan kalian atau bahkan berdampak ke syuting?” Daru memicingkan matanya pada wartawan yang menggunakan kardigan charchoal. Rasanya pertanyaan yang diberikan sudah tidak jelas bahkan tidak ada hubungannya.Kenapa mereka tidak fokus pada Yara dan hubungannya. Kenapa harus melibatkan orang lain. Daru ingin marah, tapi mereka bisa menulis hal buruk dengan tangan mereka yang dikemas di dalam media. Daru harus bisa menanggapi ini dengan kepala dingin. Daru tertawa pelan, mendukung perkataannya agar tidak terlalu serius, “Ah nggak mungkin. Prita cantik banget dan banyak lelaki merebutkannya. Di i********: saja banyak cowok yang mengikuti akunnya. Jadi, jika dibandingkan saya yang cuma numpang lewat. Bukankah itu sebuah hal yang terlalu percaya diri.” “Lagian, nggak mungkin juga saya harus terlibat asmara denga sahabat saya sendiri. Jadi, saya mohon kepada media untuk tidak membuat berita yang aneh-aneh. Jangan membuat cerita yang seakan-akan saya menolak Prita. Saya cuma nggak enak malah pertemanan saya pudar. Jadi dimohon ya… Saya harus segera syuting kembali, mohon maaf untuk bubar.” tutup Daru untuk mengakhiri wawancara tidak jelas ini. Daru segera bangkit. Wartawan langsung memburu Daru meski langsung di tahan oleh beberapa staff Daru yang ada di sana. Daru sendiri menghela napas, ternyata nggak selamanya kita bisa seneng-seneng bahkan disaat hari yang beruntung sekalipun. Daru juga menemukan orang yang kontra dengan kebahagiaannya dan nggak semua orang antusias dengan kebahagiaannya. Sebagian orang hanya penasaran saja, bukan sebagian, sepertinya hampir semua. “Are you okay?” Kak Hana memegang pundak adiknya. Daru mengangguk pelan, “Okay.” “Itu yang Kakak takutkan. Wartawan nggak selamanya butuh informasi yang terlihat, mereka akan selalu haus informasi dan bahkan sampai lupa dengan kemanusiaan. Harusnya kamu lebih bisa membatasi diri.” Daru menatap Kak Hana, “Sasan cuma pengen cerita ke mereka gimana senengnya Sasan bisa pacaran sama Yara. Nggak kurang nggak lebih.” Kak Hana menghela napas, ini memang bukan kesalahan Daru. Ia hanya belum bisa memisahkan mana yang harus diperlihatkan mana yang tidak. “Kakak bakal minta kru buat istirahat sebentar lagi biar kamu bisa merasa sedikit nyaman. Kamu tenangin diri dulu ya.” Daru mengangguk, Daru yang introvert memang merasa kesal jika terlalu banyak berinteraksi dengan orang. Apalagi orang yang membuatnya semakin tidak nyaman. ••• Pukul 12 malam, ketika selesai baru saja dibubarkan dan semua kru sudah bersiap-siap pulang. Prita malah berdiri di depan Daru. Daru yang baru saja memasangkan jaket ke tubuhnya menatap heran. Malam ini Prita harus menyelesaikan senua masalah yang terjadi. "Ada apa?" tanya Daru bingung. Prita tidak langsung menjawab. Dirinya malah menatapnya lekat, membuat Daru lama-lama merasa tatapan itu adalah tatapan intimidasi. Sedangkan sejak tadi Prita masih diam saja. Membuat artis 20 tahun itu kebingungan. "Prita? Are you okay? Ada apa?" tanya Daru lagi. Ia kini melambaikan tangannya di depan wajah Prita. Prita menghela napas panjang, "Gue pengen ngomong sama lo bentar. Bisa kan?" "Ngomong apa?" tanya Daru masih santai. "Harus diomongin sekarang?" "Soal semuanya. Bentar doang." jawab Prita kemudian. Sebenarnya ia ingin menceritakan hal yang miss di antara mereka. Hal yang seharusnya nggak Daru katakan di depan wartawan. "Kenapa nggak ngomong di sini aja?" tanya Daru yang masih santai. Tak memahami sorot mata Prita yang memang menginginkan waktu berdua. "Ini bahas sesuatu yang intens. Gue pengennya empat mata." jawab Prita kemudian. Daru memutar bola matanya, "baiklah. Bentar aja ya." Prita mengangguk cepat. Ia nggak boleh menyia-nyiakan waktu mereka. Maka Prita segera mencari tempat yang bisa mereka gunakan untuk ngobrol intens ini. "Kak, bentar ya. Mau ada yang diobrolin." pesan Daru kepada Kak Hana yang kala itu menutup resleting tasnya. Juga hendak bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Kak Hana mengangguk pelan. "Kakak tunggu di mobil ya." Daru mengangguk. Lalu mereka segera mencari tempat duduk yang bisa mereka gunakan untuk ngobrol. Jatuhlah pilihan mereka di samping tenda peralatan syuting, dimana di sana hanya tersisa beberapa kamera yang siap diangkut oleh kru. "Ada apa? Lo ada masalah?" tanya Daru mengawali sesi pembicaraan penting ini. Sebagai rekan kerja yang sudah merasa akrab dengan Prita, Daru berhak untuk menanyakan kondisinya. Prita tersenyum getir, "Sebenarnya masalahnya bukan ada di gue. Tapi, kita." Daru mengeryitkan dahinya. Mencoba mencerna percakapan Prita. Jika itu membahas kita, apa yang dibahas? Pekerjaan atau hal lain? "Kita?" Prita mengangguk, "Iya kita." Daru menatap lekat Prita yang memandangi kaki kecilnya. Pikiranmu berkecamuk terlihat dari ekspresi yang keluar dari wajah Prita. Daru yang tidak mengerti dengan hal ini dibuat bingung. "Kita yang seperti apa Prit? Lo naksir gue?" tutur Daru langsung menjadi tikaman yang tajam. Prita kala itu langsung mengangkat wajahnya kaget. Kenapa jadi begitu menghunus. Tapi Prita nggak bisa menjawab itu dengan lugas, ia sedikit malu karena harus berhadapan dengan Daru. Lagian kenapa sih, sesuatu hal yang sudah jelas harus dipertanyakan lagi. Jika memang Daru tahu Prita naksir dia, ya udah jangan diungkit lagi. "Prit, kalau lo naksir sama gue. Gue harap plis hentikan ini. Kita cuma temen lho." belum juga Prita menyahut untuk menyelesaikan ini. Daru langsung membuat Prita dengan pernyataan yang menyayat hati. Prita menelan ludahnya, sebenarnya ia punya tujuan yang baik sekarang. Membicarakan apa yang menjadi miss dalam hubungan mereka, tapi kini lihatlah. Apa yang dikatakan Daru seakan membuat Prita tidak bisa mengatakan niat baiknya. "Lo egois Ru. Egois banget." itu kata yang meluncur dari mulut Prita. Padahal bukan itu kata yang ingin ia katakan. "What? Egois? Kok bisa?" jelas saja Daru tidak terima. Ia sudah meluangkan waktu untuk mengatakan hal ini. Malah Prita datang hanya untuk memakinya. What the hell? "Kok lo kaget. Harusnya lo tahu dong itu semua yang lo lakuin." Prita masih berucap sakras. Tak ada lagi binar rasa senang yang mengisi sorot matanya. Prita kini sakit hati dengan cara Daru memperlakukannya. Daru tidak mau tersulut emosi, lalu ia mencoba mempertahankan hal ini "Tell me. Why you can say that." "Lo egois karena lo bahagia. Sendirian." tandas Prita penuh dengan penekanan. Sendirian? Daru masih belum mengerti. Memangnya Daru menyakiti orang lain dalam berita ini? Terus kenapa Prita senewen. "Prita? Gue tahu, lo suka sama gue. Tapi jika lo maksa gue untuk tetap respect dan menerima cinta lo, itu nggak ada hubungannya. Itu bukan konsep sebenarnya." Daru mencoba mengeluarkan pikirannya. Berharap kekeliruan ini bisa lurus. "Ru. Gue nggak menjurus ke itu. Gue nggak peduli lo punya pacar atau nggak. Gue cuma minta, lo jangan buang gue. Jangan bikin seakan gue ini kasihan di depan media." Prita tak tahan. Diucapkanlah semua uneg-unegnya. Padahal Prita tadi ingin mengatakan itu dengan lembut, dengan perlahan-lahan agar percakapan mereka tidak terlalu serius dan kaku. "Lo bilang ke media, seakan lo yang paling ganteng, cuma lo yang punya karisma. Lo bilang ke media seakan kita emang dua orang yang nggak bisa saling memiliki. Sampe lo lupa kalau kita itu publik figur. Hubungan kita itu, kita jual." Prita menjelaskan kerealistisannya. "Gue care ke elo, gue baper ke elo dengan harapan partneran kita bisa bagus. Biar kita kelihatan seperti orang yang memang dekat. Meski itu cuma temen." "Tapi sekarang lo malah egois. Lo lupa pekerjaan lo dan lo publish hubungan lo ke media. Itu seakan ngasih tahu ke semua orang kalau lo buang guee! Lo jahat banget tahu nggak. Jahat banget." Prita naik pitam. Ia sudah tidak bisa menahan ini. Sejak Daru berbicara di depan wartawan Prita sudah nggak nyaman dengan berita yang akan muncul di internet. Daru langsung terbungkam. Jika tadi ia bisa memprotes ucapan Prita, kini ia ditampar kenyataan. Daru yang gegabah dan Daru yang lupa daratan. "Ru, gue nggak marah ke lo. Kita tetep temen. Tapi gue harap, please. Selalu pertimbangkan apapun dengan baik. Jangan sampai lo merugikan orang lain demi lo." tajam. Prita mengatakan itu dengan sangat tajam ke arah Daru. Lalu Prita bangkit. Meninggalkan Daru yang masih tertegun dengan kata yang Prita lontarkan. Kenapa dirinya kini merasa bersalah? "Prita! Gue minta maaf!" Daru ikut menyusul. Ia mengejar Prita yang entah kenapa jalannya semakin cepat. "Udah. Anggap aja kita nggak pernah ngobrolin ini. Lagian, kita nggak boleh marah-marah cuma karena hal sepele." Prita berhenti sebentar. "Sorry kalau gue kekanak-kanakan banget." lalu Prita melenggang pergi, meninggalkan Daru yang masih diliputi rasa bersalah. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN